Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Keutamaan Ilmu

16 hadis

'Ketahuilah, sungguh aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian berdusta, akan tetapi Jibril datang kepadaku dan mengabarkan bahwa Allah ﷻ membanggakan kalian di hadapan para malaikat.'

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: مَا أَجْلَسَكُمْ؟ قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ، قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟ قَالُوا: وَاللهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ، قَالَ: أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ، وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلَّ عَنْهُ حَدِيثًا مِنِّي: وَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: «مَا أَجْلَسَكُمْ؟» قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ، وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا، قَالَ: «آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟» قَالُوا: وَاللهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ، قَالَ: «أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ، وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ».
Abu Sa'īd Al-Khudriy meriwayatkan bahwa Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhumā- keluar menemui sekumpulan orang di masjid, lalu bertanya, "Apa yang membuat kalian berkumpul?" Mereka menjawab, "Kami duduk mengingat Allah." Dia bertanya, "Beranikah kalian bersumpah demi Allah bahwa tidak ada yang mengumpulkan kalian kecuali hal itu?" Mereka menjawab, "Demi Allah! Tidak ada yang mengumpulkan kami kecuali itu." Dia berkata, "Ketahuilah, sungguh aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian berdusta. Tidak ada seorang pun sepertiku yang memiliki kedekatan dengan Rasulullah ﷺ yang sangat sedikit riwayat hadisnya dari beliau dibanding diriku. Rasulullah ﷺ pernah keluar menemui sekumpulan sahabatnya, lalu bertanya, 'Apa yang membuat kalian berkumpul?' Mereka menjawab, 'Kami duduk mengingat Allah serta memuji-Nya karena telah menunjuki kami kepada Islam dan menganugerakannya kepada kami.' Beliau bersabda, 'Beranikah kalian bersumpah demi Allah bahwa tidak ada yang mengumpulkan kalian kecuali hal itu?' Mereka menjawab, 'Demi Allah! Tidak ada yang mengumpulkan kami kecuali itu.' Beliau bersabda, 'Ketahuilah, sungguh aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian berdusta, akan tetapi Jibril datang kepadaku dan mengabarkan bahwa Allah ﷻ membanggakan kalian di hadapan para malaikat.'"
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Mu'āwiyah bin Abu Sufyān -raḍiyallāhu 'anhumā- keluar menemukan sekumpulan orang di masjid lalu bertanya untuk apa mereka berkumpul. Mereka menjawab: Kami duduk untuk mengingat Allah. Maka Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhu- meminta mereka bersumpah bahwa duduk dan berkumpulnya mereka hanya untuk mengingat Allah. Lantas mereka pun bersumpah. Kemudian Mu'āwiyah berkata kepada mereka: Sungguh, aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian berdusta dan meragukan kejujuran kalian. Kemudian dia menyebutkan kedekatannya dengan Nabi ﷺ; bahwa tidak ada orang yang sedekat dia dengan beliau, karena Ummu Ḥabībah, saudarinya, adalah istri Nabi ﷺ dan dia termasuk penulis wahyu, kendati seperti itu dia memiliki sedikit riwayat hadis. Lalu dia menyampaikan bahwa suatu hari, Nabi ﷺ keluar dari rumahnya dan menemukan mereka sedang duduk di masjid untuk mengingat Allah dan memuji-Nya lantaran telah menunjuki mereka kepada Islam dan menganugerahkannya kepada mereka. Nabi ﷺ bertanya dan meminta mereka bersumpah sebagaimana yang dilakukan Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhu- kepada rekan-rekannya. Kemudian Nabi ﷺ menyampaikan kepada mereka tentang sebab pertanyaan beliau serta permintaan beliau agar mereka bersumpah, yaitu bahwa Malaikat Jibril -'alaihissalām- datang pada beliau dan mengabarkan bahwa Allah ﷻ memuji dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat, yaitu dengan cara menampakkan keutamaan kalian, memperlihatkan kepada mereka amal baik kalian, dan memuji kalian di sisi mereka.

