Al-Qalam
Ini ialah terjemahan Tafsir as-Saʿdī seperti yang diterbitkan oleh IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca daripada halaman-halaman laman itu. Laman itu tidak menyatakan siapa yang menterjemahkannya atau edisi cetakan mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan syarat untuk mengambil teksnya, maka hak untuk memaparkannya belum disahkan. Belum ada sesiapa yang membandingkannya dengan buku bercetak, dan tiada ulama yang menyemaknya. Setiap bahagian berada di sisi ayat-ayat yang diulasnya, iaitu teks Al-Quran daripada Tanzil, dipaparkan seperti yang ada di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh laman itu berada bersama bahagian sebelumnya, dan indeks menamakan setiap ayat sedemikian. Sabīl tidak menulis atau menterjemahkan satu pun daripadanya.
Teks daripadasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil pada 2026-10-22
فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ 48 لَّوْلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلْعَرَآءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ 49 فَٱجْتَبَـٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ 50
(48-50) Yang tersisa hanya (engkau Muhammad) bersikap sabar atas gangguan mereka dan menahan diri dari perkataan dan tindakan yang mereka lakukan, serta tetap terus menyeru mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu," terhadap keputusan, baik syariat maupun takdir yang telah ditentukan. Keputusan tak-dir harus disikapi secara sabar atas segala sesuatu yang menyakiti, bukan dihadapi dengan kemarahan dan kesedihan. Sedangkan ketetapan syariat diterima dan ditaati secara sempurna, karena itu adalah perintah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ ﴿ "Dan janganlah kamu se-perti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan," yaitu Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Maksudnya, jangan menyamainya dalam kondisi yang membuatnya tertahan dalam perut ikan, yaitu karena menyi-kapi kaumnya dengan kesabaran yang semestinya serta sikapnya yang meninggalkan kaumnya yang membuat Rabbnya marah. Sampai ketika Yunus naik perahu, kemudian para penumpangnya mengadakan pengundian, karena terlalu beratnya beban siapa di antara mereka yang dibuang ke laut agar beban yang ada di perahu agak ringan. Undian jatuh pada Yunus kemudian beliau dilempar ke laut dan ditelan ikan dalam kondisi mencela diri. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ ﴿ "Ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan dan tertahan di dalamnya, atau ia berdoa dalam kondisi ber-duka dan sedih seraya berkata, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Maha-suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya. Ikan yang menelannya kemudian memuntahkannya di tanah tandus dan Yunus dalam keadaan sakit. Allah سبحانه وتعالى menumbuhkan tanaman untuknya sejenis labu. Karena itu dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabb-nya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus," maksudnya, tentu akan dilemparkan ke tanah kering kerontang, ﴾ وَهُوَ مَذۡمُومٞ ﴿ "dalam keadaan tercela." Tapi Allah سبحانه وتعالى meliputinya dengan rahmat, Yunus pun dilemparkan dalam keadaan terpuji sehingga kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ ﴿ "Lalu Rabbnya memilihnya," yakni, Allah سبحانه وتعالى memilihnya dan menyu-cikannya dari segala kotoran, ﴾ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan menjadikannya ter-masuk orang-orang yang shalih," yakni, orang-orang yang perbuatan, perkataan, niat, dan kondisinya baik.