Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Keutamaan Amalan Hati

13 hadis

Sesungguhnya di antara bentuk mengagungkan Allah -Ta'ālā- ialah menghormati orang Muslim yang tua dan pembawa Alquran yang tidak berlebih-lebihan dan tidak menjauh darinya, dan menghormati penguasa yang adil.

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قَالَ: قالَ رسول اللَّه -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم-: «إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ الله -تَعَالَى-: إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ المُسْلِمِ، وَحَامِلِ القُرْآنِ غَيرِ الغَالِي فِيه، وَالجَافِي عَنْه، وَإِكْرَام ذِي السُّلْطَان المُقْسِط».
Dari Abu Musa Al-Asy`ari -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya di antara bentuk mengagungkan Allah -Ta'ālā- ialah menghormati orang Muslim yang tua, pembawa Alquran yang tidak berlebih-lebihan dan tidak menjauh darinya, dan menghormati penguasa yang adil."
Diriwayatkan oleh Abu DaudDerajatHadis hasan
Penjelasan

Hadis ini menunjukkan bahwa di antara cara memuliakan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, mengagungkan dan menghormati-Nya ialah melakukan hal-hal yang disebutkan dalam hadis tersebut, yaitu: "Menghormati orang Muslim yang tua", yakni, mengagungkan orang yang sudah tua dalam Islam dengan cara menghormatinya di berbagai majlis, lembut, sayang kepadanya dan sebagainya. Ini merupakan bagian dari kesempurnaan mengagungkan Allah karena kehormatannya ada di sisi Allah. "Pembawa Alquran", yakni, memuliakan orang yang menghafalnya. Dinamakan pembawa karena Alquran dibawa di dalam dadanya, dan karena dia memikul kesulitan-kesulitan besar yang menambah beban beratnya. Termasuk dalam kategori ini ialah memuliakan orang yang sibuk membaca dan mengkaji tafsir Alquran. Pembawa Alquran yang disebutkan dalam hadis nabawi ini dibedakan dengan dua sifat: "Tidak guluw (ekstrem)". Guluw adalah berlebihan dan melampaui batas. Jadi yang dimaksud adalah tidak melampaui batas dalam mengamalkan Alquran, menyelidiki hal-hal yang tersembunyi di dalamnya, dan makna-makna yang samar baginya, batasan-batasan bacaannya, dan makhraj hurufnya. Ada yang berpendapat bahwa berlebihan di sini adalah berlebihan dalam tajwid atau cepat dalam membaca sehingga menghalanginya untuk merenungkan maknanya. "(Tidak) menjauh darinya", yakni, tidak menjauhkan diri dari Alquran dan berpaling dari membacanya, menerapkan hukum-hukum bacaannya, mencermati makna-maknanya, dan mengamalkan isinya. Ada yang berpendapat bahwa maksud menjauhinya adalah meninggalkan Alquran setelah mengetahuinya, apalagi jika melupakannya karena meremehkan dan berpaling darinya. Sedangkan hal terakhir yang disebutkan dalam sabda Nabi ini, yang diperintahkan untuk dimuliakan adalah "Penguasa yang adil", yakni, pemilik kekuasaan dan jabatan yang memiliki sifat adil. Memuliakannya karena kepentingan umum dan tindakan perbaikan untuk rakyatnya.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ. تطريز رياض الصالحين للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423 هـ. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425 هـ. رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ. رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ. سنن أبي داود، تحقيق: محمد محيي الدين عبد الحميد، المكتبة العصرية، بيروت. عون المعبود شرح سنن أبي داود، ومعه حاشية ابن القيم: تهذيب سنن أبي داود وإيضاح علله ومشكلاته للعظيم آبادي ط3، دار الكتب العلمية، بيروت، 1415 هـ. كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ. مشكاة المصابيح، للتبريزي. تحقيق الألباني. الناشر : المكتب الإسلامي - بيروت. الطبعة : الثالثة - 1405 – 1985