Faedah
  1. 1- Keutamaan Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhu- dan antusiasnya untuk meneladan Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan ilmu.
  2. 2- Dibolehkan meminta bersumpah tanpa memberikan tuduhan untuk mengingatkan pentingnya informasi yang didapat.
  3. 3- Keutamaan majelis zikir dan ilmu, yaitu Allah menyukainya dan membanggakannya di hadapan para malaikat.
Rujukan

صحيح مسلم (4/ 2075) (2701). نزهة المتقين (2/ 993). بهجة الناظرين، لسليم الهلالي (2/ 522). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (17/ 271).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ada dua orang bersaudara pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Salah satunya datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (untuk belajar), dan yang lainnya bekerja. Lantas orang yang bekerja itu mengadukan saudaranya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka beliau bersabda, "Bisa jadi kamu diberi rezeki karenanya."

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كان أخوانِ على عهد النبي صلى الله عليه وسلم وكان أحدُهما يأتي النبي صلى الله عليه وسلم والآخر يَحتَرِف، فَشَكَا الُمحتَرِف أَخَاه للنبي صلى الله عليه وسلم فقال: «لعَلَّك تُرزَقُ بِهِ».
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Ada dua orang bersaudara pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Salah satunya datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (untuk belajar), dan yang lainnya bekerja. Lantas orang yang bekerja itu mengadukan saudaranya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka beliau bersabda, "Bisa jadi kamu diberi rezeki karenanya."
Diriwayatkan oleh TirmiżiDerajatHadis sahih
Penjelasan

Anas -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan. Ia berkata, "Ada dua orang saudara pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Salah satunya datang ke majlis Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menyertai beliau untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan (tentang Islam) dan mengambil berbagai sabda serta perbuatan beliau. Sedangkan yang satu lagi bekerja dan berusaha mencari penghasilan. Lantas orang yang bekerja ini mengadukan saudaranya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- karena dia meninggalkan kerja. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda untuk menghiburnya, "Bisa jadi karena kamu mengurus urusannya, itu menjadi sebab dimudahkannya rezekimu. Sebab, Allah akan membantu seorang hamba selama hamba itu membantu saudaranya."

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ. تطريز رياض الصالحين للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423هـ. جامع الترمذي، تحقيق وتعليق: أحمد محمد شاكر وآخرون، ط2، شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي، مصر، 1395هـ. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425هـ. صحيح الجامع الصغير وزياداته، للألباني، نشر: المكتب الإسلامي. رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa yang keluar dalam rangka mencari ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali.

عن أنس رضي الله عنه مرفوعاً: «من خَرج في طلب العلم فهو في سَبِيلِ الله حتى يرجع».
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': "Siapa yang keluar dalam rangka mencari ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali."
Diriwayatkan oleh TirmiżiDerajatHadis hasan
Penjelasan

Makna hadis: Sesungguhnya orang yang keluar dari rumahnya atau negerinya demi menuntut ilmu agama, maka ia dianggap sebagai orang yang keluar untuk berjihad di jalan Allah -Ta'ālā- sampai ia kembali ke keluarganya, karena ia laksana mujahid dalam menghidupkan agama, menghinakan setan, dan mengorbankan dirinya.

Faedah
  1. Menuntut ilmu adalah jihad fi sabilillah.
  2. Penuntut ilmu mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berjihad di medan tempur karena masing-masing mereka sedang memperkuat agama Allah serta menghalau apa yang bukan dari agama-Nya.
  3. Di dalam hadis ini ada pelajaran bahwa orang yang keluar menuntut ilmu mendapatkan pahala berjalan pergi dan pulang hingga dia kembali ke keluarganya.
Rujukan

