عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengajak kepada petunjuk (kebajikan), maka ia mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa yang semisal dengan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menerangkan bahwa siapa yang mengarahkan dan menunjuki orang lain ke jalan yang mengandung kebenaran dan kebaikan, baik dengan ucapan maupun perbuatan, maka ia akan mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang mengarahkan dan menunjuki orang lain ke jalan kebatilan dan keburukan yang mengandung dosa atau perkara yang tidak halal, baik dengan ucapan maupun perbuatan, maka ia akan ikut menanggung dosa yang semisal dengan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.
Faedah
- 1- Keutamaan berdakwah pada petunjuk, sedikit maupun banyak. Orang yang berdakwah akan mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala orang yang mengamalkannya. Hal ini merupakan bukti karunia dan kebaikan Allah yang besar nan sempurna.
- 2- Bahaya dakwah kepada kesesatan, baik sedikit maupun banyak, karena pelakunya akan menanggung dosa yang sama dengan dosa orang yang melakukannya.
- 3- Balasan sejenis dengan perbuatan. Siapa yang mengajak kepada kebaikan akan mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala orang yang mengerjakannya, dan siapa yang mengajak kepada keburukan akan menanggung dosa yang semisal dengan dosa orang yang melakukannya.
- 4- Seorang muslim harus berhati-hati jangan sampai diikuti dalam keburukan lantaran melakukan kemaksiatan secara terang-terangan di hadapan orang banyak, karena ia akan mendapatkan dosa sebab orang lain mengikutinya, walaupun ia tidak pernah menganjurkan mereka melakukannya.
Rujukan
صحيح مسلم (4/ 2060) (2674).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 262).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص141).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (2/ 360).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (3/ 554).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين (1/ 199).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال: كُنَّا في صَدرِ النَّهَار عِند رسول الله صلى الله عليه وسلم فَجَاءه قَومٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَار أَو العَبَاءِ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوف، عَامَّتُهُم مِن مُضَر بَل كُلُّهُم مِن مُضَر، فَتَمَعَّر رسول الله صلى الله عليه وسلم لِمَا رَأَى بِهِم مِنَ الفَاقَة، فدَخَل ثُمَّ خَرج، فأَمَر بِلاَلاً فَأَذَّن وَأَقَام، فَصَلَّى ثُمَّ خَطَب، فقال: «(يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة) إلى آخر (إن الله كان عليكم رقيبًا) ، والآية الأخرى التي في آخر الحشر: (يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد) تَصَدَّق رَجُلٌ مِن دِينَارِهِ، مِن دِرهَمِهِ، مِن ثَوبِهِ، مِن صَاعِ بُرِّهِ، مِنْ صَاعِ تَمرِهِ -حتَّى قال- وَلَو بِشِقِّ تَمرَة» فَجَاء رَجُلٌ مِنَ الأَنصَار بِصُرَّةٍ كَادَت كَفُّهُ تَعجَزُ عَنْهَا، بل قَد عَجَزَت، ثُمَّ تَتَابَع النَّاسُ حَتَّى رَأَيتُ كَومَين مِن طَعَامٍ وَثِيَابٍ، حَتَّى رَأَيتُ وَجهَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم يَتَهَلَّلُ كَأَنَّه مُذْهَبَة.ٌ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «مَنْ سَنَّ فِي الإِسلاَم سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أُجُورِهِم شَيءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسلاَم سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيه وِزْرُهَا، وَوِزرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بعدِه، من غير أن ينقُص مِن أَوزَارِهَم شيء».
