Langkau ke kandungan
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Israa
Surah 17

Al-Israa

Ini ialah terjemahan Tafsir as-Saʿdī seperti yang diterbitkan oleh IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca daripada halaman-halaman laman itu. Laman itu tidak menyatakan siapa yang menterjemahkannya atau edisi cetakan mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan syarat untuk mengambil teksnya, maka hak untuk memaparkannya belum disahkan. Belum ada sesiapa yang membandingkannya dengan buku bercetak, dan tiada ulama yang menyemaknya. Setiap bahagian berada di sisi ayat-ayat yang diulasnya, iaitu teks Al-Quran daripada Tanzil, dipaparkan seperti yang ada di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh laman itu berada bersama bahagian sebelumnya, dan indeks menamakan setiap ayat sedemikian. Sabīl tidak menulis atau menterjemahkan satu pun daripadanya.

Teks daripadasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil pada 2026-10-22

Ayat 42

قُل لَّوْ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَّٱبْتَغَوْا۟ إِلَىٰ ذِى ٱلْعَرْشِ سَبِيلًا 42

(42) Di antara topik paling agung yang Allah mengulang-ulanginya adalah ayat-ayat dan petunjuk-petunjuk tentang tauhid yang merupakan inti dari semua perkara yang penting. Karenanya, Allah memerintahkannya dan melarang dari lawannya (syirik), dan telah menegakkan keterangan-keterangan yang banyak berupa hujjah 'aqliyah dan naqliyah untuknya, hingga siapa saja yang bersungguh-sungguh menyimak sebagiannya saja, niscaya tidak akan membe-kaskan keraguan atau sangsi di hatinya. Di antara dalil-dalil itu, dalil logika yang Allah sebutkan di sini. Allah berfirman, ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," kepada kaum musyrikin yang mengangkat sesembahan selain Allah. ﴾ لَّوۡ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٞ كَمَا يَقُولُونَ ﴿ "Jika-lau ada tuhan-tuhan di sampingNya, sebagaimana yang mereka katakan," yaitu sebagai konsekuensi persangkaan dan tuduhan mereka ﴾ إِذٗا لَّٱبۡتَغَوۡاْ إِلَىٰ ذِي ٱلۡعَرۡشِ سَبِيلٗا ﴿ "niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Rabb yang mempunyai 'Arasy," maksudnya, pasti mereka akan mencari jalan menuju kepada Allah dengan cara beribadah dan kembali ke-padaNya, mendekatkan diri dan mencari perantaraan (yang disya-riatkan) kepadaNya. Maka bagaimana bisa (terjadi) seorang manu-sia -yang serba kekurangan, yang mengetahui betapa besarnya ke-tergantungannya untuk beribadah kepada Rabbnya- menjadikan sesembahan lain beserta Allah? Tidaklah tindakan ini melainkan termasuk kezhaliman yang paling parah dan bentuk kebodohan yang paling dungu. Berdasarkan makna ini, ayat ini menjadi selaras dengan Firman تعالى, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ ﴿ "Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)." (Al-Isra`: 57). Dan juga Firman Allah, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ وَمَا يَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَقُولُ ءَأَنتُمۡ أَضۡلَلۡتُمۡ عِبَادِي هَٰٓؤُلَآءِ أَمۡ هُمۡ ضَلُّواْ ٱلسَّبِيلَ 17 قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ مَا كَانَ يَنۢبَغِي لَنَآ أَن نَّتَّخِذَ مِن دُونِكَ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allah menghimpunkan mereka beserta sesuatu yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (ke-pada yang disembah), 'Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hambaKu itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?' Mereka (yang disembah itu) menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selainMu sebagai pelindung'." (Al- Furqan: 17). Ada kemungkinan bahwa Firman Allah, ﴾ قُل لَّوۡ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٞ كَمَا يَقُولُونَ إِذٗا لَّٱبۡتَغَوۡاْ إِلَىٰ ذِي ٱلۡعَرۡشِ سَبِيلٗا ﴿ "Katakanlah, 'Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu men-cari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 'Arasy'," mengarah pada pengertian, pastilah mereka akan mencari jalan dan berupaya untuk mengalahkan Allah تعالى, baik ia akan mengalahkanNya (atau tidak), sehingga barangsiapa menang dan mengalahkan (yang lain), maka dialah yang akan menjadi rabb yang disembah. Padahal sungguh orang-orang itu meyakini bahwa mereka akan mengakui kalau para sesembahan mereka yang mereka seru selain Allah adalah kalah lagi terpecundangi, tidak memiliki wewenang apa pun, lalu menga-pa orang-orang itu masih mengangkatnya sebagai sesembahan, padahal kondisinya demikian (buruk)? Maka, penafsiran ini se-makna dengan Firman Allah, ﴾ مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٖ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنۡ إِلَٰهٍۚ إِذٗا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهِۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ ﴿ "Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya, kalau ada tuhan besertaNya, masing-ma-sing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain." (Al-Mu`mi-nun: 91).