عن أبي ثَعْلبة الخُشني رضي الله عنه قال: «أَتَيْتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت: يا رسول الله، إنا بأرض قوم أهل كتاب، أَفَنَأْكُلُ في آنِيَتِهِم؟ وفي أرض صيد، أَصِيدُ بِقَوْسِي وبِكَلْبِي الذي ليس بِمُعَلَّمٍ، وبِكَلْبِي المُعَلَّمِ، فما يَصلح لي؟ قال: أمَّا مَا ذَكَرْتَ- يعني من آنية أهل الكتاب-: فإِنْ وجدْتُمْ غيرها فلا تأكلوا فيها، وإِنْ لم تَجِدُوا فاغسِلوهَا، وكلوا فِيهَا، وما صدتَ بِقَوْسِكَ، فذَكَرْتَ اسمَ الله عَلَيه فَكُلْ، وما صِدْتَ بِكَلْبِكَ المُعَلَّمِ، فَذَكَرْتَ اسْمَ الله عليه فَكُلْ، وما صِدْتَ بِكَلْبِكَ غيرِ المُعَلَّمِ فَأَدْرَكْتَ ذَكَاتَهُ فَكُلْ».
Dari Abu Ṡa'labah Al-Khusyani -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku pernah datang kepada Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu aku berkata, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami berada di negeri kaum Ahli Kitab, bolehkan kami makan di wadah-wadah mereka? Dan ketika di area perburuan; aku berburu dengan panahku dan anjingku yang tidak terlatih, serta anjingku yang terlatih, apa yang sebaiknya aku lakukan?" Beliau bersabda, "Adapun apa yang engkau sebutkan -maksudnya wadah Ahli Kitab-, jika engkau masih menemukan wadah lainnya maka jangan makan di wadah tersebut. Jika tidak menemukan selainnya, cucilah wadah-wadah itu dan makanlah dengannya. Sedangkan hewan yang engkau buru dengan panahmu lalu engkau menyebut nama Allah padanya maka makanlah! Adapun binatang yang engkau buru dengan anjingmu yang terlatih lalu engkau menyebut nama Allah padanya maka makanlah! Sedangkan hewan yang engkau buru dengan anjingmu yang tidak terlatih lalu engkau sempat menyembelihnya maka makanlah!"
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Abu Ṡa'labah -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa mereka diuji hidup berdampingan dengan Ahli Kitab. Maksudnya orang-orang Yahudi atau Nasrani. Apakah boleh bagi mereka untuk makan di wadah-wadah Ahli Kitab yang diduga bernajis? Lantas beliau memfatwakan dibolehkannya makan di wadah-wadah tersebut. Hanya saja lebih utama menggunakannya selain untuk makan dengan dua syarat:
1- Mereka tidak menemukan wadah yang lain.
2 - Hendaknya mereka mencucinya (lebih dulu).
Dia menuturkan kepada beliau bahwa mereka berada di area perburuan dan dia sendiri berburu dengan panahnya dan anjingnya yang sudah dilatih untuk berburu dan adab-adabnya, dan dengan anjingnya yang tidak dilatih. Lantas apa yang baik dan boleh dari perburuan dengan alat-alat tersebut? Beliau memberikan fatwa kepadanya bahwa apa yang diburu dengan panahnya halal untuknya dengan syarat menyebut nama Allah -Ta'āla- saat melepas anak panah. Sedangkan binatang yang diburu oleh anjing, jika anjing itu terlatih dan disebutkan nama Allah saat melepasnya maka binatang buruan itu juga halal. Sedangkan anjing yang tidak dilatih maka hasil buruannya tidak halal kecuali apabila seseorang menemukan buruan tersebut masih hidup dan dia sempat menyembelihnya dengan penyembelihan sesuai syariat.
Rujukan
-صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه.
-صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423ه.ـ
-تيسير العلام شرح عمدة الأحكام للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الأمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، 1426ه.
-عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، ط2، دار الثقافة العربية، دمشق، بيروت، مؤسسة قرطبة، 1408هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أنس رضي الله عنه قال: «أَنْفَجْنَا أَرْنَباً بِمَرِّ الظَّهْرَانِ، فَسَعَى الْقَوْمُ فَلَغَبُوا، وَأَدْرَكْتُهَا فَأَخَذْتُهَا، فَأَتَيْتُ بِهَا أَبَا طَلْحَةَ، فَذَبَحَهَا وَبَعَثَ إلَى رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم بِوَرِكِهَا وَفَخِذَيْهَا فَقَبِلَهُ».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Kami pernah dikagetkan oleh seekor kelinci (dari lubangnya) di Marr aẓ-Ẓahrān (nama lembah di sebelah utara Makkah, red.) lalu orang-orang mengejarnya hingga kelelahan. Aku mendapatkan kelinci itu dan berhasil menangkapnya lalu aku membawanya kepada Abu Ṭalḥah. Lantas dia menyembelihnya dan mengirimkan bagian pinggul dan pahanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau pun menerimanya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan para sahabatnya sedang dalam perjalanan. Barangkali beliau singgah di satu tempat yang berada di Marr aẓ-Ẓahrān (nama lembah di sebelah utara Makkah, red). Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- singgah di lokasi ini pada tahun pembebasan kota Makkah. Lantas mereka dikejutkan oleh seekor kelinci. Lantas orang-orang mengejarnya untuk menangkapnya hingga mereka kelelahan. Aku dapat menangkap kelinci tersebut. Saat itu Anas bin Malik masih muda belia-, lalu dia berhasil menangkap kelinci itu dan membawanya kepada suami ibunya (bapak tirinya), yaitu Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu-. Abu Ṭalḥah pun menyembelih kelinci itu dan menghadiahkan bagian dua pahanya dan pinggulnya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau menerima hadiah itu, dan mungkin saja beliau telah memakan sebagiannya.
Rujukan
صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ.
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، إسماعيل بن محمد الأنصاري، دار الفكر، دمشق، الطبعة: الأولى 1381هـ.
تأسيس الأحكام، أحمد بن يحيى النجمي، دار علماء السلف، الطبعة: الثانية 1414هـ.
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الأمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة 1426هـ.
عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، دار الثقافة العربية، دمشق، بيروت، مؤسسة قرطبة، الطبعة: الثانية 1408هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ ابنِ عُمَرَ رَضيَ اللهُ عنهما عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلَّا كَلْبَ ضَارٍ أَوْ مَاشِيَةٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ»، قَالَ سَالِمٌ: وَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يَقُولُ: «أَوْ كَلْبَ حَرْثٍ»، وَكَانَ صَاحِبَ حَرْثٍ.
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang memelihara anjing selain anjing untuk berburu atau menjaga ternak, maka pahala amalnya akan berkurang dua qirāṭ setiap hari." Sālim berkata, "Abu Hurairah berkata: Atau anjing untuk menjaga kebun." Dia sendiri adalah pemilik kebun.
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mewanti-wanti perbuatan memelihara anjing selain untuk keperluan berburu, menjaga ternak, dan tanaman. Orang yang memelihara anjing bukan untuk tujuan itu, maka pahala amalnya akan berkurang dua qirāṭ setiap hari, yaitu ukuran tertentu di sisi Allah Ta'ala.
Faedah
- 1- Seorang muslim tidak boleh memelihara anjing kecuali untuk perkara yang izinkan.
- 2- Larangan memelihara anjing karena mengandung kerusakan dan keburukan yang banyak. Disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ yang sahih bahwa para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing karena mengandung najis berat yang tidak dapat dihilangkan kecuali dengan basuhan berulang menggunakan air dan tanah.
Rujukan
صحيح البخاري (7/ 87) (5480).
صحيح مسلم (3/ 1202) (1574).
