Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Masalah-masalah Qaḍā` dan Qadar

9 hadis

Siapa yang Allah kehendaki (mendapat) kebaikan maka Dia akan memberinya musibah

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang Allah kehendaki (mendapat) kebaikan maka Dia akan memberinya musibah."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa ketika Allah menginginkan kebaikan bagi salah seorang hamba-Nya yang beriman, Dia memberikan mereka ujian terkait diri, harta, dan keluarga mereka. Hal itu akan membuat seorang mukmin akan kembali kepada Allah Ta'ala melalui doa. Mereka juga akan mendapatkan pengampunan kesalahan dan pengangkatan derajat mereka.

Faedah
  1. 1- Orang beriman riskan terhadap berbagai macam ujian.
  2. 2- Ujian bisa menjadi tanda cinta Allah kepada hamba-Nya untuk mengangkat derajatnya, meninggikan kedudukannya, dan mengampuni kesalahannya.
  3. 3- Anjuran untuk bersabar dan tidak berkeluh kesah ketika ditimpa musibah.
Rujukan

صحيح البخاري (7/ 115) (5645). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 509). بهجة الناظرين، لسليم الهلالي (1/ 98). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص45). نزهة المتقين، مجموعة من المشايخ (1/ 71). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (1/ 244). مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي القاري (3/ 1127).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berlepas diri dari wanita yang berteriak histeris, mencukur rambut, dan yang merobek-robek pakaian (ketika terjadi musibah)

عَن أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: وَجِعَ أَبُو مُوسَى وَجَعًا شَدِيدًا، فَغُشِيَ عَلَيْهِ وَرَأْسُهُ فِي حَجْرِ امْرَأَةٍ مِنْ أَهْلِهِ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهَا شَيْئًا، فَلَمَّا أَفَاقَ، قَالَ: أَنَا بَرِيءٌ مِمَّنْ بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِئَ مِنَ الصَّالِقَةِ وَالحَالِقَةِ وَالشَّاقَّةِ.
Abu Burdah bin Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Abu Mūsā -raḍiyallāhu 'anhu- mengalami sakit keras hingga pingsan sementara kepalanya di pangkuan salah satu istrinya sehingga ia tidak bisa melarangnya sedikit pun. Setelah sadar, dia berkata, "Aku berlepas diri dari orang yang Rasulullah ﷺ berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berlepas diri dari wanita yang berteriak histeris, mencukur rambut, dan yang merobek-robek pakaian (ketika terjadi musibah)."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Abu Burdah -raḍiyallāhu 'anhu- mengisahkan bahwa ayahnya, Abu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu-, mengalami sakit keras hingga pingsan. Ketika itu, kepalanya berada di pangkuan salah satu istrinya. Lalu istrinya berteriak dan meratap, namun ia sama sekali tidak bisa melarangnya lantaran ia pingsan. Ketika sadar, ia mengatakan bahwa ia berlepas diri dari orang yang Rasulullah ﷺ berlepas diri darinya, yaitu beliau berlepas diri dari: 1- Aṣ-Ṣāliqah; yaitu wanita yang histeris mengangkat suaranya saat musibah. 2- Al-Ḥāliqah; yaitu wanita yang mencukur rambutnya saat musibah. 3- Asy-Syāqqah; yaitu wanita yang merobek pakaiannya saat musibah. Hal itu karena perkara-perkara tersebut adalah kebiasaan jahiliah. Tetapi, syariat mengajarkan agar bersabar saat terjadi musibah sekaligus mengharapkan pahala dari Allah.