جامع الترمذي، تحقيق وتعليق:أحمد محمد شاكر وآخرون، مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي، ط2، مصر، 1395هـ. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425ه. رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ. رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ. صحيح الترغيب والترهيب، للألباني، ط5، مكتبة المعارف – الرياض. مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، للمباركفوري، الطبعة الثالثة، إدارة البحوث العلمية والدعوة والإفتاء، الجامعة السلفية - بنارس الهند، 1404هـ. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، للقاري، ط1، دار الفكر، بيروت، 1422هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya bagaikan hujan deras yang membasahi tanah

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضيَ اللهُ عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ، أَمْسَكَتِ المَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ».
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya bagaikan hujan deras yang membasahi tanah. Sebagian jenis tanah ada yang baik dan menyerap air lalu menumbuhkan rerumputan dan tumbuhan yang banyak. Sebagian ada yang keras dan menahan air, maka Allah menjadikannya bermanfaat bagi manusia, yaitu mereka bisa minum, melakukan pengairan, dan bercocok tanam. Sedang sebagian yang lain adalah tanah gersang yang tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanaman. Demikianlah perumpamaan orang yang paham agama Allah dan mendapat manfaat dari apa yang Allah mengutusku dengannya, yaitu dia belajar lalu mengajarkan ilmunya. Demikian pula perumpamaan orang yang tidak peduli dan yang tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Dengan penuh kagum, Nabi Muhammad ﷺ mengumpamakan orang yang mendapat manfaat lewat ajaran yang beliau bawa berupa petunjuk, jalan yang akan mewujudkan cita-cita, dan ilmu syariat dengan tanah yang disiram oleh hujan deras. Tanah tersebut terbagi menjadi tiga macam: Pertama: tanah yang baik dan menyerap air hujan, sehingga tumbuh banyak macam tumbuhan, baik yang basah maupun kering, sehingga orang-orang mendapat manfaatnya. Kedua: tanah yang menahan air namun tidak menumbuhkan tanaman. Tanah tersebut menyimpan air agar dapat dimanfaatkan manusia untuk mereka minum sendiri serta mereka berikan kepada ternak dan tanaman mereka. Ketiga: tanah tandus dan gersang yang tidak menahan air maupun menumbuhkan tumbuhan. Tanah tersebut tidak mendapatkan manfaat dari air itu, dan tidak pula bermanfaat untuk manusia. Demikian halnya orang-orang yang mendengar ilmu dan petunjuk yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Pertama: orang berilmu dan mengerti agama Allah, mengamalkan ilmunya, dan mengajar orang lain. Orang yang seperti ini sama dengan tanah yang baik, ia menyerap air hujan sehingga bermanfaat untuk zatnya sendiri dan menumbuhkan tumbuhan sehingga bermanfaat untuk selainnya. Kedua: orang yang mengumpulkan ilmu namun tidak paham. Dia mengoleksi ilmu dan menghabiskan waktunya untuk itu, namun ia tidak melaksanakan konsekuensinya atau tidak memahami apa yang ia kumpulkan. Ia menjadi media bagi yang lain. Ia ibarat tanah yang dapat bertahan air padanya sehingga dapat dimanfaatkan manusia. Ketiga: orang yang mendengar ilmu namun tidak menghafalnya, tidak mengamalkannya, dan tidak membagikannya kepada yang lain. Ia seperti tanah yang tandus atau licin yang tidak menumbuhkan tanaman, tidak menyimpan air, atau justru merusak air bagi yang lain.