Hadis ini di HadeethEnc.com

Malu itu tidak membawa kecuali kebaikan

عن عمران بن حصين رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رسولُ اللَّه -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم-: «الحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيرٍ». وفي رواية : «الحَيَاءُ خَيرٌ كُلُّهٌ» أو قال: «الحَيَاءُ كُلُّهُ خَيرٌ».
Dari Imran bin Hushain -raḍiyallāhu 'anhuma-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Malu itu tidak membawa kecuali kebaikan." Dalam riwayat lain: "Malu itu baik seluruhnya," atau beliau bersabda, "Malu itu seluruhnya baik."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Malu merupakan sifat dalam jiwa yang mendorong manusia melakukan apa yang indah dan bagus, dan meninggalkan yang kotor dan buruk. Dengan demikian, malu tidak membawa kecuali kebaikan. Sebab munculnya hadis ini adalah ketika ada seorang laki-laki menasehati saudaranya terkait sifat malu, dan dia melarangnya dari sifat malu tersebut. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya dengan ucapan ini.

Rujukan

رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ. شرح رياض الصالحين للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ. صحيح البخاري، ط1، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Seseorang itu bersama orang yang dicintainya

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه مرفوعاً: « المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ ». وفي رواية: قِيلَ لِلنبي صلى الله عليه وسلم : الرَّجُلُ يُحِبُّ القَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَق بهم؟ قال: « المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ». عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، كَيفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أحَبَّ قَومًا ولم يَلحَق بِهم؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ».
Dari Abu Musa al-Asy`ari -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Seseorang itu bersama orang yang dicintainya." Dalam riwayat lain disebutkan: "Bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya, "Seseorang mencintai suatu kaum, padahal dia belum pernah bertemu dengan mereka?" Beliau bersabda, "Seseorang itu bersama orang yang dicintainya." Dari Abdullah bin Mas`ud -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai seseorang yang mencintai suatu kaum, padahal dia belum pernah bertemu dengan mereka?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Seseorang itu bersama orang yang dicintainya."
Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnyaDerajatSahih dengan dua riwayatnya
Penjelasan

Di akhirat, manusia akan bersama orang-orang yang mereka cintai di dunia. Hadis ini berisi anjuran untuk kuat dalam mencintai para rasul dan orang-orang saleh, mengikuti mereka sesuai dengan tingkatan-tingkatannya, dan peringatan untuk tidak mencintai lawan mereka. Sebab, kecintaan merupakan bukti kekuatan hubungan orang yang mencintai dengan orang yang dicintainya, dan kesesuaian dengan akhlaknya, serta tindakan meneladaninya. Maka kecintaan merupakan bukti adanya hal-hal tersebut, juga merupakan motivasi untuk mewujudkan hal-hal tersebut. Demikian juga orang yang mencintai Allah -Ta'ālā-, maka kecintaannya itu merupakan sesuatu paling besar yang mendekatkannya kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri. Dia memberi kepada orang yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih besar dari apa yang dikorbankannya beberapa kali lipat. Keberadaan orang yang mencintai dengan orang yang dicintai tidak menjadi keharusan adanya kesamaan dengan orang yang dicintainya dalam kedudukan dan keluhuran derajatnya. Sebab, hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan amal saleh dan perniagaan yang menguntungkan. Ini (menunjukkan) bahwa ma'iyyah (kebersamaan) dapat dicapai hanya dengan berkumpulnya dalam satu hal dan tidak harus dalam segala hal. Jika disepakati bahwa semua masuk surga maka kebersamaan itu pun benar meskipun derajatnya berbeda-beda. Siapa saja yang mencintai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- atau mencintai salah seorang mukmin, maka ia akan bersama dengannya di surga karena niat baiknya, sebab itu adalah pokoknya, sedangkan amal merupakan pengikut niat. Dan keadaannya bersama mereka tidak menjadi satu keharusan bahwa dia berada dalam kedudukan mereka, dan tidak juga dibalas seperti balasan mereka dari segala segi.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه. تطريز رياض الصالحين للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423 هـ. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425 ه. رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت. كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ṭiyarah (perasaan sial) itu syirik, ṭiyarah itu syirik, ṭiyarah itu syirik." Beliau mengucapkannya tiga kali. Tidak ada seorang pun di antara kita melainkan pernah ditimpa ṭiyarah. Hanya saja, Allah ﷻ melenyapkannya dengan tawakal

