عن أنس رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل على ابنه إبراهيم رضي الله عنه وهو يجود بنفسه، فجعلت عينا رسول الله صلى الله عليه وسلم تذرفان. فقال له عبد الرحمن بن عوف: وأنت يا رسول الله؟! فقال: «يا ابن عوف إنها رحمة» ثم أتبعها بأخرى، فقال: «إن العين تدمع والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يرضي ربنا، وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang menemui puteranya; Ibrahim -raḍiyallāhu 'anhu- saat dia sedang sekarat, maka kedua mata Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bercucuran air mata. Abdurrahman bin Auf berkata kepada beliau, "Dan engkau ya Rasulullah (juga menangis)?! Maka beliau bersabda, "Wahai Ibnu Auf, ini adalah sifat rahmat/sayang." Kemudian saya perhatikan ucapan berikutnya, "Sesungguhnya mata ini menangis dan hati merasa sedih dan tidak ada yang kami katakan selain yang membuat Tuhan kami rida. Sungguh berpisah denganmu wahai Ibrahim adalah kesedihan."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk menemui puteranya; Ibrahim -raḍiyallāhu 'anhu- saat dia mendekati ajalnya. Maka mengalirlah air mata Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Berkatalah Abdurrahman bin Auf, Apakah engkau juga wahai Rasulullah? Dia heran, sebab Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menganjurkan orang-orang untuk bersabar dan melarang meratap saat ditimpa musibah, namun beliau bersikap seperti sikap orang-orang itu (menangis). Maka beliau menjawab bahwa hal itu adalah bentuk kasih sayang yang engkau saksikan dariku, pertanda lembutnya hati terhadap anak. Kemudian dia lanjutkan sabda berikutnya, "Sungguh mata ini menangis dan sungguh kami merasa sedih dengan berpisah darimu wahai Ibrahim." Rasa kasih sayang tidak menafikan kesabaran dan iman terhadap takdir.
Rujukan
صحيح البخاري، دار ابن كثير ، اليمامة – بيروت، الطبعة الثالثة ، 1407ه.
صحيح مسلم, ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي, دار إحياء التراث العربي, بيروت.
مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح-، لعلي الملا الهروي القاري -الناشر: دار الفكر، بيروت - لبنان - الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين, مؤسسة الرسالة, الطبعة الرابعة عشر, 1407ه.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين لمحمد بن علان الصديقي, دار الكتاب العربي.
كنوز رياض الصالحين بإشراف حمد العمار, دار كنوز إشبيليا, الطبعة الأولى, 1430ه.
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي, دار ابن الجوزي.
شرح رياض الصالحين لابن عثيمين , دار مدار الوطن للنشر، الرياض, الطبعة : 1426 هـ.
فتح الباري شرح صحيح البخاري، لابن حجر العسقلاني -الناشر: دار المعرفة - بيروت، 1379 - رقم كتبه وأبوابه وأحاديثه: محمد فؤاد عبد الباقي-قام بإخراجه وصححه وأشرف على طبعه: محب الدين الخطيب.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أنس رضي الله عنه قال: كان ابن لأبي طلحة رضي الله عنه يشتكي، فخرج أبو طلحة، فَقُبِضَ الصَّبي، فلما رجع أبو طلحة، قال: ما فعل ابني؟ قالت أم سليم وهي أم الصَّبي: هو أسْكَن ما كان، فَقَرَّبَت إليه العشاء فتَعَشَّى، ثم أصاب منها، فلما فَرَغ،َ قالت: وارُوا الصَّبي فلما أصبح أبو طلحة أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبره، فقال:«أعَرَّسْتُمُ اللَّيلَةَ؟» قال: نعم، قال: «اللَّهُمَّ بارِك لهما»، فولدت غلامًا، فقال لي أبو طلحة: احْمِلْهُ حتى تأتي به النبي صلى الله عليه وسلم وبعث معه بتمرات، فقال: «أمَعَه شيء؟» قال: نعم، تَمَرات، فأخذها النبي صلى الله عليه وسلم فمَضَغَها، ثم أخذها من فِيه فجعلها في فِيِّ الصَّبي، ثم حَنَّكَهُ وسماه عبد الله.
