Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Menyembelih

8 hadis

Nabi ﷺ pernah berkurban dengan dua ekor domba putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelihnya sendiri dengan mengucapkan basmalah dan bertakbir serta meletakkan kaki di atas sisi lehernya

عَنْ أَنَسٍ رَضيَ اللهُ عنهُ قَالَ: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Nabi ﷺ pernah berkurban dengan dua ekor domba putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelihnya sendiri dengan mengucapkan basmalah dan bertakbir serta meletakkan kaki di atas sisi lehernya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Anas -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa pada hari raya Iduladha, Nabi ﷺ langsung menyembelih sendiri dua ekor domba bertanduk berwarna putih yang dicampur dengan warna hitam seraya membaca: Bismillāh wallāhu akbar, serta meletakkan kaki di atas lehernya.

Faedah
  1. 1- Pensyariatan kurban serta ijmaknya umat Islam atas hal itu.
  2. 2- Hewan kurban yang paling utama ialah seperti tipe hewan yang dikurbankan oleh Nabi ﷺ karena penampilannya bagus serta lemak dan dagingnya paling baik.
  3. 3- An-Nawawiy berkata, "Di dalamnya terkandung anjuran agar seseorang menyembelih sendiri hewan kurbannya dan tidak diwakilkan kecuali jika ada uzur. Jika ada uzur, dianjurkan untuk menyaksikan penyembelihannya. Jika penyembelihannya diwakilkan kepada seorang muslim, hukumnya boleh tanpa ada perbedaan pendapat."
  4. 4- Ibnu Ḥajar berkata, "Di dalamnya terkandung anjuran bertakbir di samping membaca bismillāh saat penyembelihan. Juga anjuran meletakkan kaki di atas sisi sebelah kanan leher hewan kurban. Ulama sepakat agar hewan kurban dibaringkan di atas sisi kiri, lalu meletakkan kaki di atas sisi kanan agar penyembelih lebih mudah mengambil pisau dengan tangan kanan dan memegang kepalanya dengan tangan kiri."
  5. 5- Anjuran berkurban dengan hewan yang bertanduk, tetapi juga boleh dengan yang lain.
Rujukan

صحيح البخاري (7/ 102) (5565). صحيح مسلم (3/ 1556) (1966). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص724). الإعلام بفوائد عمدة الأحكام، لابن الملقن (10/ 179).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya binatang-binatang ini memiliki sifat liar seperti halnya sifat binatang liar. Jika ada di antara binatang ini yang tidak dapat kalian tangkap, maka lakukanlah padanya seperti ini

عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ رَضيَ اللهُ عنهُ قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذِي الحُلَيْفَةِ، فَأَصَابَ النَّاسَ جُوعٌ، فَأَصَابُوا إِبِلًا وَغَنَمًا، قَالَ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُخْرَيَاتِ القَوْمِ، فَعَجِلُوا، وَذَبَحُوا، وَنَصَبُوا القُدُورَ، فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالقُدُورِ، فَأُكْفِئَتْ، ثُمَّ قَسَمَ، فَعَدَلَ عَشَرَةً مِنَ الغَنَمِ بِبَعِيرٍ فَنَدَّ مِنْهَا بَعِيرٌ، فَطَلَبُوهُ، فَأَعْيَاهُمْ وَكَانَ فِي القَوْمِ خَيْلٌ يَسِيرَةٌ، فَأَهْوَى رَجُلٌ مِنْهُمْ بِسَهْمٍ، فَحَبَسَهُ اللَّهُ، ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ لِهَذِهِ البَهَائِمِ أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الوَحْشِ، فَمَا غَلَبَكُمْ مِنْهَا فَاصْنَعُوا بِهِ هَكَذَا»، فَقَالَ أي رافع: إِنَّا نَرْجُو -أَوْ نَخَافُ- العَدُوَّ غَدًا، وَلَيْسَتْ مَعَنَا مُدًى، أَفَنَذْبَحُ بِالقَصَبِ؟ قَالَ: «مَا أَنْهَرَ الدَّمَ، وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلُوهُ، لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ، وَسَأُحَدِّثُكُمْ عَنْ ذَلِكَ: أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ، وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الحَبَشَةِ».
Rāfi' bin Khadīj -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Kami sedang bersama Rasulullah ﷺ di Żulḥulaifah. Saat itu, orang-orang kelaparan, lalu mereka mendapatkan ganimah unta dan kambing sementara Nabi ﷺ berada di barisan belakang mereka. Mereka sudah tidak sabar, sehingga mereka menyembelihnya dan menyiapkan periuk-periuk (untuk memasaknya). Lantas Nabi ﷺ memerintahkan supaya periuk-periuk itu ditumpahkan isinya. Kemudian beliau membagi ganimah tersebut dan menjadikan sepuluh ekor kambing setara dengan satu ekor unta. Tetapi kemudian salah satu unta lepas, lalu mereka berusaha mengejarnya tetapi tidak berhasil. Di tengah mereka hanya ada sedikit kuda. Lantas salah seorang mereka membidiknya dengan anak panah hingga Allah menahan unta tersebut. Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya binatang-binatang ini memiliki sifat liar seperti halnya sifat binatang liar. Jika ada di antara binatang ini yang tidak dapat kalian tangkap, maka lakukanlah padanya seperti ini." Rāfi' -raḍiyallāhu 'anhu- bertanya, "Wahai Rasulullah! Kita berharap -atau ia berkata: kita khawatir- akan bertemu musuh besok, sementara kita tidak memiliki pisau. Bolehkah kita menyembelih dengan bambu?" Beliau menjawab, "Semua yang dapat mengalirkan darah serta dibacakan padanya nama Allah maka makanlah, kecuali gigi dan kuku. Aku akan sampaikan pada kalian akan sebabnya. Adapun gigi, maka termasuk tulang, sedangkan kuku adalah pisau bangsa Habasyah."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Rāfi' bin Khadīj -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa mereka pernah bersama Nabi ﷺ di Żulḥulaifah. Kemudian para sahabat ditimpa lapar sementara mereka telah merampas unta dan kambing dari kaum musyrikin. Mereka sudah tidak sabar sebelum harta rampasan dibagi sehingga mereka menyembelih sebagiannya dan memasang periuk-periuk tanpa minta izin kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ sendiri berjalan di bagian belakang para sahabat. Ketika tahu, beliau ﷺ memerintahkan agar periuk-periuk tersebut ditumpahkan beserta kuahnya. Kemudian beliau membagi ganimah tersebut di antara mereka dengan menjadikan sepuluh kambing setara satu unta. Lalu satu unta lepas dan mereka tidak mampu mengejarnya. Waktu itu kuda sedikit, sehingga salah seorang mereka menembaknya dengan panah dan Allah menahan unta tersebut untuk mereka. Beliau ﷺ bersabda: Sungguh, hewan-hewan jinak ini memiliki sifat seperti sifat hewan liar. Sebab itu, yang kalian tidak mampu mengejarnya dan tidak mampu menangkapnya, lakukan padanya seperti ini. Rāfi' berkata: Kita berharap akan bertemu musuh besok hari, tapi kami khawatir mata senjata kami akan rusak karena digunakan menyembelih. Di sisi lain, ada kebutuhan mendesak untuk menyembelih, tetapi kami tidak memiliki pisau untuk itu. Apakah kami boleh menyembelih menggunakan batang bambu? Nabi ﷺ bersabda: Semua yang dapat mengalirkan darah dan menumpahkannya dalam jumlah banyak serta disebutkan padanya nama Allah maka makanlah, kecuali gigi dan kuku. Aku akan ceritakan pada kalian tentang hal itu. Adapun gigi adalah tulang. Sedangkan kuku, maka digunakan oleh penduduk Habasyah yang kafir.