Dari Jarīr bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia mengatakan, "Kami berada di sisi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di awal siang, lalu datang kepada beliau sekelompok orang setengah telanjang yang berselimutkan pakaian dari bulu domba yang bergaris atau kain panjang dan berselempang pedang. Mayoritas mereka dari suku Muḍar, bahkan semuanya dari suku Muḍar. Maka raut wajah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berubah karena iba melihat kemiskinan mereka. Beliau masuk kemudian keluar. Beliau memerintah Bilal untuk mengumandangkan azan dan iqamat. Rasulullah salat kemudian berkhutbah. Beliau mengucapkan, "Wahai manusia, bertakwalah kalian pada Rabb yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa..." hingga akhir ayat "...sesungguhnya Allah mengawasai kalian." Dan membaca ayat yang lain di akhir surah Al-Ḥasyr, "Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)" Hendaknya seseorang menyedekahkan uang dinarnya, uang dirhamnya, bajunya, ṣā' gandumnya atau ṣā' kurmanya -hingga beliau mengatakan- meskipun dengan saparuh kurma." Lalu seorang laki-laki dari kaum Ansar datang membawa kantong yang hampir tak kuat dibawa tangannya, bahkan tangannya memang tidak kuat. Kemudian orang-orang berturut-turut (bersedekah), hingga aku melihat dua gundukan makanan dan pakaian. Hingga aku melihat wajah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berbinar seperti berlapis emas. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa mencontohkan (memulai) sunah (perbuatan) yang baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan sunah tersebut setelahnya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan siapa mencontohkan sunah yang buruk maka ia menanggung dosa dari perbuatannya dan dosa orang yang melakukannya setelahnya, tanpa berkurang sedikit pun dari dosa mereka."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis Jarīr bin Abdillah Al-Bajali -raḍiyallāhu 'anhu- ini merupakan hadis agung yang darinya terlihat jelas perhatian dan kasih sayang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada umat beliau –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ketika para sahabat sedang bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di awal siang, tiba-tiba datang serombongan orang yang mayoritas dari suku Muḍar, atau semuanya dari suku Muḍar, dengan berselimut kain dari bulu domba yang bergaris dan berselempang pedang -raḍiyallāhu 'anhum-. Artinya seseorang tidak memiliki kecuali satu pakaian yang ia selimutkan pada tubuhnya untuk menutupi aurat, ia mengikatkannya di tengkuk. Mereka membawa pedang sebagai persiapan jihad yang diperintahkan kepada mereka –raḍiyallāhu 'anhum-. Maka wajah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berubah sedih karena melihat kepapaan mereka. Padahal mereka dari kabilah Muḍar yang termasuk kabilah Arab paling mulia. Namun kemiskinan mereka telah sampai pada kondisi seperti ini. Kemudian beliau masuk ke dalam rumah, selanjutnya keluar lagi. Lantas beliau memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan. Kemudian beliau salat, dilanjutkan dengan berkhutbah kepada orang-orang. Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memuji Allah sebagaimana kebiasaan beliau, kemudian membaca firman Allah -Ta'ālā-, “Hai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” Dan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Kemudian beliau menganjurkan sedekah seraya bersabda, “Seseorang bisa bersedekah dengan uang dinarnya, bersedekah dengan dirhamnya, bersedekah dengan bajunya, bersedekah dengan ṣā’ gandumnya, bersedekah dengan ṣā’ kurmanya...” hingga beliau menyebutkan, “...walaupun dengan separuh kurma.” Para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- adalah orang-orang yang paling bersemangat, paling antusias dan paling gemar berlomba dalam kebaikan. Maka mereka menuju rumah masing-masing, lalu kembali membawa sedekah. Hingga ada orang yang datang membawa kantong berisi perak (dirham) di tangannya yang hampir tak kuat membawanya, bahkan memang tidak kuat. Kemudian ia meletakkannya di hadapan Rasulullah –'alaihi aṣsalātu wa as-salām-. Kemudian Jarīr melihat dua gundukan makanan dan pakaian serta lainnya telah terkumpul di dalam masjid. Sehingga wajah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- setelah sebelumnya muram berubah menjadi ceria seperti disepuh emas. Yakni karena sangat berkilau, berbinar dan kebahagiaan beliau -'alaihi aṣsalātu wa as-salām- lantaran perlombaan dalam bersedekah yang terjadi ini, yang dapat memenuhi kebutuhan orang-orang fakir tersebut. Kemudian Rasulullah –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa mencontohkan (memulai) sunah (perbuatan) yang baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan sunah tersebut setelahnya, tanpa berkurang sedikit pun dari pahala mereka. Dan siapa mencontohkan sunah (perbuatan) yang buruk maka ia menanggung dosa dari perbuatannya dan dosa orang yang melakukannya setelahnya, tanpa berkurang sedikit pun dari dosa mereka." Maksud “sunah” dalam sabda beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- “Siapa mencontohkan sunah yang baik dalam Islam” adalah orang yang memulai melakukan suatu perbuatan sunah, bukan orang yang membuat sunah baru. Sebab orang yang membuat-buat ajaran dalam Islam yang bukan dari ajaran Islam maka itu tertolak, dan tidak dianggap baik. Akan tetapi maksud “orang yang mencontohkan sunah” adalah ia menjadi orang pertama yang mengamalkannya. Seperti orang yang datang membawa kantong (berisi perak) ini -raḍiyallāhu 'anhu-.
