Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Adab-adab Jihad

6 hadis

Apabila Allah telah mengumpulkan orang-orang terdahulu hingga yang terakhir kelak pada hari Kiamat, maka akan diangkat bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan, 'Ini adalah pengkhianatan polan bin polan.'

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضيَ اللهُ عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا جَمَعَ اللهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ، فَقِيلَ: هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ».
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila Allah telah mengumpulkan orang-orang terdahulu hingga yang terakhir kelak pada hari Kiamat, maka akan diangkat bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan, 'Ini adalah pengkhianatan polan bin polan.'"
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan, ketika Allah Ta'ala telah mengumpulkan orang-orang terdahulu hingga yang terakhir kelak pada hari Kiamat untuk penghitungan amal, bagi setiap pengkhianat yang tidak memenuhi janji yang dia buat dengan Allah ataupun dengan sesama manusia akan ditancapkan tanda untuk mempermalukannya atas pengkhianatannya dan akan diumumkan pada hari itu: Ini adalah pengkhianatan polan bin polan; untuk menampakkan buruk kelakuannya di tengah penduduk mahsyar.

Faedah
  1. 1- Haramnya khianat dan ia termasuk dosa besar karena di dalamnya terdapat ancaman yang keras ini.
  2. 2- Khianat yang memiliki ancaman ini mencakup semua orang yang mengamanahimu terkait darah, kehormatan, rahasia atau harta lalu engkau mengkhianatinya dan menyalahi prasangkanya tentang keamanahanmu.
  3. 3- Al-Qurṭubiy berkata, "Ini adalah penyampaian beliau kepada bangsa Arab sesuai dengan yang biasa mereka lakukan, yaitu mereka mengangkat bendera putih bagi pemenuhan janji ataupun amanah, dan mengangkat bendera hitam bagi perbuatan ingkar janji untuk mencela orang-orang yang khianat. Hadis ini menunjukkan terjadinya hal semisal itu bagi orang yang berkhianat agar ia dikenal dengan karakternya kelak hari Kiamat sehingga penduduk mahsyar mencelanya."
  4. 4- Ibnu Ḥajar berkata, "Di dalamnya ada pelajaran bahwa manusia pada hari Kiamat akan dipanggil dengan nama ayahnya, sebagaimana dalam hadis: Ini adalah pengkhianatan polan bin polan."
Rujukan

صحيح البخاري (4/ 104) (3188) صحيح مسلم (3/ 1359) (1735). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص745). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (2/ 188).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Seorang wanita ditemukan terbunuh di salah satu peperangan Nabi ﷺ, maka Rasulullah ﷺ melarang tindakan membunuh wanita dan anak-anak

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما: أَنَّ امْرَأَةً وُجِدَتْ فِي بَعْضِ مَغَازِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقْتُولَةً، فَأَنْكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَتْلَ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ.
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, "Seorang wanita ditemukan terbunuh di salah satu peperangan Nabi ﷺ, maka Rasulullah ﷺ melarang tindakan membunuh wanita dan anak-anak."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ melihat seorang wanita terbunuh di salah satu peperangan. Lantas beliau melarang perbuatan membunuh wanita dan anak-anak kecil yang belum balig.

Faedah
  1. 1- Orang-orang yang tidak ikut serta berperang seperti para wanita dan anak-anak serta yang memiliki posisi sama dengan mereka seperti laki-laki tua renta dan para pendeta, mereka tidak boleh dibunuh selama mereka bukan pemberi ide dan bantuan untuk memerangi umat Islam. Namun jika mereka memberikan bantuan, maka mereka boleh dibunuh.
  2. 2- Larangan membunuh wanita dan anak-anak karena mereka ini tidak ikut memerangi kaum muslimin, sedangkan tujuan dari jihad di jalan Allah Ta'ala ialah untuk menghancurkan gangguan orang-orang yang memerangi saja agar dakwah kebenaran sampai kepada semua orang.
  3. 3- Besarnya sifat kasih sayang Nabi ﷺ, bahkan dalam perang sekalipun.
Rujukan

صحيح البخاري (4/ 61) (3014). صحيح مسلم (3/ 1364) (1744). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (2/ 189). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص746).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai manusia, janganlah kalian mengharapkan bertemu musuh! Mohonlah keselamatan kepada Allah!