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص720).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن عديّ بن حاتم رضي الله عنه قال: قلتُ: يا رسول الله، إني أُرسلُ الكلاب المعلَّمة، فيُمسِكنَ عليّ، وأذكرُ اسم الله؟ فقال: "إذا أرسلتَ كلبَكَ المعلَّمَ، وذكرتَ اسمَ الله، فكُلْ ما أمسكَ عليك"، قلت: وإن قتلنَ؟ قال: "وإن قَتلْنَ، ما لم يَشْرَكْها كلبٌ ليس منها"، قلتُ له: فإني أرمي بالمِعْراض الصيدَ فأُصُيبُ؟ فقال: "إذا رميتَ بالمعراضِ فخزَقَ فكلْهُ، وإن أصابَه بعَرْضٍ فلا تأكلْهُ".
وحديث الشعبي، عن عدي نحوه، وفيه: "إلا أن يأكل الكلب، فإن أكل فلا تأكل؛ فإني أخاف أن يكون إنما أمسك على نفسه، وإن خالطها كلاب من غيرها فلا تأكل؛ فإنما سميت على كلبك، ولم تسم على غيره".
وفيه: "إذا أرسلت كلبك المكلب فاذكر اسم الله، فإن أمسك عليك فأدركته حيا فاذبحه، وإن أدركته قد قتل ولم يأكل منه فكله، فإنَّ أخْذَ الكلبِ ذَكَاته".
وفيه أيضا: "إذا رميت بسهمك فاذكر اسم الله".
وفيه: "فإن غاب عنك يوما أو يومين -وفي رواية: اليومين والثلاثة- فلم تجد فيه إلا أثر سهمك، فكل إن شئت، فإن وجدته غريقا في الماء فلا تأكل؛ فإنك لا تدري الماء قتله، أو سهمك؟
Dari 'Adi bin Hātim -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, saya biasa melepaskan anjing-anjing yang telah terlatih untuk berburu dan mendapatkan buruannya untuk saya dan sayapun telah menyebut nama Allah saat melepaskan?!" Beliau menjawab, "Jika kamu melepaskan anjing pemburumu yang telah terlatih dan kamu telah menyebut nama Allah, maka makanlah hewan tangkapannya." Aku bertanya, "Meskipun anjing-anjing itu membunuh tangkapannya?!" Beliau menjawab, "Meskipun sampai membunuhnya, selama tidak ada anjing lain yang ikut andil dalam membunuh mangsanya tersebut." Aku bertanya, "Saya juga biasa berburu memakai tombak dan sering mengenai hewan buruan?!" Beliau bersabda, "Jika kamu melemparkan tombak dan menembus bagian tubuh hewan buruan dan mati, maka makanlah. Dan jika hewan itu mati karena gagangnya maka jangan makan!" Hadis riwayat Asy-Sya'bi dari 'Adi juga sama dan di dalamnya terdapat sabda Rasulullah, "Kecuali jika anjing terlatih itu memakan korbannya; jika ia memakan maka janganlah kamu makan, karena saya takut anjing itu menangkap mangsanya untuk dirinya sendiri. Jika ada anjing lain turut andil bersama anjing pemburumu, maka mangsanya yang mati jangan kamu makan, karena kamu membaca nama Allah untuk anjingmu, bukan untuk anjing lain." Dalam riwayat itu disebutkan, "Jika kamu melepaskan anjing pemburumu, maka sebutlah nama Allah; jika ia menangkap mangsanya untukmu dan kamu dapati masih hidup maka sembelihlah. Jika engkau temukan dalam keadaan mati dan anjingmu tidak memakan sama sekali maka makanlah, karena terkaman anjing adalah sembelihannya." Dalam riwayat itu pula disebutkan, "Jika kamu mengarahkan anak panahmu, maka sebutlah nama Allah." Dalam bab ini Rasulullah juga bersabda, "Jika hewan bidikanmu hilang dalam sehari atau dua hari -dalam riwayat lain disebutkan, dua atau tiga hari- dan kamu tidak menemukan luka dalam tubuhnya kecuali luka sebab panahmu maka makanlah, jika engkau mau. Jika kamu menemukan bidikanmu itu tenggelam dalam air maka jangan makan, karena kamu tidak tahu apakah kematiannya itu disebabkan tenggelam di air atau karena panahmu."