An-Naml
Wannan fassarar tafsirin as-Saʿdī ce, kamar yadda IslamHouse.com ke wallafa ta a saadi.islamenc.com, an karanta ta daga shafukan wannan shafin yanar gizo. Shafin bai faɗi wanda ya fassara ta ba, ko wane bugu da aka buga take bi, kuma bai bayyana sharuɗɗa na ɗaukar rubutunta ba, saboda haka ba a tabbatar da haƙƙin nuna ta ba. Babu wanda ya kwatanta ta da littafin da aka buga, kuma babu malami da ya duba ta. Kowane sashe yana kusa da ayoyin da yake bayani a kansu, waɗanda rubutun Alƙur’ani ne na Tanzil, kamar yadda yake a can; aya da shafin bai ba ta bayani na kanta ba tana tare da sashen da ya gabace ta, kuma jerin yana ambaton kowace irin wannan aya. Sabīl bai rubuta wani abu daga cikinta ba, kuma bai fassara ta ba.
Rubutu dagasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)an ɗauka 2026-10-22
لَقَدْ وُعِدْنَا هَـٰذَا نَحْنُ وَءَابَآؤُنَا مِن قَبْلُ إِنْ هَـٰذَآ إِلَّآ أَسَـٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ 68
(68) ﴾ لَقَدۡ وُعِدۡنَا هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah diberi ancaman dengan ini," maksudnya, dengan kebangkitan, ﴾ نَحۡنُ وَءَابَآؤُنَا مِن قَبۡلُ ﴿ "kami dan juga bapak-bapak kami dahulu," namun ia pun tidak kunjung mendatangi kami, dan kami pun tidak pernah melihatnya sedikit pun darinya. ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu kala." Maksudnya, cerita dan dongeng-do-ngeng mereka yang digunakan untuk melewatkan waktu, padahal ia sama sekali tidak memiliki landasan (bukti) dan tidak pula mem-punyai kebenaran tentangnya. Allah beralih di dalam memberitakan tentang keadaan orang-orang yang mendustakan kepada pemberitaan bahwa mereka tidak mengetahui kapan waktu akhirat itu, kemudian pemberitaan ten-tang kelemahan ilmu pengetahuan mereka tentangnya. Kemudian pemberitaan bahwa pengetahuan mereka itu adalah keraguan, kemudian pemberitaan tentang kebutaan mereka, kemudian pem-beritaan tentang keingkaran mereka dan anggapan mereka bahwa akhirat itu sangat tidak mungkin akan terjadi. Maksudnya, dan disebabkan keadaan dan kondisi seperti itu maka hilanglah rasa takut kepada akhirat dari dalam hati mereka. Maka dari itu mereka berani melakukan maksiat terhadap Allah, dan sangat mudah bagi mereka untuk mendustakan kebenaran dan meyakini yang batil (palsu), dan mereka menghalalkan segala keinginan (syahwat) de-ngan mengorbankan segala bentuk ibadah. Maka dari itu mereka rugi dunia dan akhirat.