Langkau ke kandungan
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Ankaboot
Surah 29

Al-Ankaboot

Ini ialah terjemahan Tafsir as-Saʿdī seperti yang diterbitkan oleh IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca daripada halaman-halaman laman itu. Laman itu tidak menyatakan siapa yang menterjemahkannya atau edisi cetakan mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan syarat untuk mengambil teksnya, maka hak untuk memaparkannya belum disahkan. Belum ada sesiapa yang membandingkannya dengan buku bercetak, dan tiada ulama yang menyemaknya. Setiap bahagian berada di sisi ayat-ayat yang diulasnya, iaitu teks Al-Quran daripada Tanzil, dipaparkan seperti yang ada di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh laman itu berada bersama bahagian sebelumnya, dan indeks menamakan setiap ayat sedemikian. Sabīl tidak menulis atau menterjemahkan satu pun daripadanya.

Teks daripadasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil pada 2026-10-22

Ayat 6

وَمَن جَـٰهَدَ فَإِنَّمَا يُجَـٰهِدُ لِنَفْسِهِۦٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَـٰلَمِينَ 6

(6) Akan tetapi tidak semua orang yang mengklaim itu diberi sesuatu yang diklaimnya, dan tidak pula setiap orang yang mendambakan (sesuatu) diberi sesuatu yang didambakannya. Sebab, Allah سبحانه وتعالى Maha mendengar semua suara (seruan, doa. Pent) lagi Maha mengetahui semua niat manusia. Maka siapa saja yang tulus dalam hal itu, niscaya Allah memberikan kepadanya apa yang dia harapkan. Dan siapa saja yang dusta, maka klaim apa pun tidak berguna baginya. Dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui siapa yang laik mendapatkan cintaNya, dan siapa yang tidak laik. ﴾ وَمَن جَٰهَدَ ﴿ "Dan barangsiapa yang berjihad," melawan nafsunya, setan dan musuhnya yang kafir, ﴾ فَإِنَّمَا يُجَٰهِدُ لِنَفۡسِهِۦٓۚ ﴿ "maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri," sebab manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri, hasilnya kembali kepadanya, sedangkan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan seluruh semesta alam; Dia tidak pernah memerintahkan dengan sesuatu yang telah Dia perin-tahkan kepada mereka itu untuk mendapat manfaat darinya, dan tidak pula Dia melarang mereka dari sesuatu yang dilarangNya karena bakhil terhadap mereka. Sudah dimaklumi bahwa perintah dan larangan itu diperlu-kan adanya kesungguhan dari seorang mukallaf untuk bisa mela-kukannya, sebab nafsu (jiwa)nya berdasarkan tabiatnya selalu merasa berat untuk melakukan kebaikan, sedangkan setannya selalu mencegahnya untuk melakukan kebaikan itu, dan musuh-nya pun, yaitu orang kafir selalu menghalang-halanginya untuk menegakkan agamanya sebagaimana mestinya. Semua ini adalah rintangan-rintangan yang membutuhkan mujahadah-mujahadah (kesungguhan) dan usaha yang sangat kuat.