وفي رواية: قال ابن عيينة: فقال رجل من الأنصار: فرأيت تِسْعَة أولاد كلهم قد قرؤوا القرآن، يعني: من أولاد عبد الله المولود.
وفي رواية: مات ابن لأبي طلحة من أم سليم، فقالت لأهلها: لا تُحَدِّثوا أبا طلحة بابْنِهِ حتى أكون أنا أُحدِّثه، فجاء فَقَرَّبَتْ إليه عشاء فأكَل وشرب، ثم تَصَنَّعَتْ له أحْسَن ما كانت تصنع قبل ذلك، فَوَقَع بها. فلمَّا أن رأت أنه قد شَبِع وأصاب منها، قالت: يا أبا طلحة، أرأيت لو أن قومًا أعَارُوا عَارِيَتَهُم أهل بيت فطَلَبوا عَارِيَتَهُم، ألهم أن يَمْنَعُوهُم؟ قال: لا، فقالت: فَاحْتَسِبْ ابنك، قال: فغضِب، ثم قال: تَرَكْتِني حتى إذا تَلطَّخْتُ، ثم أخبرتني بابني؟! فانطلق حتى أتى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فأخبره بما كان فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «بارك الله في لَيْلَتِكُمَا»، قال: فَحَمَلَتْ. قال: وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم في سَفَر وهي معه، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أتى المدينة من سَفر لا يَطْرُقُهَا طُرُوقًا فَدَنَوا من المدينة، فضَرَبَها المَخَاض، فَاحْتَبَسَ عليها أبو طلحة، وانطلق رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يقول أبو طلحة: إنك لَتَعْلَمُ يَا رَبِّ أنه يُعْجِبُنِي أن أخرج مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا خرج وأدخل معه إذا دخل وقد احْتَبَسْتُ بما ترى، تقول أم سليم: يا أبا طلحة، ما أجِدُ الذي كنت أجِدُ، انطلق، فانطلقنا وضربها المَخَاض حين قَدِما، فولدت غلامًا. فقالت لي أمي: يا أنس، لا يُرْضِعْهُ أحدٌ حتى تَغْدُو به على رسول الله صلى الله عليه وسلم فلمَّا أصبح احتَمَلْتُه فانْطَلَقتُ به إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ... وذكر تمام الحديث.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Putra Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- sedang menderita sakit. Lantas Abu Ṭalḥah keluar lalu anak itu meninggal dunia. Saat Abu Ṭalḥah kembali, ia bertanya, "Apa yang terjadi terhadap putraku?" Ummu Sulaim, ibu sang anak menjawab, "Dia sudah lebih tenang." Selanjutnya Ummu Sulaim menghindangkan makan malam kepada Abu Ṭalḥah lalu ia pun makan. Selanjutnya Abu Ṭalḥah menggaulinya. Setelah selesai berhubungan, Ummu Sulaim berkata, "Orang-orang sudah mengubur anak itu." Keesokan paginya Abu Ṭalḥah mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu memberitahukan hal tersebut. Nabi bertanya, "Apakah tadi malam kalian berhubungan?" Abu Ṭalḥah menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Ya Allah, berkahilah keduanya." Lantas Ummu Sulaim melahirkan seorang anak. Abu Ṭalḥah berkata kepadaku (Anas), "Bawalah anak itu sampai engkau menghadap kepada Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dia juga mengirimkan beberapa butir kurma bersama Anas. Nabi bertanya, "Apakah anak ini membawa sesuatu?" Anas menjawab, "Ya. Beberapa butir kurma." Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambilnya lalu mengunyahnya. Setelah itu mengambilnya dari mulutnya dan meletakkannya di mulut anak itu lalu Nabi mentahniknya dan memberinya nama Abdullah." Dalam riwayat lain disebutkan, "Ibnu Uyainah berkata, "Seorang lelaki Ansar berkata, "Aku lihat sembilan orang anak yang seluruhnya membaca (hafal) Alquran. Yakni, anak-anak Abdullah."
