Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Karamah Para Wali

4 hadis

Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- mengutus sepuluh orang pasukan mata-mata dan mengangkat 'Āṣim bin Ṡābit Al-Anṣārī -raḍiyallāhu 'anhu- sebagai pemimpin mereka.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: بَعَث رسول الله صلى الله عليه وسلم عشرة رهْط عيْنا سرية، وأمّر عليها عاصم بن ثابت الأنصاري رضي الله عنه فانطلقوا حتى إذا كانوا بالهَدْأة؛ بين عُسْفان ومكة؛ ذكروا لِحَيٍ من هُذَيْل يقال لهم: بنو لحيَان، فنَفَروا لهم بقريب من مائة رجل رام، فاقتصُّوا آثارهم، فلما أحسَّ بهم عاصم وأصحابه، لَجَأوا إلى موضع، فأحاط بهم القوم، فقالوا: انزلوا فأَعْطُوا بأيديكم ولكم العهد والميثاق أن لا نقتل منكم أحدا. فقال عاصم بن ثابت: أيها القوم، أما أنا، فلا أَنْزل على ذِمَّة كافر: اللهم أخبِرْ عَنَّا نبيك صلى الله عليه وسلم فرموهم بالنّبْل فقتلوا عاصما، ونزل إليهم ثلاثة نفر على العهد والميثاق، منهم خُبَيب، وزيد بن الدِّثِنَة ورجل آخر. فلما اسْتَمْكَنوا منهم أطلقوا أوتار قِسِيِّهم، فربطوهم بها. قال الرجل الثالث: هذا أول الغَدْر والله لا أصحبكم إن لي بهؤلاء أُسْوة، يريد القتلى، فجرُّوه وعالَجوه، فأبى أن يصحبهم، فقتلوه، وانطلقوا بخُبيب، وزيد بن الدِّثِنِة، حتى باعوهما بمكة بعد وقعة بدر؛ فابتاع بنو الحارث بن عامر بن نوفل بن عبد مُناف خُبيبا، وكان خُبيب هو قَتَل الحارث يوم بدر. فلبث خُبيب عندهم أسيرا حتى أجْمعوا على قتله، فاستعار من بعض بنات الحارث موسى يستَحِدُّ بها فأعارته، فدَرَج بُنَيٌّ لها وهي غافلة حتى أتاه، فوجدَتْه مُجْلِسه على فخذه والمُوسى بيده، ففزعت فزعة عرفها خُبيب. فقال: أتخشين أن أقتله ما كنت لأفعل ذلك! قالت: والله ما رأيت أسيرا خيرا من خُبيب، فوالله لقد وجدته يوما يأكل قِطْفا من عنب في يده وإنه لموثَق بالحديد وما بمكة من ثمرة، وكانت تقول: إنه لَرِزْق رَزَقه الله خبيبا. فلما خرجوا به من الحرم ليقتلوه في الحِلِّ، قال لهم خُبيب: دعوني أصلِّي ركعتين، فتركوه، فركع ركعتين فقال: والله لولا أن تحسبوا أن ما بي جَزَع لزدتُ: اللهم أحْصِهم عددا، واقتلهم بِدَدَا، ولا تُبْقِ منهم أحدا. وقال: فلسْتُ أُبالي حين أُقتَل مسلما... على أي جنْب كان لله مصرعي وذلك في ذات الإله وإن يشأْ... يباركْ على أوصال شِلْوٍ مُمَزَّع. وكان خُبيب هو سَنَّ لكل مسلم قُتِل صْبرا الصلاة. وأخبر - يعني: النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه يوم أصيبوا خبرهم، وبعث ناس من قُريش إلى عاصم بن ثابت حين حُدِّثُوا أنه قُتل أن يُؤتوا بشيء منه يُعرف، وكان قتل رجلا من عظمائهم، فبعث الله لعاصم مثل الظُلَّة من الدَّبْرِ فحَمَتْه من رُسُلهم، فلم يقدروا أن يقطعوا منه شيئا.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, “Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- mengutus sepuluh orang pasukan mata-mata dan mengangkat 'Āṣim bin Ṡābit al-Anṣārī -raḍiyallāhu 'anhu- sebagai pemimpin mereka. Mereka pun berangkat hingga ketika sampai di Had`ah, sebuah daerah antara 'Usfān dan Makkah, ada yang membocorkan keberadaan mereka kepada komunitas kabilah Hużail bernama Bani Liḥyān. Mereka pun segera mengerahkan sekitar 100 orang pasukan pemanah, lalu mereka menelusuri jejak para sahabat. Ketika 'Āṣim dan para sahabatnya mengetahui makar mereka, para sahabat pun segera berlindung di sebuah tempat, namun kaum Hużail tersebut segera mengepung mereka dan berkata pada mereka, “Turun dan menyerahlah kalian, kami jamin dan berjanji pada kalian bahwa kami tidak akan membunuh seorang pun dari kalian.” Namun 'Āṣim bin Ṡābit berkata, “Wahai kaumku, adapun saya, maka tidak mengkitui jaminan orang kafir. Ya Allah, beritahukanlah berita keberadaan kami kepada Nabi-Mu.” Lalu mereka pun menghujani para sahabat dengan anak panah hingga