Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membuka tirai yang menutup pintu rumah, sementara kaum Muslimin berbaris membuat saf menjadi makmum Abu Bakar dalam salat jamaah. Beliau tidak memungkinkan untuk mengimami salat karena sakit, sehingga memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam. Beliau bersabda, "Wahai manusia, sesungguhnya tiada lagi kabar baik dari nubuwat kecuali mimpi yang baik." Setelah beliau wafat, otomatis wahyu terputus, sehingga tiada lagi kabar langit kecuali mimpi yang baik yang sesuai dengan kenyataan. Mimpi ini dialami seorang Muslim, sehingga ia merasa senang, bergembira dan bertambah kuat dalam memegang keimanan. Mimpi yang baik merupakan nubuwat karena awal kenabian beliau dimulai dengan mimpi yang beliau lihat sangat terang, sehingga mimpi adalah bagian dari kenabian beliau. Sabda beliau, "Kecuali kabar gembira dalam mimpi yang baik", ungkapan ini berdasarkan kebiasaan yang sering dialami seseorang, karena mimpi pun ada yang berupa peringatan langsung dari Allah yang diperlihatkan kepada seseorang agar mempersiapkan diri sebelum kejadian, sebagai wujud kasih sayang Allah kepadanya. Dengan demikian, mimpi baik itu terkadang berupa kabar gembira bagi seorang Mukmin atau peringatan atas kelalaiannya. Sabda beliau, "Yang dilihat oleh seorang Muslim atau diperlihatkan kepadanya", maksudnya mimpi itu bisa jadi dialami sendiri seorang Muslim atau dimimpikan orang lain untuknya. Sabda beliau, "Ketahuilah, bahwa saya dilarang membaca Al-Qur`ān saat rukuk dan sujud." Artinya, beliau dilarang oleh Allah membaca Al-Qur`ān saat dalam posisi rukuk atau sujud. Pada dasarnya apapun yang dilarang untuk Rasulullah maka umatnya pun ikut dilarang, kecuali ada dalil yang menunjukkan kekhususan larangan itu untuk beliau saja. Larangan ini berlaku jika memang orang yang salat itu dengan sengaja membaca Al-Qur`ān waktu rukuk dan sujudnya. Adapun jika ia membaca itu dengan niat berdoa maka itu boleh, tidak dilarang, sebagaimana dalil dalam hadis, "Dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya." Hikmah di balik larangan ini -Allah lebih tahu- adalah bahwa rukuk dan sujud adalah posisi merendahkan diri. Sujud pun harus menempelkan dahi di tanah, sehingga tidak patut Al-Qur`ān dibaca dalam kondisi seperti ini. Sabda beliau, "Adapun dalam rukuk maka agungkanlah Allah -'Azza wa Jalla-." Artinya bacalah, "Subḥāna Rabbiyal 'Aẓīmi" (Maha Suci Allah Yang Maha Agung) dan bacaan tasbih dan pengagungan Allah lainnya yang dibaca waktu rukuk. Sabda beliau, "Adapun dalam sujud maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa." Artinya, hendaknya seorang yang salat memperbanyak doa saat sujud, karena posisi sujud termasuk salah satu kondisi dikabulkannya doa. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Allah adalah saat dalam kondisi sujud, maka perbanyaklah doa." Namun doa-doa panjang ini dibaca setelah membaca doa sujud, "Subḥāna Rabbiyal A'lā". Sabda beliau, "Karena (saat itu) sangat layak untuk dikabulkan untuk kalian."Yakni, sangat patut dikabulkan doa kalian (pada saat itu). Hal ini mengingat posisi terdekat antara seorang hamba dengan Allah adalah saat ia sujud. Adapun sunah memanjangkan doa dalam sujud adalah saat ia salat sendiri atau salat dengan jamaah yang menyukai doa yang panjang dalam sujud.
صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. معالم السنن، تأليف: حمد بن محمد بن إبراهيم الخطابي، الناشر: المطبعة العلمية، الطبعة: الأولى 1351هـ. إكمال المعلم بفوائد مسلم، تأليف: عياض بن موسى بن عياض، تحقيق: د/ يحي بن اسماعيل، الناشر: دار الوفاء للطباعة والنشر والتوزيع، الطبعة: الأولى، 1419هـ. المنهاج شرح صحيح مسلم، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي، الناشر: دار إحياء التراث العربي، الطبعة: الثانية 1392هـ. الفتاوى الكبرى لابن تيمية، تأليف: تقي الدين أبو العباس أحمد ابن تيمية، الناشر: دار الكتب العلمية الطبعة: الأولى، 1408هـ - 1987م. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، تأليف: علي بن سلطان القاري، الناشر: دار الفكر، الطبعة: الأولى، 1422هـ. التيسير بشرح الجامع الصغير، تأليف: محمد عبد الرؤوف بن زين العابدين المناوي، الناشر: مكتبة الإمام الشافعي، الطبعة: الثالثة، 1408هـ - 1988م. سبل السلام شرح بلوغ المرام، تأليف: محمد بن إسماعيل بن صلاح الصنعاني، الناشر: دار الحديث الطبعة: بدون طبعة وبدون تاريخ. توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن بن صالح البسام، الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م. تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة: الأولى، 1427 هـ _ 2006 م. فتح ذي الجلال والإكرام، شرح بلوغ المرام، تأليف: محمد بن صالح بن محمد العثيمين، الناشر: المكتبة الإسلامية، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأُم إسراء بنت عرفة.