Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Hukum-hukum seputar Majidilharam, Masjid Nabawi dan Baitul Maqdis

6 hadis

Tidak ada hijrah setelah pembebasan (Makkah), tetapi ada jihad dan niat. Jika kalian disuruh untuk pergi berjihad, maka pergilah.

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم فتح مكة: «لا هجرة بعد الفتح، ولكن جهاد ونية. وإذا اسْتُنْفِرْتُم فَانْفِرُوا. وقال يوم فتح مكة: «إن هذا البَلد حَرَّمَهُ الله يوم خلق الله السموات والأرض، فهو حَرَامٌ بحُرْمَةِ الله إلَى يوم القيامة، وإنه لم يحل القتال فيه لِأَحَدٍ قَبْلِي، ولم يَحِلَّ لي إلا ساعة من نهار، حرام بِحرمة الله إلى يوم القيامة، لا يُعْضَدُ شَوْكُهُ، وَلاَ يُنَفَّرُ صَيْدُهُ، وَلاَ يَلْتَقِطُ لُقَطَتَهُ إلا من عَرَّفَهَا، ولاَ يُخْتَلَى خَلاَهُ». فقال العباس: يا رسول الله، إلا الإِذْخِرَ؛ فإنه لِقَيْنِهِمْ وبيوتهم؟ فقال: «إلا الإِذْخِرَ».
Dari Abdullah bin Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda pada hari pembebasan Makkah, "Tidak ada hijrah setelah pembebasan (Makkah), tetapi ada jihad dan niat. Jika kalian disuruh untuk pergi berjihad, maka pergilah." Beliau bersabda pada hari pembebasan Makkah, "Sesungguhnya negeri ini telah diharamkan Allah pada hari di mana Allah menciptakan langit dan bumi. Ia haram dengan pengharaman Allah sampai pada hari kiamat. Sesungguhnya tidak dihalalkan berperang di dalamnya bagi seorang pun sebelumku, dan tidak dihalalkan bagiku kecuali sesaat di siang hari. Ia haram dengan pengharaman Allah sampai hari kiamat. Durinya tidak boleh dipotong, binatang buruannya tidak boleh diganggu, barang temuannya tidak boleh dipungut kecuali oleh orang yang ingin mengumumkannya, dan rumputnya tidak boleh dipotong." Al-Abbās berkata, "Wahai Rasulullah, kecuali tanaman Al-Iżkhir, karena ia untuk pandai besi dan rumah-rumah (penduduk Makkah)?" Beliau bersabda, "Kecuali Al-Iżkhir."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Abdullah bin Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berpidato pada hari pembebasn Makkah. Beliau bersabda, "Tidak ada hijrah," yakni dari Makkah, karena ia sudah menjadi negara Islam. Tetapi yang tersisa adalah jihad dan perintah bagi orang yang diminta keluar untuk berjihad, hendaknya ia keluar demi ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan pemerintahnya. Selanjutnya beliau menyebutkan keharaman Makkah dan itu sudah ditetapkan sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Makkah tidak dihalalkan untuk seorang pun sebelum Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tidak dihalalkan untuk seorang pun setelahnya. Sesungguhnya ia hanya dihalalkan bagi beliau sesaat di siang hari, selanjutnya kembali menjadi haram. Kemudian beliau menyebutkan keharaman Makkah bahwa pohon tanah haram tidak boleh ditebang, binatang buruannya tidak boleh diganggu, barang temuannya tidak boleh dipungut kecuali oleh orang yang ingin mengumumkannya, dan tanaman serta rumputnya tidak boleh dibabat, tapi ada pengecualian yaitu tanaman Al-iżkhir untuk kepentingan penduduk Makkah.

Rujukan

عمدة الأحكام، تأليف: عبد الغني بن عبد الواحد المقدسي، تحقيق: محمود الأرناؤوط، دار الثقافة العربية ومؤسسة قرطبة، الطبعة الثانية، 1408هـ. تيسير العلام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق محمد صبحي بن حسن حلاق، مكتبة الصحابة ومكتبة التابعين، الطبعة العاشرة، 1426 هـ. تأسيس الأحكام شرح عمدة الأحكام، تأليف: أحمد بن يحي النجمي: نسخة إلكترونية لا يوجد بها بيانات نشر. تنبيه الأفهام شرح عمدة الإحكام، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، مكتبة الصحابة ومكتبة التابعين، الطبعة الأولى: 1426هـ. صحيح البخاري ، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري ، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ada lima macam binatang yang semuanya fasik (jahat), diperbolehkan untuk dibunuh di tanah haram ‎‎(Makkah dan Madinah): Burung gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus dan al-kalbul ‘aqūr (anjing ganas).

عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «خمسٌ من الدَّوَابِّ كُلُّهُنَّ فَاسِقٌ، يُقْتَلنَ في الحَرَمِ: الغرابُ، وَالحِدَأَةُ، وَالعَقْرَبُ، وَالفَأْرَةُ، وَالكَلْبُ العَقُورُ». وفي رواية: « يقتل خَمْسٌ فَوَاسِق في الْحِلِّ وَالْحَرَمِ ».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ada lima macam binatang yang semuanya fasik (jahat), diperbolehkan untuk dibunuh di tanah haram ‎‎(Makkah dan Madinah): Burung gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus dan al-kalbul ‘aqūr (anjing ganas). Dalam suatu riwayat disebutkan: Diperbolehkan membunuh lima jenis binatang yang bersifat fasik (jahat) di tanah halal dan di tanah haram (Makkah dan Madinah).
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Di dalam hadis ini, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menginformasikan bahwa ‎Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kita untuk membunuh lima ‎macam binatang buas, semuanya bertabiat mengganggu dan ‎membahayakan, baik di tanah halal maupun di tanah haram (Makkah dan ‎Madinah). Kemudian beliau menjelaskan kelima binatang tersebut ‎dengan sabda beliau: Burung gagak, rajawali, kalajengking, tikus, ‎dan al-kalbul ‘aqūr (anjing ganas). Inilah kelima jenis hewan tersebut, disifatkan dengan al-fisq ‎‎(jahat) karena hewan tersebut keluar dari tabiat kebanyakan hewan. Beliau memperingatkan dengan menyebut beberapa jenis ‎hewan saja karena gangguan dan bahayanya berbeda-beda. Maka hewan-hewan lain yang ‎serupa dalam hal gangguan dan bahayanya juga termasuk di dalamnya. Jadi hewan tersebut boleh ‎dibunuh karena gangguan dan bahayanya, maka sungguh tanah Haram tidak ‎dapat melindunginya dan keadaan ihram (yang seharusnya tidak boleh membunuh ‎hewan) tidak dapat menghindarkannya (dari perintah membunuhnya).

Rujukan

عمدة الأحكام، تأليف: عبد الغني بن عبد الواحد المقدسي، تحقيق: محمود الأرناؤوط، دار الثقافة العربية ومؤسسة قرطبة، الطبعة الثانية، 1408هـ. تيسير العلام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق محمد صبحي بن حسن حلاق، مكتبة الصحابة ومكتبة التابعين، الطبعة العاشرة، 1426هـ. تأسيس الأحكام شرح عمدة الأحكام، تأليف: أحمد بن يحي النجمي: نسخة إلكترونية لا يوجد بها بيانات نشر. تنبيه الأفهام شرح عمدة الإحكام، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، مكتبة الصحابة ومكتبة التابعين، الطبعة الأولى: 1426هـ. صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى 1422هـ. صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، الناشر: دار إحياء التراث العربي، بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Madinah adalah tanah haram (suci) antara 'Īr sampai Ṡaur. Siapa yang melakukan hal bidah (melakukan kezaliman) di dalamnya atau melindungi pembuat bidah (orang zalim), maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan tebusan darinya.

