Al-A'raaf
Kani waa tarjumaad tafsiirka as-Saʿdī sida IslamHouse.com ugu daabacdo saadi.islamenc.com, oo laga akhriyay bogagga goobtaas. Goobtu ma sheegayso cidda tarjuntay ama daabacaadda la daabacay ee ay raacayso, mana sheegayso shuruudo qaadashada qoraalkeeda ah, sidaas darteed xaqa muujinteeda lama xaqiijin. Qofna ma barbardhigin buug la daabacay, aqoonyahanna ma dib u eegin. Qayb kasta waxay ag taagan tahay aayadaha ay ka hadlayso, kuwaas oo ah qoraalka Quraanka ee Tanzil, sida uu ugu yaal halkaas; aayad goobtu aanay faallo u gaar ah ka bixin waxay la taagan tahay qaybta ka horraysa, tusmaduna waxay magacaabaysaa aayad kasta oo caynkaas ah. Sabīl wax ka mid ah ma qorin, mana tarjumin.
Qoraalka waxaa laga helaysaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)la qaaday 2026-10-22
فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَـٰقَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّى وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِينَ 79
(79) ﴾ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka Shalih meninggalkan mereka", pada waktu Allah menimpakan azab kepada mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka dalam rangka menghinakan dan mencela mereka setelah Allah membinasakan mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ ﴿ "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Yakni segala apa yang Allah mengutusku dengannya kepadamu, aku telah me-nyampaikannya kepadamu. Aku telah berusaha memberimu petun-juk dan aku pun telah berupaya membawamu ke jalan yang lurus dan agama yang benar. ﴾ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Tetapi kamu tidak menyu-kai orang-orang yang memberi nasihat." Justru kamu menolak ucapan orang-orang yang tulus memberi nasihat dan menaati semua setan yang terkutuk. Ketahuilah, bahwa banyak ahli tafsir yang menyebutkan pada kisah ini bahwa unta betina itu keluar dari batu besar yang licin atas permintaan mereka kepada Shalih, bahwa batu itu mengejang seperti wanita hamil yang mau melahirkan, lalu unta itu keluar dan mereka melihatnya. Manakala mereka menyembelihnya, ia memi-liki anak, lalu ia bersuara tiga kali sehingga gunung terbelah dan ia pun masuk ke dalamnya. Dan Shalih berkata kepada mereka bahwa tanda turunnya azab adalah wajahmu menguning di hari pertama dari tiga hari yang dijanjikan, pada hari kedua memerah, dan pada hari ketiga menghitam, maka terjadilah seperti yang dikatakannya. Ini termasuk kisah-kisah Isra`iliyat yang tidak semestinya di-nukil dalam tafsir terhadap kitabullah, padahal di dalam al-Qur`an tidak ada yang menunjukkan hal itu sama sekali, justru kalau ia benar pastilah Allah تعالى akan menyebutkannya, karena padanya terdapat keajaiban, pelajaran, dan tanda kebesaranNya yang tidak mungkin dilalaikan oleh Allah dan ditinggalkan sampai ia diceri-takan oleh orang yang penukilannya tidak dipercaya. Bahkan al-Qur`an mendustakan sebagian yang disebutkan, karena Shalih ber-kata kepada mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari." (Hud: 65). Yakni bersenang-senanglah dalam waktu yang sangat pendek ini, karena kamu tidak memiliki kenikmatan dan kesenangan ke-cuali ini. Kenikmatan dan kesukaan apa bagi orang yang diancam oleh Nabi mereka dengan azab dan Nabi itu menyebutkan kejadian-kejadian yang menjadi pendahuluan azab tersebut, lalu ia terjadi hari demi hari dalam bentuk yang meliputi dan mencakup mereka, karena memerahnya wajah mereka, menguning dan menghitam-nya termasuk azab? Bukankah ini adalah bertentangan dengan al-Qur`an dan bertabrakan dengannya? Al-Qur`an sudah cukup dan ia sebagai petunjuk dari selainnya. Benar, jika sesuatu darinya di-tetapkan secara shahih dari Rasulullah ﷺ yang tidak bertentangan dengan al-Qur`an maka wajib diterima dan ia termasuk yang harus diikuti menurut al-Qur`an. ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr: 7). Dan telah dijelaskan bahwa tidak boleh menafsirkan Kitabul-lah dengan berita-berita Isra`iliyat, walaupun ada pendapat yang membolehkan meriwayatkan dari mereka dalam perkara-perkara yang tidak dipastikan dustanya, karena makna al-Qur`an bersifat yakin, sementara berita-berita Isra`iliyat merupakan perkara-perka-ra yang tidak dibenarkan dan juga tidak didustakan, jadi keduanya tidak mungkin dipertemukan.