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Adi bin Ḥātim bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang hukum berburu dengan menggunakan anjing pemburu yang telah dilatih pemiliknya tentang cara berburu. Maka beliau menjawab, "Makanlah hewan buruan yang ditangkap anjing tersebut untukmu asal kamu saat melepaskannya menyebut nama Allah dan tidak ada anjing lain yang ikut andil dalam menangkap buruan; jika ada anjing lain maka jangan makan, karena kamu menyebut nama Allah hanya untuk anjingmu, bukan untuk anjing lain. Begitu pula jika engkau berburu dengan menggunakan tombak dan mata tombaknya menembus tubuh hewan buruan sampai keluar darah, maka makanlah dengan syarat engkau telah menyebut nama Allah saat melempar tombak. Jika hewan buruan itu mati karena terkena gagangnya, maka jangan makan, karena hewan buruan itu mati disebabkan terpukul benda tumpul, seperti halnya hewan yang mati karena terjatuh dari ketinggian dan hewan yang mati karena kena tanduk. Jika seseorang melepaskan anjing pemburunya dan mendapati hewan buruan dalam kondisi hidup, tidak dibunuh oleh anjing tersebut, maka wajib menyembelihnya sehingga menjadi halal, meskipun prosesnya dibantu anjing lain. 'Adi juga bertanya tentang hukum berburu dengan anak panah apabila diawali dengan menyebut nama Allah. Maka beliau memerintahkannya untuk memakan hewan buruannya. Jika hewan buruan itu terluka dan hilang dalam sehari atau dua hari dan menemukannya tiada luka selain karena anak panahnya, maka boleh memakannya. Jika hewan itu ditemukan tenggelam dalam air maka tidak boleh memakannya, karena tidak diketahui apakah air itu yang membunuhnya ataukah anak panahnya.
Rujukan
صحيح البخاري، تحقيق محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، ط 1422هـ.
صحيح مسلم، ط دار إحياء التراث العربي، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي.
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري، ط دار الفكر بدمشق، الطبعة الأولى، 1381هـ.
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام، ط دار الميمان، 1426هـ.
تأسيس الأحكام للنجمي، ط دار المنهاج، 1427هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن ابن أبي عَمَّار قال: قلت لجابر: الضَّبْع صَيْدٌ هي؟ قال: «نعم»، قال: قلتُ: آكُلُها؟ قال: «نعم»، قال: قلتُ له: أَقَالَهُ رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال: «نعم».
Ibnu Abi 'Ammār berkata, Aku bertanya kepada Jābir, "Apakah hiena termasuk hewan buruan?" Jābir menjawab, "Ya." Aku bertanya lagi, "Apakah aku boleh memakannya?" Dia menjawab, "Ya." Aku bertanya, "Apakah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang mengucapkannya?" Dia menjawab, "Ya."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh DārimiDerajatHadis sahih
Penjelasan
Seorang tabiin, yaitu Ibnu Abi 'Ammār -raḥimahullāh- bertanya kepada Jābir bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā- tentang hukum hiena, apakah boleh diburu dan dimakan? Jābir menjawab bahwa hal itu diperbolehkan. Kemudian Ibnu Abi 'Ammār bertanya kepada Jābir tentang fatwa ini, apakah dia mengucapkannya berdasarkan pendapat pribadinya atau dia mendengarnya dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-? Maka Jābir menyampaikan bahwa dia mendengar hal itu dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Rujukan
-سنن أبي داود, أبو داود سليمان بن الأشعث الأزدي السِّجِسْتاني, المحقق: محمد محيي الدين عبد الحميد, المكتبة العصرية، صيدا – بيروت.
- سنن الترمذي، تأليف: محمد بن عيسى الترمذي، تحقيق أحمد شاكر وغيره، الناشر: شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي، الطبعة الثانية، 1395 ه.