Faedah
  1. 1- Larangan merobek pakaian, mencukur rambut, dan berteriak mengangkat suara saat terjadi musibah karena itu semua termasuk dosa besar.
  2. 2- Bersedih dan menangis tanpa disertai ratapan dan teriakan hukumnya tidak haram karena tidak bertentangan dengan sikap sabar terhadap ketetapan Allah, bahkan itu adalah sikap kasih sayang.
  3. 3- Diharamkannya marah terhadap ketetapan Allah yang menyakitkan, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
  4. 4- Kewajiban sabar ketika musibah terjadi.
Rujukan

صحيح البخاري (2/ 81) (1296). صحيح مسلم (1/ 100) (104). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص287). تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (2/ 371).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, meskipun masing-masing memiliki sisi kebaikan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ (لَوْ) تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, meskipun masing-masing memiliki sisi kebaikan. Maka gigihlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah! Jika ada sesuatu yang menimpamu, jangan katakan, 'Andai aku lakukan ini, tentu hasilnya akan begini dan begini.' Tetapi ucapkanlah, 'Itulah ketetapan Allah. Apa yang Allah kehendaki, maka Dia melakukannya.' Karena kata-kata 'andai' bisa membuka peluang untuk setan."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menerangkan bahwa orang mukmin itu baik seluruhnya. Akan tetapi, mukmin yang kuat imannya, tekadnya, hartanya, dan berbagai sisi kekuatan lainnya lebih baik dan lebih dicintai Allah ﷻ daripada mukmin yang lemah. Kemudian Nabi ﷺ berpesan kepada orang beriman agar melakukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan manfaat dalam urusan dunia dan akhirat, disertai bertumpu kepada Allah Ta'ala, memohon pertolongan dan berserah diri kepada-Nya. Kemudian beliau ﷺ melarang sikap lemah, malas, dan berat melakukan semua yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Apabila seorang mukmin sungguh-sungguh dalam beramal, melakukan sebab (usaha), memohon pertolongan kepada Allah dan meminta kebaikan kepada Allah, setelah itu ia tidak lagi memiliki kewajiban kecuali menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah. Kemudian hendaknya ia menyadari bahwa pilihan Allah ﷻ adalah yang terbaik. Jika setelah itu ia ditimpa suatu musibah, janganlah ia mengatakan, Andai aku lakukan ini, niscaya hasilnya akan begini dan begini. Karena kata-kata "andai" akan membuka peluang bagi setan untuk menentang takdir dan menyesali apa yang telah berlalu, namun dengan penuh tunduk dan rida, hendaknya ia mengatakan, "Itulah ketetapan Allah dan apa yang Allah kehendaki akan Dia lakukan." Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi melainkan sesuai dengan yang diinginkan Allah; Dia Mahakuasa melakukan semua yang diinginkan-Nya, tidak ada yang dapat mencegah ketetapan-Nya dan tidak pula ada yang dapat membatalkan keputusan-Nya.

Faedah
  1. 1- Perbedaan tingkat keimanan di antara manusia.
  2. 2- Anjuran agar seseorang memiliki kekuatan dalam beramal karena akan mendatangkan faedah yang tidak dapat diperoleh dengan kelemahan.
  3. 3- Seseorang harus gigih mengupayakan apa yang berguna untuk dirinya dan meninggalkan yang tidak berguna.
  4. 4- Seorang mukmin wajib meminta pertolongan Allah dalam semua urusan dan tidak bertumpu pada diri sendiri.
  5. 5- Meyakini qada dan kadar, dan hal itu tidak menafikan untuk tetap melakukan sarana dan usaha dalam mendapatkan kebaikan.
  6. 6- Larangan berkata "andai" sebagai wujud ketidakpuasan ketika terjadi musibah, dan pengharaman menentang qada dan kadar Allah Ta'ala.
Rujukan

صحيح مسلم (4/ 2052) (2664). توضيح الأحكام من بلوغ المرام، لعبد الله البسام (7/ 492). منحة العلام في شرح بلوغ المرام، لعبد الله الفوزان (10/ 338). فتح ذي الجلال والإكرام، لابن عثيمين (6/ 430).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Apabila kalian mendengar wabah penyakit di sebuah negeri, maka janganlah memasukinya! Namun bila suatu negeri terkena wabah penyakit dan kalian sedang berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari sana!

عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما مرفوعاً: «إذا سمعتم الطاعونَ بأرض فلا تدخلوها وإذا وقع بأرض وأنتم فيها فلا تخرجوا منها».
Dari Usamah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū, (Nabi bersabda), "Apabila kalian mendengar wabah penyakit di sebuah negeri, maka janganlah memasukinya! Namun bila suatu negeri terkena wabah penyakit dan kalian sedang berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari sana!"
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Jika wabah menimpa suatu negeri yang tidak dimasuki seseorang, maka janganlah ia memasukinya demi menjaga kesehatan dirinya dan kesehatan orang lain. Jika satu penyakit merebak di suatu negeri, padahal orang itu sedang berada di sana, maka ia tidak boleh keluar darinya dan hendaknya ia bersabar terhadap takdir Allah agar dicatatkan pahala baginya.

Rujukan

- صحيح البخاري ،للإمام محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. - صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. - كنوز رياض الصالحين»،لحمد بن ناصر العمار،دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430ه. - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ. - منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري تأليف- حمزة محمد قاسم مكتبة دار البيان، دمشق - الجمهورية العربية السورية، مكتبة المؤيد، الطائف - المملكة العربية السعودية-1410 هـ - 1990 م. -دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين/محمد علي بن محمد بن علان البكري -اعتنى بها: خليل مأمون شيحا- دار المعرفة للطباعة والنشر والتوزيع، بيروت – لبنان- الطبعة: الرابعة، 1425 هـ - 2004 م. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418ه. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشرة، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Seandainya engkau menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, Allah tidak akan menerimanya darimu sampai engkau beriman kepada takdir dan menyakini bahwa apa saja yang (ditetapkan) menimpamu, maka tidak akan pernah terluput darimu, serta apa saja yang (ditetapkan) terluput darimu, maka tidak akan pernah menimpamu. Sekiranya engkau meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada takdir, niscaya engkau termasuk penghuni Neraka.

عن ابن الدَّيْلَمِي قال: أتيتُ أُبَيَّ بن كعب فقلتُ: في نفْسي شيء من القدر، فحَدِّثْني بشيء لعل الله يُذْهِبَه مِن قلبي. فقال: «لو أنفقتَ مثل أُحُد ذَهَبًا ما قَبِلَه الله منك حتى تؤمن بالقدَر، وتعلمَ أنَّ ما أصابك لم يكن ليُخطِئك، وما أخْطأك لم يكن لِيُصِيبَك، ولو مُتَّ على غير هذا لكنتَ مِن أهل النار». قال: فأتيتُ عبد الله بن مسعود، وحذيفة بن اليمان، وزيد بن ثابت، فكلهم حدَّثني بمثل ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم .
Dari Ibnu Ad-Dailami, ia berkata, Aku mendatangi Ubay bin Ka'ab lalu berkata, "Dalam diriku ada keraguan mengenai takdir. Ceritakanlah sesuatu kepadaku, mudah-mudahan Allah menghilangkan lintasan itu dari hatiku." Lantas ia berkata, "Seandainya engkau menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, Allah tidak akan menerimanya darimu sampai engkau beriman kepada takdir, dan menyakini bahwa apa saja yang (ditetapkan) menimpamu, maka tidak akan pernah terluput darimu serta apa saja yang (ditetapkan) terluput darimu, maka tidak akan pernah menimpamu. Sekiranya engkau meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada takdir, niscaya engkau termasuk penghuni Neraka." Ibnu Ad-Dailami berkata, "Selanjutnya aku mendatangi Abdullah bin Mas'ūd, Ḥużaifah bin al-Yamān, dan Zaid bin Ṡābit. Semuanya bercerita kepadaku seperti itu dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan

Abdullah bin Fairūz ad-Dailami -raḥimahullāh- mengabarkan bahwa dalam dirinya timbul keraguan mengenai takdir. Ia khawatir keraguan ini menyebabkan pengingkarannya. Lantas ia pergi bertanya kepada para ahli ilmu dari kalangan sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk memecahkan keraguan tersebut. Demikianlah seyogyanya seorang Mukmin bertanya kepada para ulama mengenai hal-hal yang meragukannya sebagai implementasi firman Allah - Ta'ālā-, "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." Seluruh ulama sahabat itu memfatwakan kepadanya bahwa dia harus beriman kepada qadā` dan qadar, dan sesungguhnya mengeluarkan infak yang besar tidak akan diterima dari orang yang tidak beriman kepada takdir, dan orang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada takdir maka ia termasuk penghuni Neraka.

Rujukan

- سنن أبي داود, أبو داود سليمان بن الأشعث الأزدي السِّجِسْتاني, المحقق: محمد محيي الدين عبد الحميد, المكتبة العصرية، صيدا – بيروت. - سنن ابن ماجه, ابن ماجه أبو عبد الله محمد بن يزيد القزويني، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي, الناشر: دار إحياء الكتب العربية - فيصل عيسى البابي الحلبي. - مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى، 1421هـ - 2001م. - مشكاة المصابيح، تأليف: محمد بن عبد الله، التبريزي، تحقيق : محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: المكتب الإسلامي، الطبعة: الثالثة، 1985م. - الملخص في شرح كتاب التوحيد، دار العاصمة الرياض، الطبعة: الأولى 1422هـ- 2001م. - الجديد في شرح كتاب التوحيد، مكتبة السوادي، جدة، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الخامسة، 1424هـ/2003م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Di antara perkara makruf yang diwajibkan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada kami (ketika mengambil baiat) adalah supaya tidak mendurhakai beliau di dalam hal makruf yaitu tidak mencakar-cakar wajah (ketika ditimpa musibah), tidak meronta-ronta dengan seruan kebinasaan, tidak merobek-robek baju, dan tidak mengacak-acak rambut.

عن أسيد بن أبي أسيد التابعي، عن امرأة من المبايعات، قالت: كان فيما أخذ علينا رسولُ الله صلى الله عليه وسلم في المعروف الذي أخذ علينا أن لا نعصيه فيه: أن لا نَخْمِشَ وجهًا، ولا نَدْعُوَ وَيْلًا، ولا نَشُقَّ جَيْبًا، وأن لا نَنْشُرَ شَعْرًا.
Dari Usaid bin Abī Usaid At-Tābi’ī (seorang tabiin), dari seorang wanita yang ikut membaiat (Rasulullah), ia berkata, "Di antara perkara makruf yang diwajibkan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- atas kami (ketika mengambil baiat) adalah supaya tidak mendurhakai beliau di dalam hal makruf yaitu tidak mencakar-cakar wajah (ketika ditimpa musibah), tidak meronta-ronta dengan seruan kebinasaan, tidak merobek-robek baju, dan tidak mengacak-acak rambut."
Diriwayatkan oleh Abu DaudDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dahulu Nabi -‘alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- mengambil perjanjian dari para sahabat wanita ketika berbaiat agar mereka tidak mendurhakai beliau, di antaranya supaya wanita itu tidak mencakar-cakar, memukul wajahnya, menampar pipinya, tidak mengangkat suaranya dengan ratapan yang terlarang, tidak merobek-robek pakaiannya, dan tidak mengacak-ngacak rambutnya serta mencerai-beraikannya tatkala ditimpa musibah.

Rujukan

نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ الطبعة الرابعة عشر 1407هـ. كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430هـ. بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي، سنة النشر: 1418هـ- 1997م. سنن أبي داود، تأليف: سليمان بن الأشعث السِّجِسْتاني، تحقيق: محمد محيي الدين عبد الحميد، الناشر: المكتبة العصرية، صيدا. صحيح الترغيب والترهيب، تأليف: محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: مكتبة المعارف، الطبعة: الخامسة. رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي ، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل، الطبعة: الأولى، 1428هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tatkala Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya, maka berjatuhanlah semua ruh yang bakal Dia ciptakan dari anak keturunannya sampai hari kiamat.

