Al-Baqara
Ini ialah terjemahan Tafsir as-Saʿdī seperti yang diterbitkan oleh IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca daripada halaman-halaman laman itu. Laman itu tidak menyatakan siapa yang menterjemahkannya atau edisi cetakan mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan syarat untuk mengambil teksnya, maka hak untuk memaparkannya belum disahkan. Belum ada sesiapa yang membandingkannya dengan buku bercetak, dan tiada ulama yang menyemaknya. Setiap bahagian berada di sisi ayat-ayat yang diulasnya, iaitu teks Al-Quran daripada Tanzil, dipaparkan seperti yang ada di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh laman itu berada bersama bahagian sebelumnya, dan indeks menamakan setiap ayat sedemikian. Sabīl tidak menulis atau menterjemahkan satu pun daripadanya.
Teks daripadasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil pada 2026-10-22
أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِى حَآجَّ إِبْرَٰهِـۧمَ فِى رَبِّهِۦٓ أَنْ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَٰهِـۧمُ رَبِّىَ ٱلَّذِى يُحْىِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۠ أُحْىِۦ وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَٰهِـۧمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأْتِى بِٱلشَّمْسِ مِنَ ٱلْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ ٱلْمَغْرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِى كَفَرَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ 258
(258) Allah تعالى mengisahkan kepada kita tentang berita-berita para Rasul yang terdahulu, di mana dengan berita-berita tersebut, maka jelaslah segala hakikat, bukti-bukti nyata yang ber-aneka ragam akan tegak membela Tauhid. Allah تعالى mengabarkan tentang kekasihNya, Ibrahim عليه السلام, di mana ia mendebat raja yang zhalim, yaitu Namrud al-Babili (penguasa Babilonia) yang menia-dakan dan mengingkari Rabb semesta alam, dan dia menantang untuk menyerang Ibrahim al-Khalil dan mendebatnya tentang perkara tersebut yang sama sekali tidak ada keraguan, masalah dan kebimbangan padanya, yaitu tauhidullah dan rububiyahNya yang merupakan perkara yang paling jelas dan paling terang. Akan tetapi orang sombong ini telah terpedaya oleh kekuasa-annya dan telah tersesat karenanya hingga akhirnya ia meniada-kan Allah. Lalu ia mendebat Ibrahim, Rasul yang mulia yang telah diberikan oleh Allah kepadanya ilmu dan keyakinan yang tidak diberikan kepada seorang pun selainnya dari para Rasul selain Muhammad ﷺ. Maka Ibrahim memberikan pandangan kepadanya, ﴾ رَبِّيَ ٱلَّذِي يُحۡيِۦ وَيُمِيتُ ﴿ "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan memati-kan." Artinya Dzat yang Esa dalam menciptakan, mengatur, meng-hidupkan dan mematikan. Ibrahim menyebutkan dalam perkataan-nya itu hal yang paling jelas dalam masalah ini yaitu menghidup-kan dan mematikan. Raja sombong itu menjawab dengan menantang, ﴾ أَنَا۠ أُحۡيِۦ وَأُمِيتُۖ ﴿ "Saya dapat menghidupkan dan mematikan." Yang dia maksudkan dengan itu adalah bahwa saya membunuh orang yang saya ke-hendaki dan saya biarkan hidup bagi orang yang saya kehendaki. Telah dipahami bahwa hal ini adalah pembelokan dan pemalsuan dari hal yang dimaksudkan. Padahal yang dimaksudkan adalah bahwa Allah تعالى sendiri yang menciptakan kehidupan dari hal-hal yang tidak ada dan kemudian mengembalikannya kepada kematian, dan bahwa Dia-lah yang mematikan hamba-hambaNya, hewan-hewan dengan ajal-ajal mereka melalui sebab-sebab yang dikaitkan padanya maupun dengan tidak ada sebab. Dan ketika al-Khalil melihatnya menyimpang dengan pe-nyimpangan yang kemungkinan saja dapat meluas di antara rakyat jelata, Ibrahim akhirnya berkata dengan memaksanya untuk mem-percayai perkataannya apabila seperti apa yang dia sangkakan, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأۡتِي بِٱلشَّمۡسِ مِنَ ٱلۡمَشۡرِقِ فَأۡتِ بِهَا مِنَ ٱلۡمَغۡرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِي كَفَرَۗ ﴿ "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat, lalu heran terdiamlah orang kafir itu," yakni terhenti dan terputus hujjah-hujjahnya, serta lenyaplah syubhatnya. Sanggahan Nabi Ibrahim ini bukanlah merupakan perpin-dahan dari sebuah dalil kepada yang lainnya, akan tetapi sebagai hujjah pamungkas kepada Namrud dengan mementahkan penda-patnya -kalau ia benar- dan beliau mengemukakan hujjah tersebut yang tidak dapat dicampuradukkan, diputarbalikkan dan dipalsu-kan. Seluruh dalil pendengaran, logika, dan fitrah telah tegak sebagai saksi atas uluhiyah Allah dan mengakui keesaanNya dalam pen-ciptaan dan pengaturan, dan bahwa yang seperti ini kondisinya, maka tidak berhak disembah kecuali hanya Allah saja. Seluruh Rasul sepakat atas asas yang agung ini, dan tidak ada yang meng-ingkari hal itu kecuali seorang yang durhaka, ngotot, dan mencon-toh raja yang zhalim ini. Ini semua adalah dalil-dalil tauhid. Kemu-dian Allah menyebutkan dalil-dalil kesempurnaan tentang akan datangnya kebangkitan dan pembalasan amal.