Ar-Ra'd
Ini ialah terjemahan Tafsir as-Saʿdī seperti yang diterbitkan oleh IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca daripada halaman-halaman laman itu. Laman itu tidak menyatakan siapa yang menterjemahkannya atau edisi cetakan mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan syarat untuk mengambil teksnya, maka hak untuk memaparkannya belum disahkan. Belum ada sesiapa yang membandingkannya dengan buku bercetak, dan tiada ulama yang menyemaknya. Setiap bahagian berada di sisi ayat-ayat yang diulasnya, iaitu teks Al-Quran daripada Tanzil, dipaparkan seperti yang ada di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh laman itu berada bersama bahagian sebelumnya, dan indeks menamakan setiap ayat sedemikian. Sabīl tidak menulis atau menterjemahkan satu pun daripadanya.
Teks daripadasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil pada 2026-10-22
أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌۢ بِقَدَرِهَا فَٱحْتَمَلَ ٱلسَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِى ٱلنَّارِ ٱبْتِغَآءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَـٰعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُۥ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْحَقَّ وَٱلْبَـٰطِلَ ۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَآءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ 17
(17) Allah تعالى menyerupakan hidayah yang diturunkan ke-pada RasulNya bagi kehidupan kalbu dan ruh manusia dengan air yang diturunkan bagi kehidupan pepohonan. Allah menganalogikan manfaat luas lagi melimpah yang terkandung dalam hidayah yang sangat dibutuhkan oleh manusia dengan hal-hal yang dikandung oleh hujan, berupa manfaat-manfaat makro yang mendesak. Allah mempermisalkan hati yang berhasil mengemas hidayah dan ting-katan-tingkatannya dengan lembah-lembah yang menjadi muara aliran air. Lembah yang luas, mampu menampung air yang banyak ada-lah ibarat hati lapang, yang memuat ilmu yang banyak. Sedangkan lembah kecil yang hanya membutuhkan sedikit air seperti halnya hati yang sempit yang hanya memuat ilmu yang sedikit….dan de-mikianlah seterusnya. Selanjutnya, Allah mengumpamakan nafsu syahwat dan syu-bhat (kerancuan) pada hati manusia saat kebenaran datang kepada-nya dengan buih yang berada di atas permukaan air, dan benda yang dipanaskan di atas api berupa perhiasan yang akan dimurnikan dan dilebur untuk dimasukkan dalam cetakan. Ia akan tetap di atas air dalam keadaan mengambang menyebabkannya keruh sampai akhir-nya hilang dan lenyap. Dan akan tersisa hal-hal yang berguna bagi manusia dalam wujud air jernih dan perhiasan yang murni. Demikian pula keadaan dengan syahwat dan syubhat, karena hati akan senantiasa membenci dan berusaha menaklukkannya me-lalui bukti-bukti yang benar dan tekad-tekad yang bulat agar pergi dan lenyap. Hati pun menjadi bersih lagi murni, di dalamnya hanya ada hal-hal yang bermanfaat bagi manusia berupa ilmu dan kebenar-an serta tindakan untuk mengutamakan dan mencintainya. Kebatil-an akan lenyap, dan kebenaranlah yang menyirnakannya. ﴾ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا 81 ﴿ "Sesungguhnya kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (Al-Isra`: 81). Di sini, Allah berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ ﴿ "Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan," tujuannya agar kebenaran menjadi jelas dan terbedakan dari kebatilan, dan hidayah terbeda-kan dari kesesatan.