Maryam
Ini ialah terjemahan Tafsir as-Saʿdī seperti yang diterbitkan oleh IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca daripada halaman-halaman laman itu. Laman itu tidak menyatakan siapa yang menterjemahkannya atau edisi cetakan mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan syarat untuk mengambil teksnya, maka hak untuk memaparkannya belum disahkan. Belum ada sesiapa yang membandingkannya dengan buku bercetak, dan tiada ulama yang menyemaknya. Setiap bahagian berada di sisi ayat-ayat yang diulasnya, iaitu teks Al-Quran daripada Tanzil, dipaparkan seperti yang ada di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh laman itu berada bersama bahagian sebelumnya, dan indeks menamakan setiap ayat sedemikian. Sabīl tidak menulis atau menterjemahkan satu pun daripadanya.
Teks daripadasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil pada 2026-10-22
وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَـٰبِ مُوسَىٰٓ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا 51
(51) Maksudnya, sebutlah kisah Nabi Musa bin Imran dalam al-Qur`an yang mulia ini dengan nada mengagungkan dan memuliakannya, serta memperkenalkan kedudukannya yang mulia dan serta akhlaknya yang sempurna. ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ مُخۡلَصٗا ﴿ "Sesungguhnya dia adalah seorang yang dipilih." Cara membaca dengan memfathah-kan huruf lam (menjadi mukhlash) mempunyai pengertian bahwa Allah telah memilihnya di antara semua manusia di seluruh alam. Lafazh itu dibaca juga dengan mengkasrahkan huruf lamnya (men-jadi mukhlish) yang bermakna orang yang ikhlas kepada Allah dalam semua perbuatan, perkataan dan niatnya. Jadi, predikatnya adalah sifat ikhlas di seluruh kondisinya. Dua makna ini saling berkorelasi erat. Sesungguhnya Allah menjadikannya memiliki sifat ikhlash karena keikhlasannya, dan keikhlasannya itulah yang menyebabkan pemilihan dirinya. Sifat paling luhur yang menjadi sifat seorang hamba yaitu keikhlasan hamba dan terpilih oleh Rabbnya. ﴾ وَكَانَ رَسُولٗا نَّبِيّٗا 51 ﴿ "Dan dia itu seorang rasul dan nabi," mak-sudnya Allah menyatukan baginya dua hal yaitu risalah (kerasulan) dan nubuwwah (kenabian). Risalah (pengutusan sebagai rasul) menuntutnya menyampaikan perkataan Dzat yang mengutusnya dan menyampaikan semua syariat yang dibawa, baik yang kecil ataupun yang besar. Sedangkan sifat nubuwwah mengharuskan pengertian bahwa Allah memberikan wahyu kepadanya dan meng-istimewakannya dengan menurunkan wahyu kepadanya. Jadi nubuwwah itu kaitannya antara dia dan Rabb, sedangkan risalah antara dia dan makhluk.