Dalam riwayat lain disebutkan, "Putra Abu Ṭalḥah dari Ummu Sulaim meninggal dunia lalu Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, "Kalian jangan bercerita kepada Abu Ṭalḥah mengenai putranya sampai aku yang bercerita kepadanya." Ketika Abu Ṭalḥah datang, Ummu Sulaim menyuguhkan makan malam kepadanya lalu ia pun makan dan minum. Selanjutnya Ummu Sulaim berhias lebih rapi dari biasanya hingga Abu Ṭalḥah menggaulinya. Setelah selesai makan malam dan berhubungan, Ummu Sulaim berkata, "Wahai Abu Ṭalḥah, bagaimana pendapatmu sekiranya ada kaum yang meminjamkan barang pinjaman kepada keluarganya lalu mereka meminta kembali barang pinjamannya, apakah boleh mereka menolaknya?" Abu Ṭalḥah menjawab, "Tidak." Istrinya berkata, "Mohonlah pahala atas putramu." Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- marah mendengar perkataan istrinya lalu berkata, "Engkau membiarkanku hingga aku melakukan jimak lalu engkau memberitahuku mengenai putraku?" Lantas Abu Ṭalḥah berangkat menuju Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengadukan istrinya dan apa yang telah dilakukannya. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakannya, "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua." Selanjutnya istri Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- hamil, dan ia bersama suaminya sedang bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan. Di antara kebiasaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak langsung masuk Madinah (sampai beliau mengirim utusan untuk memberitahu penduduk Madinah mengenai kedatangan kafilah). Ternyata Ummu Sulaim mengalami kontraksi melahirkan sehingga Abu Ṭalḥah tertahan tidak bisa masuk Madinah. Sementara itu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berangkat. Anas berkata, "Lantas Abu Ṭalḥah berdoa kepada Rabbnya, 'Wahai Rabbku, Engkau tahu bahwa aku sangat suka untuk keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila beliau keluar dan masuk bersamanya apabila beliau masuk. Sedangkan (sekarang) aku tertahan sebagaimana Engkau lihat'." Ummu Sulaim -raḍiyallāhu 'anha- berkata kepada Abu Ṭalḥah, "Wahai Abu Ṭalḥah, aku tidak merasakan apa yang pernah aku rasakan, berangkatlah!" Lantas kami berangkat, dan ketika kafilah tiba di Madinah, Ummu Sulaim mengalami kontraksi melahirkan lalu melahirkan seorang anak laki-laki. Selanjutnya Ibuku berkata kepadaku, "Wahai Anas, tidak boleh ada seorang pun wanita yang menyusuinya hingga kamu bawa dia menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ketika pagi tiba, aku bawa dia menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-…lalu ia menyebutkan sampai akhir hadis.
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis Anas bin Mālik berkenaan dengan Abu Ṭalḥah bahwa dia mempunyai seorang anak yang mengeluh. Artinya sedang menderita sakit. Abu Ṭalḥah adalah suami ibu Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhum-. Ia menikahi ibunya setelah (pisah) dari bapak Anas. Abu Ṭalḥah pergi untuk satu keperluannya lalu anak itu meninggal dunia. Saat pulang, Abu Ṭalḥah bertanya kepada Ummu Sulaim mengenai anak tersebut, "Bagaimana keadaan putraku?" Ummu Sulaim menjawab, "Dia sangat tenang." Dia berbicara benar bahwa anaknya sangat tenang karena dia sudah meninggal dunia. Sementara Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- memahami bahwa anaknya sudah sembuh dan sekarang sehat. Lantas Ummu Sulaim menghidangkan makan malam, Abu Ṭalḥah pun menyantap makan malam karena (merasa) anaknya sudah sembuh. Setelah itu dia menggauli istrinya. Setelah selesai berhubungan badan, Ummu Sulaim berkata, "Orang-orang sudah menimbun anak itu." Yakni, orang-orang sudah mengubur anak tersebut karena dia sudah wafat, -berdasarkan riwayat pertama-. Ketika pagi tiba, Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- mengubur anak tersebut dan memberitahukan hal tersebut kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bertanya, "Apakah tadi malam kalian berhubungan?" Abu Ṭalḥah menjawab, "Ya." Lantas beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakan keberkahan untuk keduanya. Selanjutnya Ummu Sulaim -raḍiyallāhu 'anha- melahirkan seorang anak yang diberkahi. Anas berkata, "Abu Ṭalḥah berkata kepadaku, "Bawalah anak ini sampai engkau bertemu dengan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-," ia juga mengirimkan beberapa butir kurma bersamanya agar beliau melakukan tahnik padanya supaya ludah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjadi makanan yang pertama kali masuk ke dalam perut si anak sehingga mendapatkan keberkahan. Setelah Anas sampai ke hadapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bertanya, "Apakah anak ini membawa sesuatu?" Yakni, yang dapat dijadikan untuk tahnik. Anas -raḍiyallāhu 'anhu- menjawab bahwa dia membawa beberapa butir kurma. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambil kurma itu lalu mengunyahnya supaya bercampur dengan air liurnya yang mulia dan anak tersebut mampu menelannya. Dengan demikian makanan yang pertama kali masuk ke dalam perutnya adalah kunyahan yang bercampur dengan air liur al-Mushthafa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehingga anak itu bahagia dan memperoleh keberkahan. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengeluarkan kurma yang sudah dikunyah dari mulutnya lalu meletakkannya di mulut anak bayi itu kemudian memijitnya dengan mentahniknya serta memberinya nama Abdullah. Anak bayi ini selanjutnya mempunyai sembilan orang anak yang seluruhnya membaca (hafal) Alquran berkat doa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Adapun menurut riwayat Muslim, "Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, "Janganlah kalian bercerita kepada Abu Ṭalḥah mengenai anaknya sampai aku yang pertama kali memberitahukan berita tersebut kepadanya." Ketika Abu Ṭalḥah datang, Ummu Sulaim menyuguhkan makan malam kepadanya lalu ia pun makan dan minum. Selanjutnya Ummu Sulaim berhias, memakai minyak wangi, dan berpura-pura hingga Abu Ṭalḥah menggaulinya. Setelah selesai berhubungan badan, Ummu Sulaim memberikan perumpamaan kepada Abu Ṭalḥah dengan barang pinjaman yang dikembalikan lagi kepada pemiliknya." Ia berkata kepada Abu Ṭalḥah, "Wahai Abu Ṭalḥah, bagaimana pendapatmu sekiranya ada kaum yang meminjamkan barang pinjaman kepada keluarganya lalu mereka meminta kembali barang pinjamannya, apakah boleh mereka menolaknya?" Abu Ṭalḥah menjawab, "Tidak." Istrinya berkata, "Mohonlah pahala atas putramu." Abu Ṭalḥah - raḍiyallāhu 'anhu- marah mendengar perkataan istrinya lalu berkata, "Engkau membiarkanku hingga aku melakukan jimak lalu engkau memberitahuku mengenai putraku?" Lantas Abu Ṭalḥah berangkat menuju Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengadukan istrinya dan apa yang telah dilakukannya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakan bagi keduanya dengan sesuatu yang manfaatnya indah akan kembali kepada keduanya, "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua." Yakni, apa yang telah kalian berdua lakukan di malam hari. Mudah-mudahan Allah menjadikannya hasil yang baik dan buah yang indah. Selanjutnya istri Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhā- hamil, dan ia bersama suaminya sedang bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan. Ketika mereka hendak memasuki Madinah, istri Abu Ṭalḥah merasakan sakit karena akan melahirkan (kontraksi). Di antara kebiasaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak masuk Madinah sampai beliau mengirim utusan untuk memberitahu penduduk Madinah mengenai kedatangan kafilah. Ternyata Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- tertahan tidak bisa masuk Madinah karena sibuk mengurusi istrinya. Sementara itu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berangkat.