membunuh 'Āṣim. Maka saat itu tiga sahabat (yang masih hidup) langsung menyerah dan masuk dalam jaminan mereka, di antaranya Khubaib, Ibnu Ad-Diṡinah dan satu orang lainnya. Ketika mereka berhasil menangkap ketiganya, mereka segera melepas tali busur panah mereka dan mengikat ketiga sahabat tadi dengan tali tersebut. Maka berkatalah lelaki yang ketiga, “Ini adalah awal pengkhianatan kalian, demi Allah, aku tidak akan mau mengikuti kalian, sungguh sikap mereka (7 sahabat yang syahid) cukup sebagai teladan bagiku (maksudnya ia lebih memilih mati).” Mereka pun segera menyeretnya dan memaksanya untuk ikut, tetapi dia terus beruntak, maka mereka pun membunuhnya. Lalu mereka pergi membawa Khubaib dan Ibnu Ad-Diṡinah kemudian menjualnya di kota Makkah setelah perang Badar. Khubaib dibeli oleh anak keturunan Al-Ḥāriṡ bin 'Āmir bin Naufal bin Abdu Manāf karena Khubaib sendiri adalah orang yang telah membunuh Al-Ḥāriṡ bin 'Āmir pada waktu perang Badar. Khubaib menjadi tawanan beberapa waktu hingga mereka sepakat untuk membunuhnya. Lalu suatu ketika Khubaib meminjam sebuah pisau cukur untuk mencukur bulu kemaluannya dari sebagian putri Al-Ḥāriṡ, kemudian perempuan itu meminjaminya. Tiba-tiba salah seorang anaknya yang masih kecil mendatangi Khubaib tanpa disadarinya, ia lalu mendapati anaknya tersebut duduk di pangkuan Khubaib yang sedang memegang pisau cukur. Maka ia pun tersentak kaget dan ketakutan, yang segera disadari oleh Khubaib. Khubaib lalu bertanya, “Apakah kamu takut aku akan membunuhnya?. Sungguh aku tidak akan melakukan hal itu.” Wanita itu mengisahkan, “Demi Allah, aku belum pernah melihat tawanan sebaik Khubaib. Demi Allah, aku pernah memergokinya suatu hari sedang makan setangkai anggur dengan tangannya, padahal dia sedang diborgol besi dan ketika itu tidak ada buah-buahan di Makkah.” Wanita ini menyatakan, "Buah-buahan itu tidak lain adalah rezeki dari Allah untuk Khubaib." Ketika mereka membawanya keluar dari lingkaran Tanah Haram untuk mengeksekusi pembunuhannya di luar Tanah Haram, Khubaib berkata kepada mereka, “Biarkan aku salat dua rakaat.” Mereka pun membiarkannya salat dua rakaat, kemudian ia berkata, “Kalau bukan khawatir kalian mengira bahwa aku merasa takut mati, niscaya aku akan memanjangkannya (salat)." Lalu ia berdoa, “Ya Allah, binasakanlah mereka semua, bunuhlah mereka semua terpisah-pisah dan jangan tinggalkan satupun dari mereka.” Kemudian Khubaib mengubah dua bait syair; "Aku tak peduli saat aku terbunuh sebagai seorang Muslim, Dalam kondisi apapun kematianku di jalan Allah. Itu semua demi Żat Allah jika Dia menghendaki, Maka Dia memberkahi setiap anggota tubuh yang tercabik-cabik." Khubaib adalah orang pertama yang mengajarkan salat dua rakaat untuk setiap Muslim yang akan dibunuh (dieksekusi). Pada hari terjadinya peristiwa tersebut, Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- mengabarkan kepada para sahabat tentang berita yang menimpa mereka. Beberapa orang kafir Quraisy mengirim pasukan untuk mencari jenazah 'Āṣim bin Ṡābit ketika mendengar bahwa beliau telah terbunuh agar mereka bisa mendatangkan suatu bukti yang bisa dikenali dari 'Āṣim (bahwa dialah yang benar-benar terbunuh), karena beliau telah membunuh salah seorang pembesar mereka pada waktu perang Badar. Lalu Allah mengirim sekelompok lebah seperti awan agar dapat melindungi jenazah 'Āṣim dari para utusan Quraisy tersebut, sehingga mereka sama sekali tidak mampu memotong bagian tubuh beliau.
