U bood nuxurka
Tafsir As-Saadi - Indonesian · An-Nisaa
Suuradda 4

An-Nisaa

Kani waa tarjumaad tafsiirka as-Saʿdī sida IslamHouse.com ugu daabacdo saadi.islamenc.com, oo laga akhriyay bogagga goobtaas. Goobtu ma sheegayso cidda tarjuntay ama daabacaadda la daabacay ee ay raacayso, mana sheegayso shuruudo qaadashada qoraalkeeda ah, sidaas darteed xaqa muujinteeda lama xaqiijin. Qofna ma barbardhigin buug la daabacay, aqoonyahanna ma dib u eegin. Qayb kasta waxay ag taagan tahay aayadaha ay ka hadlayso, kuwaas oo ah qoraalka Quraanka ee Tanzil, sida uu ugu yaal halkaas; aayad goobtu aanay faallo u gaar ah ka bixin waxay la taagan tahay qaybta ka horraysa, tusmaduna waxay magacaabaysaa aayad kasta oo caynkaas ah. Sabīl wax ka mid ah ma qorin, mana tarjumin.

Qoraalka waxaa laga helaysaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)la qaaday 2026-10-22

Aayadda 66

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ ٱقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ أَوِ ٱخْرُجُوا۟ مِن دِيَـٰرِكُم مَّا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِّنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا۟ مَا يُوعَظُونَ بِهِۦ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا 66

(66) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa seandainya Allah me-wajibkan atas hamba-hambaNya perintah-perintah yang berat bagi jiwa berupa membunuh jiwa dan keluar dari negeri, niscaya tidak akan ada yang melaksanakannya kecuali hanya sedikit dari mereka dan jarang, karena itu hendaklah mereka memuji Rabb mereka dan bersyukur kepadaNya atas apa yang telah Allah mudahkan bagi mereka dalam perintah-perintahNya yang menjadi mudah bagi siapa saja dan tidak akan berat untuk dikerjakan, hal ini mengandung isyarat bahwa sepatutnya seorang hamba mem-perhatikan kebalikan dari apa yang ada padanya dari hal-hal yang dibenci, agar seluruh ibadah menjadi ringan baginya, dan bertam-bahlah pujian dan rasa syukur kepada Rabbnya. Kemudian Allah mengabarkan bahwa seandainya mereka, ﴾ فَعَلُواْ مَا يُوعَظُونَ بِهِۦ ﴿ "melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka" yaitu apa yang ditugaskan kepada mereka dalam setiap waktu yang sesuai dengan perhitungannya, lalu mereka mengerahkan segala semangat dan usaha keras mereka, mempersiapkan diri mereka untuk melaksanakannya dan menyempurnakannya, dan jiwa mereka tidak berhasrat terhadap apa yang mereka tidak akan sampai kepadanya, dan tidak juga mereka berada di hadapannya, maka inilah yang patut bagi seorang hamba untuk melihat kondisi yang mewajibkannya untuk melaksanakan perintah tersebut, lalu menyempurnakannya, kemudian ia melangkah setahap demi setahap, hingga ia sampai kepada apa yang ditentukan untuknya berupa ilmu dan amal dalam perkara agama maupun dunianya. Hal ini berbeda dengan seseorang yang jiwanya sangat menggebu terhadap suatu perkara yang ia tidak akan mencapainya dan ia pun tidak diperintahkan kepadanya, sesungguhnya ia hampir tidak akan sampai kepada hal itu disebabkan oleh tidak teraturnya tekad, terjadinya kemalasan, dan hilangnya semangat. Kemudian Allah menyiapkan bagi apa yang mereka peroleh dari pelaksanaan apa-apa yang diajarkan kepada mereka, yaitu ada empat perkara; Pertama, kebaikan, sebagaimana terdapat dalam FirmanNya, ﴾ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ ﴿ "Tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka," maksudnya, pastilah mereka itu menjadi bagian dari orang-orang yang terbaik yang memiliki sifat-sifat seperti sifat-sifat mereka berupa perbuatan baik di mana mereka diperintahkan kepadanya, yakni, akan hilang dari mereka sifat-sifat orang-orang jahat, karena adanya suatu hal berkonsekuensi tidak adanya hal yang berlawanan dengannya. Kedua, akan memperoleh keteguhan dan kekuatan serta peningkatannya, karena Allah سبحانه وتعالى akan meneguhkan (keyakinan) orang-orang yang beriman disebabkan oleh apa yang mereka tunaikan berupa keimanan yaitu menunaikan apa yang diajarkan kepada mereka. Allah meneguhkan mereka di kehidupan dunia ketika terjadinya fitnah dalam perkara yang berhubungan dengan perintah, larangan, dan musibah-musibah, hingga mereka mem-peroleh keteguhan di mana mereka diberi taufik untuk dapat me-laksanakan perintah dan meninggalkan larangan yang sangat ingin dilakukan oleh jiwa, dan juga ketika terjadinya cobaan-cobaan yang dibenci oleh seorang hamba, lalu ia dibimbing kepada keteguhan dengan taufik kepada kesabaran atau kepada keridhaan atau bahkan kepada kesyukuran, sehingga turunlah pertolongan Allah kepadanya agar ia mampu melaksanakannya, dan mereka juga akan memperoleh keteguhan di atas agama ketika menghadapi kematian dan juga di dalam kubur. Demikian juga, sesungguhnya seorang hamba yang melakukan apa yang diperintahkan kepada-nya, ia selalu melatih diri menunaikan perintah-perintah syariat hingga ia terbiasa dengannya bahkan ia rindu kepadanya dan ke-pada hal-hal yang sepertinya, maka hal itu akan menjadi penolong baginya untuk tetap teguh dalam mengerjakan segala ketaatan.