Faedah
  1. 1- Menjelaskan keutamaan menuntut ilmu dan mengajarkannya serta larangan dari berpaling dari keduanya.
  2. 2- Membuat permisalan-permisalan demi mendekatkan perkara-perkara abstrak kepada manusia.
  3. 3- Al-Qurṭubi berkata, "Sebagaimana hujan menghidupkan negeri yang mati, demikian halnya ilmu agama akan menghidupkan hati yang mati. Kemudian beliau memisalkan orang yang mendengarnya dengan aneka macam tanah tempat turunnya hujan."
  4. 4- Manusia terbagi menjadi beberapa tingkatan dalam hal mengambil ilmu agama.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 27) (79). صحيح مسلم (4/ 1787) (2282). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 464). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (2/ 294). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (2/ 950).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa yang mengangkat satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan angkat darinya satu kesusahan hari Kiamat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengangkat satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan angkat darinya satu kesusahan hari Kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang dilanda kesulitan, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dinaungi oleh para malaikat, dan disebut oleh Allah di tengah makhluk yang ada di sisi-Nya. Siapa yang diperlambat oleh amalnya, tidak akan bisa dipercepat oleh nasabnya."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan bahwa balasan seorang muslim di sisi Allah sejenis dengan apa yang ia lakukan pada umat Islam. Siapa yang mengangkat suatu kesusahan dan kesulitan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan membalasnya dengan diangkatkan satu kesusahan hari Kiamat dari dirinya. Siapa yang memudahkan orang yang sedang mengalami kesulitan dan menghilangkan kesulitannya, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, misalkan ia mengetahuinya melakukan kekeliruan dan kesalahan yang tidak patut ditampakkan, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut membantu saudaranya dalam kemaslahatan agama dan dunianya. Membantu dapat dilakukan dengan doa, tenaga, harta dan lainnya. Siapa yang berjalan untuk mendapatkan ilmu agama karena menginginkan wajah Allah Ta'ala, maka dengan sebab itu Allah akan memudahkannya pada satu jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Al-Qur`an dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun pada mereka ketenangan dan ketenteraman, mereka akan diliputi oleh rahmat Allah, mereka dinaungi oleh malaikat, dan akan dipuji oleh Allah di hadapan malaikat-malaikat yang didekatkan di sisi-Nya. Cukuplah sebagai kemuliaan ketika nama hamba disebut oleh Allah di kalangan makhluk-makhluk mulia yang tertinggi. Siapa yang amalnya kurang, nasabnya tidak akan mengantarnya ke tingkatan orang-orang yang beramal. Sebab itu, tidak dibenarkan bertumpu pada kemuliaan nasab dan nenek moyang lalu lalai dalam beramal.

Faedah
  1. 1- Ibnu Daqīq Al-'Īd berkata, "Ini adalah hadis yang agung, yang berisikan berbagai ilmu, kaidah, dan adab. Di dalamnya terkandung keutamaan membantu hajat kaum muslimin dan berbagi manfaat apa saja yang memungkinkan seperti ilmu, harta, bantuan, arahan pada suatu maslahat, nasihat dan lain sebagainya."
  2. 2- Dorongan untuk memudahkan orang yang mengalami kesulitan.
  3. 3- Anjuran untuk membantu seorang muslim, bahwa Allah Ta'ala akan menolong orang yang membantunya sesuai bantuannya kepada saudaranya.
  4. 4- Termasuk menutupi aib seorang muslim ialah tidak mencari-cari kekurangannya. Diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa ia mengatakan, "Aku mendapatkan sejumlah orang yang tidak memiliki kekurangan, lalu mereka menyebutkan kekurangan orang lain, maka orang-orang pun menyebut kekurangannya. Pun aku mendapatkan sejumlah orang yang memiliki kekurangan, tetapi mereka menahan diri dari kekurangan orang lain, maka kekurangan mereka dilupakan."
  5. 5- Membiarkan kemungkaran dan tidak mengingkarinya bukanlah bagian dari menutup aib orang lain. Melainkan ia harus ingkari sekaligus ia tutupi. Hal ini bagi orang yang tidak terkenal melakukan kerusakan dan jauh dari kezaliman. Adapun orang yang terkenal dengan hal tersebut, maka tidak dianjurkan menutup kemungkarannya, tetapi ia dilaporkan ke pihak berwenang jika tidak dikhawatirkan akan mendatangkan kerusakan. Alasannya adalah karena tindakan menutupinya akan semakin mendorongnya melakukan kerusakan, membuatnya semakin berani menyakiti manusia, dan akan membuat para pelaku keburukan dan kezaliman lainnya semakin berani.
  6. 6- Anjuran untuk menuntut ilmu, membaca Al-Qur`an, dan mempelajarinya secara bersama-sama.
  7. 7- An-Nawawiy berkata, "Dalam hadis ini terkandung dalil keutamaan berkumpul untuk membaca Al-Qur`an di masjid.... Berkumpul di sekolah, halakah, dan semisalnya, insya Allah disamakan dengan keutamaan berkumpul di masjid."
  8. 8- Balasan itu diberikan oleh Allah berdasarkan amalan, bukan berdasarkan nasab.
Rujukan