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dalam kisah 'Āṣim bin Ṡābit Al-Anṣārī dan para sahabatnya -raḍiyallāhu 'anhum- ini terdapat karamah yang luar biasa dan nyata yang dimiliki sebagian sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam-. Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- mengutus mereka yang berjumlah sepuluh orang untuk memata-matai musuh agar bisa membawa berita dan rahasia mereka. Ketika mereka sampai di suatu perkampungan dekat Makkah, sekelompok orang dari kalangan Bani Hużail mengetahui mereka. Maka Bani Hużail segera menghimpun seratus ahli panah untuk mencari dan mengejar mereka hingga akhirnya bisa mengepung mereka. Orang orang Hużail ini kemudian meminta mereka segera menyerahkan diri dengan jaminan keamanan dan janji tidak akan membunuh mereka. Namun 'Āṣim berkata, “Demi Allah, saya tidak akan mengikuti jaminan orang kafir, karena orang kafir telah berkhianat kepada Allah -'Azzā wa Jallā-, dan orang yang berani mengkhianati Allah pasti mengkhianati hamba-hamba Allah.” Maka mereka pun menghujani para sahabat dengan anak panah hingga membunuh 'Āṣim bersama enam sahabat lainnya. Dan tersisa tiga sahabat yang terpaksa menerima tawaran menyerah dari Bani Hużail. Orang-orang Hużail menangkap ketiganya dan mengikat mereka. Maka berkatalah lelaki yang ketiga, “Ini adalah awal pengkhianatan kalian, demi Allah, aku tidak akan mau mengikuti kalian!”. Mereka pun membunuhnya. Lalu mereka membawa Khubaib dan sahabatnya kemudian menjualnya di kota Makkah. Khubaib -raḍiyallāhu 'anhu- dibeli oleh beberapa orang penduduk Makkah yang pemuka mereka dibunuh oleh Khubaib di Badar dan mereka menganggap saat itulah kesempatan untuk melakukan balas dendam terhadapnya. Merekapun menawannya. Suatu hari seorang anak bayi di rumah mereka mendekat ke Khubaib -raḍiyallāhu 'anhu-, seakan-akan anak tersebut mengasihani Khubaib. Lantas Khubaib mengambil anak itu dan mendudukkannya di pangkuannya, dan tepat saat itu Khubaib sedang memegang pisau cukur yang ia pinjam dari penghuni rumah tersebut, sedangkan ibu sang anak tersebut tidak sadar dengan kejadian tersebut. Tatkala ibunya melihat kejadian itu, ia tersentak kaget dan sangat khawatir bila Khubaib membunuh anaknya. Ketakutan wanita itu segera diketahui oleh Khubaib. Maka Khubaib berkata, “Demi Allah, aku tidak akan membunuhnya." Dahulu wanita ini sering menceritakan, “Demi Allah, aku belum pernah melihat tawanan sebaik Khubaib. Demi Allah, aku pernah memergokinya suatu hari sedang makan setangkai anggur dengan tangannya, padahal ketika itu di Makkah tidak ada buah-buahan. Saya mengerti itu merupakan karamah Khubaib -raḍiyallāhu 'anhu-; di mana Allah -'Azzā wa Jallā- memuliakannya dengan menurunkan setangkai buah anggur yang dia makan saat diborgol.” Kemudian mereka -anak cucu dari orang tua yang telah dibunuh Khubaib tersebut- sepakat untuk membunuhnya, namun karena mereka sangat memuliakan Tanah Haram maka mereka pun saling berkata, "Mari kita membunuhnya di luar Tanah Haram," Ketika mereka membawanya ke luar Tanah Haram untuk dieksekusi, Khubaib pun meminta izin kepada mereka untuk salat. Ketika selesai salat, ia berkata, "Seandainya aku tidak khawatir kalian akan menuduhku sebagai orang yang takut mati, maka aku pasti menambah salat." Khubaib -raḍiyallāhu 'anhu- hanya salat dua rakaat, kemudian mendoakan kebinasaan atas mereka dengan tiga permintaan, “Ya Allah, binasakanlah mereka semua, bunuhlah mereka semua terpisah-pisah dan jangan tinggalkan satupun dari mereka.” Doa yang ia panjatkan ini kemudian dikabulkan oleh Allah, sehingga tidaklah tahun itu berlalu melainkan seluruh orang yang bersekongkol membunuhnya juga terbunuh, tentunya ini merupakan salah satu karamahnya. Kemudian Khubaib menggubah dua bait syair: "Aku tak peduli saat aku terbunuh dalam sebagai seorang Muslim Dalam kondisi apapun kematianku di jalan Allah. Itu semua demi Żat Allah jika Dia menghendaki, Maka Dia memberkahi setiap anggota tubuh yang tercabik-cabik." Adapun 'Āṣim bin Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhu- yang terbunuh sedari awal, maka berita kematiannya sampai ke telinga kaum Quraisy, di mana ia telah membunuh salah seorang pemuka mereka. Ketika mendengar kabar ini, mereka mengirim beberapa orang untuk mengambil anggota tubuh 'Āṣim bin Ṡābit sebagai bukti penguat bagi mereka bahwa ia benar-benar telah terbunuh. Ketika mereka hendak mengambil anggota tubuh 'Āṣim, maka Allah mengirim sekelompok lebah seperti gumpalan awan yang dengannya Allah melindungi jenazahnya dari para utusan Quraisy tersebut, sehingga mereka sama sekali tidak mampu mendekatinya dan terpaksa pulang dengan tangan hampa. Hal ini merupakan salah satu karamah yang Allah anugrahkan pada 'Āṣim -raḍiyallāhu 'anhu-, yaitu Allah melindungi jenazahnya setelah meninggal dari musuh-musuh yang ingin memutilasinya.

