Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Sunah-sunah Puasa

7 hadis

Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ».
Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi Muhammad ﷺ mengabarkan bahwa manusia akan selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa setelah memastikan matahari telah terbenam. Hal itu dalam rangka menjalankan Sunnah dan mengikuti batasannya.

Faedah
  1. 1- An-Nawawiy berkata, "Di dalamnya terkandung anjuran untuk menyegerakan berbuka setelah memastikan matahari telah terbenam. Maknanya, urusan umat akan senantiasa teratur dan mereka dalam kebaikan selama mereka memelihara Sunnah ini. Apabila mereka mengakhirkannya, hal itu menjadi petunjuk adanya kebinasaan yang mereka akan terjerumus ke dalamnya."
  2. 2- Bertahannya kebaikan pada umat dengan sebab mengikuti Sunnah dan rusaknya urusan mereka berkaitan dengan meninggalkan Sunnah.
  3. 3- Menyelisihi ahli kitab dan ahli bidah karena mereka mengakhirkan buka puasa.
  4. 4- Ibnu Ḥajar berkata, "Di dalamnya terdapat penjelasan tentang alasannya. Al-Muhallab berkata, 'Hikmahnya agar tidak menambahkan sebagian malam pada siang. Juga karena hal itu lebih bersahabat bagi orang yang berpuasa dan lebih kuat untuk beribadah. Tetapi, ulama sepakat bahwa hal itu berlaku jika kepastian matahari terbenam telah diperoleh melalui rukyat atau informasi dua orang yang terpercaya. Demikian juga kalau hanya satu orang yang terpercaya, menurut pendapat yang lebih kuat.'"
  5. 5- Ibnu Ḥajar berkata, "Peringatan: termasuk bidah yang mungkar adalah hal yang diadakan di zaman ini dalam bentuk melakukan azan kedua kira-kira sepertiga jam sebelum Subuh di bulan Ramadan dan mematikan lampu sebagai tanda berhenti makan dan minum bagi orang yang ingin puasa. Orang yang mencetuskannya mengklaim bahwa hal itu sebagai wujud sikap hati-hati dalam ibadah sementara yang mengetahuinya hanya segelintir orang. Hal itu menyeret mereka untuk tidak mengumandangkan azan Magrib kecuali setelah matahari terbenam satu derajat untuk lebih memastikan waktu berbuka, menurut mereka. Dengan demikian, mereka mengakhirkan buka puasa dan menyegerakan sahur, sekaligus menyelisihi Sunnah. Oleh karena itu, kebaikan berkurang dari mereka dan keburukan semakin bertambah di tengah mereka. Hanya Allah tempat memohon pertolongan."
Rujukan

صحيح البخاري (3/ 36) (1957). صحيح مسلم (2/ 771) (1098). تيسير العلام، لعبد الله البسام (ص335). تنبيه الأفهام شرح عمدة الإحكام، لابن عثيمين (3/ 442). خلاصة الكلام على عمدة الأحكام، لفيصل آل مبارك (ص155).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ kemudian beliau berdiri mengerjakan salat. Anas berkata, "Aku bertanya, 'Berapa jarak antara azan dan makan sahur?'" Ia menjawab, "Seukuran membaca lima puluh ayat

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاةِ، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً.
Zaid bin Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ kemudian beliau berdiri mengerjakan salat. Anas berkata, "Aku bertanya, 'Berapa jarak antara azan dan makan sahur?'" Ia menjawab, "Seukuran membaca lima puluh ayat."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- makan sahur bersama Nabi ﷺ lalu beliau berdiri untuk mengerjakan salat Subuh. Anas bertanya kepada Zaid bin Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhu-: Berapa jarak waktu antara azan dan selesai makan sahur? Zaid -raḍiyallāhu 'anhu- menjawab: seukuran membaca lima puluh ayat yang pertengahan; tidak panjang dan tidak pendek, tidak dengan bacaan cepat dan tidak lambat.

