Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Urgensi As-Sunnah dan Kedudukannya

9 hadis

Di antara dusta yang paling besar adalah seseorang mengaku anak kepada selain bapaknya, atau mengaku bermimpi padahal dia tidak bermimpi, atau berkata atas nama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apa yang tidak beliau ucapkan.

عن وَاثِلَةَ بن الأَسْقَعِ ـ رضي الله عنه ـ مرفوعاً: «إن من أعظم الفِرَى أن يَدَّعِيَ الرجلُ إلى غير أبيه، أو يُرِي عَيْنَهُ ما لم تَرَ، أو يقول على رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم يَقْلْ».
Dari Wāṣilah bin Al-Asqa' -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Di antara dusta yang paling besar adalah seseorang mengaku anak kepada selain bapaknya, atau mengaku bermimpi padahal dia tidak bermimpi, atau berkata atas nama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apa yang tidak beliau ucapkan'."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Sesungguhnya dusta yang paling berat di hadapan Allah -Ta'ālā- adalah seseorang menyebutkan nasabnya bukan kepada bapaknya yang hakiki atau seseorang memberinya nasab kepada selain bapaknya dan dia setujui hal itu. Ini termasuk dusta paling berat. Termasuk juga dusta paling berat di sisi Allah -Ta'ālā- adalah seseorang mengaku bermimpi, padahal dia tidak bermimpi. Juga termasuk dusta yang sangat berat adalah menyematkan suatu perkataan, perbuatan atau persetujuan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- padahal tidak bersumber dari beliau.

Rujukan

- صحيح البخاري، للإمام محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد الناصر، دار طوق النجاة. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418ه. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشرة، 1407هـ. - كنوز رياض الصالحين»، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430ه. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان بن إبراهيم البكري الصديقي الشافعي اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة . - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah riwayat dari Bani Israil, tidak apa-apa. Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ».
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah riwayat dari Bani Israil, tidak apa-apa. Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk menyampaikan ilmu yang datang dari beliau berupa Al-Qur`an atau Sunnah, walaupun sedikit seperti satu ayat Al-Qur`an atau satu hadis, dengan syarat ia memiliki ilmu tentang apa yang ia sampaikan dan apa yang ia dakwahkan. Kemudian beliau ﷺ menjelaskan, tidak masalah jika seseorang menyampaikan riwayat Bani Israil tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada mereka selama tidak menyelisihi syariat kita. Lalu beliau melarang untuk berdusta dengan mengatasnamakan beliau, dan orang yang berdusta atas nama beliau dengan sengaja dipersilakan mengambil tempat untuk dirinya sendiri di neraka.

Faedah
  1. 1. Anjuran untuk menyampaikan syariat Allah, dan seseorang berkewajiban menyampaikan apa yang ia hafal dan pahami walaupun sedikit.
  2. 2- Kewajiban menimba ilmu agama agar bisa beribadah kepada Allah dan menyampaikan syariat-Nya secara benar.
  3. 3- Kewajiban memastikan kesahihan hadis apa pun sebelum disampaikan atau disebarkan, sebagai antisipasi agar jangan sampai masuk dalam ancaman yang keras ini.
  4. 4- Anjuran untuk berkata jujur dan berbicara hati-hati agar tidak jatuh dalam dusta, khususnya terkait syariat Allah -'Azza wa Jalla-.
Rujukan

صحيح البخاري (4/ 170) (3461). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 464). نزهة المتقين، لمصطفى الخن وغيره (2/ 951). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (5/ 429).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa yang menceritakan dariku sebuah hadis yang dinilai dusta, maka ‎dia adalah satu dari orang-orang yang berdusta.‎

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ وَالْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رضي الله عنهما قَالَا: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ».
Samurah bin Jundab dan al-Mugīrah bin Syu'bah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang menceritakan dariku sebuah hadis yang dinilai dusta, maka ‎dia adalah satu dari orang-orang yang berdusta.‎"
HR. Muslim dalam MukadimahnyaDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang meriwayatkan suatu hadis dari beliau, sementara ia mengetahui, mengira, atau kuat dugaannya bahwa hal tersebut adalah kedustaan terhadap beliau ﷺ, maka orang yang meriwayatkan itu ikut menyertai orang yang memulai dalam kedustaan tersebut.