Rujukan

-صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ. -كنوز رياض الصالحين, مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا, السعودية, الطبعة الأولى, 1430 هـ. -نزهة المتقين شرح رياض الصالحين, مصطفى سعيد الخن، مصطفى البغا، محي الدين مستو، علي الشربجي، محمد أمين لطفي, مؤسسة الرسالة, سنة النشر: 1407 – 1987, رقم الطبعة: 14. -شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426 هـ. -بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي ، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م. -رياض الصالحين، للنووي، تحقيق : ماهر الفحل. دار ابن كثير - بيروت. الطبعة الأولى 1428ه - 2007م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tidak ada orang yang dapat berbicara saat masih dalam buaian kecuali tiga orang

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «لم يتكلَّم في المهد إلا ثلاثة: عيسى ابن مريم، وصاحب جرَيج، وكان جُريج رجلًا عابِدا، فاتخذ صَوْمَعَة فكان فيها، فأتته أمه وهو يصلي، فقالت: يا جريج، فقال: يا رَبِّ أُمِّي وصلاتي فأقبل على صلاته فانْصَرفت. فلمَّا كان من الغَدِ أتَتْهُ وهو يصلي، فقالت: يا جُريج، فقال: أي رَبِّ أمِّي وصلاتي، فأقبل على صلاته، فلمَّا كان من الغَدِ أتَتْهُ وهو يصلي، فقالت: يا جُريج، فقال: أي رَبِّ أمِّي وصلاتي، فأقبل على صلاته، فقالت: اللَّهُمَّ لاَ تُمِتْهُ حتى يَنظر إلى وجوه المُومِسَاتِ. فتذاكر بَنُو إسرائيل جُريجا وعبادته، وكانت امرأة بَغِيٌّ يُتَمَثَّلُ بحُسنها، فقالت: إن شِئتم لأَفْتِنَنَّهُ، فتَعرَّضت له، فلم يَلتَفت إليها، فأتت راعِيا كان يَأوِي إلى صَوْمَعَتِهِ، فَأَمْكَنَتْه من نَفسِها فوقع عليها، فحملت، فلمَّا ولدت، قالت: هو من جُريج، فَأتَوْهُ فَاسْتَنْزَلُوهُ وهدَمُوا صَومَعتَه، وجَعَلوا يَضربونه، فقال: ما شَأنُكم؟ قالوا: زَنَيْتَ بهذه البَغِيِّ فولَدَت منك. قال: أين الصَّبي؟ فجاؤَوا به فقال: دَعوني حتى أُصلَّي، فصلَّى فلمَّا انْصرف أتى الصَّبي فَطَعن في بَطنه، وقال: يا غُلام مَنْ أبوك؟ قال: فلانٌ الراعي، فأقبلوا على جُريج يقبلونه ويَتمسَّحون به، وقالوا: نَبْنِي لك صَوْمَعَتَكَ من ذهب. قال: لا، أعِيدُوها من طين كما كانت، ففعلوا. وبينا صبي يَرضع من أُمِّهِ فمرَّ رجل راكب على دابة فَارِهة وَشَارَةٍ حسَنَة، فقالت أمه: اللهم اجعل ابْني مثل هذا، فَترك الثَّدْي وأقْبَلَ إليه فنَظَر إليه، فقال: اللَّهم لا تجعلني مثْلَه، ثم أقْبَلَ على ثَدْيه فجعل يَرتضع»، فكأني أنظر إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يَحكي ارتْضَاعه بِأصْبَعِهِ السَّبَّابَة في فِيه، فجعل يَمُصُّهَا، قال: «ومَرُّوا بجارية وهم يَضْرِبُونها، ويقولون: زَنَيْتِ سَرقت، وهي تقول: حَسبي الله ونعم الوكيل. فقالت أمه: اللَّهم لا تجعل ابني مِثلها، فترك الرَّضاع ونظر إليها، فقال: اللَّهم اجعلني مِثْلَها، فَهُنَالك تَرَاجَعَا الحديث، فقالت: مرَّ رجلٌ حَسَنُ الهَيْئَةِ ، فقلت: اللَّهم اجعل ابْنِي مِثْلَه، فقلت: اللَّهم لا تَجْعَلْنِي مِثْله، ومَرُّوا بهذه الأَمَة وهم يَضربونها ويقولون: زَنَيْتِ سَرقت، فقلت: اللَّهم لا تجعل ابني مِثلها، فقلت: اللَّهم اجعلني مِثلها؟! قال: إن ذلك الرَّجُل كان جبَّارا، فقلت: اللَّهم لا تجعلني مِثْله، وإن هذه يقولون: زَنَيْتِ، ولم تَزْنِ وسَرقْتِ، ولم تَسْرِقْ، فقلت: اللَّهم اجْعَلْنِي مِثْلَهَا».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dia berkata, "Tidak ada orang yang dapat berbicara saat masih dalam buaian kecuali tiga orang; (Pertama) Isa bin Maryam. (Kedua) Seseorang pada kisah Juraij. Juraij asalnya adalah orang yang taat beribadah. Lalu dia membuat tempat ibadah. Ibunya mendatanginya ketika dia sedang salat dan memanggilnya, "Wahai Juraij." Dia (Juraij) berkata (dalam hati), "Ya Tuhanku! Apakah aku penuhi panggilan ibuku atau aku teruskan salatku. Akhirnya dia teruskan salatnya. Lalu sang ibu pulang. Keesokan harinya sang ibu datang lagi saat Juraij sedang salat. Dia berkata, "Wahai Juraij." Juraij berkata (dalam hati), "Ya Tuhanku! Apakah aku penuhi panggilan ibuku atau aku teruskan salatku. Lalu dia memilih meneruskan salatnya. Keesokan harinya sang ibu datang lagi saat Juraij sedang salat. Dia