Langkau ke kandungan
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Baqara
Surah 2

Al-Baqara

Ini ialah terjemahan Tafsir as-Saʿdī seperti yang diterbitkan oleh IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca daripada halaman-halaman laman itu. Laman itu tidak menyatakan siapa yang menterjemahkannya atau edisi cetakan mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan syarat untuk mengambil teksnya, maka hak untuk memaparkannya belum disahkan. Belum ada sesiapa yang membandingkannya dengan buku bercetak, dan tiada ulama yang menyemaknya. Setiap bahagian berada di sisi ayat-ayat yang diulasnya, iaitu teks Al-Quran daripada Tanzil, dipaparkan seperti yang ada di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh laman itu berada bersama bahagian sebelumnya, dan indeks menamakan setiap ayat sedemikian. Sabīl tidak menulis atau menterjemahkan satu pun daripadanya.

Teks daripadasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil pada 2026-10-22

Ayat 252

تِلْكَ ءَايَـٰتُ ٱللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِٱلْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ 252

(252) ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Itu ada-lah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." Dan di antara sederet tanda-tanda kerasulan beliau adalah adanya kisah ini, di mana Allah mengabarkan kepada beliau tentang kisah ini sebagai wahyu untuk beliau dari Allah yang persis sesuai dengan kenyataannya. Dalam cerita ini banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh umat ini. Di antaranya: (1). Keutamaan berjihad di jalan Allah, manfaat-manfaatnya dan akibat-akibatnya yang indah, dan bahwa jihad itu adalah satu-satunya sebab (yang paling efektif) dalam memelihara Agama, menjaga negeri, tubuh dan harta, dan bahwasanya para mujahidin walaupun urusan itu sangat berat buat mereka akan tetapi hasil yang mereka akan dapatkan adalah terpuji, sebagaimana juga bagi orang-orang yang meninggalkan jihad walaupun mereka dapat beristirahat sekejap, namun mereka akan lelah dalam masa yang panjang. (2). Memberikan kekuasaan kepada orang yang kapabel dan mampu, dan bahwasanya kemampuan itu kembali kepada dua perkara: Pertama, pengetahuan, artinya memahami siasat dan meng-organisir, dan kedua, kekuatan, artinya dengannya kebenaran di-tegakkan dan bahwa seorang yang terkumpul pada dirinya kedua perkara itu, maka dialah yang lebih berhak untuk memimpin dari-pada selainnya. (3). Menjadikan cerita ini sebagai dalil atas apa yang dikatakan oleh para ulama bahwa seyogyanya seorang pemimpin pasukan mengadakan peninjauan ketika menetapkannya, yaitu dia melarang orang yang tidak pantas untuk berperang dari personil tentaranya, kudanya, penunggang-penunggangnya karena kelemahannya, kesabarannya yang sedikit, peremehannya, takut akan memuda-ratkan kesehatannya, karena bagian yang ini adalah bahaya yang jelas bagi manusia. (4). Bahwasanya ketika terjadi suatu peperangan, seyogyanya ada pengobaran semangat kaum Muslimin, penguatan jiwa mereka dan anjuran kepada mereka untuk menguatkan keimanan, ber-tawakal penuh dan bersandar hanya kepadaNya, serta memohon kepadaNya ketetapan hati, bimbingan kepada kesabaran, dan pembelaan atas musuh. (5). Bahwasanya tekad untuk berperang dan berjihad bukanlah merupakan hakikatnya, karena terkadang seseorang itu bertekad untuk berjihad akan tetapi ketika telah tiba masanya, tekadnya melemah. Oleh karena itu di antara doa Nabi ﷺ, أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ. "Aku memohon kepadaMu (ya Allah) ketetapan (keteguhan) dalam Agama dan kebulatan tekad dalam petunjuk."[27] Mereka itulah yang bertekad untuk berjihad dan mereka berkata dengan perkataan yang menunjukkan atas sebuah tekad yang kuat, dan ketika hadir masanya, sebagian besar dari mereka akhirnya lemah kembali. Ini serupa dengan sabda Nabi ﷺ, وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ. "Dan aku memohon kepadaMu (ya Allah) keridhaan setelah terjadi-nya Qadha` (ketetapan)."[28] Karena keridhaan setelah terjadinya suatu ketetapan Allah yang dibenci oleh jiwa merupakan keridhaan yang hakiki.