Faedah
  1. 1- Memastikan kebenaran dan kesahihan hadis-hadis yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ sebelum meriwayatkannya kembali.
  2. 2- Label dusta disematkan kepada orang yang menciptakan kedustaan itu dan orang yang menukil dan menyebarkannya ke tengah publik.
  3. 3- Haram hukumnya meriwayatkan hadis palsu bagi orang yang mengetahui perihal hadis itu palsu atau kuat dugaannya terhadap hal itu, kecuali kalau bertujuan mengingatkan publik darinya.
Rujukan

صحيح مسلم (1/ 8).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ketahuilah, hampir tiba waktunya, hadisku sampai kepada seseorang sementara dia bersandar di sofanya, lalu dia berkata, 'Hakim antara kami dan kalian adalah Kitabullah

عن المقدام بن معدِيْكَرِب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أَلَا هَلْ عَسَى رَجُلٌ يَبْلُغُهُ الْحَدِيثُ عَنِّي وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى أَرِيكَتِهِ فَيَقُولُ: بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللهِ، فَمَا وَجَدْنَا فِيهِ حَلَالًا اسْتَحْلَلْنَاهُ، وَمَا وَجَدْنَا فِيهِ حَرَامًا حَرَّمْنَاهُ، وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا حَرَّمَ اللهُ».
Al-Miqdām bin Ma'dīkarib meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketahuilah, hampir tiba waktunya, hadisku sampai kepada seseorang sementara dia bersandar di sofanya, lalu dia berkata, 'Hakim antara kami dan kalian adalah Kitabullah. Apa yang kita temukan halal menurutnya, maka kita halalkan; dan apa yang kita temukan haram menurutnya, maka kita haramkan.' Padahal, apa yang diharamkan oleh Rasulullah ﷺ sama seperti yang diharamkan oleh Allah."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan Ibnu MajahDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa hampir tiba waktu munculnya sekelompok orang, seseorang dari mereka duduk di atas sofanya ketika sampai kepadanya hadis dari Nabi ﷺ, lantas dia berkata, "Yang memutuskan antara kami dan kalian dalam semua urusan ialah Al-Qur`an Al-Karim. Cukup Al-Qur`an bagi kita. Apa yang kita dapatkan halal menurutnya, maka kita melakukannya. Apa yang kita dapatkan haram menurutnya, maka kita menjauhinya." Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan bahwa segala sesuatu yang beliau haramkan atau yang beliau larang di dalam Sunnah beliau, pengharaman itu hukumnya sama seperti yang diharamkan oleh Allah di dalam Kitab-Nya, sebab beliau sebagai penyampai dari Tuhannya.

Faedah
  1. 1- Menjunjung tinggi Sunnah dan mengamalkannya sebagaimana Al-Qur`an dijunjung tinggi dan diamalkan.
  2. 2- Ketaatan kepada Rasul adalah bentuk ketaatan kepada Allah, dan kemaksiatan kepada beliau adalah kemaksiatan kepada Allah Ta'ala.
  3. 3- Kesahihan hujah Sunnah dan bantahan terhadap orang yang menolak Sunnah atau mengingkarinya.
  4. 4- Orang yang berpaling dari Sunnah dan berdalih mencukupkan diri pada Al-Qur`an sejatinya dia berpaling dari keduanya sekaligus, serta berbohong dalam klaim mengikuti Al-Qur`an.
  5. 5- Di antara bukti kenabian beliau ﷺ ialah pemberitahuan beliau terkait sesuatu yang akan terjadi di masa depan, dan itu memang ia terjadi sebagaimana yang dikabarkan.
Rujukan

سنن أبي داود (7/ 13) (4604)، سنن الترمذي (4/ 399) (2664)، سنن ابن ماجه (1/ 9) (12)، نخب الأفكار في تنقيح مباني الأخبار في شرح معاني الآثار (13/ 154).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa yang berdusta dengan mengatasnamakanku secara sengaja, hendaklah ia mengambil tempatnya di neraka

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang berdusta dengan mengatasnamakanku secara sengaja, hendaklah ia mengambil tempatnya di neraka."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menjelaskan bahwa orang yang berdusta atas nama beliau secara sengaja dengan menisbahkan suatu ucapan atau perbuatan kepada beliau secara dusta, maka baginya di akhirat sudah disiapkan tempat di neraka, sebagai balasan atas kedustaannya pada beliau.

