Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Cabang-cabang Keimanan

7 hadis

Bersegeralah untuk beramal saleh sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Bersegeralah untuk beramal saleh sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap. Imbasnya, pada pagi hari seseorang masih beriman, namun di sore hari ia menjadi kafir. Atau, pada sore hari ia masih beriman, namun di pagi hari ia menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan secuil harta dunia."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mendorong orang beriman agar menyegerakan dan memperbanyak amal saleh sebelum datangnya kesibukan lain dan kondisi tidak memungkinkan karena munculnya berbagai fitnah dan syubhat yang menghalangi hal itu. Fitnah-fitnah itu gelap gulita seperti potongan malam, di dalamnya kebenaran bercampur dengan kebatilan, sehingga manusia kesulitan untuk membedakan keduanya. Saking beratnya, seseorang akan mengalami keguncangan. Sampai-sampai di pagi hari ia masih beriman, namun di sore hari ia menjadi kafir. Atau, di sore hari ia masih beriman, namun di pagi hari ia menjadi kafir. Dia meninggalkan agamanya dengan harta dunia yang fana.

Faedah
  1. 1- Kewajiban berpegang teguh dengan agama dan menyegerakan amal saleh sebelum dihalangi oleh berbagai rintangan.
  2. 2- Isyarat yang menunjukkan adanya berbagai fitnah menyesatkan yang susul-menyusul di akhir zaman. Setiap kali sebuah fitnah sirna akan disusul oleh fitnah yang lain.
  3. 3- Apabila agama seseorang lemah dan ia mengalah lantaran perkara dunia seperti harta atau lainnya maka hal itu menjadi sebab penyimpangannya serta meninggalkan agamanya dan larut bersama fitnah.
  4. 4- Dalam hadis di atas terdapat dalil bahwa amal saleh menjadi sebab keselamatan dari berbagai fitnah.
  5. 5- Fitnah terbagi menjadi dua: fitnah syubhat dan obatnya adalah ilmu, serta fitnah syahwat dan obatnya adalah iman dan sabar.
  6. 6- Dalam hadis di atas terdapat petunjuk bahwa orang yang minim amalnya akan lebih cepat diombang-ambingkan oleh fitnah, sedangkan orang yang banyak amalnya tidak boleh tertipu dengannya, bahkan mestinya ia terus menambah amalan.
Rujukan

صحيح مسلم (1/ 110) (118). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 169). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (2/ 16). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 122).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Iman itu memiliki tujuh puluhan lebih atau enam puluhan lebih cabang; cabang yang paling utama ialah ucapan Lā ilāha illallāh (tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah), dan cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan duri dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «الإيمانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أو بِضْعٌ وسِتُّونَ شُعْبَةً: فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ: لا إله إلا الله، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), "Iman itu memiliki tujuh puluhan lebih atau enam puluhan lebih cabang; cabang yang paling utama ialah ucapan Lā ilāha illallāh (tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah), dan cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan duri dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari iman."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Iman itu bukan hanya satu perangai atau satu cabang, tetapi memiliki banyak cabang; tujuhpuluh lebih atau enampuluh lebih. Tetapi cabang yang paling utama ialah satu, yaitu (ucapan): Lā ilāha illallāh (tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah), dan cabang yang paling ringan ialah menghilangkan segala sesuatu yang mengganggu pejalan kaki berupa batu, duri atau lainnya dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman. Amalan termasuk keimanan menurut Ahlussunnah wal Jamaah. Ini adalah pendapat yang benar berdasarkan dalil-dalil syariat. Hadis ini merupakan salah satunya.

Rujukan

- صحيح البخاري، للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. - صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب، الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. - شرح رياض الصالحين، للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ. - نزهة المتقين بشرح رياض الصالحين، تأليف مصطفى سعيد الخن، مصطفى البغا، محي الدين مستو، علي الشربجي، محمد أمين لطفي، مؤسسة الرسالة، بيروت، لبنان، الطبعة الرابعة عشر، 1407ه. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى، 1418ه. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، المؤلف: محمد علي بن محمد بن علان الصديقي، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة للطباعة والنشر والتوزيع، بيروت، لبنان، الطبعة: الرابعة، 1425هـ - 2004م. - تطريز رياض الصالحين، تأليف فيصل آل مبارك، تحقيق د. عبد العزيز آل حمد، دار العاصمة، الرياض، الطبعة الأولى، 1423هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Nabi ﷺ bersabda tentang kaum Ansar, "Tidaklah mencintai mereka kecuali orang beriman, dan tidak membenci mereka kecuali orang munafik. Siapa yang mencintai mereka, Allah akan mencintainya. Sebaliknya, siapa yang membenci mereka, Allah akan membencinya