صحيح مسلم (4/ 2074) (2699). التحفة الربانية، لإسماعيل الأنصاري (ص82). الأحاديث الأربعون النووية وعليها الشرح الموجز المفيد، لعبد الله المحسن (ص69). شرح الأربعين النووية ، لابن عثيمين (ص355).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memahamkannya tentang agama ini

عن معاوية رضي الله عنه قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: «مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ، وَاللهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللهِ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ».
Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memahamkannya tentang agama ini. Sesungguhnya aku hanyalah pembagi dan Allahlah yang memberi. Umat ini akan senantiasa tegak di atas perintah Allah, mereka tidak akan dicelakakan oleh orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang perintah Allah (hari Kiamat)."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa siapa yang Allah kehendaki untuk mendapatkan kebaikan maka Allah akan menganugerahkan kepadanya pemahaman tentang agama Allah. Beliau juga mengabarkan bahwa dirinya hanya pembagi rezeki, ilmu dan lainnya yang Allah berikan kepada beliau, sedangkan pemberi sebenarnya adalah Allah. Adapun selain-Nya, maka sebatas sebab yang tidak dapat memberi manfaat kecuali dengan izin Allah. Beliau juga menerangkan bahwa umat ini akan senantiasa tegak di atas perintah Allah, orang-orang yang menyelisihi mereka tidak akan mencelakakan mereka hingga hari Kiamat tiba.

Faedah
  1. 1- Keagungan dan keutamaan ilmu syariat dan mempelajarinya serta anjuran kepadanya.
  2. 2- Penegakan kebenaran akan selalu ada pada umat ini. Jika sebagian kalangan meninggalkannya maka akan ditegakkan oleh kalangan yang lain.
  3. 3- Belajar agama termasuk tanda bahwa Allah Ta'ala menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya.
  4. 4- Nabi ﷺ hanya memberi karunia atas perintah dan kehendak Allah, beliau tidak memiliki sedikit pun darinya.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 25) (71). صحيح مسلم (2/ 718) (1037). توضيح الأحكام من بلوغ المرام، للبسام (7/ 485). منحة العلام في شرح بلوغ المرام، لعبد الله الفوزان (10/ 324). فتح ذي الجلال والإكرام، لابن عثيمين (6/ 424). سبل السلام بشرح بلوغ المرام، للصنعاني (2/ 688).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ البَاهِلِيِّ رَضيَ اللهُ عنه قَالَ: ذُكِرَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاَنِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالآخَرُ عَالِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ»، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ».
Abu Umāmah al-Bāhiliy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Pernah disebutkan kepada Rasulullah ﷺ tentang dua orang, salah satunya ahli ibadah sedangkan yang lainnya ahli ilmu, maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian." Selanjutnya Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi, sampai semut di lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar berselawat bagi seorang yang mengajarkan manusia kebaikan."
HR. TirmiziDerajatHasan li gairihi
Penjelasan

