عن ابن شماسة المهري قال: حَضَرنَا عَمرو بن العاص رضي الله عنه وهُو فِي سِيَاقَةِ الْمَوتِ، فَبَكَى طَوِيلاً، وَحَوَّلَ وَجهَهُ إِلَى الجِدَارِ، فَجَعَلَ ابنَهُ، يقول: يَا أَبَتَاهُ، أَمَا بَشَّرَكَ رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- بكَذَا؟ أمَا بشَّركَ رسول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- بِكَذَا؟ فَأَقبَلَ بِوَجهِهِ، فقَالَ: إِنَّ أَفضَلَ مَا نُعِدُّ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رسولُ الله، إِنِّي قَدْ كُنتُ عَلَى أَطْبَاقٍ ثَلاَثٍ: لَقَدْ رَأَيتُنِي وَمَا أَحَدٌ أَشَدَّ بُغْضًا لِرَسُولِ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- مِنِّي، وَلاَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَكُونَ قَدْ اسْتَمْكَنْتُ مِنْهُ فَقَتَلْتُهُ، فَلَوْ مُتُّ عَلَى تِلْكَ الحَالِ لَكُنْتُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَلَمَّا جَعَلَ اللهُ الإِسْلاَمَ فِي قَلْبِي أَتَيتُ النَبيَّ -صلَّى الله عليه وسلَّم-، فَقُلتُ: ابْسُطْ يَمِينَكَ فَلِأُبَايِعُكَ، فَبَسَطَ يَمِينَهُ فَقَبَضْتُ يَدِي، فقال: «مَا لَكَ يَا عَمرُو؟» قُلتُ: أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِطَ، قال: «تَشْتَرِطُ مَاذَا؟» قُلتُ: أَنْ يُغْفَرَ لِي، قال: «أَمَا عَلِمتَ أَنَّ الإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ الهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا، وَأَنَّ الحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟» وَمَا كَان أَحَدٌ أَحبَّ إِلَيَّ مِنْ رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- وَلاَ أَجَلَّ فِي عَينِي مِنْهُ، وَمَا كُنْتُ أُطِيقُ أَنْ أَمْلَأَ عَينِي مِنْهُ؛ إِجْلاَلاً لَهُ، وَلَوْ سُئِلْتُ أَنْ أَصِفَهُ مَا أَطَقْتُ؛ لِأَنِّي لَمْ أَكُنْ أَمْلَأُ عَينِي مِنْهُ، وَلَوْ مِتُّ عَلَى تِلْكَ الحَالِ لَرَجَوْتُ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، ثُمَّ وَلِينَا أَشْيَاءَ مَا أَدْرِي مَا حَالِي فِيهَا؟ فَإِذَا أَنَا مِتُّ فَلاَ تَصْحَبْنِي نَائِحَةٌ وَلاَ نَارٌ، فَإِذَا دَفَنْتُمُونِي، فَشُنُّوا عَلَيَّ التُرَابَ شَنًّا، ثُمَّ أَقِيمُوا حَولَ قَبرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُور، وَيُقْسَمُ لَحْمُهَا، حتَّى أَسْتَأْنِسَ بِكُم، وَأَنْظُر مَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي.