berkata, "Wahai Juraij." Juraij berkata (dalam hati), "Ya Tuhanku! Apakah aku penuhi panggilan ibuku atau aku teruskan salatku. Lalu dia memilih meneruskan salatnya. Maka berkatalah sang ibu, "Ya Allah! Jangan matikan dia sebelum melihat wajah pelacur." Maka Bani Israel menyebut-nyebut Juraij dan ibadahnya. Kemudian ada seorang wanita pelacur yang terkenal cantik, dia berkata, "Kalau kalian mau, saya akan menggodanya." Lalu dia menggodanya, namun Juraij tak mempedulikannya. Maka wanita pelacur itu mendatangi seorang penggembala yang sedang berteduh di bawah rumah ibadah itu. Lalu dia menggodanya untuk berbuat zina. Maka terjadilah perzinaan di antara mereka. Kemudian wanita itu hamil. Ketika telah melahirkan, dia berkata, 'Ini anak dari Juraij.' Masyarakat pun mendatanginya dan memaksanya turun lalu rumah ibadahnya dirobohkan. Merekapun memukulinya. Dia berkata, 'Ada apa kalian ini?' Mereka berkata, 'Engkau telah berzina dengan wanita pelacur ini sehingga dia melahirkan anak darimu.' Juraij berkata, 'Mana anaknya?' Mereka membawakan bayi tersebut. Dia berkata, "Biarkan aku salat!" Lalu dia salat. Setelah selesai salat dia datangi anak bayi tersebut dan dia tekan perutnya seraya berkata, "Wahai anak kecil, siapa bapakmu?" Anak itu menjawab, "Si penggembala" Maka orang-orang mengerumuni Juraij, mencium dan mengusap-usapnya. Mereka berkata, "Kami akan bangunkan rumah ibadahmu dari emas." Dia berkata, "Tidak, bangunlah kembali dari tanah liat seperti semula!" Lalu mereka kerjakan. (Ketiga) ketika seorang bayi sedang menyusu pada ibunya, lewatlah seseorang yang menunggang kendaraannya yang tampak mewah dan berpenampilan bagus. Sang ibu berkata, "Ya Allah! Jadikanlah anakku seperti orang itu." Lalu sang bayi melepas sedotan dari payudara ibunya dan memandang orang itu seraya berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti orang itu!" Kemudian dia kembali menyusu kepada ibunya lagi. Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mempraktekkan anak yang sedang menyusu tersebut dengan mememasukkan jari telunjuknya ke mulutnya dan beliau hisap. Kemudian beliau melanjutkan perkataannya, "Lalu lewat lagi seorang budak wanita yang sedang dipukul orang-orang seraya berkata, "Engkau telah berzina dan mencuri, sedangkan wanita tersebut hanya berkata, "Ḥasbiyallāhu wa ni'mal wakīl." Maka sang ibu berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan anakku seperti dia." Lalu anak itu melepas susuannya dan memandang ibunya, kemudian dia berkata, "Ya Allah! Jadikanlah aku seperti dia." Maka ibu dan anak itu saling berbicara. Sang ibu berkata, "Ketika ada orang yang berpenampilan bagus, aku berdoa, Ya Allah! Jadikan puteraku seperti dia", engkau katakan, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia." Lalu ketika ada seorang budak wanita yang sedang dipukuli seraya mereka berkata, "Engkau telah berzina dan mencuri" Lalu aku berdoa, "Ya Allah! Jangan jadikan puteraku seperti dia". Lalu engkau berkata, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia?!" Anak itu berkata, "Laki-laki itu adalah orang yang angkuh, maka aku berdoa, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia." Sedangkan terhadap orang yang kalian katakan, "Engkau telah berzina dan mencuri, dia tidak berzina dan tak mencuri. Maka aku berdoa, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Tidak ada yang berbicara ketika masih dalam buaian kecuali tiga orang." Maksudnya hari-hari pertama ketika dia masih bayi. Mereka adalah: Pertama: Isa bin Maryam -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Isa bin Maryam adalah salah satu di antara tanda kebesaran Allah, dia dapat berbicara saat berada dalam ayunan. Kedua: Seorang anak pada masa Juraij. Juraij adalah seorang ahli ibadah. Allah bebaskan Juraij