Faedah
  1. 1- Berdusta atas nama Nabi ﷺ dengan sengaja adalah sebab masuk neraka.
  2. 2- Berdusta atas nama Nabi ﷺ tidak sama dengan berdusta atas nama manusia lainnya karena banyaknya kerusakan besar dalam agama dan dunia yang dilahirkannya.
  3. 3- Peringatan agar tidak menyebarkan hadis sebelum memastikan kebenaran penisbatannya kepada Nabi ﷺ.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 33) (110)، صحيح مسلم (1/ 10) (3)، إكمال المعلم (1/111)، شرح النووي على مسلم (1/65)، المفهم (1/32)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري (2/ 151)، شرح مقدمة سنن ابن ماجه (5/ 8).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, serta patuh dan taat kepada pemimpin walaupun ia seorang budak Habasyah. Kalian akan melihat sepeninggalku perselisihan yang banyak, maka peganglah Sunnahku dan Sunnah para khulafaurasyidin yang diberi petunjuk

عن العِرْباضِ بن ساريةَ رضي الله عنه قال: قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم، فوَعَظَنا مَوعظةً بليغةً وَجِلتْ منها القلوبُ، وذَرَفتْ منها العيونُ، فقيل: يا رسول الله، وعظتَنَا موعظةَ مُودِّعٍ فاعهد إلينا بعهد. فقال: «عليكم بتقوى الله، والسمع والطاعة، وإن عبدًا حبشيًّا، وسترون من بعدي اختلافًا شديدًا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عَضُّوا عليها بالنواجِذ، وإياكم والأمور المحدثات، فإن كل بدعة ضلالة».
'Irbāḍ bin Sāriyah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Suatu hari, Rasulullah ﷺ berdiri di tengah-tengah kami lalu memberi kami nasihat yang sangat menyentuh nan menyebabkan hati bergetar dan mata bercucuran. Lalu ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah! Engkau menasihati kami seolah sebagai nasihat perpisahan, maka berilah kami pesan pegangan." Beliau bersabda, "Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, serta patuh dan taat kepada pemimpin walaupun ia seorang budak Habasyah. Kalian akan melihat sepeninggalku perselisihan yang banyak, maka peganglah Sunnahku dan Sunnah para khulafaurasyidin yang diberi petunjuk, serta gigitlan ia dengan gigi geraham. Tinggalkanlah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah kesesatan."
HR. Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menasihati sahabat-sahabatnya dengan nasihat mendalam yang membuat hati bergetar dan air mata bercucuran. Mereka berkata: Wahai Rasulullah, sepertinya nasihat ini adalah nasihat perpisahan. Hal itu karena mereka melihat beliau ﷺ sangat menyentuh dalam nasihat tersebut, sehingga mereka minta diberikan wasiat sebagai pegangan mereka sepeninggal beliau. Beliau bersabda, "Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah ﷻ," yaitu dengan melaksanakan semua perkara yang diwajibkan dan meninggalkan yang diharamkan. Lalu bersikap patuh dan taatlah kepada para pemimpin walaupun kalian dipimpin atau dikuasai oleh seorang budak; yakni walaupun yang menjadi pemimpin kalian adalah manusia yang paling rendah kastanya, jangan gengsi dari hal itu. Tetapi, tetaplah taat kepadanya demi menghindari kobaran fitnah. Siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, ia akan melihat banyak perselisihan. Kemudian beliau memberi mereka penjelasan solusi untuk perselisihan itu, yaitu dengan memegang kuat Sunnah beliau dan Sunnah khulafaurasyidin sepeninggal beliau; Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq, Umar bin Al-Khaṭṭāb, Uṡmān bin Affān, dan Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhum-, sekaligus menggigitnya dengan gigi geraham yang bermakna: bersungguh-sungguh dalam menjaga Sunnah dan berpegang teguh padanya. Kemudian beliau mengingatkan mereka dari perkara-perkara bidah yang diada-adakan dalam agama, karena setiap bidah adalah kesesatan.