Disebutkan kepada Rasulullah ﷺ tentang dua orang, salah satunya ahli ibadah, sedangkan yang lain ahli ilmu, maka siapakah di antara mereka yang paling utama? Beliau ﷺ lantas bersabda, "Keutamaan seorang yang berilmu tentang ilmu-ilmu syariat serta mengamalkan dan mengajarkannya atas ahli ibadah yang konsentrasi ibadah serta mengetahui ilmu yang diwajibkan padanya, seperti keutamaan dan kemuliaan beliau ﷺ atas sahabat yang paling rendah." Kemudian beliau ﷺ menjelaskan sebabnya, yaitu Allah Ta'ala, para malaikat pemikul Arasy, dan semua malaikat penghuni langit, serta penduduk bumi dari kalangan manusia, jin dan semua hewan, hingga semut di dalam lubang tempat tinggalnya dalam perut bumi, dan hingga ikan di lautan, sehingga mencakup semua hewan darat dan laut, semuanya mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan manusia ilmu agama yang mengandung keselamatan dan kebahagiaan mereka.

Faedah
  1. 1- Di antara metode dakwah ialah memberi motivasi dan membuat permisalan.
  2. 2- Besarnya kemuliaan para ulama yang telah menuntut ilmu serta menunaikan haknya dengan mengamalkan dan mendakwahkannya.
  3. 3- Anjuran untuk memuliakan para ulama dan penuntut ilmu serta mendoakan mereka.
  4. 4- Anjuran untuk mengajarkan kebaikan kepada manusia karena merupakan sebab keselamatan dan kebahagiaan mereka.
Rujukan

سنن الترمذي (4/ 416) (2685). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (16/ 481). مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي القاري (1/ 298). فيض القدير شرح الجامع الصغير، للمناوي (4/ 432). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 469). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص758). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (2/ 954).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.

عن أبي الدرداء رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «مَنْ سَلَكَ طَريقا يَبْتَغي فيه عِلْما سَهَّل الله له طريقا إلى الجنة، وإنَّ الملائكةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتها لطالب العلم رضًا بما يَصنَع، وإنَ العالم لَيَسْتَغْفِرُ له مَنْ في السماوات ومَنْ في الأرض حتى الحيتَانُ في الماء، وفضْلُ العالم على العَابِدِ كَفَضْلِ القمر على سائِرِ الكواكب، وإنَّ العلماء وَرَثَة الأنبياء، وإنَّ الأنبياء لم يَوَرِّثُوا دينارا ولا دِرْهَماً وإنما وَرَّثُوا العلم، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بحَظٍّ وَافِرٍ».
Dari Abu Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam-, beliau bersabda, "Siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Dan sungguh para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu karena senang dengan perbuatannya. Sesungguhnya orang berilmu itu akan dimintakan ampunan oleh (makhluk) yang berada di langit dan di bumi hingga ikan di air. Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah laksana keutamaan rembulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang melimpah."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh DārimiDerajatHadis hasan
Penjelasan

