Langsung ke konten
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Kahf
Surah 18

Al-Kahf

Ini adalah terjemahan Tafsir as-Saʿdī sebagaimana diterbitkan IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca dari halaman-halaman situs itu. Situs itu tidak menyebutkan siapa yang menerjemahkannya maupun edisi cetak mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan ketentuan untuk mengambil teksnya, sehingga hak untuk menampilkannya belum diverifikasi. Belum ada yang membandingkannya dengan buku cetak, dan belum ada ulama yang meninjaunya. Setiap bagian berdiri di samping ayat-ayat yang diulasnya, yaitu teks Al-Qur’an dari Tanzil, ditampilkan sebagaimana adanya di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh situs itu berdiri bersama bagian sebelumnya, dan indeks menyebutkan setiap ayat semacam itu. Sabīl tidak menulis atau menerjemahkan satu pun darinya.

Teks darisaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil 2026-10-22

Ayat 9

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَـٰبَ ٱلْكَهْفِ وَٱلرَّقِيمِ كَانُوا۟ مِنْ ءَايَـٰتِنَا عَجَبًا 9

(9) Istifham (kata tanya) ini ditujukan untuk peniadaan dan larangan. Maksudnya, jangan kamu menyangka bahwa kisah Ash-habul Kahfi (penghuni gua) dan peristiwa yang terjadi pada mereka adalah perkara yang aneh pada tanda-tanda kekuasaan Allah dan perkara yang mengagumkan pada hikmahNya. (Jangan menyangka) tidak ada kisah yang sepadan dengannya dan peristiwa yang serupa dengannya. Bahkan, Allah itu memiliki tanda-tanda kekuasaanNya yang menakjubkan nan aneh yang sangat banyak yang selevel tan-da-tanda kekuasaanNya pada Ashhabul Kahfi, bahkan lebih besar darinya. Allah senantiasa memperlihatkan kepada para hamba tanda-tanda kekuasaanNya di langit, bahkan pada diri mereka sendiri yang menyebabkan kebenaran menjadi jelas dari kebatilan, (menjadi jelas pula) petunjuk dibandingkan kesesatan. Penafian ini tidak ditujukan bahwa kisah Ashhabul Kahfi ini termasuk perkara yang menakjubkan. Justru, kisah ini termasuk salah satu tanda kekuasaan Allah yang membuat decak kagum. Akan tetapi, maksud peniadaan ini adalah bahwa peristiwa sema-cam itu sangat banyak. Terpaku dengan kisah ini saja dalam keka-guman dan keterbelalakan merupakan cermin kedangkalan ilmu dan akal. Justru, tugas seorang Mukmin adalah merenungi seluruh tanda-tanda kekuasaanNya, yang Allah mengajak para hambaNya agar merenunginya. Karena perenungan terhadap tanda kekuasa-an Allah merupakan kunci keimanan, jalan menuju ilmu dan ke-yakinan. Mereka dikaitkan kepada kata al-kahfi yang berarti gua yang berada di gunung. ﴾ وَٱلرَّقِيمِ ﴿ "Yang mempunyai raqim," yaitu kitab yang di dalamnya telah tertulis nama-nama dan kisah-kisah mereka, adalah karena mereka terus bersamanya dalam masa yang sangat lama.