عن يزيد بن شريك بن طارق، قال: رأيت عليًّا رضي الله عنه على المنبر يخطب، فسمعته يقول: لا والله ما عندنا من كتاب نقرؤه: إلا كتاب الله، وما في هذه الصَّحِيفَةِ، فنشرها؛ فإذا فيها: أَسْنَانُ الإبل، وأشياء من الجِرَاحَاتِ. وفيها: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «المدينة حَرَمٌ ما بين عَيْرٍ إلى ثَوْرٍ، فمن أحدث فيها حَدَثًا، أو آوى مُحْدِثًا؛ فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين، لا يقبل الله منه يوم القيامة صَرْفًا ولا عَدْلًا. ذِمَّةُ المسلمين واحدة، يسعى بها أَدْنَاهُم، فمن أَخْفَرَ مسلما، فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين، لا يقبل الله منه يوم القيامة صَرْفًا ولا عَدْلًا. ومن ادعى إلى غير أبيه، أو انتمى إلى غير مواليه، فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين؛ لا يقبل الله منه يوم القيامة صَرْفًا ولا عَدْلًا».
Dari Yazīd bin Syuraik bin Ṭāriq, ia berkata, "Aku melihat Ali -raḍiyallāhu 'anhu- di atas mimbar sedang berkhotbah lalu aku mendengar dia berkata, "Tidak, demi Allah, kita tidak memiliki kitab untuk dibaca kecuali Kitabullah dan apa yang ada di lembaran ini." Lantas beliau membentangkannya, ternyata di dalamnya berupa pembahasan umur unta (untuk diyat), dan berbagai hal yang berkaitan dengan hukum melukai orang lain (jirāḥāt), serta di dalamnya ada (tulisan), "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Madinah adalah tanah haram (suci) antara 'Īr sampai Ṡaur. Siapa yang melakukan hal bidah (melakukan kezaliman) di dalamnya atau melindungi pembuat bidah (orang zalim), maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan tebusan darinya. Pemberian jaminan aman kaum muslimin itu satu meskipun ditangani oleh orang yang paling rendah di antara mereka. Siapa yang melanggar jaminan aman orang muslim maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan keadilan darinya. Siapa yang mengklaim nasabnya kepada selain bapaknya atau berafiliasi kepada selain tuannya maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan tebusan darinya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Ali -raḍiyallāhu 'anhu- berkata saat berkhotbah di atas mimbar, "Demi Allah, kita tidak memiliki kitab yang kami baca selain Kitabullah -'Azzā wa Jallā- kecuali kitab ini." Lantas dia membentangkannya, ternyata di dalamnya terdapat hukum diyat berkaitan usia-usia unta, dan masalah-masalah serta hukum-hukum tentang Jirāḥāt (melukai orang lain). Di dalamnya juga (disebutkan bahwa) Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa Madinah adalah tanah haram (suci) seperti Mekkah, yaitu antara gunung 'Īr sampai gunung Ṡaur. Siapa yang melakukan bidah di dalamnya mengenai agama atau menyebabkan terjadinya tindakan menyakiti kaum muslimin berupa kejahatan atau kezaliman atau melindungi pembuat bidah, maka baginya laknat Allah dengan terhalangnya dari rahmat dan permintaan rahmat untuknya oleh para malaikat dan manusia seluruhnya kepada Allah -Ta'ālā-, dan pada hari kiamat Allah tidak akan menerima ibadah wajib, sunah, taubat, dan tebusan darinya. Juga bahwasanya pemberian rasa aman oleh orang muslim kepada orang kafir adalah sah dengan beberapa syarat yang sudah diketahui. Jika syarat-syarat itu ada, maka dia haram untuk diganggu. Siapa yang melanggar amanah jaminan orang muslim dan mengganggu orang kafir yang telah diberi rasa aman maka bagi orang itu laknat Allah dengan terhalangnya mendapatkan rahmat, dan permohonan rahmat untuknya oleh para malaikat dan manusia seluruhnya kepada Allah -Ta'ālā-, dan pada hari kiamat Allah tidak akan menerima ibadah wajib, sunah, taubat, dan tebusan darinya. Siapa yang menyandarkan -garis keturunan- kepada selain bapaknya atau budak yang dimerdekakan kepada selain tuannya maka baginya laknat Alah dengan terhalangnya dari rahmat dan permohonan rahmat untuknya oleh para malaikat dan manusia seluruhnya kepada Allah -Ta'ālā-, dan pada hari kiamat Allah tidak akan menerima ibadah wajib, sunah, taubat, dan tebusan darinya karena hal itu mengandung pengingkaran terhadap nikmat, menyia-nyiakan hak warisan, wala`, denda (diyat), dan lain sebagainya, di samping hal itu juga mengandung tindakan memutuskan silaturahmi dan kedurhakaan.