Rujukan
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى 1428هـ، 2007م.
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، الطبعة: الرابعة 1428هـ
شرح رياض الصالحين، محمد بن صالح العثيمين، دار الوطن، الرياض، الطبعة: 1426هـ.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، كنوز إشبيليا، الرياض، الطبعة: الأولى1430هـ، 2009م.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الرابعة عشر 1407هـ، 1987م.
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ» متفق عليه.
ولمسلم: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ».
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang mengada-adakan dalam perkara (agama) kita ini hal baru yang tidak ada di dalamnya, maka ia tertolak.” (Muttafaq 'alaih) Dalam riwayat Muslim, "Siapa yang melakukan suatu amalan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menerangkan bahwa orang yang mengadakan perkara baru dalam agama atau melakukan suatu amalan yang tidak ditunjukkan oleh Al-Qur`an dan Sunnah, maka ia dikembalikan pada pelakunya, tidak diterima di sisi Allah.
Faedah
- 1- Ibadah dibangun di atas dalil Al-Qur`an dan Sunnah, sehingga kita tidak boleh beribadah kepada Allah Ta'ala kecuali dengan apa yang disyariatkan-Nya, bukan dengan cara bidah dan perkara yang diada-adakan.
- 2- Agama tidak berdasarkan pendapat (akal) dan istihsan (menganggap baik sesuatu), melainkan hanya dengan mengikuti Rasul ﷺ.
- 3- Hadis ini adalah dalil kesempurnaan agama.
- 4- Bidah adalah semua perkara yang diada-adakan dalam urusan agama dan tidak ada di masa Nabi ﷺ dan sahabat-sahabatnya terkait akidah, perkataan atau perbuatan.
- 5- Hadis ini adalah salah satu pilar Islam sekaligus sebagai timbangan bagi amal. Sebagaimana setiap amalan yang tidak diniatkan untuk wajah Allah Ta'ala tidak ada pahala bagi pelakunya, demikian pula setiap amalan yang tidak sesuai ajaran Rasulullah ﷺ adalah tertolak.
- 6- Perkara baru yang dilarang ialah perkara dalam agama, bukan perkara duniawi.
Rujukan
صحيح البخاري (3/ 184) (2697).
صحيح مسلم (3/ 1343) (1718).
التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثًا النووية (ص16).
شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص96).
فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، للعباد (ص38).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن حذيفة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إنَّ ما أَتَخوَّفُ عليكم رجلٌ قَرَأ القرآنَ حتى إذا رُئِيَتْ بَهْجتُه عليه، وكان رِدْئًا للإِسلام، غَيَّرَه إلى ما شاء الله، فانْسَلَخَ مِنْه ونَبَذَه وراءَ ظَهْرِه، وسَعَى على جاره بالسَّيف، ورمَاه بالشِّرك»، قال: قلتُ: يا نبيَّ الله، أيُّهما أوْلى بالشِّرك، المَرْمِي أم الرَّامي؟ قال: «بل الرَّامي».
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sungguh yang aku khawatirkan pada kalian ialah seseorang yang membaca Al-Qur`ān, hingga ketika keindahan Al-Qur`ān terlihat padanya dan ia menjadi pembela bagi Islam, ternyata ia mengubahnya kepada yang dikehendaki Allah, kemudian ia meninggalkannya dan membuang (tidak mengamalkan)nya serta ia membunuh tetangganya dengan pedang dan menuduhnya dengan kesyirikan." Ḥużaifah bertanya, "Wahai Nabi utusan Allah! Siapakah yang lebih patut dengan kesyirikan, yang dituduh atau yang menuduh?" Beliau bersabda, "Yang menuduh."