dari tuduhan yang hendak dialamatkan kepadanya dengan memperlihatkan karomah padanya yaitu dengan berbicaranya anak bayi yang menjelaskan bahwa dia tidak salah. Dia membuat tempat ibadah. Suatu hari, ibunya datang ketika dia sedang salat, "Wahai Juraij." Dia (Juraij) berkata (dalam hati), "Ya Tuhanku, apakah aku penuhi panggilan ibuku atau aku teruskan salatku. Dia bimbang, apakah memutuskan salat untuk menjawab ibunya atau meneruskan salatnya. Akhirnya dia teruskan salatnya. Lalu sang ibu pulang. Keesokan harinya sang ibu datang lagi saat Juraij sedang salat. Maka kejadian seperti kemaren terulang kembali. Keesokan harinya, sang ibu datang lagi saat Juraij sedang salat, dan kejadian kemaren terulang kembali. Maka sang ibu berdoa, "Ya Allah! Jangan matikan dia sebelum melihat wajah pelacur." Maka Bani Israel menyebut-nyebut Juraij dan ibadahnya. Kemudian ada seorang wanita pelacur yang terkenal cantik, dia berkata, "Kalau kalian mau, saya akan menggodanya, sehingga dia meninggalkan salatnya dan terjerumus ke dalam perzinaan." Lalu dia menggodanya, namun Juraij tak mempedulikannya. Maka wanita pelacur itu mendatangi seorang penggembala dan berzina dengannya. Kemudian wanita itu hamil. Ketika telah melahirkan, dia berkata, 'Ini anak dari Juraij.' Masyarakat pun mendatanginya dan memaksanya turun lalu rumah ibadahnya dirobohkan. Merekapun memukulinya. Dia berkata, 'Ada apa kalian ini?' Mereka berkata, 'Engkau telah berzina dengan wanita pelacur ini sehingga dia melahirkan anak darimu.' Juraij berkata, 'Mana anaknya?' Merekapun membawakan bayi tersebut. Dia berkata, "Biarkan aku salat!" Lalu dia salat. Setelah selesai salat dia datangi anak bayi tersebut dan dia tekan perutnya seraya berkata, "Wahai anak kecil, siapa bapakmu?" Anak itu menjawab, "Si penggembala" Maka orang-orang mengerumuni Juraij, mencium dan mengusap-usapnya. Mereka berkata, "Kami akan bangunkan rumah ibadahmu dari emas." Dia berkata, "Tidak, bangunlah kembali dari tanah liat seperti semula!" Lalu mereka kerjakan. Ketiga: Bayi yang sedang menyusu kepada ibunya. Lalu lewat seorang laki-laki menunggang kudanya yang mewah dengan penampilan yang bagus. Dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat menyebutkan kisah anak yang menyusu itu dengan praktek memasukkan jari telunjuknya ke mulutnya dan menghisapnya untuk memperjelas masalah. Lalu sang ibu berkata, "Ya Allah! Jadikanlah anakku seperti orang itu." Maka sang anak berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia!" Kemudian mereka mendapati seorang budak wanita yang sedang dipukuli sambil mereka berkata, "Engkau telah berzina dan mencuri." Sementara wanita itu berkata, "Ḥasbunallāhu wa ni'mal wakīl." Maka ibu anak kecil itu berkata sambil menyusui, "Ya Allah! Jangan jadikan anakku seperti dia." Lalu sang anak melepaskan susuannya dan melihat ke orang itu dan berkata, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia?" Lalu ibu dan anak itu terlibat pembicaraan. Sang ibu berkata, "Aku melewati seseorang yang berpenampilan baik, lalu aku berkata, "Ya Allah! Jadikan anakku seperti dia." Kemudian engkau berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia." Sang anak berkata, "Ya. Karena orang itu adalah orang yang keras dan pembangkang, makanya aku mohon kepada Allah agar Dia tidak menjadikan aku sepertinya." Adapun wanita yang kalian katakan, "Engkau berzina dan mencuri" sementara wanita itu berkata, "Ḥasbiyallāhu wa ni'mal wakīl". Maka aku katakan, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia". Maksudnya adalah jadikanlah aku suci dari perbuatan zina dan mencuri sambil menyerahkan urusanku kepada Allah seperti ucapannya, "Ḥasbiyallāhu wa ni'mal wakīl." (Dalil Al-Falihin, 3/81,87, Syarah Riyadhus-Shalihin, Ibnu Utsaimin, 3/70,78.

