Tsallaka zuwa abin da ke ciki
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Hajj
Sura ta 22

Al-Hajj

Wannan fassarar tafsirin as-Saʿdī ce, kamar yadda IslamHouse.com ke wallafa ta a saadi.islamenc.com, an karanta ta daga shafukan wannan shafin yanar gizo. Shafin bai faɗi wanda ya fassara ta ba, ko wane bugu da aka buga take bi, kuma bai bayyana sharuɗɗa na ɗaukar rubutunta ba, saboda haka ba a tabbatar da haƙƙin nuna ta ba. Babu wanda ya kwatanta ta da littafin da aka buga, kuma babu malami da ya duba ta. Kowane sashe yana kusa da ayoyin da yake bayani a kansu, waɗanda rubutun Alƙur’ani ne na Tanzil, kamar yadda yake a can; aya da shafin bai ba ta bayani na kanta ba tana tare da sashen da ya gabace ta, kuma jerin yana ambaton kowace irin wannan aya. Sabīl bai rubuta wani abu daga cikinta ba, kuma bai fassara ta ba.

Rubutu dagasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)an ɗauka 2026-10-22

Aya ta 62

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلْبَـٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ 62

(62) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "(Kuasa Allah) yang demikian itu," Dzat yang memegang kekuasaan dan menetapkan hukum-hukum ﴾ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "adalah karena sesungguhnya Dia-lah (Rabb) Yang Haq," maksud-nya yang tetap eksis, senantiasa ada dan tidak akan pupus. Allah bernama al-Awwal, yang tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Nya. Dia-lah al-Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelahNya, sem-purna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, jujur dalam janjiNya, yang janjiNya benar-benar terjadi, perjumpaan denganNya pasti, agamaNya benar, peribadahan untukNya itulah (pilihan) yang benar, yang akan bermanfaat lagi lestari dalam keabadian. ﴾ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ ﴿ "Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah," berupa arca-arca, tandingan-tandingan dari bangsa binatang dan benda-benda mati ﴾ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ ﴿ "itulah yang batil," yang memang keberadaannya merupakan kebatilan dan peribadahan untuknya pun satu bentuk kebatilan. Lantaran ia bertumpu pada benda yang lemah lagi binasa, maka ia menjadi batil pula akibat terpengaruh dengan tujuan dan maksudnya yang batil. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ 62 ﴿ "Dan bahwasanya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar." Yang Mahatinggi dalam DzatNya, Dia Mahatinggi di atas segala makhlukNya, (Mahatinggi) dalam kemuliaanNya. Dia Mahasempurna dalam sifat-sifatNya, (Mahatinggi) dalam (kekuasaanNya), menguasai seluruh makhluk, Mahabesar dalam DzatNya, Nama-nama dan Sifat-sifatNya, yang termasuk petunjuk keagungan dan kebesaranNya, bahwa bumi berada di Genggaman-Nya di Hari Kiamat, langit-langit terlipat-lipat di Tangan kanan-Nya. Dan termasuk tanda kebesaranNya bahwa KursiNya telah memenuhi langit dan bumi. Termasuk pertanda keagungan dan kebesaranNya, bahwa ubun-ubun para hambaNya berada di Tangan-Nya. Tidaklah mereka menjalankan apa pun melainkan tergantung kehendakNya, tidaklah mereka bergerak dan diam melainkan de-ngan iradahNya. Dan hakikat kibriya` (kebesaran) Allah tidak diketa-hui kecuali oleh Allah saja, tidak diketahui oleh malaikat terdekat, nabi yang diutus; yaitu setiap sifat kesempurnaan, kemuliaan, ke-besaran dan keagungan. Sifat-sifat itu melekat pada Allah. Kepemi-likan Allah terhadap sifat-sifat itu, adalah sisi yang paling sempurna dari sifat-sifat itu. Di antara (indikasi) kebesaranNya, bahwasanya seluruh ibadah yang berasal dari penghuni langit dan bumi secara keseluruhan, tujuannya untuk membesar-besarkan, mengagungkan, memuliakan, dan menghormatiNya. Untuk itu, takbir menjadi simbol bagi ibadah-ibadah yang utama seperti shalat dan ibadah lainnya.