Faedah
  1. 1- Keutamaan mengakhirkan makan sahur hingga menjelang Subuh sebab ketika diakhirkan maka badan akan mendapatkan manfaat yang lebih besar dan manfaatnya di hari itu lebih banyak.
  2. 2- Antusiasme para sahabat agar berkumpul bersama Nabi ﷺ untuk belajar dari beliau.
  3. 3- Keindahan cara bergaul Nabi ﷺ dengan sahabat-sahabatnya, yaitu beliau makan bersama mereka.
  4. 4- Waktu imsak (berhenti makan) ialah saat terbit fajar.
  5. 5- Pertanyaan Anas: "Berapa jarak antara azan dan makan sahur?", maksudnya jarak antara makan sahur dan ikamat. Hal itu berdasarkan redaksi yang lain: "Berapa jarak antara mereka selesai makan sahur dan mereka mengerjakan salat." Hadis-hadis itu saling menafsirkan satu sama lain.
  6. 6- Al-Muhallab berkata, "Di dalamnya terdapat pengukuran waktu dengan pekerjaan badan. Begitulah bangsa Arab, mereka biasa mengukur waktu dengan pekerjaan. Semisal perkataan mereka: Seukuran memerah kambing dan seukuran menyembelih unta. Zaid bin Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhu- beralih dari kebiasaan itu lalu menggunakan ukuran bacaan, untuk menunjukkan bahwa waktu tersebut adalah waktu beribadah dengan membaca Al-Qur`an. Andaikan mereka hendak mengukur waktu dengan selain perkerjaan, maka ia akan mengatakan: seukuran satu derajat atau satu sepertiga jam.
  7. 7- Ibnu Abi Jamrah berkata, "Nabi ﷺ melihat apa yang paling mudah bagi umatnya lalu melakukannya karena apabila beliau tidak makan sahur maka mereka akan mengikutinya lalu akan memberatkan sebagian mereka. Seandainya beliau makan sahur di tengah malam, maka itu juga akan menyusahkan sebagian mereka yang ketiduran dan bisa jadi berdampak meninggalkan salat Subuh atau ia butuh berjuang untuk bergadang."
Rujukan

صحيح البخاري (3/ 29) (1921). صحيح مسلم (2/ 771) (1097). تيسير العلام، لعبد الله البسام (ص318). تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (3/ 418). خلاصة الكلام على عمدة الأحكام، لفيصل آل مبارك (ص147).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Makan sahurlah karena di dalam makanan sahur terdapat keberkahan

عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَسَحَّرُوا، فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً».
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Makan sahurlah karena di dalam makanan sahur terdapat keberkahan."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menganjurkan agar makan sahur, yaitu makan di akhir malam sebagai persiapan untuk berpuasa. Hal itu karena di dalamnya terkandung keberkahan, yaitu kebaikan yang banyak berupa pahala dan ganjaran, bangun di akhir malam untuk berdoa, menambah kekuatan dan semangat berpuasa, dan meringankan bebannya.

Faedah
  1. 1- Anjuran makan sahur dan menjalankan perintah syariat dengan melaksanakannya.
  2. 2- Ibnu Ḥajar berkata dalam Fatḥul-Bārī, "Keberkahan dalam sahur diperoleh dari banyak sisi, di antaranya sahur adalah mengikuti Sunnah, menyelisihi ahli kitab, menambah kekuatan untuk beribadah, menambah semangat, melawan perangai buruk yang dipicu oleh rasa lapar, menjadi sebab bersedekah kepada orang yang meminta di waktu itu atau yang ikut makan bersamanya, menjadi sebab berzikir dan berdoa di waktu yang potensial dikabulkan, serta mendapatkan niat puasa bagi orang yang tidak mengingatnya sebelum tidur."
  3. 3- Indahnya pengajaran Nabi ﷺ, yaitu beliau menggandengkan antara hukum dengan hikmah agar dada menjadi lapang dan keluhuran syariat dapat diketahui.
  4. 4- Ibnu Ḥajar berkata, "Makan sahur dapat terwujud dengan semua makanan dan minuman yang disantap oleh seseorang walaupun sedikit."
Rujukan

صحيح البخاري (3/ 29) (1923). صحيح مسلم (2/ 770) (1095). تيسير العلام، لعبد الله البسام (ص317). تنبيه الأفهام شرح عمدة الإحكام، لابن عثيمين (3/ 416).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Dua sahabat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang senantiasa melakukan kebaikan.