Hadis ini secara spesifik menjelaskan keutamaan-keutamaan mencari ilmu: Pertama: Seseorang yang menapaki jalan untuk mencari ilmu atau meneliti keilmuan, meskipun itu dilakukan di dalam rumahnya sendiri maka Allah membalasnya dengan memudahkan jalannya menuju Surga. Menapaki jalan ilmu di sini mencakup jalan yang nyata yang dilewati saat berjalan, juga mencakup jalan maknawi yaitu mencari ilmu dengan jalan bersimpuh di majelis ulama, dan mencarinya di kitab-kitab, karena orang yang menggali buku-buku untuk mengetahui hukum suatu permasalahan agama atau duduk di hadapan seorang sykeh untuk belajar, maka sesungguhnya dia telah termasuk mencari ilmu meskipun dengan cara duduk. Di antara keutamaan yang disebutkan dalam hadis ini adalah bahwa ulama senatiasa didoakan oleh penghuni langit dan penghuni bumi, bahkan ikan-ikan di lautan dan binatang-binatang melata di daratan turut mendoakannya. Di antara keutamaannya juga adalah bahwa para malaikat yang dimuliakan oleh Allah akan meletakkan sayap-sayapnya untuk dilewati pencari ilmu karena senang dengan perbuatan mereka sebagai bentuk tawaduk dan pengagungan terhadap ilmu dan ahli ilmu. Di antaran keutamaan yang disebutkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- dalam hadis ini: bahwa para ulama adalah ahli waris para Nabi; di mana mereka mewarisi ilmu sekaligus pengamalannya, juga mewarisi aktifitas dakwah mereka kepada Allah -'Azzā wa Jallā- dan misi penjelasan petunjuk kepada manusia agar mereka mendapatkan petunjuk Allah dan agama-Nya. Termasuk keutamaannya juga bahwa kelebihan seorang alim di atas orang ahli ibadah bagaikan kelebihan bulan purnama yang mengalahkan bintang-bintang langit lainnya, karena cahaya yang terpancar dari ibadah dan kesempurnaannya hanya berhenti pada pribadi pelakunya, tidak sampai ke orang lain, sehingga cahayanya laksana cahaya bintang-bintang langit. Adapun cahaya ilmu dan kesempurnaannya, maka bisa sampai ke orang lain sehingga diapun terpancari cahaya. Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- lalu menjelaskan bahwa para Nabi tidak mewariskan harta dunia untuk generasi sepeninggal mereka, mereka tidak meninggalkan warisan berupa dinar ataupun dirham, namun warisan mereka yang paling agung adalah ilmu; maka barangsiapa yang bisa mengambilnya maka ia telah mengambil suatu bagian yang sempurna sebab ia merupakan warisan yang hakiki lagi bermanfaat. Seseorang tidak boleh mengira bahwa seorang alim yang diutamakan (dalam hadis ini) sama sekali tidak beramal ibadah dan seorang ahli ibadah tersebut sama sekali tidak berilmu, akan tetapi (perbedaan keduanya) adalah ilmu sang alim mengalahkan amalnya dan ibadah sang ahli ibadah mengalahkan ilmunya. Karenanya, ulama disebut pewaris Nabi yang mendapatkan dua kebaikan; ilmu dan amal. Dan juga mendapatkan dua keutamaan; kesempurnaan dan penyempurnaan. Inilah jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang arif dan dekat kepada Allah.

Rujukan

- الجامع الصحيح -وهو سنن الترمذي-؛ للإمام محمد بن عيسى الترمذي، تحقيق أحمد شاكر وآخرين، مكتبة الحلبي-مصر، الطبعة الثانية، 1388هـ. - رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ. - سنن أبي داود؛ للإمام أبي داود سليمان بن الأشعث السجستاني، تعليق عزت الدعاس وغيره، دار ابن حزم-بيروت، الطبعة الأولى، 1418هـ. - سنن ابن ماجه؛ للحافظ محمد بن يزيد القزويني، حققه محمد فؤاد عبدالباقي، دار إحياء الكتب العربية. - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ. - صحيح الترغيب والترهيب؛ تأليف محمد ناصر الدين الألباني، مكتبة المعارف-الرياض، الطبعة الخامسة. - كنوز رياض الصالحين؛ فريق علمي برئاسة أ.د. حمد العمار، دار كنوز إشبيليا-الرياض، الطبعة الأولى، 1430هـ. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ. - سنن أبي داود, أبو داود سليمان بن الأشعث بن إسحاق بن بشير بن شداد بن عمرو الأزدي السِّجِسْتاني, المحقق: محمد محيي الدين عبد الحميد, المكتبة العصرية، صيدا – بيروت. - سنن الترمذي، تأليف: محمد بن عيسى الترمذي، تحقيق أحمد شاكر وغيره ، الناشر: شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي، الطبعة: الثانية، 1395 هـ. - مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى، 1421هـ - 2001 م. - صَحِيحُ التَّرْغِيب وَالتَّرْهِيب, محمد ناصر الدين الألباني, مكتَبة المَعارف لِلنَشْرِ والتوزيْع، الرياض - المملكة العربية السعودية, الطبعة: الأولى، 1421 هـ - 2000 م. - بهجة الناظرين, سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي ، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م. - مفتاح دار السعادة ومنشور ولاية العلم والإرادة, محمد بن أبي بكر بن أيوب بن سعد شمس الدين ابن قيم الجوزية, دار الكتب العلمية – بيروت. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين, محمد علي بن محمد البكري الصديقي الشافعي, اعتنى بها: خليل مأمون شيحا, الناشر: دار المعرفة للطباعة والنشر والتوزيع، بيروت – لبنان, الطبعة: الرابعة، 1425 هـ - 2004 م. - تطريز رياض الصالحين, فيصل بن عبد العزيز بن فيصل ابن حمد المبارك الحريملي النجدي, المحقق: د. عبد العزيز بن عبد الله آل حمد, دار العاصمة للنشر والتوزيع، الرياض, الطبعة: الأولى، 1423 هـ - 2002 م. - مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي بن سلطان الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت – لبنان، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م. - حاشية السندي على سنن ابن ماجه = كفاية الحاجة في شرح سنن ابن ماجه, محمد بن عبد الهادي التتوي، أبو الحسن، نور الدين السندي, دار الجيل - بيروت، بدون طبعة. - تاج العروس من جواهر القاموس, محمّد بن محمّد بن عبد الرزّاق الحسيني، الملقّب بمرتضى، الزَّبيدي, مجموعة من المحققين, الناشر: دار الهداية.