Faedah
  1. 1- Menampakkan sifat tawaduk Nabi ﷺ dengan berjalan di bagian belakang pasukan, sikap memperhatikan sahabat-sahabatnya, menanyakan kabar mereka, dan menerima nasihat mereka.
  2. 2- Pemberian sanksi oleh seorang pemimpin terhadap rakyat dan pasukannya, yaitu Nabi ﷺ memberi mereka sanksi atas ketergesaan dan tindakan mereka tersebut sebelum meminta izin sehingga mereka mendapat hukuman dihalangi dari apa yang mereka inginkan.
  3. 3- Sambutan cepat para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- terhadap perintah Nabi ﷺ.
  4. 4- Larangan mengambil ganimah sampai dibagi.
  5. 5- Harus bersikap adil, apalagi di tempat jihad melawan musuh dan orang-orang kafir, karena hal itu termasuk sebab pertolongan dan kemenangan terhadap musuh.
  6. 6- An-Nawawiy berkata, "Jika ada hewan jinak yang berubah liar, misalnya ada unta, sapi, kuda, kambing, atau lainnya yang lepas, maka hukumnya sama seperti hewan buruan sehingga dapat halal dengan cara dipanah."
  7. 7- Hewan wajib disembelih supaya halal dimakan. Disyaratkan pada hewan yang disembelih: 1- Merupakan hewan yang halal dimakan. 2- Hewan tersebut dikuasai; adapun yang tidak dikuasai maka hukumnya sama seperti hukum hewan buruan. 3- Merupakan hewan darat; adapun hewan laut maka tidak disyaratkan padanya sembelihan.
  8. 8- Syarat sah penyembelihan: 1- Kelayakan orang yang menyembelih; yaitu ia berakal, mumayiz, dan muslim atau ahli kitab. 2- Membaca bismillāh di awal penyembelihan. 3- Kelayakan alat penyembelihan; yaitu alat sembelih yang digunakan harus tajam, apa pun bahannya selain gigi dan kuku. 4- Penyembelihan dilakukan di bagian leher hewan yang dikuasai dengan memotong saluran makan, saluran napas, dan kedua urat leher.
Rujukan

صحيح البخاري (3/ 138) (2488). صحيح مسلم (3/ 1558) (1968). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص721).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Kami pernah menyembelih seekor kuda pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu kami menyantapnya

عن أَسْمَاء بِنْت أَبِي بَكْرٍ رضي الله عنهما قالت: «نَحَرْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فَرَسًا فَأَكَلْنَاهُ». وَفِي رِوَايَةٍ «وَنَحْنُ بِالْمَدِينَةِ».
Dari Asmā` binti Abi Bakar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Kami pernah menyembelih seekor kuda pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu kami menyantapnya." Dalam riwayat lain disebutkan, "Saat kami berada di Madinah."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Asmā` binti Abi Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa mereka pernah menyembelih seekor kuda pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan mereka menyantapnya. Ini menunjukkan dibolehkannya memakan daging kuda. Dan jangan ada seorang yang membayangkan larangan memakannya karena kuda digandengkan dengan keledai dan bagal (peranakan kuda dengan keledai) dalam ayat, yaitu firman Allah -Ta'ālā-, "Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui." (An-Naḥl: 8)

Rujukan

1- صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ. 2- صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ. 3- خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام، فيصل بن عبد العزيز المبارك، الطبعة: الثانية 1412هـ، 1992م. 4- الإفهام في شرح عمدة الأحكام، لابن باز، تحقيق: سعيد القحطاني، مؤسسة عبد العزيز بن باز الخيرية، الرياض، الطبعة: الأولى 1435هـ. 5- الإلمام بشرح عمدة الأحكام، إسماعيل بن محمد الأنصاري، دار الفكر، دمشق، الطبعة: الأولى 1381هـ. 6- تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، دار الميمان، الطبعة: الأولى 1426هـ، 2005م. 7- تأسيس الأحكام، أحمد بن يحيى النجمي، دار المنهاج، الطبعة: 1427هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruhku mengurus unta-unta (kurban) beliau, menyedekahkan dagingnya, kulitnya dan apa yang dikenakannya, serta aku tidak boleh memberi jagal sedikit pun darinya.

عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: «أَمَرَنِي رَسُول اللَّهِ -صلَّى الله عليه وسلَّم- أَن أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَن أَتَصَدَّقَ بِلَحمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا، وَأَن لا أُعْطِيَ الجَزَّارَ مِنهَا شَيْئًا».
Dari Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahku mengurus unta-unta (kurban) beliau, menyedekahkan dagingnya, kulitnya dan apa yang dipakainya, serta aku tidak boleh memberi jagal sedikit pun darinya.
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tiba di Makkah dalam peristiwa Haji Wadak dan beliau membawa binatang kurban (hadyu). Sementara itu Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- tiba dari Yaman dan ia juga membawa binatang kurban (hadyu). Karena binatang ini adalah sedekah untuk kaum fakir dan miskin, maka orang yang berkurban tidak memiliki hak mengelolanya atau sesuatu darinya dengan cara tukar menukar. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang Ali memberi penjagalnya sesuatu dari binatang tersebut sebagai kompensasi pekerjaannya. Ali hanya boleh memberinya upah dari selain daging, kulit dan pakaian hewan kurban tersebut.