Lantas Abu Ṭalḥah berdoa kepada Rabbnya, "Wahai Rabbku, Engkau tahu bahwa aku sangat suka untuk keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila beliau keluar dan masuk bersamanya apabila beliau masuk. Sedangkan (sekarang) aku tertahan sebagaimana Engkau lihat." Ummu Sulaim -raḍiyallāhu 'anha- berkata kepada Abu Ṭalḥah, "Wahai Abu Ṭalḥah, aku tidak merasakan apa yang pernah aku rasakan." Yakni, aku tidak merasakan sakit melahirkan seperti yang pernah aku alami sebelumnya." Setelah itu Ummu Sulaim berkata kepadanya, "Pergilah."
Ketika kafilah tiba di Madinah, Ummu Sulaim mengalami kontraksi lalu lahirlah seorang anak laki-laki. Selanjutnya ia menyuruh Anas - raḍiyallāhu 'anhu- agar membawa anak itu kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tidak boleh ada seorang pun wanita yang menyusuinya agar makanan pertama yang masuk ke dalam perutnya adalah air liur Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehingga mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat baginya. Dampak hal itu terlihat pada anak ini dengan memperoleh banyak putra yang saleh, bertakwa, dan beruntung.
Sebagai penutup penjelasan ini bahwa tabaruk dengan sesuatu yang terpisah dari tubuh merupakan salah satu kekhususan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tanpa ada seorang pun dari umat ini yang menyertainya.
Bukti paling besar untuk masalah ini adalah bahwa para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- yang menyaksikan turunnya Alquran dan memahami hakikat agama tidak mencari keberkahan pada para khulafaurrasyidin, dan tidak juga kepada sepuluh sahabat selain mereka.
Rujukan
كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار ، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ.
بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م.
تطريز رياض الصالحين، تأليف: فيصل بن عبد العزيز آل مبارك، الناشر: دار العاصمة للنشر والتوزيع، الطبعة: الأولى، 1423 هـ.
نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ، الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ.
شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426 هـ.
دليل الفالحين، تأليف: محمد بن علان، الناشر: دار الكتاب العربي، نسخة الكترونية ، لا يوجد بها بيانات نشر.
صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ.
صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أسيد بن أبي أسيد التابعي، عن امرأة من المبايعات، قالت: كان فيما أخذ علينا رسولُ الله صلى الله عليه وسلم في المعروف الذي أخذ علينا أن لا نعصيه فيه: أن لا نَخْمِشَ وجهًا، ولا نَدْعُوَ وَيْلًا، ولا نَشُقَّ جَيْبًا، وأن لا نَنْشُرَ شَعْرًا.
Dari Usaid bin Abī Usaid At-Tābi’ī (seorang tabiin), dari seorang wanita yang ikut membaiat (Rasulullah), ia berkata, "Di antara perkara makruf yang diwajibkan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- atas kami (ketika mengambil baiat) adalah supaya tidak mendurhakai beliau di dalam hal makruf yaitu tidak mencakar-cakar wajah (ketika ditimpa musibah), tidak meronta-ronta dengan seruan kebinasaan, tidak merobek-robek baju, dan tidak mengacak-acak rambut."
Diriwayatkan oleh Abu DaudDerajatHadis sahih
Penjelasan
Dahulu Nabi -‘alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- mengambil perjanjian dari para sahabat wanita ketika berbaiat agar mereka tidak mendurhakai beliau, di antaranya supaya wanita itu tidak mencakar-cakar, memukul wajahnya, menampar pipinya, tidak mengangkat suaranya dengan ratapan yang terlarang, tidak merobek-robek pakaiannya, dan tidak mengacak-ngacak rambutnya serta mencerai-beraikannya tatkala ditimpa musibah.
Rujukan
نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ الطبعة الرابعة عشر 1407هـ.
كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430هـ.
بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي، سنة النشر: 1418هـ- 1997م.
سنن أبي داود، تأليف: سليمان بن الأشعث السِّجِسْتاني، تحقيق: محمد محيي الدين عبد الحميد، الناشر: المكتبة العصرية، صيدا.
صحيح الترغيب والترهيب، تأليف: محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: مكتبة المعارف، الطبعة: الخامسة.
رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي ، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل، الطبعة: الأولى، 1428هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.com