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسعودٍ رضي الله عنه عن رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قال: «الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، -ثلاثًا-»، وَمَا مِنَّا إِلَّا، وَلَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Ṭiyarah (perasaan sial) itu syirik, ṭiyarah itu syirik, ṭiyarah itu syirik." Beliau mengucapkannya tiga kali. Tidak ada seorang pun di antara kita melainkan pernah ditimpa ṭiyarah. Hanya saja, Allah ﷻ melenyapkannya dengan tawakal.
HR. Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ memperingatkan agar tidak terjerumus ke dalam ṭiyarah, yaitu perasaan sial karena sebab apa saja, baik sesuatu yang didengar ataupun yang dilihat, seperti burung, hewan, orang cacat, nomor, hari atau lainnya. Beliau menyebutkan ṭair (burung) karena itu yang masyhur di kalangan jahiliah. Asalnya ialah melepas burung ketika akan memulai suatu perbuatan, seperti akan safar, berniaga atau lainnya. Jika burung itu terbang ke kanan, ia merasa optimistis dan meneruskan apa yang ia rencanakan. Tetapi, jika burung itu terbang ke arah kiri, ia merasa sial dan membatalkan rencananya. Beliau mengabarkan bahwa hal tersebut adalah kesyirikan, karena tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Allah, dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- menyebutkan, terkadang perasaan sial muncul dalam hati seorang muslim, tetapi ia wajib menolaknya dengan tawakal kepada Allah disertai ikhtiar.

Faedah
  1. 1- Ṭiyarah hukumnya syirik karena mengandung kebergantungan hati pada selain Allah.
  2. 2- Pentingnya mengulang perkara-perkara penting agar terpelihara dan bersemayam dalam hati.
  3. 3- Ṭiyarah dapat dihilangkan dengan tawakal kepada Allah Ta'ala.
  4. 4- Perintah bertawakal dan menggantungkan hati kepada Allah Ta'ala semata.
Rujukan

سنن أبي داود (6/ 54) (3915). سنن ابن ماجه (4/ 560) (3538). سنن الترمذي (3/ 258) (1614). مسند أحمد (6/ 213) (3687). الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص259). الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص233).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas

عن النُّعمان بن بَشير رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ -وَأَهْوَى النُّعْمَانُ بِإِصْبَعَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ-: «إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ».
An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda -sembari An-Nu'mān menunjuk kedua jarinya ke telinganya-, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas. Di antara keduanya terdapat hal-hal syubhat (samar) yang umumnya manusia tidak mengetahuinya. Siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Tetapi siapa yang jatuh ke dalam perkara syubhat, maka ia akan jatuh dalam perkara yang haram. Ia bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar kawasan terlarang, kemungkinan ia akan masuk dan makan di dalamnya. Ketahuilah, setiap penguasa mempunyai daerah larangan. Ketahuilah, larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, di dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menerangkan kaidah umum untuk semua hal, yaitu bahwa dalam syariat Islam terbagi menjadi tiga: jelas kehalalannya, jelas keharamannya, dan perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak jelas hukumnya antara halal dan haram; hukumnya tidak diketahui oleh banyak orang. Siapa yang meninggalkan perkara-perkara yang samar ini, maka agamanya selamat karena terhindar dari terjerumus ke dalam yang haram, dan kehormatannya juga selamat dari celaan manusia lantaran melakukan perkara yang samar. Orang yang tidak menjauhi perkara syubhat berarti telah membiarkan dirinya untuk terjerumus ke dalam yang haram atau dicela kehormatannya oleh manusia. Rasulullah ﷺ membuat sebuah perumpamaan untuk menerangkan keadaan orang yang melakukan syubhat, yaitu seperti seorang penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di dekat kawasan yang dilarang oleh pemiliknya, besar kemungkinan gembalaannya akan masuk dan makan di kawasan larangan tersebut disebabkan kedekatan jaraknya. Demikian halnya orang yang melakukan perkara yang mengandung syubhat, berarti ia telah mendekati yang haram dan besar kemungkinan akan terjerumus ke dalamnya. Setelah itu, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging, yaitu hati. Seluruh jasad akan baik jika ia baik dan akan rusak jika ia rusak.