عَنِ الْبَرَاءِ رضي الله عنه: عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ فِي الْأَنْصَارِ: «لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ، مَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللهُ».
Al-Barā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda tentang kaum Ansar, "Tidaklah mencintai mereka kecuali orang beriman, dan tidak membenci mereka kecuali orang munafik. Siapa yang mencintai mereka, Allah akan mencintainya. Sebaliknya, siapa yang membenci mereka, Allah akan membencinya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa mencintai kaum Ansar dari kalangan penduduk Madinah adalah penanda kesempurnaan iman. Karena mereka lebih awal dalam membela Islam dan Nabi ﷺ, berjuang menampung kaum muslimin, serta mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Dan sebaliknya, membenci mereka adalah tanda kemunafikan. Kemudian beliau ﷺ menerangkan, bahwa orang yang mencintai kaum Ansar akan dicintai Allah, dan sebaliknya orang yang membenci mereka akan dibenci Allah.

Faedah
  1. 1- Di dalam hadis ini terkandung keutamaan besar kaum Ansar. Mencintai mereka adalah tanda keimanan dan bebas dari kemunafikan.
  2. 2- Mencintai wali-wali Allah dan menolong mereka adalah sebab mendapatkan cinta Allah kepada hamba.
  3. 3- Keutamaan orang-orang pertama dan terdahulu dalam Islam.
Rujukan

صحيح البخاري (5/ 32) (3783). صحيح مسلم (1/ 85) (75). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 447). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص257). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (6/ 258). شرح النووي على مسلم (2/ 63). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين (1/ 350).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Bagaimana pendapatmu jika aku hanya mengerjakan salat-salat yang wajib, berpuasa Ramadan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram

عن جابر رضي الله عنه: أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ، وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قَالَ: وَاللهِ لَا أَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا.
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, "Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Bagaimana pendapatmu jika aku hanya mengerjakan salat-salat yang wajib, berpuasa Ramadan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambah amalan apa pun selain itu, apakah aku dapat masuk surga?" Beliau menjawab, "Ya." Dia berkata, "Demi Allah, aku tidak menambah amalan apa pun selain itu."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menerangkan bahwa orang yang melaksanakan salat wajib lima waktu dan tidak menambah salat sunah sedikit pun, berpuasa Ramadan dan tidak melakukan puasa sunah, meyakini kehalalan yang halal dan mengerjakannya, serta meyakini keharaman yang haram dan menghindarinya, bahwa dia akan masuk surga.

Faedah
  1. 1- Kegigihan seorang muslim untuk mengerjakan amalan-amalan fardu dan meninggalkan perbuatan-perbuatan haram, dan menjadikan surga sebagai tujuannya.
  2. 2- Urgensi mengerjakan yang halal dan meyakini kehalalannya, serta mengharamkan yang haram dan meyakini keharamannya.
  3. 3- Mengerjakan amalan-amalan wajib dan meninggalkan perbuatan haram merupakan penyebab masuk ke dalam surga.
Rujukan

صحيح مسلم (1/ 44) (15). جامع العلوم والحكم (1/513). شرح الأربعين النووية للعثيمين (ص: 215). فتح القوي المتين في شرح الأربعين للعباد (ص 77).

Hadis ini di HadeethEnc.com

'Bersuci itu separuh dari iman. Ucapan "alḥamdulillāh" memenuhi timbangan, ucapan "subḥānallāhi wal-ḥamdulillāh" memenuhi antara langit dan bumi