Rujukan

تيسير العلام شرح عمدة الأحكام للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الإمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426هـ. تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام لابن عثيمين، ط1، مكتبة الصحابة، الإمارات، 1426هـ. عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، ط2، دار الثقافة العربية، دمشق ، بيروت، مؤسسة قرطبة، 1408هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku melihat Ibnu Umar mendatangi seorang lelaki yang telah menderumkan untanya lalu (hendak) menyembelihnya. Lantas Ibnu Umar berkata, "Sembelihlah dalam keadaan berdiri dan terikat. Itu merupakan sunah Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam

عن زياد بن جبير قال: رَأَيتُ ابنَ عُمَرَ أَتَى عَلَى رجل قد أَنَاخَ بَدَنَتَهُ، فَنَحَرَهَا، فَقَالَ: ابْعَثْهَا قِيَاماً مُقَيَّدَةً، سُنَّةَ مُحَمَّدٍ -صلَّى الله عليه وسلَّم-.
Dari Ziyād bin Jubair, ia berkata, "Aku melihat Ibnu Umar mendatangi seorang lelaki yang telah menderumkan untanya lalu (hendak) menyembelihnya. Lantas Ibnu Umar berkata, "Sembelihlah dalam keadaan berdiri dan terikat. Itu merupakan sunah Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dalam menyembelih sapi, kambing dan hewan lainnya -selain unta- disunahkan di tenggorokannya dalam keadaan terbaring di sisi kirinya dan mengarah ke kiblat. Sedangkan unta, menyembelihnya disunahkan di lehernya dalam keadaan berdiri dan tangannya (kaki kiri depannya) terikat. Sebab, posisi seperti ini membuatnya nyaman karena nyawa cepat berhembus. Untuk itu, ketika Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhu- melewati seorang lelaki yang hendak menyembelih unta yang sudah diderumkan, ia berkata, "Sembelihlah dalam keadaan berdiri dan terikat. Itu merupakan sunah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang menempuh jalan adab Alquran dalam menyembelihnya berdasarkan firman-Nya, "Kemudian apabila telah rebah (mati)," maksudnya, jatuh. Sedangkan jatuh itu hanya terjadi dari berdiri.

Rujukan

تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الأمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة، 1426هـ. تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، محمد بن صالح العثيمين، مكتبة الصحابة، الإمارات، الطبعة: الأولى، 1426هـ. عمدة الأحكام من كلام خير الأنام -صلى الله عليه وسلم-، لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، دار الثقافة العربية، دمشق، بيروت، مؤسسة قرطبة، الطبعة: الثانية، 1408هـ. صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan perilaku ihsan (baik) terhadap segala sesuatu

عن شداد بن أوس رضي الله عنه قال: ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ».
Syaddād bin Aus -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Ada dua yang aku hafal dari Rasulullah ﷺ, yaitu beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan perilaku ihsan (baik) terhadap segala sesuatu. Jika kamu membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik, tajamkan pisaumu dan tenangkanlah hewan sembelihanmu."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah Ta'ala telah mewajibkan berbuat ihsan pada segala sesuatu. Ihsan ialah menanamkan rasa selalu diawasi oleh Allah di dalam beribadah, memberikan kebaikan, dan tidak menyakiti makhluk lain, termasuk di dalamnya berbuat baik ketika membunuh dan menyembelih. Berbuat baik dalam membunuh pada saat kisas ialah dengan memilih cara paling mudah dan paling ringan serta yang paling cepat menghilangkan nyawa orang yang dibunuh. Berbuat baik dalam menyembelih pada saat penyembelihan ialah dengan bersikap lembut kepada hewan, yaitu dengan menajamkan alat penyembelih dan tidak menajamkannya di hadapan hewan yang akan disembelih sementara ia melihatnya. Demikian juga dengan tidak menyembelihnya sementara ada hewan lain yang melihatnya.