Faedah
  1. 1- Urgensi berpegang kuat pada Sunnah dan mengikutinya.
  2. 2- Perhatian kepada nasihat dan pelembutan hati.
  3. 3- Perintah mengikuti khulafaurasyidin yang empat setelah beliau, yaitu Abu Bakar, Umar, Uṡmān, dan Ali -raḍiyallāhu 'anhum-.
  4. 4- Larangan mengadakan bidah dalam agama karena setiap bidah adalah kesesatan.
  5. 5- Patuh dan taat kepada semua pemegang urusan kaum mukminin pada selain kemaksiatan.
  6. 6- Urgensi bertakwa kepada Allah ﷻ di semua waktu dan keadaan.
  7. 7- Perselisihan akan terjadi pada umat ini, dan ketika itu terjadi maka wajib kembali kepada Sunnah Rasulullah ﷺ dan khulafaurasyidin.
Rujukan

الأربعون النووية (ص: 89) (ح28)، سنن أبي داود (7/ 16) (4607)، سنن الترمذي (4/ 408) (2676)، سنن ابن ماجه (1/ 28) (42)، مسند أحمد (28/ 367) (17142)، تحفة الأحوذي (7/ 366)، عون المعبود وحاشية ابن القيم (12/ 235)، شرح الأربعين النووية للعثيمين (ص: 278).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Akan ada di akhir umatku orang-orang yang menyampaikan kepada kalian sesuatu yang belum pernah kalian maupun nenek moyang kalian dengar. Sebab itu, janganlah kalian mendekati mereka

عَنْ ‌أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Akan ada di akhir umatku orang-orang yang menyampaikan kepada kalian sesuatu yang belum pernah kalian maupun nenek moyang kalian dengar. Sebab itu, janganlah kalian mendekati mereka."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan, akan muncul di akhir umat beliau orang-orang yang mengarang kebohongan dan mengatakan sesuatu yang belum pernah diucapkan oleh seorang pun sebelum mereka, termasuk menyampaikan hadis-hadis dusta yang dikarang. Beliau ﷺ lalu memerintahkan kita untuk menjauhi mereka, tidak duduk di majelis mereka dan tidak mendengar hadis-hadis mereka, agar hadis palsu tersebut tidak masuk ke dalam hati lalu kita tidak mampu berlepas diri darinya.

Faedah
  1. 1- Di dalamnya terkandung tanda kenabian, yaitu Nabi ﷺ mengabarkan sesuatu yang akan terjadi pada umat beliau lalu ia terjadi sebagaimana dikabarkan.
  2. 2- Menjauhi orang yang berdusta atas nama Rasulullah ﷺ dan atas nama agama Islam serta tidak mendengarkan kedustaan mereka.
  3. 3- Peringatan agar tidak menerima hadis-hadis atau menyebarkannya kecuali setelah memastikan kesahihan dan kevalidannya.
Rujukan

صحيح مسلم (1/ 12) (6)، قرة عين المحتاج في شرح مقدمة صحيح مسلم بن الحجاج (2/ 8).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tulislah! Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku kecuali kebenaran

