Nabi ﷺ sedang duduk di tengah sahabat-sahabatnya, kemudian beliau bersabda: Itulah waktu saat ilmu diangkat dan dicabut dari manusia. Ziyād bin Labīd Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- merasa heran dan bertanya kepada Nabi ﷺ. Dia berkata: Bagaimana ilmu diangkat dan hilang dari kami?! Kami telah membacanya dan menghafalnya. Demi Allah, kami akan tetap membacanya dan mengajarkannya kepada istri dan anak-anak kami serta cucu-cucu kami. Nabi ﷺ bersabda keheranan: Celaka engkau, wahai Ziyād! Sungguh aku menganggapmu termasuk ulama penduduk Madinah! Kemudian beliau ﷺ menjelaskan bahwa terangkatnya ilmu bukan berupa hilangnya Al-Qur`an, tetapi terangkatnya ilmu dengan hilangnya pengamalannya. Lihatlah Taurat dan Injil di kalangan Yahudi dan Nasrani, kendatipun demikian tidak mendatangkan manfaat bagi mereka dan mereka tidak mendapatkan manfaat dari tujuan keduanya diturunkan, yaitu mengamalkan apa yang mereka ketahui.
- 1- Keberadaan mushaf dan kitab-kitab di tangan manusia tidak berguna tanpa pengamalan.
- 2- Pengangkatan ilmu terjadi dengan beberapa perkara, di antaranya: kematian Nabi ﷺ, kematian para ulama, dan ilmu yang tidak diamalkan.
- 3- Termasuk di antara tanda-tanda kiamat ialah terangkatnya ilmu dan tidak diamalkan.
- 4- Anjuran untuk mengamalkan ilmu, karena ia merupakan tujuan utama.
سنن ابن ماجه (5/ 172) (4048)، سنن الترمذي (4/ 328) (2653)، مسند أحمد (39/ 417) (23990)، الكاشف عن حقائق السُّنن (2/721)، المفهم (6/705)، مشارق الأنوار الوهاجة (2/146)، مرشد ذوي الحجا والحاجة إلى سنن ابن ماجه والقول المكتفى على سنن المصطفى (24/ 274).