Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Rulings and Conditions of Marriage

4 hadis

Rasulullah ﷺ mengajarkan kami khuṭbatul-ḥājah (mukadimah khotbah)

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: عَلَّمَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَةَ الحَاجَةِ: إِنَّ الحَمْدَ للهِ، نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، {يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا} [النساء: 1]، {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} [آل عمران: 102]، {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا} [الأحزاب:70 - 71].
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ mengajarkan kami khuṭbatul-ḥājah (mukadimah khotbah): "Segala puji hanya bagi Allah. Kami memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, serta berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Sebaliknya, siapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. 'Hai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari satu jiwa, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.' [QS. An-Nisā`: 1] 'Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.' [QS. Āli 'Imrān: 102] 'Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.'" [QS. Al-Aḥzāb: 70-71]
HR. Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan

Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi ﷺ mengajari mereka khuṭbatul-ḥājah, yaitu ucapan yang disampaikan ketika membuka pembicaraan pada khotbah-khotbah dan sebelum menyebutkan keperluan, seperti khotbah nikah, khotbah Jumat dan lainnya. Khotbah ini mencakup berbagai makna agung, yaitu menjelaskan keberhakkan Allah terhadap semua macam pujian, memohon pertolongan dan pengampunan dosa hanya kepada-Nya yang tiada sekutu bagi-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari segala macam keburukan; keburukan jiwa dan lainnya. Kemudian Nabi ﷺ mengabarkan bahwa petunjuk hanya ada di tangan Allah. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, sebaliknya siapa yang Dia sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kemudian beliau menyebutkan syahadat tauhid, yaitu tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah. Demikian juga syahadat kerasulan, yaitu Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Beliau menutup khotbah tersebut dengan tiga ayat yang berisikan perintah bertakwa kepada Allah ﷻ dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya demi mengharapkan wajah Allah, dan juga balasan orang yang melaksanakannya yaitu kelurusan perbuatan dan perkataan, pengampunan kesalahan dan dosa, kehidupan yang baik di dunia, dan keberhasilan meraih surga di hari Kiamat.

Faedah
  1. 1- Anjuran membuka khotbah nikah, khotbah Jumat dan lainnya dengan khuṭbatul-ḥājah.
  2. 2- Khotbah harus mencakup pujian, dua kalimat syahadat, dan beberapa ayat Al-Qur`an.
  3. 3- Pengajaran Nabi ﷺ kepada sahabat-sahabatnya tentang apa yang mereka butuhkan dalam agama mereka.
Rujukan

سنن أبي داود (3/ 456) (2118). سنن الترمذي (2/ 398) (1105). سنن النسائي (3/ 104) (1404). سنن ابن ماجه (3/ 87) (1892). مسند أحمد (6/ 262) (3720). ذخيرة العقبى في شرح المجتبى، للإثيوبي (16/ 231). عون المعبود شرح سنن أبي داود، للعظيم آبادي (6/ 108). توضِيحُ الأحكَامِ مِن بُلوُغ المَرَام، للبسام (5/ 241).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menikahi Maimūnah saat sedang ihram dan beliau serumah dengannya setelah tahalul. Maimunah meninggal di daerah Sarif

عن ابن عباس، قال: "تَزَوَّج النبيُّ صلى الله عليه وسلم مَيْمُونَة وهو مُحْرِمٌ، وبَنَى بِها وهو حَلالٌ، وماتَتْ بِسَرِف".
Dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menikahi Maimunah saat sedang ihram dan serumah dengannya setelah tahalul. Maimunah meninggal di daerah Sarif."
Muttafaq 'alaihDerajatSanadnya sahih
Penjelasan

Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbās ini menunjukkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menikahi Ummul Mukminin, Maimūnah saat beliau sedang ihram dan serumah dengannya setelah tahalul saat beliau sudah tidak ihram lagi. Maimunah wafat di daerah Sarif, daerah yang berada di antara Makkah dan Madinah yang menjadi tempat bulan madu beliau dengan Maimunah -raḍiyallāhu 'anhā-. Ulama menjelaskan bahwa apa yang disampaikan oleh Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- dalam hadis ini tentang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang sedang ihram menikahi Maimunah adalah kekeliruan dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhu-, karena hanya dia sendiri yang meriwatkannya, tanpa didukung sahabat lainnya, bahkan mayoritas sahabat menyelisihinya. Termasuk orang yang tidak sependapat adalah Maimūnah dan Abu Rāfi' -raḍiyallāhu 'anhumā- di mana keduanya lebih mengetahui detail pernikahan Rasulullah tersebut, karena keduanya yang berperan aktif dalam pernikahan itu. Abu Rāfi' -raḍiyallāhu 'anhu- sendiri menyatakan, "Aku menjadi perantara antara Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan Maimūnah, beliau menikahinya dan serumah dengannya dalam keadaan halal, tidak sedang ihram." Ummul Mukminin Maimūnah juga berkata, "Beliau menikahiku dalam keadaan halal." Kemungkinan besar Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- tidak mengetahui pernikahan itu kecuali saat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang ihram, sehingga ia mengira beliau menikahi Maimūnah dalam keadaan ihram. Sebagian ulama menafsirkan pernyataan Ibnu 'Abbās bahwa beliau menikahi Maimūnah di tanah Haram dalam keadaan halal.

Rujukan

صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ صحيح مسلم المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. المطلع على ألفاظ المقنع, محمد بن أبي الفتح بن أبي الفضل البعلي، المحقق: محمود الأرناؤوط وياسين محمود الخطيب, مكتبة السوادي للتوزيع, الطبعة الأولى 1423هـ - 2003 م. المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج، للنووي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت، الطبعة: الثانية، 1392ه. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي بن سلطان الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت – لبنان، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م. توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن بن صالح البسام، الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة: الأولى، 1427 ه - 2006 م فتح ذي الجلال والإكرام شرح بلوغ المرام لمحمد بن صالح بن محمد العثيمين، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأُم إسراء بنت عرفة، ط1، المكتبة الإسلامية، مصر، 1427ه. منحة العلام في شرح بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن صالح الفوزان، الناشر : دار ابن الجوزي الطبعة : الأولى ، 1427 هـ - 1431 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai bani Bayāḍah, nikahkanlah Abu Hind dan nikahkan (anak perempuan kalian) kepadanya

عن أبي هريرة رضي الله عنه ، أن أبا هِنْد، حَجَمَ النبي صلى الله عليه وسلم في اليَافُوخ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : «يا بَنِي بَيَاضَةَ، أَنْكِحُوا أَبَا هِنْدٍ، وَانْكِحُوا إلَيْهِ» وقال: «وإنْ كان في شيء مِمَّا تَدَاوُون به خيرٌ فَالحِجَامة».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwasanya Abu Hind pernah membekam Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di ubun-ubunnya, lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Wahai bani Bayāḍah, nikahkanlah Abu Hind dan nikahilah (anak perempuannya)." Dan beliau bersabda, "Seandainya ada sesuatu yang lebih baik digunakan untuk berobat, maka itu adalah hijamah (bekam)."
Diriwayatkan oleh Abu DaudDerajatHadis hasan
Penjelasan

Di dalam hadis ini disebutkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah dibekam oleh Abu Hind -raḍiyallāhu 'anhu- di ubun-ubun beliau. Hal itu menunjukkan kesamaan derajat (kufu) tidak dijadikan dasar pertimbangan dalam nasab dan profesi karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan salah satu kabilah Anṣār yaitu kabilah Arab al-Qahṭāniyah al-Azdiyah untuk menikahkan Abu Hind dan melamarkan putri-putrinya untuk mereka. Dia termasuk bekas budak kabilah Bani Bayāḍah yang telah disebutkan. Selain bekas budak dia juga seorang tukang bekam. Hijamah (bekam) di kalangan orang Arab adalah pekerjaan rendahan, namun beliau tidak menganggap sekufu itu dalam hal nasab atau profesi. Namun, nas-nas hadis lainnya menunjukkan diakuinya kesamaan derajat dalam agama dan akhlak. Kemudian beliau menyebutkan bahwa hijamah (bekam) termasuk sebaik-baik cara yang digunakan seseorang untuk berobat.