Rujukan

صحيح البخاري -أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة الجعفي البخاري - تحقيق محمد زهير بن ناصر الناصر -الناشر : دار طوق النجاة -الطبعة: الأولى 1422هـ. صحيح مسلم المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د/ مصطفى الخن، د/ مصطفى البغا، محيي الدين مستو، علي الشربجي، محمد أمين لطفي، مؤسسة الرسالة، ط:الرابعة عشر1407. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، تأليف سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي. رياض الصالحين، تأليف محيي الدين النووي، تحقيق عصام موسى هادي، ط: وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية بدولة قطر. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لابن علان، نشر دار الكتاب العربي.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- telah melindungi kota Makkah dari (serangan) pasukan bergajah dan menguasakannya kepada Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin. Sesungguhnya Makkah tidak halal bagi seorang pun sebelumku dan tidak halal pula bagi seorang pun setelahku. Hanya saja dihalalkan bagiku sesaat pada siang hari. Dan sesungguhnya Makkah pada saat ini (kembali) kesuciannya.

عن أبي هُريرة رضي الله عنه قال: «لَمَّا فَتَحَ الله -تَعَالَى- عَلَى رَسُولِهِ مَكَّةَ قَتَلَتْ خزاعةُ رَجُلاً مِنْ بَنِي لَيْثٍ بِقَتِيلٍ كَانَ لَهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَامَ النبي صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: إنَّ الله عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الْفِيلَ، وَسَلَّطَ عَلَيْهَا رَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ، وَإِنَّهَا لَمْ تَحِلَّ لأَحَدٍ كَانَ قَبْلِي، وَلا تَحِلُّ لأَحَدٍ بَعْدِي، وَإِنَّمَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، وَإِنَّهَا سَاعَتِي هَذِهِ: حَرَامٌ، لا يُعْضَدُ شَجَرُهَا، وَلا يُخْتَلَى خَلاهَا، وَلا يُعْضَدُ شَوْكُهَا، وَلا تُلْتَقَطُ سَاقِطَتُهَا إلاَّ لِمُنْشِدٍ، وَمَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيلٌ: فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ: إمَّا أَنْ يَقْتُلَ، وَإِمَّا أَنْ يُودِيَ، فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ- يُقَالُ لَهُ: أَبُو شَاهٍ فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله، اُكْتُبُوا لِي فَقَالَ رَسُولُ الله: اُكْتُبُوا لأَبِي شَاهٍ، ثُمَّ قَامَ الْعَبَّاسُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله، إلاَّ الإذْخِرَ، فَإِنَّا نَجْعَلُهُ فِي بُيُوتِنَا وَقُبُورِنَا، فَقَالَ رَسُولُ الله: إلاَّ الإِذْخِرَ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ketika Allah -Ta'ālā- nmembebaskan kota Makkah untuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Bani Khuzā'ah membunuh seorang dari Bani Laiṡ karena balas dendam seseorang yang dibunuh pada masa Jahiliah. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- telah melindungi kota Makkah dari (serangan) pasukan bergajah dan menguasakannya kepada Rasul-Nya danorang-orang Mukmin. Sesungguhnya Makkah tidak halal bagi seorang pun sebelumku dan tidak halal pula bagi seorang pun setelahku. Hanya saja dihalalkan bagiku sesaat pada siang hari. Dan sesungguhnya Makkah pada saat ini (kembali) kesucianya; tidak boleh di tebang pohonnya, tidak boleh dicabut rerumputannya, tidak boleh dipatahkan durinya, dan tidak boleh dipungut barang milik orang lain yang jatuh, kecuali orang yang sanggup mengumumkannya. Siapa yang keluarganya ada yang menjadi korban pembunuhan, maka ia punya dua opsi; ia boleh membunuh (qiṣāṣ) atau (si pembunuh) membayar diat," Lantas seseorang dari Yaman yang bernama Abu Syāh berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah! Tuliskan (undang-undang ini) untuk saya." Beliau bersabda, "Tuliskanlah untuk Abu Syāh." Kemudian Al-Abbās berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, kecuali iżkhir, karena kita menjadikannya untuk keperluan rumah kita dan juga kuburan kita." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "kecuali iżkhir."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Abu Hurairah menceritakan bahwa ketika pembebasan kota Makkah berlangsung, ada seseorang dari Bani Khuzā'ah membunuh seseorang dari Bani Hużail sebagai bentuk balas dendam adanya korban pembunuhan dari Bani Khuzā'ah saat masih Jahiliah dahulu. Abu Hurairah juga menceritakan bahwa pada hari itu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhutbah mengenai kesucian kota Makkah; bahwa Allah telah menyelamatkannya dari pasukan bergajah milik raja Abrahah dan membolehkan kepada Rasulullah hanya sesaat untuk memberikan hukuman kepada musuh. Kata "as-sā'ah" yang dimaksud bukanlah waktu yang terbatas dengan hitungan menit. Namun yang dimaksud adalah beberapa saat pada siang hari waktu pembebasan kota Makkah, karena waktu yang dihalalkan bagi Rasulullah adalah mulai pagi sampai Asar. Kemudian kesucian kota Makkah kembali lagi setelah itu seperti semula, yaitu tidak boleh di tebang pohonnya, tidak boleh dipatahkan durinya, tidak boleh dicabut rerumputannya yang tumbuh di tanah haram, kecuali iżkhir, dan tidak boleh dipungut barang milik orang lain yang jatuh, kecuali orang yang sanggup mengumumkannya.