عن أبي عطية، قال: دخلت أنا ومسروق على عائشة رضي الله عنها ، فقالَ لها مسروقٌ: رجلانِ من أصحابِ محمدٍ صلى الله عليه وسلم كِلاَهُمَا لا يَألُو عَنِ الخَيْرِ؛ أحَدُهُمَا يُعَجِّلُ المَغْرِبَ وَالإفْطَارَ، وَالآخر يؤخِّر المغرب وَالإفْطَارَ؟ فَقَالَتْ: مَنْ يُعَجِّلُ المَغْرِبَ وَالإفْطَار؟ قالَ: عبدُ اللهِ -يعني: ابن مسعود- فقالتْ: هَكذا كانَ رسولُ اللهِ يَصْنَعُ.
Dari Abu 'Aṭiyyah, ia menuturkan, "Aku dan Masrūq menemui Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-. Lalu Masrūq berkata kepadanya, "Dua orang dari sahabat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang keduanya senantiasa melakukan kebaikan. Salah satu dari keduanya menyegerakan salat Magrib dan berbuka, sedang yang lain mengakhirkan salat Magrib dan berbuka." Ia bertanya, "Siapa yang menyegerakan salat Maghrib dan berbuka?" Ia menjawab, "Abdullah". Maksudnya Ibnu Mas'ud. Ia berkata, "Demikianlah dahulu Rasulullah melakukannya."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Abu 'Aṭiyyah dan Masrūq bertanya kepada Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- tentang dua orang dari sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, yang mana salah satu dari keduanya mengakhirkan waktu berbuka dan mengakhirkan salat magrib. Sementara orang kedua menyegerakan berbuka dan menyegerakan salat Magrib. Mana di antara keduanya yang lebih benar?" Aisyah bertanya, "Siapa orang yang menyegerakan ini?" Mereka menjawab, "Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-." Maka ia berkata, "Demikianlah dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukannya." Artinya, beliau biasa menyegerakan berbuka dan menyegerakan salat Magrib. Ini merupakan sunnah amaliyah beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang menunjukkan bahwa yang lebih utama adalah menyegerakan berbuka puasa.

Rujukan

شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426هـ. رياض الصالحين، للنووي، تحقيق: ماهر الفحل، دار ابن كثير - بيروت، الطبعة الأولى، 1428هـ - 2007م. صحيح مسلم, ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي, دار إحياء التراث العربي, بيروت. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ. تطريز رياض الصالحين، لفيصل بن عبد العزيز المبارك النجدي، تحقيق: عبد العزيز آل حمد, دار العاصمة, الطبعة الأولى، 1423هـ. كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا - الطبعة الأولى، 1430هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Perbedaan antara puasa kita dengan puasa ahli Kitab adalah makan sahur

عن عمرو بن العاص رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وصِيَامِ أهْلِ الكِتَابِ، أكْلَةُ السَّحَرِ».
Dari 'Amru bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Perbedaan antara puasa kita dengan puasa ahli Kitab adalah makan sahur."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dalam hadis ini Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa perbedaan antara puasa kita dengan puasa orang Yahudi dan Nasrani ada pada makanan yang disantap oleh kaum Muslimin di waktu sahur, karena ahli Kitab tidak makan sahur, sedangkan kaum Muslimin disunahkan makan sahur untuk membedakan mereka dari ahli Kitab dan merealisasikan Sunah, serta di dalamnya mengandung keberkahan dan kebaikan sebagaimana ditetapkan dalam Sunah. Ahli Kitab berpuasa sejak pertengahan malam. Mereka makan sebelum tengah malam dan tidak makan di waktu sahur. Perbedaan antara kaum Muslimin dan kaum kafir merupakan hal yang dituntut dalam syariat.

Rujukan

- شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426ه. - رياض الصالحين، للنووي، تحقيق: ماهر الفحل، دار ابن كثير - بيروت، الطبعة الأولى، 1428ه- 2007م. - صحيح مسلم, ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي, دار إحياء التراث العربي, بيروت. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين, مؤسسة الرسالة, الطبعة الرابعة عشر, 1407ه. - كنوز رياض الصالحين، نشر: دار كنوز إشبيليا، الطبعة الأولى، 1430ه - 2009م. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه. - المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج، للنووي، دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة الثانية، 1392.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Dahulunya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berbuka dengan beberapa ruṭab (kurma mengkal) sebelum salat (magrib).

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كان رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُفطِر قبْل أن يصلي على رُطَبات، فإن لم تكنْ رُطَباتٌ فَتُمَيْراتٌ، فإن لم تكنْ تُمَيْراتٌ، حَسَا حَسَواتٍ مِن ماء.
Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berbuka puasa dengan beberapa butir ruṭab (kurma mengkal) sebelum salat. Jika tidak ada ruṭab maka beliau berbuka dengan beberapa butir kurma. Jika tidak ada kurma, beliau hanya minum beberapa teguk air."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis hasan
Penjelasan

Dalam hadis ini Anas -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika puasa maka beliau berbuka dengan beberapa butir ruṭab (kurma mengkal) sebelum menunaikan salat magrib. Jika tidak ada ruṭab, beliau berbuka dengan beberapa butir kurma. Lalu jika tidak ada kurma, beliau minum beberapa teguk air. Langkah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memulai buka puasa dengan kurma atau air sangat tepat, karena orang yang puasa itu lambungnya kosong, maka jangan langsung diisi dengan makanan yang berlemak, supaya tidak membahayakan lambungnya.