-سنن ابن ماجه, ابن ماجة أبو عبد الله محمد بن يزيد القزويني، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي, الناشر: دار إحياء الكتب العربية - فيصل عيسى البابي الحلبي.
-السنن الصغرى للنسائي "المجتبى"، تحقيق: عبد الفتاح أبو غدة، نشر: مكتب المطبوعات الإسلامية – حلب، الطبعة الثانية، 1406ه – 1986م.
-مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى، 1421هـ - 2001م.
-مسند الدارمي المعروف بـ (سنن الدارمي), أبو محمد عبد الله بن عبد الرحمن الدارمي، تحقيق: حسين سليم أسد الداراني, دار المغني للنشر والتوزيع، المملكة العربية السعودية, الطبعة الأولى، 1412هـ - 2000م.
-إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل, محمد ناصر الدين الألباني, إشراف: زهير الشاويش, المكتب الإسلامي – بيروت, الطبعة الثانية 1405 هـ - 1985م.
-سبل السلام شرح بلوغ المرام، تأليف: محمد بن إسماعيل بن صلاح الصنعاني، الناشر: دار الحديث, بدون طبعة وبدون تاريخ.
-توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن بن صالح البسام، الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة، الطبعة الخامِسَة، 1423هـ - 2003م.
-تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة الأولى، 1427ه - 2006م.
-فتح ذي الجلال والإكرام شرح بلوغ المرام، لمحمد بن صالح بن محمد العثيمين، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأُم إسراء بنت عرفة، ط1، المكتبة الإسلامية، مصر، 1427هـ.
-منحة العلام في شرح بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن صالح الفوزان، الناشر: دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى، 1427هـ - 1431هـ.
-عون المعبود شرح سنن أبي داود، ومعه حاشية ابن القيم: تهذيب سنن أبي داود, محمد أشرف بن أمير بن علي بن حيدر، العظيم آبادي, دار الكتب العلمية – بيروت, الطبعة الثانية، 1415هـ.
-فتاوى اللجنة الدائمة - اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء, جمع وترتيب: أحمد بن عبد الرزاق الدويش, الناشر: رئاسة إدارة البحوث العلمية والإفتاء - الإدارة العامة للطبع – الرياض.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أبي ثعلبة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إذا رَمَيْتَ بِسَهْمِكَ، فغابَ عنْك، فَأَدْرَكْتَهُ فَكُلْهُ، ما لَمْ يُنْتِنْ».
Abu Ṡa'labah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda, "Bila engkau melepaskan anak panahmu lalu binatang yang engkau buru itu menghilang, kemudian engkau mendapatkannya, maka makanlah selagi ia belum busuk."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis ini memberikan pelajaran bahwa seorang pemburu bila menembak binatang buruan dengan anak panah dan lainnya yang satu hukum dengan panah dan mengenai binatang buruan tersebut lalu ia hilang dari penglihatan si pemburu, kemudian dia menemukannya setelah itu dan dia tidak menemukan jejak senjata membunuh lainnya kecuali anak panahnya, maka ia halal dimakan selama belum sampai membusuk karena ketika itu ia termasuk menjijikkan serta berbahaya pada kesehatan manusia bila dia memakannya.
Rujukan
-صحيح مسلم، المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت.
-مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي بن سلطان الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت - لبنان، الطبعة الأولى، 1422هـ - 2002م.
-توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن بن صالح البسام، الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة، الطبعة الخامِسَة، 1423هـ - 2003م.
-تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة الأولى، 1427هـ - 2006م.
-فتح ذي الجلال والإكرام شرح بلوغ المرام، لمحمد بن صالح بن محمد العثيمين، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأُم إسراء بنت عرفة، ط1، المكتبة الإسلامية، مصر، 1427هـ.
-منحة العلام في شرح بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن صالح الفوزان، النشر: دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى، 1427 - 1431هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comSetiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com