Rujukan

صحيح البخاري، تحقيق زهير الناصر، دار طوق النجاة، ط 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي. تأسيس الأحكام للنجمي، دار المنهاج ،1427هـ. تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام، دار الصحابة، الشارقة، الطبعة الأولى 1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan dan di antaranya ada empat bulan yang suci. Tiga berturut-turut, yaitu Zulqa'dah, Zulhijjah dan Muharram. Sedangkan keempatnya adalah bulan Rajab Muḍar.

عن أبي بكرة -ضي الله عنه- مرفوعاً: «إِنَّ الزمانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ والأَرْضَ: السنةُ اثنا عَشَرَ شَهْرًا، منها أربعةٌ حُرُمٌ: ثلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ، وذُو الحَجَّةِ، والمحرمُ، ورَجَبُ مُضَرَ الذي بين جُمَادَى وشَعْبَانَ، أَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟» قلنا: اللهُ ورسولُهُ أَعْلَمُ، فسكتَ حتى ظننا أنه سَيُسَمِّيهِ بغير اسمه، قال: «أَلَيْسَ ذَا الحَجَّةِ؟» قُلْنَا: بَلَى. قال: «فأَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟» قلنا: اللهُ ورسولُهُ أَعْلَمُ، فسكتَ حتى ظننا أنه سُيَسَمِّيهِ بغير اسمه. قال: «أَلَيْسَ البَلْدَةَ؟» قلنا: بلى. قال: «فأَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟» قُلْنَا: اللهُ ورسولُهُ أَعْلَمُ، فسكتَ حتى ظَنَنَّا أنه سيسميه بغير اسمه. قال: «أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ؟» قلنا: بَلَى. قال: «فَإِّنَّ دِمَاءَكُمْ وأَمْوَالَكُمْ وأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا في بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، وَسَتَلْقَونَ رَبَّكُمْ فَيَسْأَلُكُمْ عَنْ أَعْمَالِكُمْ، أَلَا فَلَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُم رِقَابَ بَعْضٍ، أَلَا لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ، فَلَعَلَّ بَعْضَ مَنْ يَبْلُغُهُ أَنْ يكونَ أَوْعَى لَهُ مِنْ بَعْضِ مَنْ سَمِعَهُ»، ثُمَّ قال: «أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ، أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟» قلنا: نعم. قال: «اللَّهُمَّ اشْهَدْ».
Dari Abu Bakrah -raḍiyallāhu 'anhu-, "Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan dan di antaranya ada empat bulan yang suci. Tiga berturut-turut, yaitu Zulqa'dah, Zulhijjah dan Muharram. Sedangkan keempatnya adalah bulan Rajab Muḍar antara Jumada dan Sya'ban." (Kemudian Nabi bertanya) "Bulan apakah sekarang?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau pun kemudian berdiam diri, sehingga kami menyangka bahwa beliau akan memberinya nama lain, selain dari nama yang biasa. Beliau bertanya lagi, "Bukankah ini bulan Zulhijjah?" Kami menjawab, "Ya, benar." Beliau bersabda lagi, "Negeri apakah ini?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau terdiam lagi sehingga kami menyangka bahwa beliau akan memberinya nama lain selain dari nama yang biasa. Kemudian beliau bersabda, "Bukankah ini tanah haram?" Kami menjawab, "Benar." Beliau bertanya lagi, "Hari apakah ini?' Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Kemudian beliau berdiam diri sehingga kita menyangka kalau beliau akan memberinya nama lain lagi selain dari namanya yang biasa. Lalu beliau bersabda, "Bukankah hari ini hari Nahr?" Kami menjawab, "Benar." Beliau bersabda lagi, "Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian semua sebagaimana keharaman hari kalian ini, di negeri kalian ini dan di dalam bulan kalian ini. Dan kalian semua akan menemui Rabb kalian semua lalu Dia akan menanyakan kepada kalian tentang amalan-amalan kalian. Ingatlah, janganlah kalian kembali menjadi orang-orang kafir sepeninggalku nanti, saling membunuh tanpa dasar kebenaran. Ingatlah, hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Mungkin saja sebagian orang yang diberi tahu akan lebih paham daripada sebagian orang yang mendengar langsung." Kemudian beliau bersabda, "Ingatlah, apakah aku telah menyampaikan ini? Ingatlah, apakah aku telah menyampaikan ini?" Kami menjawab, "Benar." Beliau bersabda lagi, "Ya Allah, saksikanlah!"
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berpidato pada hari Nahr (kurban), dan ini terjadi pada haji Wadak. Beliau mengabarkan bahwa zaman secara kebetulan pada tahun itu An-Nasī` (penundaan bulan haram) menjadi sesuai dengan apa yang telah disyariatkan oleh Allah -'Azza wa Jalla- di bulan-bulan haram. Sebab, pada masa jahiliyah sudah berubah dan diganti, yaitu ketika mereka melakukan An-Nasī` sehingga mereka menghalalkan bulan yang haram dan mengharamkan bulan yang halal. Hanya saja setelah itu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa bilangan bulan ada dua belas bulan, yaitu Muharram, Safar, Rabī'ul Awwal, Rabī'uṡ Ṡāni, Jumada Ula, Jumada Ṡāniah, Rajab, Sya'bān, Ramadan, Syawal, Zulqa'dah dan Zulhijah. Itulah bulan-bulan yang berjumlah dua belas bulan yang telah Allah tentukan sebagai bulan-bulan untuk ibadah sejak penciptaan langit dan bumi. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa dari dua belas bulan ini ada empat bulan haram; tiga bulan berturut-turut dan satu bulan terpisah. Tiga bulan yang berturut-turut itu ialah Zulqa'dah, Zulhijah dan Muharram. Allah menjadikannya bulan-bulan yang haram. Diharamkan di dalamnya pembunuhan, seseorang tidak boleh menganiaya orang lain di dalamnya. Sebab, bulan-bulan itu adalah bulan-bulan perjalanan manusia menuju ibadah haji ke Baitullah Al-Haram. Allah -'Azza wa Jalla- menjadikan bulan-bulan itu haram agar tidak terjadi peperangan di bulan-bulan ini saat manusia sedang berjalan menuju Baitullah Al-Haram. Inilah di antara kebijaksanaan Allah -'Azza wa Jalla-. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "bulan Rajab Muḍar antara Jumada dan Sya'ban." yaitu bulan keempat. Dulu, mereka pada zaman jahiliah menunaikan umrah di bulan ini sehingga mereka menjadikan bulan Rajab untuk umrah. Sedangkan bulan-bulan yang tiga untuk haji. Dengan demikian, bulan ini menjadi haram di mana diharamkan perang sebagaimana diharamkan di bulan Zulqa'dah, Zulhijjah, dan Muharram. Setelah itu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepada mereka, "Bulan apakah ini? Negeri apakah ini? Hari apakah ini?" Beliau menanyakan hal itu untuk menghadirkan semangat dan perhatian mereka, karena hal ini adalah hal yang agung. Beliau bertanya kepada mereka, "Bulan apakah sekarang?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Mereka heran Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya tentang bulan, padahal itu sudah diketahui, yaitu Zulhijjah. Hanya saja karena adab mereka, mereka tidak mengatakan, "Ini bulan Zulhijjah," karena hal ini sudah diketahui, tetapi begitu beradabnya, mereka mengatakan, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau pun kemudian berdiam diri, karena manusia itu apabila berbicara lalu diam, maka orang-orang akan memperhatikan. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diam. Abu Bakrah berkata, "Sehingga kami menyangka bahwa beliau akan memberinya nama lagi selain dari nama yang dikenal. Beliau bertanya lagi, "Bukankah ini bulan Zulhijjah?" Mereka menjawab, "Ya, benar." Beliau bersabda lagi, "Negeri apakah ini?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Mereka mengetahui bahwa itu Makkah, tapi karena adab dan penghormatan mereka kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mereka tidak mengatakan, "Ini sesuatu yang sudah dikenal, kenapa engkau menanyakannya?" Mereka justru mengatakan, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau terdiam lagi sehingga mereka menyangka bahwa beliau akan memberinya nama selain dari nama yang dikenal. Kemudian beliau bersabda, "Bukankah ini tanah haram?" Al-Baldah adalah salah satu nama Makkah. Mereka menjawab, "Benar." Beliau bertanya lagi, "Hari apakah ini?' Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Sebagaimana yang mereka katakan di awal. Lalu beliau bersabda, "Bukankah hari ini hari Nahr?" Mereka menjawab, "Benar, wahai Rasulullah." Mereka tahu bahwa Makkah adalah haram dan sesungguhnya bulan Zulhijjah itu haram, hari Nahr (kurban) itu haram. Yakni, semuanya waktu-waktu haram yang dihormati. Beliau bersabda lagi, "Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian semua sebagaimana keharaman hari kalian ini, di negeri kalian ini dan di dalam bulan kalian ini." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menegaskan pengharaman tiga hal tersebut: darah, harta dan kehormatan. Semuanya diharamkan. Darah mencakup jiwa dan apa yang ada di bawahnya. Harta mencakup sedikit dan banyak. Kehormatan mencakup zina, homoseksual, tuduhan dan mungkin saja mencakup gibah, celaan dan cercaan. Ketiga hal ini diharamkan bagi seorang muslim untuk menodainya dari saudaranya yang muslim. Selanjutnya beliau bersabda, "Ingatlah, janganlah kalian semua kembali menjadi orang-orang kafir sepeninggalku nanti, hingga saling membunuh tanpa dasar kebenaran!" Sebab, orang-orang muslim seandainya mereka saling membunuh satu dengan lainnya, maka mereka menjadi kafir, karena tidak ada yang menghalalkan darah orang muslim kecuali orang kafir. Berikutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan agar yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Yakni, hendaknya orang yang menyaksikan dan mendengarkan khotbahnya menyampaikannya kepada yang lainnya. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga mengabarkan bahwa mungkin saja orang yang diberi tahu akan lebih paham daripada orang yang mendengar langsung. Wasiat dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ini merupakan wasiat bagi orang yang hadir pada hari itu dan wasiat bagi orang yang mendengar hadisnya sampai hari kiamat. Kemudian beliau bersabda, "Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan ini? Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan ini?" Beliau bertanya kepada para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum-. Mereka menjawab, "Benar." Yakni, engkau telah menyampaikan. Beliau bersabda lagi, "Ya Allah, saksikanlah!"

Rujukan

نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الرابعة عشر، 1407ه 1987م. شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426ه. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، للهلالي، ط1، نشر: دار ابن الجوزي، 1415ه. صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Seorang wanita tidak boleh melakukan perjalanan sejauh dua hari kecuali bersama dengan suaminya atau seorang mahram

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -وَكَانَ غَزَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ غَزْوَةً- قَالَ: سَمِعْتُ أَرْبَعًا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَعْجَبْنَنِي، قَالَ: «لاَ تُسَافِرِ المَرْأَةُ مَسِيرَةَ يَوْمَيْنِ إِلَّا وَمَعَهَا زَوْجُهَا أَوْ ذُو مَحْرَمٍ، وَلاَ صَوْمَ فِي يَوْمَيْنِ: الفِطْرِ وَالأَضْحَى، وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، وَلاَ بَعْدَ العَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ، وَلاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى، وَمَسْجِدِي هَذَا».
Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, -ia sosok yang telah berperang bersama Nabi ﷺ sebanyak dua belas peperangan- ia berkata, "Aku mendengar dari Nabi ﷺ empat perkara dan menakjubkanku, beliau bersabda, "Seorang wanita tidak boleh melakukan perjalanan sejauh dua hari kecuali bersama dengan suaminya atau seorang mahram; tidak boleh berpuasa pada dua hari: Idulfitri dan Iduladha; tidak boleh salat setelah salat Subuh sampai matahari terbit dan setelah salat Asar sampai terbenam matahari; dan tidak boleh melakukan perjalan jauh (untuk tujuan ibadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidilharam, Masjidilaqsa, dan masjidku ini."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ melarang empat perkara: - Pertama: melarang perempuan melakukan perjalanan selama dua hari tanpa didampingi suami atau salah satu mahramnya, yaitu kerabat laki-laki yang haram menikahinya untuk selamanya seperti anak, ayah, anak saudara, anak saudari (keponakan), saudara ayah, saudara ibu (paman), dan semisalnya. - Kedua: larangan berpuasa pada hari Idulfitri dan Iduladha, baik puasa nazar, sunah, ataupun kafarat. - Ketiga: larangan salat sunah setelah salat Asar hingga matahari terbenam dan setelah salat Subuh hingga matahari terbit. - Keempat: larangan melakukan perjalanan jauh ke suatu tempat disertai keyakinan akan keutamaannya dan pelipatan pahala di sana selain tiga masjid. Tidak disyariatkan melakukan perjalanan jauh ke masjid lainnya untuk mengerjakan salat karena pahala tidak dilipatgandakan kecuali di ketiga masjid tersebut, yaitu Masjidilharam, Masjid Nabawi, dan Masjidilaqsa.

Faedah
  1. 1- Seorang perempuan tidak boleh melakukan perjalanan jauh tanpa mahram.
  2. 2- Perempuan bukan mahram bagi sesama perempuan dalam perjalanan. Hal ini berdasarkan sabda beliau, "... suami atau mahramnya."
  3. 3- Semua yang disebut perjalanan jauh (safar) maka perempuan dilarang melakukannya tanpa didampingi suami atau mahram, sedangkan hadis ini disesuaikan dengan keadaan penanya dan tempatnya.
  4. 4- Mahram seorang perempuan ialah suaminya atau yang haram menikahinya untuk selamanya lantaran suatu hubungan kekerabatan seperti ayah, anak, saudara ayah dan saudara ibu, atau sebab persusuan seperti ayah sesusuan dan paman sesusuan, ataupun sebab pernikahan seperti ayah suami (mertua). Dan mahram itu harus seorang muslim, balig, berakal, terpercaya, dan amanah. Karena tujuan dari mahram ialah melindungi perempuan, menjaganya, dan mengurus urusannya.
  5. 5- Perhatian besar syariat Islam kepada perempuan serta menjaga dan melindunginya.
  6. 6- Tidak sah salat sunah mutlak yang dikerjakan setelah salat Subuh dan Asar. Dikecualikan dari larangan ini mengqada salat fardu yang terlewatkan dan salat-salat sunah yang memiliki sebab seperti tahiyat masjid dan semisalnya.
  7. 7- Haram mengerjakan salat langsung setelah terbit matahari, tetapi harus menunggu sampai matahari tinggi seukuran satu tombak sekitar 10 -15 menit.
  8. 8- Waktu Asar terbentang hingga matahari tenggelam.
  9. 9- Hadis ini menunjukkan bolehnya melakukan perjalanan jauh ke tiga masjid tersebut.
  10. 10- Keutamaan dan keistimewaan tiga masjid tersebut atas masjid lainnya.
  11. 11- Tidak boleh melakukan perjalanan jauh untuk ziarah kubur walaupun itu kubur Nabi ﷺ, tetapi boleh menziarahinya bagi orang yang sedang ada di Madinah atau datang ke sana untuk tujuan yang disyariatkan atau yang dibolehkan.
Rujukan

صحيح البخاري (3/ 43) (1995). صحيح مسلم (2/ 975) (827). فتح الباري شرح صحيح البخاري، لابن حجر العسقلاني (4/ 75). توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، للبسام (3/ 544). فتح ذي الجلال والإكرام شرح بلوغ المرام، لابن عثيمين (3/ 311). سبل السلام، لمحمد الصنعاني (1/ 598). مجموع فتاوى ومقالات، لابن باز(6/ 321). الشرح الممتع على زاد المستقنع، لابن عثيمين (6/ 516). شرح سنن أبي داود، عبد المحسن العباد (65/ 8 بترقيم الشاملة آليا).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com