عن عبدِ الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: كنتُ أكتبُ كلَّ شيءٍ أسمعُه من رسولِ الله صلَّى الله عليه وسلم أُريدُ حفْظَه، فنهتْني قريشٌ، وقالوا: أتكْتبُ كلَّ شيءٍ تَسمَعُه من رسول الله صلَّى الله عليه وسلم، ورسولُ الله صلَّى الله عليه وسلم بَشَرٌ يتكلَّمُ في الغضَبِ والرِّضا؟ فأمسَكتُ عن الكتاب، فذكرتُ ذلك لرسول الله صلَّى الله عليه وسلم، فأومأ بإصبَعِه إلى فيه، فقال: «اكتُبْ، فوالذي نفسي بيدِه، ما يَخرُجُ منه إلا حقٌّ».
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Dahulu aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ karena ingin menjaganya, tetapi orang-orang Quraisy melarangku. Mereka mengatakan, "Apakah engkau akan menulis segala sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah ﷺ, sedangkan Rasulullah ﷺ seorang manusia yang berbicara ketika marah dan rida?" Sehingga aku berhenti menulis. Lalu aku menceritakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau menunjuk dengan jari ke mulutnya seraya bersabda, "Tulislah! Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku kecuali kebenaran."
HR. Abu DaudDerajatSahih
Penjelasan

Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhu- berkata: Dahulu aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ dengan tujuan menjaganya lewat tulisan. Akan tetapi, sejumlah orang Quraisy melarangku, mereka mengatakan: Rasulullah ﷺ adalah seorang manusia yang berbicara ketika rida dan marah, dan beliau bisa saja bersalah. Sebab itu, aku pun berhenti menulis. Lalu aku menceritakan hal itu kepada Nabi ﷺ, maka beliau menunjuk dengan jari ke mulutnya dan bersabda: Tulislah! Demi Tuhan yang jiwaku di tangan-Nya, tidak ada yang keluar dari mulutku kecuali kebenaran, pada segala keadaan dan ketika rida maupun marah. Allah Ta'ala telah berfirman tentang Nabi-Nya ﷺ, "Tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya. Tidak lain ia adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." [QS. An-Najm: 3-4]

Faedah
  1. Nabi ﷺ maksum terkait semua yang beliau sampaikan dari Tuhannya ﷻ ketika rida maupun marah.
  2. 1- Kegigihan para sahabat -semoga Allah meridai mereka- untuk menjaga dan menyampaikan Sunnah.
  3. 2- Boleh bersumpah walaupun tanpa diminta untuk suatu kemaslahatan, misalnya demi menegaskan suatu perkara.
  4. 3- Mencatat ilmu termasuk sebab paling penting untuk menjaga ilmu.
Rujukan

سنن أبي داود (5/ 489) (3646)، شرح سنن أبي داود للعباد (412/ 21).

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 9
9 hadis
  1. Di antara dusta yang paling besar adalah seseorang mengaku anak kepada selain bapaknya, atau mengaku bermimpi padahal dia tidak bermimpi, atau berkata atas nama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apa yang tidak beliau ucapkan.
  2. Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah riwayat dari Bani Israil, tidak apa-apa. Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka
  3. Siapa yang menceritakan dariku sebuah hadis yang dinilai dusta, maka ‎dia adalah satu dari orang-orang yang berdusta.‎
  4. Ketahuilah, hampir tiba waktunya, hadisku sampai kepada seseorang sementara dia bersandar di sofanya, lalu dia berkata, 'Hakim antara kami dan kalian adalah Kitabullah
  5. Siapa yang berdusta dengan mengatasnamakanku secara sengaja, hendaklah ia mengambil tempatnya di neraka
  6. Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, serta patuh dan taat kepada pemimpin walaupun ia seorang budak Habasyah. Kalian akan melihat sepeninggalku perselisihan yang banyak, maka peganglah Sunnahku dan Sunnah para khulafaurasyidin yang diberi petunjuk
  7. Akan ada di akhir umatku orang-orang yang menyampaikan kepada kalian sesuatu yang belum pernah kalian maupun nenek moyang kalian dengar. Sebab itu, janganlah kalian mendekati mereka
  8. Tulislah! Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku kecuali kebenaran
  9. Aku mewasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah serta mendengar dan taat (kepada penguasa) walaupun penguasa kalian itu seorang budak. Sesungguhnya siapa yang masih hidup sepeninggalku akan melihat banyak perselisihan. Sebab itu, berpegangteguhlah kepada sunnahku dan sunnah para khulafaurasyidin yang diberi petunjuk

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com