Rujukan

سنن الترمذي، للإمام محمد بن عيسى الترمذي، تحقيق أحمد شاكر وآخرين، مكتبة الحلبي - مصر، الطبعة الثانية، 1388هـ. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير - دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ. سلسلة الأحاديث الصحيحة، للشيخ محمد ناصر الدين الألباني، مكتبة المعارف - الرياض، 1415هـ. شرح رياض الصالحين، للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ. فيض القدير شرح الجامع الصغير، تأليف عبدالرؤوف المناوي، دار الحديث - القاهرة. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة - بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ. سنن أبي داود, أبو داود سليمان بن الأشعث السِّجِسْتاني, المحقق: محمد محيي الدين عبد الحميد, المكتبة العصرية، صيدا – بيروت. مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى، 1421هـ - 2001م. فيض القدير شرح الجامع الصغير, زين الدين محمد المدعو علي بن زين العابدين, الناشر: المكتبة التجارية الكبرى - مصر, الطبعة الأولى، 1356. زاد المعاد في هدي خير العباد, ابن قيم الجوزية, الناشر: مؤسسة الرسالة، بيروت - مكتبة المنار الإسلامية، الكويت, الطبعة: السابعة والعشرون, 1415هـ - 1994م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa memberi hidangan buka puasa kepada orang yang berpuasa maka dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa

عن زيد بن خالد الجهني رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: «مَنْ فَطَّرَ صائمًا، كان له مِثْلُ أجْرِهِ، غَيْرَ أنَّهُ لاَ يُنْقَصُ مِنْ أجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ».
Dari Zaid bin Khālid Al-Juhanī -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam-, beliau bersabda, “Siapa memberi hidangan buka puasa kepada orang yang berpuasa maka dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh DārimiDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dalam hadis ini terdapat penjelasan keutamaan memberi iftar (hidangan buka puasa) bagi orang yang berpuasa, serta anjuran dan motivasi untuk melakukannya, dan bahwasanya orang yang melakukannya dituliskan baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang yang berpuasa tersebut. Ini merupakan anugerah besar dari Allah untuk hamba-hamba-Nya, karena di dalamnya terdapat spirit tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, memupuk rasa saling cinta dan solidaritas sesama Muslim. Menurut teks hadis ini bahwa seseorang yang memberi hidangan buka puasa, meskipun hanya sebiji kurma maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa. Untuk itu, seharusnya setiap insan berusaha sekuat tenaga memberi hidangan buka puasa kepada orang yang berpuasa sesuai kesanggupannya, apalagi bila mereka memang sangat membutuhkan karena miskin atau karena tidak ada orang lain yang bisa menyiapkan makanan buka puasa bagi mereka.

Rujukan

- الجامع الصحيح –وهو سنن الترمذي-؛ للإمام محمد بن عيسى الترمذي، تحقيق أحمد شاكر وآخرين، مكتبة الحلبي-مصر، الطبعة الثانية، 1388هـ. - رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ. - سنن ابن ماجه؛ للحافظ محمد بن يزيد القزويني، حققه محمد فؤاد عبدالباقي، دار إحياء الكتب العربية. - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ. - المسند؛ للإمام أحمد بن حنبل، نشر المكتب الإسلامي-بيروت، مصور عن الطبعة الميمنية. - مسند الدارمي –المعروف بـ: سنن الدارمي-؛ للإمام عبدالله بن عبدالرحمن الدارمي، تحقيق حسين سليم، دار المغني-الرياض، الأولى، 1421هـ. - مشكاة المصابيح؛ تأليف محمد بن عبدالله التبريزي، تحقيق محمد ناصر الدين الألباني، المكتب الإسلامي-بيروت، الطبعة الثانية، 1399هـ. - مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى، 1421هـ - 2001م. - بهجة الناظرين, وهي كالتالي: بهجة الناظرين, سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي ، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين, محمد علي بن محمد البكري الصديقي الشافعي, اعتنى بها: خليل مأمون شيحا, الناشر: دار المعرفة للطباعة والنشر والتوزيع، بيروت – لبنان, الطبعة: الرابعة، 1425 هـ - 2004 م. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين, مصطفى سعيد الخن، مصطفى البغا، محي الدين مستو، علي الشربجي، محمد أمين لطفي, مؤسسة الرسالة, سنة النشر: 1407 – 1987.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com