عن أبي مالكٍ الأشعريِّ رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلَآنِ -أَوْ تَمْلَأُ- مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو، فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا».
Abu Mālik Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, 'Bersuci itu separuh dari iman. Ucapan "alḥamdulillāh" memenuhi timbangan, ucapan "subḥānallāhi wal-ḥamdulillāh" memenuhi antara langit dan bumi. Salat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, dan sabar adalah sinar. Al-Qur`an itu akan menjadi hujah yang membelamu atau justru menuntutmu. Semua orang berangkat di pagi hari mempertaruhkan dirinya, antara membebaskan dirinya atau membinasakannya.'"
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa menyucikan lahiriah adalah dengan wudu dan mandi, dan itu termasuk syarat sahnya salat. Bacaan "alḥamdulillāh" memenuhi timbangan, yaitu pujian kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- serta menyifati-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan akan ditimbang pada hari kiamat dan memenuhi timbangan amal. Bacaan "subḥānallāh walḥamdulillāh", yaitu menyucikan Allah dari segala kekurangan serta menyifati-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan yang sesuai dengan keagungan-Nya disertai dengan mencintai dan mengagungkan-Nya akan memenuhi ruang antara langit dan bumi. Salat akan menjadi cahaya bagi hamba di dalam hatinya, pada wajahnya, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan. Sedekah adalah bukti dan dalil yang menunjukkan kebenaran iman seorang mukmin dan perbedaannya dari orang munafik yang enggan menunaikannya, karena orang munafik itu tidak meyakini janji tersebut. Sabar adalah sinar, yaitu menahan diri dari rasa kecewa dan marah, yaitu cahaya yang disertai dengan hawa panas dan membakar seperti sinar matahari, karena terasa berat dan butuh usaha keras untuk melawan jiwa dan menahannya dari apa yang diinginkannya; pelakunya akan senantiasa mendapatkan sinar serta petunjuk serta istikamah di atas yang benar; yaitu sabar melakukan ketaatan kepada Allah, sabar meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, serta sabar terhadap musibah dan berbagai macam keburukan di dunia. Al-Qur`an akan menjadi hujah yang membelamu dengan cara membaca dan mengamalkannya, atau justru menjadi hujah yang akan menuntutmu karena telah meninggalkannya, tidak mengamalkannya, ataupun membacanya. Kemudian Nabi ﷺ mengabarkan bahwa semua orang berjalan dan menyebar; mereka bangun dari tidur mereka serta keluar dari rumah mereka untuk melakukan pekerjaan mereka yang beraneka macam, di antara mereka ada yang istikamah di atas ketaatan kepada Allah, maka ia sedang membebaskan dirinya dari api neraka, namun ada juga yang menyimpang dari hal tersebut dan terjerumus ke dalam kemaksiatan, maka ia sedang membinasakannya dengan masuk ke dalam api neraka.

Faedah
  1. 1- Bersuci terbagi menjadi dua: menyucikan zahir dengan wudu dan mandi; menyucikan batin dengan tauhid, iman, dan amal saleh.
  2. 2- Urgensi memelihara salat, karena salat akan menjadi cahaya bagi hamba di dunia dan hari kiamat.
  3. 3- Sedekah adalah bukti ketulusan iman.
  4. 4- Urgensi mengamalkan dan mengimani Al-Qur`an supaya menjadi hujah yang akan membela Anda, bukan hujah yang menuntut Anda.
  5. 5- Jiwa, jika tidak Anda sibukkan dengan ketaatan, ia akan menyibukkan Anda dengan kemaksiatan.
  6. 6- Setiap orang pasti bekerja; entah itu dengan membebaskan dirinya melalui ketaatan atau membinasakannya melalui kemaksiatan.
  7. 7- Kesabaran membutuhkan ketahanan dan berharap pahala dan ia terasa berat.
Rujukan

صحيح مسلم (1/ 203) (223)، شرح الأربعين لابن دقيق العيد (ص 84)، شرح الأربعين النووية للعثيمين (ص: 231)، الرياض الزكية شرح الأربعين النووية للخضير (ص 293)، فتح القوي المتين في شرح الأربعين للعباد (ص 79)

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Dia berfirman, 'Sebagian hamba-Ku memasuki waktu pagi dalam keadaan beriman kepada-Ku dan ada yang kafir