عن عبد الله بن أبي أوفى رضي الله عنه أَنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم فِي بَعْض أَيَّامه التي لَقِي فيها العدو انتظر، حتى إذا مَالَتِ الشمس قام فِيهم، فقال: «أَيُّها الناس، لا تَتَمَنَّوْا لِقَاء الْعَدُوِّ، وَاسْأَلوا الله الْعافية فَإِذا لَقِيتموهم فَاصْبِرُوا، وَاعلموا أَنَّ الْجَنَّة تحت ظِلال السُّيوف ثُمَّ قَال النَّبِي صلى الله عليه وسلم: اللهمَّ مُنزِلَ الْكتاب، وَمُجْرِيَ السَّحاب، وَهازم الأَحْزاب: اهْزِمهم، وَانصُرنا علَيهم».
Dari Abdullah bin Abi Aufa -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sebuah pertempurannya saat hendak bertemu musuh, beliau menunggu hingga matahari condong lalu berdiri di tengah-tengah para sahabat. Beliau bersabda, "Wahai manusia, janganlah kalian mengharapkan bertemu musuh! Mohonlah keselamatan kepada Allah! Jika kalian telah bertemu musuh maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwa Surga itu di bawah bayangan kilatan pedang." Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ya Allah, Yang menurunkan Kitab, Yang menjalankan awan, Yang mengalahkan pasukan! Kalahkanlah mereka dan tolonglah kami melawan mereka!"
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Abdullah bin Abi Aufa -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa dalam sebuah pertempuran, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hendak bertemu musuh lalu beliau menunggu, namun pertempuran tidak dimulai melainkan setelah matahari condong. Setelah matahari condong, beliau berdiri di tengah-tengah para sahabat -biasanya dilakukan setelah salat- sambil berkhotbah melarang mereka untuk mengharapkan bertemu musuh, karena hal itu termasuk kesombongan, dan hendaknya mereka memohon keselamatan kepada Allah. Selanjutnya beliau bersabda, "Jika kalian telah bertemu musuh maka bersabarlah," yakni, jika Allah mewujudkan hal tersebut dan kalian diuji dengan bertemu musuh maka bersabarlah dan janganlah cemas serta ingatlah bahwa bagi kalian dua kebaikan; baik Allah menolong kalian terhadap musuh dan kalian mendapatkan kemenangan sehingga Allah menghimpun untuk kalian antara keberhasilan mengalahkan musuh di dunia dan pahala di akhirat; ataupun kalian dikalahkan setelah kalian mencurahkan segenap usaha dalam jihad sehingga bagi kalian pahala akhirat. Adapun sabdanya, "Dan ketahuilah bahwa Surga itu di bawah bayangan pedang." Artinya bahwa jihad menghantarkan ke Surga. Setelah itu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdoa kepada Rabb-nya dengan syariat yang diturunkan dan kekuasaan-Nya yang sempurna agar menolong kaum muslimin mengalahkan musuhnya. Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

Rujukan

- صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه. - صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423 هـ. - عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، ط2، دار الثقافة العربية، دمشق ، بيروت، مؤسسة قرطبة، 1408 هـ - تأسيس الأحكام للنجمي، ط2، دار علماء السلف، 1414ه - الإلمام بشرح عمدة الأحكام لإسماعيل الأنصاري، ط1، دار الفكر، دمشق، 1381ه - تيسير العلام شرح عمدة الأحكام للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الأمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426 هـ - الإعلام بفوائد عمدة الأحكام لابن الملقن المحقق: عبد العزيز بن أحمد بن محمد المشيقح دار العاصمة للنشر والتوزيع، المملكة العربية السعودية الطبعة: الأولى، 1417 هـ - 1997 م. - الاستذكار لابن عبد البر، تحقيق سالم محمد عطا، محمد علي معوض، دار الكتب العلمية - بيروت، الطبعة: الأولى، 1421 - 2000. - تحفة الأحوذي للمباركفوري - دار الكتب العلمية - بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Orang yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, dialah yang berperang di jalan Allah

عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَّجُلِ يُقَاتِلُ شَجَاعَةً، وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً، أَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ».
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang seseorang yang berperang untuk menunjukkan ketangkasan, berperang untuk menunjukkan sikap fanatisme, dan berperang untuk diberi pujian; manakah di antara itu yang berperang di jalan Allah?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Orang yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, dialah yang berperang di jalan Allah."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ ditanya tentang perbedaan niat atau tujuan orang yang berperang; ada yang berperang dengan tujuan menunjukkan ketangkasan, menampakkan fanatisme, dipuji di tengah manusia, atau lainnya. Manakah di antara itu yang dianggap berperang di jalan Allah? Lantas Nabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang berperang di jalan Allah adalah yang berperang dengan tujuan agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi.

Faedah
  1. 1- Fondasi baik dan rusaknya amal ialah niat dan mengikhlaskan amal kepada Allah.
  2. 2- Jika niat utama jihad ialah meninggikan kalimat Allah, lalu bergabung bersamanya niat lain yang sesuai syariat, seperti untuk mendapatkan rampasan perang, maka hal tersebut tidak merusak niat utamanya.
  3. 3- Menghalau musuh dari negeri dan tempat-tempat suci umat Islam termasuk perang di jalan Allah.
  4. 4- Keutamaan yang disebutkan untuk para mujahid berlaku khusus bagi orang yang berperang dengan tujuan agar kalimat Allah Ta'ala menjadi yang tertinggi.
Rujukan

صحيح البخاري (9/ 136) (7458). صحيح مسلم (3/ 1513) (1904). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص753). الإعلام بفوائد عمدة الأحكام، لابن الملقن (10/ 380).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya aku tadi memerintahkan kalian untuk membakar si fulan dan si fulan. Akan tetapi, api itu tidak digunakan untuk menyiksa kecuali oleh Allah. Karena itu, jika kalian menemukan kedua orang itu, maka bunuhlah keduanya!

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: بَعَثَنَا رسول الله صلى الله عليه وسلم في بَعْثٍ، فقال: «إن وجَدْتُم فُلانا وفُلانا» لرجلين من قُرَيْش سَمَّاهُما «فأَحْرِقُوهُمَا بالنَّار» ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم حين أردنا الخروج: «إني كنت أَمَرْتُكُمْ أن تُحْرِقُوا فلانًا وفلانًا، وإن النَّار لا يُعَذِّبُ بها إلا الله، فإن وجَدْتُمُوهُما فاقْتُلُوهُما».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus kami dalam satu utusan, lalu beliau bersabda, "Jika kalian menemukan si fulan dan si fulan -yaitu dua orang Quraisy, beliau menyebut nama keduanya-, maka bakarlah mereka dengan api." Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda saat kami hendak keluar, "Sesungguhnya aku tadi memerintahkan kalian untuk membakar si fulan dan si fulan. Akan tetapi, api itu tidak digunakan untuk menyiksa kecuali oleh Allah. Karena itu, jika kalian menemukan kedua orang itu, maka bunuhlah keduanya!"
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan dalam hadis ini bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus mereka dalam suatu pasukan untuk memerangi musuh dan beliau memerintahkan mereka jika melihat dua orang lelaki Quraisy -yang beliau sebutkan namanya- untuk membakar keduanya dengan api. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada mereka ketika mereka datang untuk menyampaikan selamat tinggal sebelum kepergian mereka, "Sesungguhnya aku tadi memerintahkan kalian untuk membakar si fulan dan si fulan. Akan tetapi, api itu tidak digunakan untuk menyiksa kecuali oleh Allah. Karena itu, jika kalian menemukan kedua orang itu, maka bunuhlah keduanya!"

