Ad-Dukhaan
Ini ialah terjemahan Tafsir as-Saʿdī seperti yang diterbitkan oleh IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca daripada halaman-halaman laman itu. Laman itu tidak menyatakan siapa yang menterjemahkannya atau edisi cetakan mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan syarat untuk mengambil teksnya, maka hak untuk memaparkannya belum disahkan. Belum ada sesiapa yang membandingkannya dengan buku bercetak, dan tiada ulama yang menyemaknya. Setiap bahagian berada di sisi ayat-ayat yang diulasnya, iaitu teks Al-Quran daripada Tanzil, dipaparkan seperti yang ada di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh laman itu berada bersama bahagian sebelumnya, dan indeks menamakan setiap ayat sedemikian. Sabīl tidak menulis atau menterjemahkan satu pun daripadanya.
Teks daripadasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil pada 2026-10-22
وَٱتْرُكِ ٱلْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ 24
(24) ﴾ وَٱتۡرُكِ ٱلۡبَحۡرَ رَهۡوًاۖ ﴿ "Dan biarkanlah laut itu tetap terbelah," yaitu seperti kondisinya. Hal itu karena ketika Musa dan Bani Israil pergi di malam hari sebagaimana diperintahkan Allah سبحانه وتعالى dan diikuti oleh Fir'aun, Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Musa عليه السلام untuk memukul laut kemudian berubah menjadi dua belas jalan. Air laut yang ada di sela-sela jalan itu seperti gunung besar. Musa dan kaumnya pun melintas. Ketika mereka keluar dari laut, Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Musa عليه السلام untuk membiarkannya tetap terbelah agar dilintasi oleh Fir'aun dan bala tentaranya, ﴾ إِنَّهُمۡ جُندٞ مُّغۡرَقُونَ ﴿ "sesungguhnya me-reka adalah tentara yang akan ditenggelamkan." Ketika seluruh kaum Nabi Musa عليه السلام keluar dari air dan kaum Fir'aun masuk, Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Musa عليه السلام untuk memukul ke arah mereka dan mereka semua tenggelam dan meninggalkan semua kenikmatan dunia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan Bani Israil yang pernah diperbudak oleh mereka sebagai yang mewarisi mereka.