Rujukan

كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ. بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي ، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م. نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ، الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ. شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426 هـ. رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل ، الطبعة: الأولى، 1428 هـ. دليل الفالحين، تأليف: محمد بن علان، الناشر: دار الكتاب العربي، نسخة الإلكترونية ، لا يوجد بها بيانات نشر. صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. دروس وعبر من صحيح القصص النبوي، تأليف: شحاتة محمد صقر، الناشر: مكتبة دار العلوم، البحيرة، مصر.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Akan muncul di akhir zaman sekelompok orang yang berusia muda dan memiliki pikiran dangkal. Mereka mengucapkan sebaik-baik ucapan manusia, tetapi mereka melesat keluar dari Islam seperti anak panah yang melesat dari busur

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِذَا حَدَّثْتُكُمْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَأَنْ أَخِرَّ مِنَ السَّمَاءِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَكْذِبَ عَلَيْهِ، وَإِذَا حَدَّثْتُكُمْ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ فَإِنَّ الحَرْبَ خَدْعَةٌ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ البَرِيَّةِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ».
Ali -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Apabila aku menyampaikan hadis dari Rasulullah ﷺ kepada kalian, sungguh jatuh dari langit lebih aku sukai daripada berdusta atas nama beliau. Tetapi, apabila aku berbicara kepada kalian terkait urusan antara aku dan kalian, maka sungguh perang itu adalah tipu daya. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Akan muncul di akhir zaman sekelompok orang yang berusia muda dan memiliki pikiran dangkal. Mereka mengucapkan sebaik-baik ucapan manusia, tetapi mereka melesat keluar dari Islam seperti anak panah yang melesat dari busur. Iman mereka tidak melebihi tenggorokan. Di mana pun kalian bertemu mereka, bunuhlah mereka. Membunuh mereka adalah pahala bagi orang yang membunuh mereka nanti di hari Kiamat."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Amirul Mukminin Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, apabila kalian mendengarku menyampaikan hadis dari Nabi ﷺ, maka aku tidak akan menggunakan kiasan maupun kata-kata sindiran. Tetapi aku akan berkata lugas dan terang. Sungguh, aku jatuh dari langit lebih mudah dan lebih ringan bagiku daripada menyampaikan hadis dari Rasulullah ﷺ dengan cara berdusta atas nama beliau. Namun apabila aku berbicara tentang urusan antara aku dan manusia, maka sungguh perang itu tipu daya sehingga aku mungkin menggunakan kiasan dan kata-kata sindiran. Aku telah mendengar Nabi ﷺ bersabda: Akan muncul di akhir zaman pemuda-pemuda yang berusia muda dan lemah akal. Mereka berbicara dengan Al-Qur`an serta banyak membacanya, tetapi mereka keluar dari Islam dan melampaui batasan-batasannya seperti anak panah yang keluar dari busur. Iman mereka tidak melebihi tenggorokan. Di mana pun kalian bertemu mereka, bunuhlah mereka. Membunuh mereka menjadi sebab adanya pahala bagi orang yang membunuh mereka nanti di hari Kiamat.

Faedah
  1. 1- Menerangkan sebagian sifat-sifat orang-orang khawarij.
  2. 2- Di dalam hadis ini terdapat salah satu bukti kenabian, yaitu Nabi ﷺ mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di tengah umat sepeninggal beliau, lalu hal itu terjadi seperti yang beliau kabarkan.
  3. 3- Boleh menggunakan kata-kata tauriyah (ambigu) dan sindiran dalam perang. Tipu daya dalam perang adalah dengan menggunakan kata tauriyah serta tipu muslihat tanpa membatalkan perjanjian dan jaminan dikarenakan adanya larangan terhadap hal tersebut.
