Al-Baqara
Ini ialah terjemahan Tafsir as-Saʿdī seperti yang diterbitkan oleh IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca daripada halaman-halaman laman itu. Laman itu tidak menyatakan siapa yang menterjemahkannya atau edisi cetakan mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan syarat untuk mengambil teksnya, maka hak untuk memaparkannya belum disahkan. Belum ada sesiapa yang membandingkannya dengan buku bercetak, dan tiada ulama yang menyemaknya. Setiap bahagian berada di sisi ayat-ayat yang diulasnya, iaitu teks Al-Quran daripada Tanzil, dipaparkan seperti yang ada di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh laman itu berada bersama bahagian sebelumnya, dan indeks menamakan setiap ayat sedemikian. Sabīl tidak menulis atau menterjemahkan satu pun daripadanya.
Teks daripadasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil pada 2026-10-22
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا۟ بَقَرَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِٱللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ ٱلْجَـٰهِلِينَ 67
(67) Maksudnya, dan ingatlah kalian apa yang terjadi pada kalian bersama Musa عليه السلام ketika kalian membunuh seseorang lalu kalian saling tuduh menuduh tentang itu, maksudnya, kalian saling mengingkari dan saling berselisih tentang pembunuhnya hingga perkara itu menjadi rumit di antara kalian, dan hampir saja -sekiranya Allah tidak menjelaskannya untuk kalian- terjadi suatu keburukan yang dahsyat di antara kalian. Lalu Nabi Musa عليه السلام ber-kata kepada kalian untuk mengungkap pelaku pembunuhannya, "Kalian sembelihlah seekor sapi," dan yang wajib adalah bersegera dalam menaati perintahnya tanpa ada sanggahan atasnya. Akan tetapi mereka enggan melakukannya kecuali dengan memberikan sanggahan seraya mereka berkata, ﴾ أَتَتَّخِذُنَا هُزُوٗاۖ ﴿ "Apakah kamu hendak menjadikan kami bahan ejekan?" Nabi Allah Musa menjawab, ﴾ أَعُوذُ بِٱللَّهِ أَنۡ أَكُونَ مِنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ ﴿ "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil," karena orang yang jahil itu ada-lah orang yang berbicara dengan perkataan yang tidak ada guna-nya dan orang bodoh seperti itulah yang mengejek orang. Adapun orang yang berakal, maka pastilah dia akan meya-kini bahwa sebesar-besarnya aib yang mengurangi derajat agama dan akal, adalah olok-olokannya terhadap orang yang mana dia adalah sama manusianya seperti dirinya, walaupun (memang) dia lebih utama daripada orang yang dihinanya, karena keutamaan itu menuntutnya bersyukur kepada Allah dan berlaku kasih sayang terhadap sesama makhluk. Dan ketika Nabi Musa عليه السلام mengata-kan hal itu kepada mereka, maka mereka mengetahui bahwa itu benar, lalu mereka berkata,