Hud
Wannan fassarar tafsirin as-Saʿdī ce, kamar yadda IslamHouse.com ke wallafa ta a saadi.islamenc.com, an karanta ta daga shafukan wannan shafin yanar gizo. Shafin bai faɗi wanda ya fassara ta ba, ko wane bugu da aka buga take bi, kuma bai bayyana sharuɗɗa na ɗaukar rubutunta ba, saboda haka ba a tabbatar da haƙƙin nuna ta ba. Babu wanda ya kwatanta ta da littafin da aka buga, kuma babu malami da ya duba ta. Kowane sashe yana kusa da ayoyin da yake bayani a kansu, waɗanda rubutun Alƙur’ani ne na Tanzil, kamar yadda yake a can; aya da shafin bai ba ta bayani na kanta ba tana tare da sashen da ya gabace ta, kuma jerin yana ambaton kowace irin wannan aya. Sabīl bai rubuta wani abu daga cikinta ba, kuma bai fassara ta ba.
Rubutu dagasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)an ɗauka 2026-10-22
قَالُوا۟ يَـٰشُعَيْبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ ءَابَآؤُنَآ أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِىٓ أَمْوَٰلِنَا مَا نَشَـٰٓؤُا۟ ۖ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلْحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ 87
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.