لقمان
هذه ترجمة لتفسير السعدي كما ينشرها IslamHouse.com في saadi.islamenc.com، مقروءةً من صفحات ذلك الموقع. لا يذكر الموقع من ترجمها ولا أي طبعة مطبوعة تتبعها، ولا يذكر شروطًا لأخذ نصّها، ولذلك لم يُتحقق من حق عرضها. لم يقارنها أحد بكتاب مطبوع، ولم يراجعها أحد من العلماء. يقف كل مقطع بجانب الآيات التي يعلّق عليها، وهي نص القرآن من Tanzil كما هو عنده؛ والآية التي لا يعطيها الموقع شرحًا خاصًّا بها تقف مع المقطع الذي قبلها، ويسمّي الفهرس كل آية من هذا النوع. لم يكتب سبيل شيئًا منها ولم يترجمه.
النص منsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)أُخذ في 2026-10-22
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَـٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ ١٤
(14) Setelah Luqman memerintahkan agar menunaikan hakNya dengan cara meninggalkan perbuatan syirik yang di antara konsekuensinya adalah menegakkan tauhid, maka dia memerintah-kan kepada anaknya supaya menunaikan hak kedua orang tua. Allah berfirman, ﴾ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan Kami perintahkan kepada manusia," Kami wajibkan kepadanya dan Kami menjadikannya sebagai wasiat baginya, yang Kami kelak akan meminta pertang-gungjawabannya, apakah dia memeliharanya ataukah tidak? Maka Kami pesankan kepadanya ﴾ بِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "(berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya," dan Kami katakan kepadaNya, ﴾ ٱشۡكُرۡ لِي ﴿ "Bersyukur-lah kepadaKu" dengan melakukan ibadah kepadaku, menunaikan hak-hakKu dan tidak menggunakan nikmat-nikmatKu untuk men-durhakaiKu, ﴾ وَلِوَٰلِدَيۡكَ ﴿ "dan kepada dua orang ibu bapakmu" dengan berbuat baik kepada mereka dengan perkataan yang lembut, ucapan yang santun, perbuatan baik, bersikap rendah hati kepada mereka, memuliakan dan menghormati mereka, memberi mereka belanja (nafkah) dan menjauhi perbuatan buruk terhadap mereka dari segala sisi dengan perkataan dan perbuatan. Maka Kami wasiatkan dengan pesan ini dan Kami kabarkan kepadanya bahwa ﴾ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "hanya kepadaKu-lah kembalimu." Mak-sudnya, kalian akan kembali, wahai manusia, kepada Tuhan yang telah memberimu wasiat dan membebanimu dengan hak-hak ter-sebut. Dia akan menanyakan kepadamu: Apakah kamu telah me-laksanakannya, lalu Dia akan memberimu balasan yang berlipat ganda, ataukah kamu menyia-nyiakannya, lalu Dia akan menyiksa-mu dengan siksaan yang sangat buruk. Kemudian Allah menjelaskan sebab yang mewajibkan berbuat baik kepada kedua ibu bapak terletak pada ibu, seraya berfirman, ﴾ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ ﴿ "Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah" maksudnya, dalam keadaan sengsara dan makin sengsara, dan dia terus merasakan penderitaan mulai dari sejak (sang bayi) masih berbentuk sperma, seperti rasa mual, sakit, lemah, berat dan berubahnya kondisi, kemudian sakitnya melahir-kan, yaitu rasa sakit yang sangat perih, kemudian ﴾ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ ﴿ "menyapihnya dalam dua tahun," di mana sang anak terus berada dalam asuhan, lindungan dan susuan ibunya. Tidakkah sangat pantas sekali kalau ditekankan kepada anaknya untuk berbuat baik kepada orang yang telah menanggung penderitaan-penderitaan dengan penuh rasa kasih sayang demi dia, dan dipesankan kepada-nya agar benar-benar berbakti kepadanya?