Faedah
  1. 1- Besarnya rahmat dan kasih sayang Allah ﷻ kepada makhluk.
  2. 2- Berbuat baik ketika membunuh dan menyembelih ialah dengan mengerjakannya sesuai syariat.
  3. 3- Kesempurnaan dan kecakupan syariat Islam atas semua kebaikan, di antaranya kasih sayang dan sikap lembut kepada hewan.
  4. 4- Larangan memutilasi manusia setelah dibunuh.
  5. 5- Pengharaman semua tindakan yang mengandung penyiksaan terhadap hewan.
Rujukan

صحيح مسلم (3/ 1548) (1955). التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثا النووية (ص38). شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص185). فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، للعباد (ص65). فتح الباري، لابن حجر (9/ 644). شرح النووي على مسلم (13/ 107).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Seorang perempuan menyembelih kambing menggunakan batu, lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ditanya tentang hal itu, maka beliau memerintahkan untuk memakannya.

عن كعب بن مالك، أنّ امرأةً ذَبحَت شاةً بِحَجَر، «فسُئل النبيُّ صلى الله عليه وسلم عن ذلك فأمَرَ بِأكلها».
Ka'ab bin Mālik meriwayatkan bahwa seorang perempuan menyembelih kambing menggunakan batu, lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ditanya tentang hal itu, maka beliau memerintahkan untuk memakannya.
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Di dalam hadis ini Ka'ab bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa ada seorang perempuan yang menyembelih seekor kambing dengan menggunakan batu. Alasannya ialah bahwa tatkala dia sedang menggembalakan kambing di Uhud, tiba-tiba serigala menyerang salah satunya, maka dia pun mengusir serigala tersebut lalu mengambil batu yang tajam dan menyembelih kambing tersebut. Lantas para sahabat bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang perbuatannya itu, maka beliau memerintahkan untuk memakan kambing tersebut.

Rujukan

- صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. - بلوغ المرام من أدلة الأحكام، لابن حجر، دار القبس للنشر والتوزيع، الرياض، المملكة العربية السعودية الطبعة: الأولى، 1435 هـ - 2014 م. - تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة: الأولى، 1427 هـ 2006 م. - منحة العلام في شرح بلوغ المرام، لعبد الله الفوزان، دار ابن الجوزي، ط1 1428هـ. - فتح ذي الجلال والاكرام بشرح بلوغ المرام، للشيخ ابن عثيمين، المكتبة الإسلامية، الطبعة الأولى 1427 هـ. - توضِيحُ الأحكَامِ مِن بُلوُغ المَرَام، للبسام، مكتَبة الأسدي، مكّة المكرّمة، الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan (baik) terhadap segala sesuatu

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ».
Abu Ya'lā Syaddād bin Aus -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan (baik) terhadap segala sesuatu. Sebab itu, jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik, dan jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik pula. Hendaklah seseorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan hewan sembelihannya."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah Ta'ala telah mewajibkan berbuat ihsan pada segala sesuatu. Ihsan ialah menanamkan rasa selalu diawasi oleh Allah di dalam beribadah, memberikan kebaikan, dan tidak menyakiti makhluk lain, termasuk di dalamnya berbuat baik ketika membunuh dan menyembelih. Berbuat baik dalam membunuh pada saat kisas ialah dengan memilih cara paling mudah dan paling ringan serta yang paling cepat menghilangkan nyawa orang yang dibunuh. Berbuat baik dalam menyembelih pada saat penyembelihan ialah dengan bersikap lembut kepada hewan, yaitu dengan menajamkan alat penyembelih dan tidak menajamkannya di hadapan hewan yang akan disembelih sementara ia melihatnya. Demikian juga dengan tidak menyembelihnya sementara ada hewan lain yang melihatnya.

Faedah
  1. 1- Besarnya rahmat dan kasih sayang Allah ﷻ kepada makhluk.
  2. 2- Berbuat baik ketika membunuh dan menyembelih ialah dengan mengerjakannya sesuai syariat.
  3. 3- Kesempurnaan dan kecakupan syariat Islam atas semua kebaikan, di antaranya kasih sayang dan sikap lembut kepada hewan.
  4. 4- Larangan memutilasi manusia setelah dibunuh.
  5. 5- Pengharaman semua tindakan yang mengandung penyiksaan terhadap hewan.
Rujukan

صحيح مسلم (3/ 1548) (1955). التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثا النووية (ص38). شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص185). فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، للعباد (ص65). فتح الباري، لابن حجر (9/ 644). شرح النووي على مسلم (13/ 107).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com