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الجُهَنِيِّ رضي الله عنه أَنَّهُ قَالَ: صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَقَالَ: «هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟» قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ».
Zaid bin Khālid Al-Juhaniy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ mengimami kami dalam salat Subuh di Hudaibiah setelah turun hujan di malam harinya. Setelah salam beliau menghadap kepada jemaah seraya bertanya, "Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Dia berfirman, 'Sebagian hamba-Ku memasuki waktu pagi dalam keadaan beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun yang mengatakan, 'Kami diberikan hujan dengan karunia dan rahmat Allah', maka orang tersebut beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun yang mengatakan, 'Kami diberikan hujan oleh bintang ini dan itu' maka orang tersebut kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang'."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengerjakan salat Subuh di Hudaibiah -yaitu sebuah perkampungan dekat dari Makkah- setelah hujan turun di malam harinya. Setelah salam serta selesai dari salatnya, beliau menghadap kepada para sahabat seraya bertanya: Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan oleh Tuhan kalian ﷻ? Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: Allah Ta'ala menjelaskan bahwa manusia, ketika hujan turun akan terbagi menjadi dua kelompok: kelompok yang beriman kepada Allah Ta'ala dan kelompok lainnya kafir kepada Allah Ta'ala. Siapa yang mengatakan: Kita diberikan hujan dengan karunia dan rahmat Allah, yaitu dia menyandarkan sebab turunnya hujan kepada Allah Ta'ala, maka orang tersebut beriman kepada Allah Yang Maha Pencipta Maha Mengatur alam semesta; dan kafir kepada bintang. Adapun yang mengatakan: Kita diberikan hujan dengan sebab bintang ini dan itu, maka orang tersebut kafir kepada Allah; dan beriman kepada bintang, yaitu kufur kecil karena dia menyandarkan sebab turunnya hujan kepada bintang, padahal Allah tidak pernah menjadikannya sebagai sebab berdasarkan syariat maupun ketetapan kadar. Adapun orang yang menyandarkan sebab turunnya hujan dan peristiwa-peristiwa bumi lainnya kepada pergerakan bintang ketika terbit dan tenggelam dengan meyakininya sebagai pelaku sebenarnya, maka dia telah jatuh dalam kekafiran besar.

Faedah
  1. 1- Anjuran mengucapkan setelah turun hujan: "muṭirnā bi faḍlillāh wa raḥmatih (Kita diberikan hujan dengan karunia dan rahmat Allah)."
  2. 2- Siapa yang menyandarkan karunia penurunan hujan dan lainnya kepada bintang sebagai sesuatu yang menciptakan serta yang mengadakan, maka dia telah jatuh dalam kekafiran besar. Akan tetapi jika dia menyandarkannya sebagai sebab, maka dia telah jatuh dalam kekafiran kecil karena bukan merupakan sebab secara syariat maupun indra.
  3. 3- Karunia akan menjadi sebab kekufuran jika diingkari, dan menjadi sebab keimanan jika disyukuri.
  4. 4- Larangan mengucapkan "muṭirnā bi nau`i każā (kita diberikan hujan karena bintang ini)" walaupun maksudnya adalah waktu. Ini dilakukan untuk menutup celah kesyirikan.
  5. 5- Kewajiban menggantungkan hati kepada Allah Ta'ala dalam meraih kenikmatan dan menolak keburukan.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 169) (846)، صحيح مسلم (1/ 83) (71)، البحر المحيط الثجاج في شرح صحيح الإمام مسلم بن الحجاج (2/ 484)، المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم (1/ 260).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sungguh aku berada di telaga agar dapat melihat siapa yang datang kepadaku di antara kalian. Akan tetapi, ada sejumlah orang yang dijauhkan dariku, sehingga aku mengatakan, 'Ya Tuhanku, mereka itu termasuk golonganku, termasuk umatku.'

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنِّي عَلَى الحَوْضِ حَتَّى أَنْظُرَ مَنْ يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكُمْ، وَسَيُؤْخَذُ نَاسٌ دُونِي، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي، فَيُقَالُ: هَلْ شَعَرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ، وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ».
Asmā` binti Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh aku berada di telaga agar dapat melihat siapa yang datang kepadaku di antara kalian. Akan tetapi, ada sejumlah orang yang dijauhkan dariku, sehingga aku mengatakan, 'Ya Tuhanku, mereka itu termasuk golonganku, termasuk umatku.' Maka dikatakan, 'Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sepeninggalmu. Demi Allah, mereka terus-menerus berbalik ke belakang.'"
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kelak di hari kiamat beliau akan berada di telaganya untuk melihat siapa di antara umatnya yang datang ke telaga tersebut. Ada sejumlah orang dijauhkan dan dilarang mendekati beliau ﷺ sehingga beliau berkata: Wahai Tuhanku, mereka itu golonganku dan termasuk umatku. Maka dikatakan: Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan setelah berpisah denganmu? Demi Allah, mereka senantiasa kembali ke belakang dan murtad dari agama mereka. Mereka bukan golonganmu dan bukan juga termasuk umatmu.

Faedah
  1. 1- Kasih sayang dan perhatian Nabi ﷺ kepada umatnya.
  2. 2- Bahaya menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ.
  3. 3- Anjuran untuk berpegang teguh dengan Sunnah Nabi ﷺ.
Rujukan

صحيح البخاري (8/ 121) (6593)، صحيح مسلم (4/ 1793) (2292)، عمدة القاري (23/144)، البحر المحيط الثجاج (37/322).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com