Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah ada seorang nabi yang Allah utus pada suatu umat sebelumku kecuali ia memiliki para pengikut setia dan sahabat-sahabat yang mengamalkan sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian datang generasi pengganti setelah mereka yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan tangannya, maka ia seorang mukmin. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan lisannya, maka ia seorang mukmin. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan hatinya, maka ia seorang mukmin. Tidak ada keimanan pada selain itu meskipun sekecil biji sawi."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa tidak ada seorang nabi yang diutus oleh Allah pada suatu umat sebelumnya kecuali ia memiliki pengikut-pengikut pilihan serta pejuang-pejuang yang ikhlas di antara umatnya, yang pantas menjadi generasi pengganti setelahnya; mereka mengikuti sunnahnya dan menaati perintahnya. Kemudian sepeninggal para pendahulu yang saleh itu, datanglah generasi yang tidak memiliki kebaikan; mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Oleh sebab itu, siapa yang berjuang melawan mereka dengan tangannya, maka ia seorang mukmin. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan lisannya, maka ia seorang mukmin. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan hatinya, ia adalah seorang mukmin. Tidak ada keimanan di balik itu meskipun sekecil biji sawi.
Faedah
1- Motivasi untuk melawan orang-orang yang menyelisihi syariat dalam perkataan dan perbuatan mereka.
2- Tidak mengingkari kemungkaran dengan hati menunjukkan kelemahan atau kehilangan iman.
3- Allah Ta'ala memberi kemudahan kepada para nabi dengan memunculkan generasi yang akan mengemban tugas mereka sepeninggal mereka.
4- Orang yang menginginkan keselamatan harus mengikuti jalan para nabi karena semua jalan selain jalan mereka adalah kebinasaan dan kesesatan.
5- Semakin jauh dari masa Nabi ﷺ dan sahabat-sahabatnya, manusia semakin meninggalkan Sunnah, mengikuti hawa nafsu, dan mengadakan bidah.
6- Menjelaskan tingkatan-tingkatan jihad, yaitu: - Jihad dengan tangan bagi orang yang memiliki kemampuan mengubahnya, seperti jajaran pemerintah, hakim, dan penguasa. - Jihad dengan perkataan, yaitu dengan menerangkan kebenaran dan berdakwah kepadanya. - Jihad dengan hati, yaitu dengan mengingkari kemungkaran dalam hati, tidak menyukai ataupun menerimanya.
7- Kewajiban amar makruf dan nahi mungkar.
Rujukan
صحيح مسلم (1/ 69) (50).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 276).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص148).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (4/ 16).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 209).
عن طارق بن شهاب البجلي الأحمسي رضي الله عنه أنّ رجُلًا سأل النبي صلى الله عليه وسلم وقد وضَع رِجله في الغَرْزِ: أَيُّ الجهاد أفضل؟ قال: «كَلِمَةُ حَقًّ عِند سُلطَان جَائِرٍ».
Dari Ṭāriq bin Syihāb Al-Bujali Al-Aḥmasi -raḍiyallāhu 'anhu- "Bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- padahal dia sudah meletakkan kakinya pada pelana, "Jihad apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Mengucapkan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan
Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- padahal dia sudah bersiap-siap untuk melakukan safar. "Jihad apa yang paling banyak pahalanya?" Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahunya tentang jihad yang paling utama, yaitu menyuruh yang maruf kepada penguasa yang zalim atau melarangnya dari kemungkaran. Jihad tidak hanya terbatas berperang melawan orang-orang kafir, tetapi jihad itu memiliki beberapa tingkatan. Yang disebutkan di sini adalah jihad yang banyak pahalanya, karena hal itu sangat berpotensi untuk terjadinya pembunuhan atau penahanan disebabkan kezaliman penguasa dan sedikitnya orang yang berani melakukannya.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الدمام، الطبعة: الأولى 1415هـ.
تطريز رياض الصالحين، فيصل بن عبد العزيز المبارك، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى 1423هـ، 2002م.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، محمد علي بن البكري بن علان، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، الطبعة: الرابعة 1425هـ.
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى 1428هـ.
سلسلة الأحاديث الصحيحة وشيء من فقهها وفوائدها، محمد ناصر الدين الألباني، مكتبة المعارف للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى لمكتبة المعارف، 1422هــ.
الشرح الممتع على زاد المستقنع، محمد بن صالح العثيمين، دار ابن الجوزي، الطبعة: الأولى 1422، 1428هـ.
شرح رياض الصالحين، محمد بن صالح العثيمين، دار الوطن، الرياض، الطبعة: 1426هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، كنوز إشبيليا، الرياض، الطبعة: الأولى 1430هـ.
المجتبى من السنن (السنن الصغرى)، أحمد بن شعيب النسائي، تحقيق: عبد الفتاح أبو غدة، مكتب المطبوعات الإسلامية، حلب، الطبعة: الثانية 1406هـ.
مسند الإمام أحمد بن حنبل، أحمد بن حنبل أبو عبدالله الشيباني، تحقيق: شعيب الأرنؤوط و عادل مرشد، وآخرون، تحت إشراف: عبد الله بن عبد المحسن التركي، مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى 1421هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الرابعة عشر 1407هـ.
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com