Al-Faatiha
یہ تفسیر السعدی کا ایک ترجمہ ہے جیسا IslamHouse.com اسے saadi.islamenc.com پر شائع کرتا ہے، اس سائٹ کے صفحات سے لیا گیا۔ سائٹ یہ نہیں بتاتی کہ اس کا ترجمہ کس نے کیا اور وہ کس چھپے ہوئے ایڈیشن کی پیروی کرتا ہے، اور اس کا متن لینے کی کوئی شرائط بیان نہیں کرتی، اس لیے اسے دکھانے کا حق تصدیق شدہ نہیں۔ کسی نے اسے چھپی ہوئی کتاب سے نہیں ملایا اور کسی عالم نے اس کا جائزہ نہیں لیا۔ ہر حصہ ان آیات کے ساتھ ہے جن پر وہ تبصرہ کرتا ہے، اور وہ آیات Tanzil کا قرآنی متن ہیں، جیسا وہاں ہے؛ جس آیت کی سائٹ اپنی الگ تفسیر نہیں دیتی وہ اپنے سے پہلے کے حصے کے ساتھ ہوتی ہے، اور فہرست ایسی ہر آیت کا نام لیتی ہے۔ سبیل نے اس میں سے کچھ نہیں لکھا اور نہ اس کا ترجمہ کیا۔
متن ماخوذ ازsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)2026-10-22 کو لیا گیا
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ 5
(5) FirmanNya ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolong-an," yakni kami mengkhususkan kepadaMu semata, kami peruntuk-kan segala ibadah dan permintaan akan pertolongan. (Dimaknai demikian) karena mendahulukan suatu kata yang menjadi obyek menunjukkan suatu pembatasan, yaitu menetapkan hal tersebut bagi yang disebutkan dan meniadakannya dari selainnya. Maka seolah-olah berkata, kami menyembahMu, dan tidak menyembah selain diriMu, kami meminta pertolongan kepadaMu, dan tidak meminta pertolongan pada selain diriMu. Didahulukannya penye-butan ibadah daripada permintaan akan pertolongan adalah di antara bentuk mendahulukan hal yang umum dari hal yang khusus, serta perhatian dalam mendahulukan hak-hak Allah daripada hak hambaNya. Ibadah adalah sebuah kata yang mencakup apa saja yang dicintai oleh Allah dan diridhaiNya berupa perbuatan maupun perkataan, baik yang lahir maupun yang batin, dan memohon pertolongan adalah bersandar kepada Allah dalam mendapatkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan, diiringi dengan keya-kinan yang kuat kepadaNya dalam mewujudkan semua itu. Melaksanakan ibadah kepada Allah dan memohon perto-longan kepadaNya merupakan jalan bagi sebuah kebahagiaan yang abadi dan keselamatan dari segala kejahatan. Maka tidaklah ada cara untuk mendapatkan keselamatan kecuali dengan melaksana-kan kedua hal tersebut, dan sesungguhnya sebuah ibadah itu di-katakan sebagai ibadah apabila ibadah tersebut diambil contohnya dari Rasulullah ﷺ yang dilaksanakan dengan tujuan mencari Wajah Allah semata; dengan kedua faktor ini jadilah perbuatan bersang-kutan sebagai ibadah. Disebutkannya permohonan pertolongan setelah ibadah padahal sebenarnya memohon pertolongan itu ada-lah bagian dari ibadah itu sendiri adalah karena kebutuhan hamba di dalam seluruh ibadah-ibadah mereka kepada permohonan akan pertolongan kepada Allah تعالى tersebut, sebab bila Allah tidak menolongnya, maka tidak akan terwujud untuknya sesuatu yang dikehendakinya dari pelaksanaan perintah maupun menghindari larangan.