Rujukan

سنن أبي داود, أبو داود سليمان بن الأشعث الأزدي السِّجِسْتاني, المحقق: محمد محيي الدين عبد الحميد, المكتبة العصرية، صيدا – بيروت. صحيح أبي داود – الأم, أبو عبد الرحمن محمد ناصر الدين الألباني, مؤسسة غراس للنشر والتوزيع، الكويت, الطبعة: الأولى، 1423 هـ - 2002 م. عون المعبود شرح سنن أبي داود، ومعه حاشية ابن القيم: تهذيب سنن أبي داود وإيضاح علله ومشكلاته, محمد أشرف بن أمير بن علي بن حيدر الصديقي العظيم آبادي, دار الكتب العلمية – بيروت, الطبعة: الثانية، 1415 هـ. توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن بن صالح البسام، الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م. تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة: الأولى، 1427 ه - 2006 م. فتح ذي الجلال والإكرام شرح بلوغ المرام لمحمد بن صالح بن محمد العثيمين، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأُم إسراء بنت عرفة، ط1، المكتبة الإسلامية، مصر، 1427هـ. منحة العلام في شرح بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن صالح الفوزان، الناشر: دار ابن الجوزي الطبعة: الأولى، 1427 هـ - 1431. بلوغ المرام من أدلة الأحكام، لابن حجر، دار القبس للنشر والتوزيع، الرياض - المملكة العربية السعودية الطبعة: الأولى، 1435 هـ - 2014 م. فتاوى اللجنة الدائمة -المجموعة الأولى-: اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء - جمع وترتيب: أحمد بن عبد الرزاق الدويش.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tiga perkara, seriusnya adalah serius, dan candanya adalah serius, yaitu; nikah, perceraian, dan rujuk (membatalkan perceraian).

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "ثلاث جِدُّهُنَّ جِدٌّ، وهَزْلُهُنَّ جِدٌّ: النكاح، والطلاق، والرَّجْعَةُ".
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tiga perkara, seriusnya adalah serius, dan candanya adalah serius, yaitu; nikah, perceraian, dan rujuk (membatalkan perceraian)."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu DaudDerajatHadis hasan
Penjelasan

Hadis ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengucapkan lafal akad nikah, talak, atau rujuk dengan bercanda maka hal itu jatuh karena sikap sengaja, serius dan bercanda memiliki hukum yang satu pada perkara-perkara ini. Barangsiapa yang melangsungkan akad atas wanita yang di bawah perwaliannya, menceraikan istrinya, atau merujuknya, maka hal itu akan terlaksana tatkala ia melafalkan akadnya, baik itu secara serius, bercanda, atau main-main, karena akad-akad ini tidak memiliki khiyār al-majlis (hak pilihan antara melanjutkan dan membatalkan di lokasi transaksi), dan tidak pula khiyār asy-syarṭ (hak pilih dalam persyaratan). Ketiga hukum ini kedudukannya sangat agung dalam syariat. Oleh karena itu, tidak boleh bermain-main dan bercanda dengannya. Barangsiapa mengucapkan salah satu dari hukum-hukum ini maka ia terkena konsekuensinya.

Rujukan

- بلوغ المرام من أدلة الأحكام، لابن حجر، دار القبس للنشر والتوزيع، الرياض - المملكة العربية السعودية الطبعة: الأولى، 1435 هـ - 2014 م - سنن ابن ماجه. تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي. الناشر: دار إحياء الكتب العربية - فيصل عيسى البابي الحلبي - سنن أبي داود. المحقق: محمد محيي الدين عبد الحميد. الناشر: المكتبة العصرية، صيدا - بيروت. - سنن الترمذي، تحقيق بشار عواد، دار الغرب الإسلامي – بيروت، 1998 م - مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي القاري، الناشر:دار الفكر، بيروت - لبنان. الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م - إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل، للشيخ الألباني. الناشر: المكتب الإسلامي – بيروت. الطبعة: الثانية 1405 هـ - 1985م - نيل الأوطار، للشوكاني. الناشر: دار الحديث، مصر. الطبعة: الأولى، 1413هـ - 1993م - فتح ذي الجلال والاكرام بشرح بلوغ المرام، للشيخ ابن عثيمين، المكتبة الإسلامية - الطبعة الأولى 1427 - 2006م - توضِيحُ الأحكَامِ مِن بُلوُغ المَرَام، للبسام. مكتَبة الأسدي، مكّة المكرّمة.الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م - تسهيل الالمام، للشيخ صالح الفوزان. طبعة الرسالة. الطبعة الأولى 1427 – 2006 م فتاوى اللجنة الدائمة - المجموعة الأولى- : اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء- جمع وترتيب: أحمد بن عبد الرزاق الدويش.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com