Faedah
  1. - Anjuran meninggalkan perkara syubhat yang tidak jelas hukumnya.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 20) (52). صحيح مسلم (3/ 1219) (1599). التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثا النووية (ص18). شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص105). فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، للعباد (ص41). فتح الباري لابن حجر (4/ 291). شرح النووي على مسلم (11/ 28).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang benar, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; yaitu ia pergi di pagi hari dalam keadaan perut kempes dan pulang sore hari dalam keadaan buncit (kenyang)

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: إنه سمع نبي الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لَو أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا».
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang benar, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; yaitu ia pergi di pagi hari dalam keadaan perut kempes dan pulang sore hari dalam keadaan buncit (kenyang)."
HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mendorong kita agar bertumpu kepada Allah ﷻ dalam meraih manfaat dan menolak mudarat di seluruh urusan dunia dan agama, karena tidak ada yang memberi dan menghalangi serta tidak ada yang memudaratkan maupun memberi manfaat kecuali Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Beliau juga memotivasi agar kita melakukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak mudarat disertai berserah diri secara tulus kepada Allah. Ketika hal itu kita telah lakukan, Allah akan memberi kita rezeki sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang keluar di pagi hari dalam keadaan lapar lalu kembali di sore hari dalam keadaan kenyang. Apa yang dilakukan oleh burung tersebut termasuk salah satu sebab dalam upaya mencari rezeki, tidak berpasrah dan malas.

Faedah
  1. 1- Keutamaan tawakal. Tawakal termasuk sebab paling besar untuk mendapatkan rezeki.
  2. 2- Tawakal tidak menafikan usaha untuk melakukan sebab; karena Nabi ﷺ telah mengabarkan bahwa tawakal yang sebenarnya tidak bertentangan dengan aktifitas keluar pagi dan sore untuk mencari rezeki.
  3. 3- Perhatian syariat kepada amalan hati; karena tawakal adalah amalan hati.
  4. 4- Bergantung kepada sebab saja adalah bentuk ketimpangan dalam agama, sedangkan meninggalkan sebab adalah bentuk ketimpangan dalam akal.
Rujukan

سنن الترمذي (4/ 166) (2344). سنن ابن ماجه (5/ 266) (4164). مسند أحمد (1/ 332) (205). التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثًا النووية (ص103). فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، للعباد (ص152). الأحاديث الأربعون النووية وعليها الشرح الموجز المفيد، لعبد الله المحسن (ص91).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Harta seseorang tidak akan berkurang karena sedekah. Tidaklah seseorang dianiaya dan dia bersabar atas penganiayaan itu, melainkan Allah menambah kemuliaannya. Dan tidaklah seseorang membuka pintu meminta-minta, melainkan Allah akan buka baginya pintu kemiskinan.