Diriwayatkan oleh Ibnu HibbānDerajatHadis hasan
Penjelasan
Di antara perkara yang paling banyak dikhawatirkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terhadap umatnya ialah seseorang yang membaca Al-Qur`ān lalu manusia melihat padanya cahaya dan keindahan Al-Qur`ān serta efek baiknya dan ia menjadi pembela bagi Islam dan pemeluknya, ternyata kemudian ia mengubah hal itu; ia memisahkan diri dari Islam, meninggalkan Al-Qur`ān, membunuh tetangganya dan menuduhnya dengan kesyirikan. Lantas para sahabat bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Siapakah yang lebih patut pada kesyirikan; orang yang membunuh tetangganya ini dan menuduhnya berbuat syirik, ataukah tetangganya tersebut?" Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa penuduh tetangganya dengan kesyirikan dan pembunuhnya itulah yang lebih patut dan lebih pantas dengan kesyirikan tersebut.
Rujukan
-الإحسان في تقريب صحيح ابن حبان، المؤلف: محمد بن حبان بن أحمد بن حبان بن معاذ البُستي، ترتيب: الأمير علاء الدين علي بن بلبان الفارسي، حققه وخرج أحاديثه وعلق عليه: شعيب الأرنؤوط، الناشر: مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الأولى، 1408 هـ - 1988 م.
-سلسلة الأحاديث الصحيحة وشيء من فقهها وفوائدها، تأليف محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: مكتبة المعارف للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى، لمكتبة المعارف.
-مختار الصحاح، لزين الدين أبو عبد الله محمد بن أبي بكر بن عبد القادر الحنفي الرازي، تحقيق: يوسف الشيخ محمد، نشر: المكتبة العصرية - الدار النموذجية، بيروت – صيدا، لطبعة: الخامسة، 1420هـ - 1999م.
-معجم اللغة العربية المعاصرة، للدكتور أحمد مختار عبد الحميد عمر بمساعدة فريق عمل، الناشر: عالم الكتب، الطبعة: الأولى، 1429 هـ - 2008 م.
-شرح مشكل الآثار, أبو جعفر أحمد بن محمد الطحاوي, تحقيق: شعيب الأرنؤوط, مؤسسة الرسالة, الطبعة: الأولى - 1415 هـ، 1494 م.
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ أُمِّ المُؤْمِنِينَ أُمِّ عَبْدِ اللَّهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ: رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ».
وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ».
Ummul-Mu`minīn Ummu Abdillāh Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang membuat perkara baru dalam agama kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak." Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Siapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”
HR. Bukhari dan MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menerangkan bahwa orang yang mengadakan perkara baru dalam agama atau melakukan suatu amalan yang tidak ditunjukkan oleh Al-Qur`an dan Sunnah, maka ia dikembalikan pada pelakunya, tidak diterima di sisi Allah.
Faedah
- 1- Ibadah dibangun di atas dalil Al-Qur`an dan Sunnah, sehingga kita tidak boleh beribadah kepada Allah Ta'ala kecuali dengan apa yang disyariatkan-Nya, bukan dengan cara bidah dan perkara yang diada-adakan.
- 2- Agama tidak berdasarkan pendapat (akal) dan istihsan (menganggap baik sesuatu), melainkan hanya dengan mengikuti Rasul ﷺ.
- 3- Hadis ini adalah dalil kesempurnaan agama.
- 4- Bidah adalah semua perkara yang diada-adakan dalam urusan agama dan tidak ada di masa Nabi ﷺ dan sahabat-sahabatnya terkait akidah, perkataan atau perbuatan.
- 5- Hadis ini adalah salah satu pilar Islam sekaligus sebagai timbangan bagi amal. Sebagaimana setiap amalan yang tidak diniatkan untuk wajah Allah Ta'ala tidak ada pahala bagi pelakunya, demikian pula setiap amalan yang tidak sesuai ajaran Rasulullah ﷺ adalah tertolak.
- Hadis ini merupakan kaidah umum dalam menolak amalan bidah yang diada-adakan dan kemungkaran-kemungkaran yang terjadi.
- 6- Perkara baru yang dilarang ialah perkara dalam agama, bukan perkara duniawi.
Rujukan
صحيح البخاري (3/ 184) (2697).
صحيح مسلم (3/ 1343) (1718).
التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثًا النووية (ص16).
شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص96).
فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، للعباد (ص38).
Hadis ini di HadeethEnc.com