Sesunguhnya Allah -Ta'ālā- memiliki sembilan puluh sembilan nama, tidaklah seseorang menghafalnya melainkan dia akan masuk surga. Yang dimaksud dengan menghafal disini adalah melafalkannya di luar kepala. Disebutkan juga bahwa maksudnya adalah keimanan terhadap nama-nama tersebut, pengamalan, mentaati kandungan makna setiap nama tersebut, dan berdoa kepada Allah -Ta'ālā- dengan nama-nama tersebut. Dalam hadis ini dijelaskan tentang ketetapan nama-nama tersebut, serta tidak menunjukkan penafian terhadap nama-nama lain selain dari nama-nama tersebut. Adapun pengkhususan nama-nama tersebut adalah karena nama-nama itu adalah nama-nama yang sangat masyhur dan jelas maknanya. Hal ini senada dengan perkataanmu, "Sesungguhnya Zaid memiliki seratus dirham yang ia sediakan untuk bersedekah." Ucapan ini tidak menunjukkan bahwa dia tidak memiliki jumlah dirham yang lebih banyak dari yang disebutkan tersebut, akan tetapi menunjukkan bahwa yang disediakannya untuk bersedekah adalah dengan jumlah tersebut saja. Di antara dalil yang menunjukkan makna penafsiran seperti ini adalah hadis Ibnu Masud, “Aku mohon kepada-Mu dengan perantaraan semua nama milik-Mu yang Engkau namakan sendiri, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada seseorang dari hamba-Mu, atau Engkau rahasiakan dalam ilmu gaib disisi-Mu”. Ini menunjukkan bahwa Allah memiliki nama-nama yang tidak Dia turunkan dalam kitab-Nya, dan Dia rahasiakan dari seluruh makhluk-Nya. “Wa huwa witrun” maksudnya adalah Allah itu Esa tidak ada sekutu bagi-Nya. “Yuḥibbul-witra”, yakni Dia mengutamakan bilangan ganjil dalam berbagai amalan dan ketaatan. Oleh karena itu Allah mewajibkan salat sebanyak lima waktu, tawaf sebanyak tujuh putaran, dan menganjurkan pelaksanaan berbagai amalan lainnya sebanyak tiga kali, serta Dia juga menciptakan langit dan bumi sebanyak tujuh lapisan dan lain sebagainya.
صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. عمدة القاري شرح صحيح البخاري، لمحمود بن أحمد الحنفى بدر الدين العينى، الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. كشف المشكل من حديث الصحيحين، لجمال الدين أبي الفرج الجوزي، المحقق: علي حسين البواب، الناشر: دار الوطن – الرياض.