  4. 4- An-Nawawiy berkata menjelaskan kalimat: "Mereka mengucapkan sebaik-baik ucapan manusia", "Maknanya: yaitu secara lahir. Seperti perkataan mereka: tidak ada hukum selain milik Allah, dan ucapan-ucapan semisalnya yang merupakan ajakan kepada Kitab Allah Ta'ala."
  5. 5- Ibnu Ḥajar berkata menjelaskan sabda beliau "Iman mereka tidak melampaui tenggorokan", "Maksudnya iman tersebut tidak mengakar ke dalam hati, karena sesuatu yang terhenti di tenggorokan dan tidak melewatinya tidak sampai ke dalam hati."
  6. 6- Al-Qāḍī berkata, "Para ulama telah berijmak bahwa orang-orang khawarij dan para ahli bidah semisalnya, apabila mereka memberontak pada pemerintah, menyelisihi pandangan jemaah umat Islam, serta tidak taat, mereka wajib diperangi setelah mereka diingatkan dan ditegakkan hujah."
Rujukan

صحيح البخاري (4/ 200) (3611). صحيح مسلم (2/ 746) (1066). النهاية في غريب الحديث والأثر (259)(866). البحر المحيط الثجاج في شرح صحيح الإمام مسلم بن الحجاج (20/ 264) (20/ 258). إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري (6/ 58).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ» قَالَ عِمْرَانُ: لاَ أَدْرِي أَذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدُ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلاَثَةً، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ».
'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya. 'Imrān berkata: Aku tidak tahu apakah Nabi ﷺ mengucapkannya dua atau tiga kali. Nabi ﷺ bersabda, "Akan datang sepeninggal kalian orang-orang yang berkhianat dan tidak dapat dipercaya, memberi kesaksian padahal tidak diminta menjadi saksi, bernazar tapi tidak menunaikannya, dan tampak pada mereka kegemukan."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan, sebaik-baik generasi manusia yang hidup dalam satu masa adalah generasi yang di dalamnya terdapat Rasulullah ﷺ dan sahabat-sahabatnya. Kemudian generasi berikutnya, yaitu orang-orang mukmin yang bertemu para sahabat tetapi tidak bertemu Rasulullah ﷺ. Kemudian generasi setelahnya, yaitu generasi setelah tabiin. 'Imrān ragu pada penyebutan generasi berikutnya pada generasi keempat. Kemudian beliau ﷺ bersabda: Generasi setelah mereka adalah orang-orang yang khianat dan tidak dapat dipercaya, memberi kesaksian sebelum diminta kesaksiannya, bernazar tapi tidak menunaikannya, dan berlebihan dalam makanan dan minuman hingga tampak kegemukan pada mereka.

Faedah
  1. 1- Sebaik-baik masa dan generasi sepanjang umur dunia ada masa hidup Nabi ﷺ dan sahabat-sahabatnya. Diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhāriy, Nabi ﷺ bersabda, "Aku diutus dari sebaik-baik generasi manusia setelah lewatnya generasi yang terus berganti, hingga aku muncul dari generasi tempatku berada."
  2. 2- Ibnu Ḥajar berkata, "Hadis ini menunjukkan generasi sahabat lebih utama dari tabiin, dan tabiin lebih utama dari tābi' tabiin. Akan tetapi, apakah keutamaan ini dilihat pada tingkat kolektif atau individu? Hal ini masih menjadi objek pembahasan. Namun mayoritas ulama condong ke pendapat yang kedua."
  3. 3- Isyarat untuk selalu mengikuti jalan tiga generasi pertama, karena orang yang masanya dekat dengan masa kenabian lebih pantas menyandang kemuliaan, keilmuan, keteladanan dan mengikuti petunjuk Nabi ﷺ.ٍ
  4. 4- Nazar adalah pembebanan seorang mukalaf terhadap dirinya pada suatu ketaatan yang tidak diwajibkan oleh syariat dengan menggunakan semua perkataan yang menunjukkannya.
  5. 5- Celaan terhadap khianat, tidak menunaikan nazar, dan bergantung pada dunia.
  6. 6- Celaan terhadap kesaksian tanpa ada permintaan jika pemilik hak mengetahui hal itu. Adapun jika dia tidak mengetahuinya, maka ia termasuk dalam hadis Rasulullah ﷺ: "Maukah kalian kukabari siapa saksi yang terbaik? Yaitu yang memberi kesaksian sebelum kesaksiannya diminta." (HR. Muslim)
Rujukan

صحيح البخاري (3/ 171) (2651). صحيح مسلم (4/ 1964) (2535)، (3/ 1344) (1719). النهاية في غريب الحديث والأثر (747). نيل الأوطار (8/ 341).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com