عن أبي كبشة عمرو بن سعد الأنماري رضي الله عنه مرفوعاً: «ثلاثة أقسم عليهن، وأحدثكم حديثاً فاحفظوه: ما نقص مال عبد من صدقة، ولا ظلم عبد مظلمة صبر عليها إلا زاده الله عزًا، ولا فتح عبد باب مسألة إلا فتح الله عليه باب فقر -أو كلمة نحوها- وأحدثكم حديثًا فاحفظوه»، قال: «إنما الدنيا لأربعة نفر: عبد رزقه الله مالاً وعلمًا، فهو يتقي فيه ربه، ويَصِلُ فيه رحمه، ويعلم لله فيه حقًا، فهذا بأفضل المنازل. وعبد رزقه الله علما، ولم يرزقه مالاً، فهو صادق النية، يقول: لو أن لي مالا لَعَمِلْتُ بعمل فلان، فهو بنيته، فأجرهما سواء. وعبد رزقه الله مالاً، ولم يرزقه علما، فهو يخبط في ماله بغير علم، لا يتقي فيه ربه، ولا يصل فيه رحمه، ولا يعلم لله فيه حقًا، فهذا بأخبث المنازل. وعبد لم يرزقه الله مالاً ولا علمًا، فهو يقول: لو أن لي مالا لعملت فيه بعمل فلان، فهو بنيته، فوزرهما سواء».
Abu Kabsyah 'Amr bin Sa'ad Al-Anmāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': "Ada tiga hal yang aku bersumpah tentang kebenarannya serta aku akan sampaikan sebuah hadis kepada kalian, karena itu hafalkanlah! Yaitu, harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah; tidaklah seseorang dianiaya dan dia bersabar atas penganiayaan itu, melainkan Allah menambah kemuliaannya; tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta, kecuali Allah akan buka baginya pintu kemiskinan -atau ungkapan lainnya yang semakna-. Aku juga akan sampaikan kepada kalian sebuah hadis, maka hafalkanlah! Yaitu, sesungguhnya dunia ini untuk empat orang, yaitu: hamba yang Allah karuniai harta dan ilmu, dengannya dia bertakwa kepada Tuhannya, menggunakannya untuk menyambung tali silaturahmi, dan dia juga mengetahui hak Allah di dalamnya, maka yang seperti ini derajatnya paling utama; hamba yang Allah karuniai ilmu namun tidak dikaruniai harta, dia hanya memiliki niat yang tulus, dia berkata, 'Andaikan aku mempunyai harta, niscaya aku akan beramal seperti amalnya si polan', maka dia mendapatkan pahala niatnya, sehingga pahala keduanya menjadi sama; hamba yang Allah karuniai harta namun tidak dikaruniai ilmu sehingga dia tenggelam bersama hartanya tanpa ilmu, lantas di dalamnya dia tidak bertakwa kepada Tuhannya, tidak menyambung tali silaturahmi, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya, maka orang ini derajatnya paling rendah; hamba yang tidak dikaruniai harta maupun ilmu oleh Allah, maka dia berkata, 'Andaikan aku mempunyai harta, niscaya aku akan berbuat seperti apa yang diperbuat oleh si polan (orang ketiga)', lantas dia mendapatkan dosa niatnya, sehingga dosa keduanya sama."
Diriwayatkan oleh TirmiżiDerajatHadis sahih
Penjelasan

Ada tiga perkara yang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersumpah padanya serta beliau menyampaikan satu hadis kepada para sahabat. Adapun tiga perkara itu, yaitu: 1- Tidak berkurang harta seorang hamba karena sedekah; yaitu tak akan berkurang keberkahannya lantaran memberi sedekah. 2- Tidaklah seorang hamba dizalimi dengan suatu kezaliman lalu dia bersabar atasnya kecuali dengan sebab itu Allah akan menambah kemuliaannya, kezaliman apa pun jenisnya, sekalipun kesabaran itu mengandung semacam kehinaan, kecuali dengannya Allah akan memuliakannya dan menghinakan pelaku kezaliman. 3- Tidaklah seorang hamba membuka pada dirinya pintu minta-minta kepada manusia, bukan karena ada keperluan atau kedaruratan, melainkan untuk memperkaya diri dan menambah kekayaan, kecuali Allah akan menjadikannya fakir dengan dibukakan pintu kebutuhan yang lain atau diambil nikmat yang dimilikinya. Kemudian beliau menyebutkan bahwa dunia itu untuk empat macam manusia: 1- Hamba yang diberikan oleh Allah karunia harta dan ilmu, lantas dia bertakwa sehingga hanya membelanjakan harta itu pada tempat yang benar, mengamalkan ilmunya, dan menyambung silaturahmi; orang yang seperti ini kedudukannya paling utama. 2- Hamba yang diberikan oleh Allah karunia ilmu namun tidak diberikan harta, lantas dia tulus dalam niatnya dengan mengatakan, "Kalau saja aku memiliki harta, aku akan mengamalkan seperti amalan hamba yang pertama"; maka dia mendapatkan pahala sesuai niatnya sehingga pahala keduanya sama. 3- Hamba yang diberikan karunia harta namun tidak diberikan ilmu, lantas dia tenggelam dalam hartanya tanpa ilmu; di dalamnya dia tidak bertakwa kepada Rabb-nya, tidak menyambung tali silaturahimnya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya; orang yang seperti ini kedudukannya paling buruk. 4- Hamba yang tidak diberikan oleh Allah karunia harta maupun ilmu lalu dia mengatakan, "Seandainya aku memiliki harta, tentu aku akan menggunakannya seperti perbuatan hamba yang ketiga"; maka dia akan mendapatkan dosa sesuai niatnya sehingga dosa keduanya sama.