عن أبي هريرة رضي الله عنه ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لما خلق اللهُ آدمَ مسح ظهره، فسقط من ظهره كل نَسَمة هو خالقها من ذُرِّيته إلى يوم القيامة، وجعل بين عيني كل إنسان منهم وَبِيصًا من نور، ثم عرضهم على آدم فقال: أي رب، مَن هؤلاء؟ قال: هؤلاء ذريتك، فرأى رجلا منهم فأعجبه وَبِيصُ ما بين عينيه، فقال: أي رب مَن هذا؟ فقال: هذا رجل من آخر الأمم من ذُرِّيتك يقال له: داود. فقال: رب كم جعلتَ عُمُرَه؟ قال: ستين سنة، قال: أي رب، زِده من عُمُري أربعين سنة. فلما قضي عمر آدم جاءه مَلَكُ الموت، فقال: أوَلَم يبقَ من عمري أربعون سنة؟ قال: أوَلَم تُعْطِها ابنَك داود قال: فجَحَدَ آدمُ فجحدت ذُرِّيتُه، ونسي آدمُ فنسيت ذُرِّيتُه، وخَطِئ آدم فخَطِئت ذُرِّيتُه».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Tatkala Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya, maka berjatuhanlah semua ruh yang bakal Dia ciptakan dari anak keturunannya sampai hari kiamat. Dan Dia letakkan di antara kedua mata setiap orang dari mereka seberkas cahaya, kemudian Dia tunjukkan kepada Adam. Adam pun bertanya, “Duhai Rabb-ku, siapakah mereka ini?” Allah berfirman, “Mereka ini adalah keturunanmu.” Lalu dia melihat salah seorang dari mereka yang cahaya di antara kedua matanya menakjubkannya, lantas ia berkata, “Duhai Rabb-ku, siapakah dia ini?” Kata Allah, “Dia salah seorang keturunanmu di kalangan umat belakangan, namanya Dawud.” Lalu ia berkata, “Duhai Rabb-ku, berapakah Engkau jadikan umurnya?” Kata Allah, “Enam puluh tahun.” Adam berkata, “Duhai Rabb-ku, tambahkanlah untuknya dari umurku sebanyak empat puluh tahun.” Ketika umur Adam telah habis, Malaikat Maut mendatanginya. Beliau pun berkata, “Bukankah usiaku ini masih tersisa empat puluh tahun lagi?” Malaikat berkata, “Bukankah telah engkau berikan untuk putramu Dawud?” Beliau (Rasulullah) besabda, "Adam melakukan pengingkaran, maka anak cucunya juga melakukan pengingkaran, Adam lupa, maka anak cucunya juga lupa, dan Adam bersalah, maka anak cucunya juga bersalah."
Diriwayatkan oleh TirmiżiDerajatHadis sahih
Penjelasan