Rujukan

نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ. كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار ، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ. بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي ، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م. رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي ، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل ، الطبعة: الأولى، 1428 هـ. صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ. دليل الفالحين، تأليف: محمد بن علان، الناشر: دار الكتاب العربي، نسخة الكترونية ، لا يوجد بها بيانات نشر. شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426 ه.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya tidak ada yang boleh menyiksa dengan menggunakan api kecuali Tuhannya api

عنْ ابنِ مَسْعُودٍ رَضيَ اللهُ عنهُ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَانْطَلَقَ لِحَاجَتِهِ، فَرَأَيْنَا حُمَّرَةً مَعَهَا فَرْخَانِ، فَأَخَذْنَا فَرْخَيْهَا، فَجَاءَتِ الْحُمَرَةُ فَجَعَلَتْ تَفْرِشُ، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا؟ رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا»، وَرَأَى قَرْيَةَ نَمْلٍ قَدْ حَرَّقْنَاهَا، فَقَالَ: «مَنْ حَرَّقَ هَذِهِ؟» قُلْنَا: نَحْنُ. قَالَ: «إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلَّا رَبُّ النَّارِ».
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam sebuah perjalanan, lalu beliau menjauh untuk buang air. Kemudian kami melihat seekor burung ḥummarah (sejenis burung kecil mirip pipit) bersama dua anaknya. Kami kemudian mengambil kedua anaknya sehingga burung ḥummarah tersebut datang berputar-putar di atas kami. Nabi ﷺ datang lalu bersabda, "Siapakah yang telah menyakiti burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan anaknya kepadanya." Beliau juga pernah melihat sarang semut yang telah kami bakar. Beliau lalu bertanya, "Siapakah yang telah membakar ini?" Kami menjawab, "Kami." Beliau bersabda, "Sesungguhnya tidak ada yang boleh menyiksa dengan menggunakan api kecuali Tuhannya api."
HR. Abu DaudDerajatSahih
Penjelasan

Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- menyebutkan bahwa mereka pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan, kemudian Nabi ﷺ menjauh untuk buang hajat. Lalu sahabat-sahabat beliau menemukan seekor burung ḥummarah bersama kedua anaknya, lalu mereka mengambilnya sehingga induk hummarah tersebut membentangkan sayapnya dan membukanya karena cemas kehilangan anaknya. Lantas Nabi ﷺ datang dan bersabda, "Siapakah yang telah membuatnya sedih dan cemas dengan mengambil anaknya yang masih kecil?" Kemudian beliau memerintahkan agar anaknya dikembalikan. Lalu beliau melihat kampung semut yang telah dibakar dengan api, maka beliau ﷺ bersabda, "Siapa yang membakar kampung semut ini?" Sebagian sahabat beliau menjawab, "Kami." Beliau lantas bersabda kepada mereka, "Sesungguhnya tidak boleh bagi siapa pun untuk menyiksa satu makhluk hidup dengan api kecuali Allah yang menciptakan api."

Faedah
  1. 1- Perintah menutup diri untuk buang hajat.
  2. 2- Larangan menyiksa hewan dengan mengambil anaknya.
  3. 3- Larangan membakar semut dan serangga dengan api.
  4. 4- Anjuran bersikap lembut dan sayang kepada hewan serta keunggulan Islam dalam hal itu.
  5. 5- Kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada hewan.
  6. 6- Menyiksa dengan api termasuk kekhususan Allah ﷻ.
Rujukan

سنن أبي داود (4/ 309) (2675). نزهة المتقين، لمجموعة من الباحثين (2/ 1105). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (19/ 150). بهجة الناظرين، لسليم الهلالي (3/ 120). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (6/ 300).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com