Rujukan

الجامع الكبير (سنن الترمذي), تأليف: محمد بن عيسى الترمذي, تحقيق وتعليق:أحمد محمد شاكر ومحمد فؤاد عبد الباقي وإبراهيم عطوة عوض -شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي - مصر الطبعة: الثانية، 1395 هـ - 1975 م صحيح الجامع وزيادته, تأليف: محمد ناصر الدين الألباني, الناشر: المكتب الإسلامي. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين, تأليف: سليم بن عيد الهلالي, دار ابن الجوزي. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح, تأليف: علي بن سلطان محمد الملا الهروي القاري, الناشر: دار الفكر, ط1 عام 1422ه.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Allah berfirman, "Apabila hamba-Ku hendak melakukan keburukan, janganlah kalian (malaikat) mencatatnya sampai dia mengerjakannya! Apabila ia mengerjakannya, tulislah (dosa) seperti keburukan itu! Jika dia meninggalkan keburukan tersebut demi Aku, catatlah baginya satu kebaikan!"

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «يقول اللهُ: إذا أراد عبدي أنْ يعملَ سيئةً، فلا تكتبوها عليه حتى يعملَها، فإنْ عَمِلها فاكتبوها بمثلِها، وإنْ تركها مِن أجلي فاكتبوها له حسنةً، وإذا أراد أنْ يعملَ حسنةً فلم يعملها فاكتبوها له حسنةً، فإنْ عملها فاكتبوها له بعشر أمثالها إلى سبعِ مائة ضِعْفٍ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Allah berfirman, "Apabila hamba-Ku hendak melakukan keburukan, janganlah kalian (malaikat) mencatatnya sampai dia mengerjakannya! Apabila ia mengerjakannya, tulislah (dosa) seperti keburukan itu! Jika dia meninggalkan keburukan tersebut demi Aku, catatlah baginya satu kebaikan!"
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Seruan dari Allah -Ta'ālā- ini untuk para malaikat yang bertugas menjaga dan mencatat amal manusia. Ini menunjukkan karunia Allah kepada manusia dan ampunan-Nya baginya. Sabdanya, "Apabila hamba-Ku hendak melakukan keburukan, janganlah kalian (malaikat) mencatatnya sampai dia mengerjakannya!" Perbuatan di sini bisa dimaksudkan perbuatan hati dan anggota badan, inilah makna yang tampak. Sebab, ada keterangan yang menunjukkan bahwa perbuatan hati mendapatkan siksaan dan balasan. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan Kami timpakan kepadanya siksa yang pedih." Dalam hadis sahih disebutkan, "Apabila dua orang muslim saling bertemu dengan membawa pedang, maka pembunuh dan yang dibunuh berada di neraka." Para sahabat bertanya, "Ini (vonis) pembunuh, bagaimana dengan yang dibunuh?" Beliau bersabda, "Tadinya dia juga berkeinginan keras untuk membunuh saudaranya." Nas-nas ini layak untuk mengkhususkan keumuman sabda beliau, "Apabila hamba-Ku hendak melakukan keburukan, janganlah kalian (malaikat) mencatatnya sampai dia mengerjakannya!" Ini tidak bertentangan dengan sabdanya tentang keburukan, "Tidak dicatat." Sebab, tekad dan kehendak hati adalah suatu perbuatan. Sabdanya, "Apabila ia mengerjakannya, maka tulislah (dosa) seperti keburukan itu." Yakni, satu keburukan. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi)." Allah -Ta'ālā- berfirman, "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tak terhingga." Sabda beliau, "Jika dia meninggalkan keburukan tersebut demi Aku, catatlah baginya satu kebaikan." Beliau itu mensyaratkan tindakan meninggalkan keburukan karena Allah -Ta'ālā-, yakni karena takut dan malu kepada-Nya. Adapun bila ia meninggalkan keburukan itu karena tidak mampu melakukannya atau takut kepada manusia atau karena sebab lain, maka hal itu tidak dicatat sebagai satu kebaikan baginya, tetapi mungkin saja dicatat sebagai satu keburukan baginya. Sabda beliau, "Apabila ia hendak melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, tulislah satu kebaikan baginya! Jika ia melaksanakannya, tulislah baginya sepuluh kebaikan seperti itu sampai tujuh ratus kali lipat!" Ini merupakan karunia dari Allah -Ta'ālā- Yang Maha Pemurah dan Pemberi karunia kepada hamba-hamba-Nya. Dengan demikian, segala puji dan karunia hanya milik-Nya. Kemurahan hati yang manakah lebih besar dari ini? Dia mendapatkan ilham untuk melakukan kebaikan maka Allah mencatat kebaikan yang sempurna baginya dan bila ia mengerjakan satu kebaikan, maka dicatat baginya sepuluh sampai tujuh ratus kebaikan. Dalam hadis ini Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyandarkan sabdanya kepada Allah -Ta'ālā- dengan sabdanya, "Allah berfirman, "Apabila hamba-Ku hendak." menggambarkan hal itu bagi-Nya. Firman ini merupakan bagian dari syariat-Nya yang mengandung janji bagi hamba-hamba-Nya dan karunia-Nya kepada mereka. Firman tersebut bukan Al-Qur`ān dan bukan pula makhluk. Perkataan Allah -Ta'ālā- bukan makhluk-Nya.