Tatkala Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya, maka keluarlah dari punggungnya (Adam) setiap orang yang Dia-lah Penciptanya dari anak keturunannya sampai hari Kiamat. Proses usapan-Nya dan keluarnya setiap orang ini adalah secara hakiki, tidak boleh ditakwilkan dengan makna yang merubah makna teks lahirnya sebagaimana dalam mazhab Ahlus Sunah. Ketika Allah mengeluarkan mereka dari punggung Adam, Dia menjadikan di antara kedua mata setiap orang dari mereka kilatan dan kilauan dari cahaya, kemudian Dia menunjukkan mereka kepada Adam, lalu Adam berkata, "Wahai Rabb, siapakah mereka?" Allah -Ta’ālā- berfirman, "Mereka adalah keturunanmu." Lantas dia melihat seorang laki-laki di antara mereka yang kilatan cahaya di antara kedua matanya membuatnya takjub. Lalu ia berkata, "Wahai Rabb-ku, siapakah ini?", Allah -Ta’ālā- berfirman, "Dia Daud." Maka Adam berkata, "Rabb-ku, berapakah Engkau jadikan umurnya?", Kata Allah, "Enam puluh tahun." Adam berkata lagi, "Rabb-ku, tambahkan umurnya dari umurku sebanyak empat puluh tahun." Maka tatkala umur Adam telah habis dan tersisa hanya empat puluh tahun, Malaikat Maut pun mendatanginya untuk mencabut nyawanya. Adam pun berkata, "Sungguh masih tersisa dari umurku empat puluh tahun." Maka Malaikat berkata kepadanya, "Sungguh engkau telah memberikannya kepada putramu Daud." Sungguh Adam telah mengingkari hal itu karena dia (Daud) masih di alam ruh, sehingga ia tidak menyangka kedatangan Malaikat Maut, sehingga anak keturunannya pun mengingkari hal itu. Adam juga lupa, maka anak keturunannya juga lupa, dan Adam melanggar, maka anak keturunannya juga melanggar karena seorang anak pasti menyerupai bapaknya. Adapun Dawud ini, dulu umurnya yang tertulis empat puluh tahun kemudian Allah menjadikannya enam puluh tahun dan Allah Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan apa yang belum terjadi jika ia terjadi; bagaimana keadaannya sebelum terjadi dan setelah terjadi. Dia Maha Mengetahui apa yang Ia tuliskan/tetapkan untuknya dan apa yang Dia tambahkan untuknya setelah itu. Sedangkan para malaikat tidak memiliki ilmu kecuali apa yang telah Allah ajarkan kepada mereka dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya dan setelah terjadinya. Oleh karena itu, para ulama berkata, "Sesungguhnya penghapusan dan penetapan (takdir) terdapat di dalam suhuf (buku catatan) para malaikat, adapun ilmu Allah -Ta’ālā- maka tidak berbeda-beda, dan tidak ada yang tidak diketahui bagi Allah tentang sesuatu yang seolah-olah sebelumnya Dia tidak mengetahuinya, dan dalam ilmu Allah ini tidak ada penghapusan dan tidak ada pula penetapan (setelah dihapuskan).

Rujukan

سنن الترمذي، نشر: شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي – مصر، الطبعة: الثانية، 1395هـ - 1975م. صحيح الجامع الصغير وزياداته، للألباني، نشر: المكتب الإسلامي. المصباح المنير في غريب الشرح الكبير، لأحمد بن محمد بن علي الفيومي، الناشر: المكتبة العلمية – بيروت. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي بن سلطان الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت – لبنان، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م. مجموع الفتاوى، لتقي الدين أحمد بن عبد الحليم بن تيمية الحراني، المحقق: عبد الرحمن بن محمد بن قاسم، الناشر: مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف، المدينة النبوية، المملكة العربية السعودية، عام النشر: 1416هـ/1995م. صفات الله عز وجل الواردة في الكتاب والسنة- علوي بن عبد القادر السَّقَّاف- الناشر: الدرر السنية - دار الهجرة-الطبعة: الثالثة، 1426 هـ - 2006م. قصص الأنبياء-أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير -تحقيق: مصطفى عبد الواحد -الناشر: مطبعة دار التأليف - القاهرة-الطبعة: الأولى، 1388 هـ - 1968 م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Jika Allah hendak mencabut nyawa seorang hamba di suatu negeri, maka Dia menjadikannya punya keperluan ke negeri itu.