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 13
13 hadis
  1. 'Ketahuilah, sungguh aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian berdusta, akan tetapi Jibril datang kepadaku dan mengabarkan bahwa Allah ﷻ membanggakan kalian di hadapan para malaikat.'
  2. Ada dua orang bersaudara pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Salah satunya datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (untuk belajar), dan yang lainnya bekerja. Lantas orang yang bekerja itu mengadukan saudaranya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka beliau bersabda, "Bisa jadi kamu diberi rezeki karenanya."
  3. Siapa yang keluar dalam rangka mencari ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali.
  4. Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya bagaikan hujan deras yang membasahi tanah
  5. Siapa yang mengangkat satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan angkat darinya satu kesusahan hari Kiamat
  6. Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memahamkannya tentang agama ini
  7. Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian
  8. Siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.
  9. Manusia ibarat barang tambang berharga seperti tambang emas dan perak; orang-orang mulia pada masa jahiliah adalah orang-orang mulia pada masa Islam jika mereka memahami (agama). Ruh-ruh manusia bagaikan tentara yang berkumpul; jika saling kenal maka bersatu dan jika tidak saling kenal maka ia akan terpisah.
  10. Semoga Allah membaguskan rupa orang yang mendengar sebagian hadis kami kemudian ia menyampaikannya seperti yang ia dengar. Barangkali orang yang disampaikan padanya (suatu hadis) justru lebih paham daripada orang yang mendengarnya langsung
  11. 'Di antara tanda-tanda kiamat: ilmu diangkat, kebodohan merebak, perzinaan meluas, peminum khamar bertambah, dan jumlah laki-laki sedikit sedangkan perempuan banyak, sampai-sampai 50 perempuan diurus oleh satu laki-laki.'
  12. mereka biasa belajar Al-Qur`an dari Rasulullah ﷺ per sepuluh ayat, mereka tidak akan masuk ke sepuluh ayat lainnya kecuali setelah mereka mengetahui pengetahuan dan pengamalan yang dikandungnya
  13. ‘Wahai Abu Munżir, tahukah engkau, ayat manakah yang paling agung dari kitabullah yang engkau hafal?’ Aku menjawab, ‘Yaitu, 'Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyu al-qayyūm ...’. [QS. Al-Baqarah: 255]. Beliau menepuk dadaku dan bersabda, ‘Demi Allah, semoga ilmu mudah kaupelajari, wahai Abu Munżir.’”

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com