Rujukan

صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. شرح كتاب التوحيد من صحيح البخاري، لعبد الله بن محمد الغنيمان، الناشر: مكتبة الدار، المدينة المنورة، الطبعة: الأولى، 1405 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 13
13 hadis
  1. Sesungguhnya di antara bentuk mengagungkan Allah -Ta'ālā- ialah menghormati orang Muslim yang tua dan pembawa Alquran yang tidak berlebih-lebihan dan tidak menjauh darinya, dan menghormati penguasa yang adil.
  2. Malu itu tidak membawa kecuali kebaikan
  3. Seseorang itu bersama orang yang dicintainya
  4. Ṭiyarah (perasaan sial) itu syirik, ṭiyarah itu syirik, ṭiyarah itu syirik." Beliau mengucapkannya tiga kali. Tidak ada seorang pun di antara kita melainkan pernah ditimpa ṭiyarah. Hanya saja, Allah ﷻ melenyapkannya dengan tawakal
  5. Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas
  6. Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang benar, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; yaitu ia pergi di pagi hari dalam keadaan perut kempes dan pulang sore hari dalam keadaan buncit (kenyang)
  7. Harta seseorang tidak akan berkurang karena sedekah. Tidaklah seseorang dianiaya dan dia bersabar atas penganiayaan itu, melainkan Allah menambah kemuliaannya. Dan tidaklah seseorang membuka pintu meminta-minta, melainkan Allah akan buka baginya pintu kemiskinan.
  8. Allah berfirman, "Apabila hamba-Ku hendak melakukan keburukan, janganlah kalian (malaikat) mencatatnya sampai dia mengerjakannya! Apabila ia mengerjakannya, tulislah (dosa) seperti keburukan itu! Jika dia meninggalkan keburukan tersebut demi Aku, catatlah baginya satu kebaikan!"
  9. Amalan itu ada enam macam, sedangkan manusia ada empat macam. Enam amalan tersebut yaitu: dua amal yang memastikan, amalan yang dibalas semisal, satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, dan satu kebaikan dibalas tujuh ratus kali lipat
  10. Orang yang membaca Al-Qur`an secara terang-terangan (di depan orang ramai) seperti orang yang bersedekah terang-terangan, sedangkan orang yang membaca Al-Qur`an dengan pelan (kondisi sepi) seperti orang yang bersedekah sembunyi-sembunyi
  11. Allah tidak menerima amal kecuali yang diniatkan murni kepada-Nya dan untuk mengejar wajah-Nya
  12. Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas
  13. Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, niscaya Dia memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki; dia pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com