Seorang sahabat pergi ke Masjid Qubā` (yang saat itu) terletak di luar Madinah. Ia mendapati jamaah masjid ini belum mendapatkan berita perubahan kiblat (salat), dan mereka masih salat menghadap ke arah kiblat pertama. Lantas ia memberitahu mereka tentang pengalihan kiblat ke arah Ka'bah, dan bahwa telah diturunkan ayat Al-Qur`an pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang masalah ini. -Maksudnya adalah firman Allah, "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 144) Serta memberitahu bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menghadap ke arah Ka'bah (dalam salat). Maka lantaran kedalaman ilmu serta tepat dan benarnya pemahaman mereka, mereka pun memutar diri dari arah Bait al-Maqdis -kiblat pertama mereka- ke kiblat kedua mereka, yaitu Ka'bah al-Musyarrafah (yang dimuliakan).
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الإمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426هـ. الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري، ط1، دار الفكر، دمشق، 1381هـ. تنبيه الأفهام، للعثيمين -طبعة مكتبة الصحابة الامارات -مكتبة التابعين- القاهرة- الطبعة الأولى 1426هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت.