Hadis ini punya dua riwayat. Tampak dari konteksnya ada dua peristiwa, bukan satu. Yang pertama, Seorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mengabarkan bahwa ibunya wafat dan memiliki utang puasa sebulan, apakah boleh baginya menunaikannya? Yang kedua: seorang wanita datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mengabarkan bahwa ibunya wafat dan memiliki tangungan puasa nazar. Apakah boleh baginya berpuasa menggantikan ibunya? Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memfatwakan kepada keduanya untuk menunaikan tanggungan puasa orang tua mereka dan memberi permisalan yang menambah penjelasan maknanya. Yaitu: seandainya orang tua mereka memiliki utang pada seseorang, apakah keduanya harus membayar utang tersebut? Keduanya menjawab, tentu. Kemudian beliau menyampaikan bahwa puasa adalah utang terhadap Allah -Ta'ālā-, jika utang kepada manusia harus dibayar, maka utang kepada Allah tentunya lebih patut untuk dibayar.
عمدة الأحكام، تأليف: عبد الغني بن عبد الواحد المقدسي، تحقيق: محمود الأرناؤوط، دار الثقافة العربية ومؤسسة قرطبة، الطبعة الثانية، 1408هـ. تيسير العلام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق محمد صبحي بن حسن حلاق، مكتبة الصحابة ومكتبة التابعين، الطبعة العاشرة، 1426 هـ. تنبيه الأفهام شرح عمدة الإحكام، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، مكتبة الصحابة ومكتبة التابعين، الطبعة الأولى: 1426هـ. صحيح البخاري ، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري ، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ صحيح مسلم ، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.