عن أبي عزة الهذلي رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله وسلم: «إذا أراد اللهُ قَبْضَ عبد بأرض جعلَ له بها حاجة».
Dari Abu 'Izzah Al-Hużali -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika Allah hendak mencabut nyawa seorang hamba di suatu negeri, maka Dia menjadikannya punya keperluan ke negeri itu."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud aṭ-Ṭayālisi - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan

Jika Allah -Ta'ālā- menghendaki seorang hamba-Nya meninggal di bumi (negeri) tertentu, padahal dia bukan penduduk negeri itu, maka Dia menjadikan orang itu mempunyai keperluan ke negeri tersebut. Jika dia pergi untuk melakukan keperluannya di negeri itu, Allah -Ta'ālā- pun mencabut nyawanya. Apa yang ditakdirkan dan dituliskan oleh Allah -'Azza wa Jalla- pasti akan terjadi seperti yang ditakdirkan-Nya. Ini termasuk iman kepada qadā` dan qadar.

Rujukan

سنن الترمذي، محمد بن عيسى الترمذي، تحقيق وتعليق: أحمد محمد شاكر، ومحمد فؤاد عبد الباقي، وإبراهيم عطوة عوض، شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي، مصر، الطبعة: الثانية، 1395هـ، 1975م. مسند الإمام أحمد بن حنبل، أحمد بن حنبل أبو عبدالله الشيباني، تحقيق: شعيب الأرنؤوط و عادل مرشد، وآخرون، تحت إشراف: عبد الله بن عبد المحسن التركي، مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى1421هـ. مسند أبي داود الطيالسي، أبو داود سليمان بن داود الطيالسي، تحقيق: محمد بن عبد المحسن التركي، الناشر: دار هجر، مصر، الطبعة: الأولى، 1419هـ، 1999م. سلسلة الأحاديث الصحيحة وشيء من فقهها وفوائدها، محمد ناصر الدين الألباني، مكتبة المعارف للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة الأولى لمكتبة المعارف، 1422هـ. الصحاح تاج اللغة وصحاح العربية، إسماعيل بن حماد الجوهري الفارابي، تحقيق: أحمد عبد الغفور عطار، دار العلم للملايين، بيروت، الطبعة: الرابعة 1407هـ، 1987م. فيض القدير شرح الجامع الصغير، زين الدين محمد عبد الرؤوف المناوي، المكتبة التجارية الكبرى، مصر، الطبعة: الأولى 1356هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 9
9 hadis
  1. Siapa yang Allah kehendaki (mendapat) kebaikan maka Dia akan memberinya musibah
  2. Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berlepas diri dari wanita yang berteriak histeris, mencukur rambut, dan yang merobek-robek pakaian (ketika terjadi musibah)
  3. Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, meskipun masing-masing memiliki sisi kebaikan
  4. Apabila kalian mendengar wabah penyakit di sebuah negeri, maka janganlah memasukinya! Namun bila suatu negeri terkena wabah penyakit dan kalian sedang berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari sana!
  5. Seandainya engkau menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, Allah tidak akan menerimanya darimu sampai engkau beriman kepada takdir dan menyakini bahwa apa saja yang (ditetapkan) menimpamu, maka tidak akan pernah terluput darimu, serta apa saja yang (ditetapkan) terluput darimu, maka tidak akan pernah menimpamu. Sekiranya engkau meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada takdir, niscaya engkau termasuk penghuni Neraka.
  6. Di antara perkara makruf yang diwajibkan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada kami (ketika mengambil baiat) adalah supaya tidak mendurhakai beliau di dalam hal makruf yaitu tidak mencakar-cakar wajah (ketika ditimpa musibah), tidak meronta-ronta dengan seruan kebinasaan, tidak merobek-robek baju, dan tidak mengacak-acak rambut.
  7. Tatkala Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya, maka berjatuhanlah semua ruh yang bakal Dia ciptakan dari anak keturunannya sampai hari kiamat.
  8. Jika Allah hendak mencabut nyawa seorang hamba di suatu negeri, maka Dia menjadikannya punya keperluan ke negeri itu.
  9. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, maka Allah memanfaatkannya sebelum kematiannya.

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com