Dari Ibnu Syammāsah Al-Mahri menuturkan, kami hadir di sisi 'Amru bin 'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhu- saat ia menghadapi kematian. Ia menangis lama dan memalingkan wajahnya ke tembok. Putranya berkata, "Wahai ayahku, bukankah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberi kabar gembira kepada anda berupa demikian? Bukankah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberi kabar gembira kepada anda berupa demikian?" Ia pun menoleh lalu berkata, "Sesungguhnya hal terbaik yang kita siapkan adalah syahadat tidak ada Ilah yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku telah melewati tiga fase: (pertama) sungguh aku melihat diriku di mana tak ada seorang pun yang lebih membenci Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dibanding aku dan dulu tak ada yang lebih aku sukai dibanding aku memiliki kesempatan untuk membunuh beliau. Seandainya aku mati dalam keadaan itu pasti aku termasuk penghuni neraka. (Kedua) Ketika Allah menumbuhkan Islam dalam hatiku, aku mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Aku berkata, "Ulurkan tangan kanan anda agar aku bisa berbaiat pada anda." Beliau mengulurkan tangan kanan, namun aku menahan tanganku. Beliau bertanya, "Kenapa engkau wahai 'Amru?" Aku menjawab, "Aku ingin mengajukan syarat." Beliau bertanya, "Engkau minta syarat apa?" Aku berkata, "Aku diampuni." Beliau bersabda, "Tidakkah engkau tahu bahwa Islam menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya, hijrah menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya, dan haji menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya?" Saat itu tak ada seorang pun yang lebih aku cintai dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tidak ada pula yang lebih terhormat di mataku dari beliau. Aku tak mampu menatap beliau karena kewibawaan beliau. Andai aku diminta menggambarkan beliau aku tak mampu, karena aku tidak pernah menatap lekat beliau. Seandainya aku mati dalam kondisi itu sungguh aku bisa berharap termasuk penghuni surga. (Ketiga) Kemudian kami mengurusi berbagai hal yang aku tidak tahu kondisiku dalam berbagai urusan itu. Bila aku mati jangan sampai aku diiringi orang yang meratap dan api. Bila kalian menguburku tuangkanlah tanah padaku dengan sebenar-benarnya. Kemudian berdirilah di sekitar kuburku kurang lebih selama unta disembelih dan dagingnya dibagikan, agar aku merasa nyaman dengan keberadaan kalian, dan melihat jawaban apa yang aku berikan pada utusan-utusan Rabbku.
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis 'Amru bin 'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhu- mengandung tema kabar gembira dan ucapan selamat atas kebaikan menyajikan sebuah kisah. Ringkasan kisah penting ini sebagai berikut: bahwa sebagian sahabat 'Amru datang saat menjelang kematiannya. Ia menangis keras dan memalingkan wajahnya ke arah tembok -raḍiyallāhu 'anhu-. Ia dalam kondisi menjelang kematian dan akan meninggalkan dunia. Maka putranya berkata, "Mengapa anda menangis, padahal Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberi kabar gembira pada anda berupa surga?" Ia menjawab, "Wahai putraku! Aku telah melewati tiga fase kehidupan." Kemudian ia menyebutkan tiga fase ini; (pertama) bahwa ia membenci Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan kebencian yang dahsyat, tak ada seorang pun di dunia ini yang ia benci sebesar kebenciannya pada beliau, dan ia dulu amat ingin memiliki kesempatan untuk bisa membunuh beliau. Ini bentuk kekufuran yang paling parah. Sampai Allah menanamkan Islam dalam hatinya, lalu ia mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, seraya berkata, "Wahai Rasullah! Ulurkan tangan anda agar aku bisa membaiat anda atas Islam." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah sosok yang paling baik akhlaknya, maka beliau mengulurkan tangan. Akan tetapi 'Amru bin 'Āṣ justru menahan tangannya, bukan karena sombong, akan tetapi untuk memastikan apa yang akan diungkapkannya. Beliau bertanya, "Kenapa engkau?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah! Aku mengajukan syarat -untuk masuk Islam-." Beliau bertanya, "Syarat apa yang engkau ajukan?" Ia menjawab, "Aku mensyaratkan Allah mengampuni kekufuranku dan dosa-dosa yang telah lalu." Inilah keinginan terbesar 'Amru, semoga Allah meridainya. Ia mensyaratkan Allah mengampuninya, karena ia mengira Allah tidak akan mengampuni kesalahannya yang telah lalu. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidakkah engkau tahu bahwa Islam menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya, hijrah menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya, dan haji menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya?" Tiga perkara. Islam menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya berdasarkan nas Al-Qur`ān Al-'Azīz. Allah -'Azza wa Jalla berfirman, “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (pada mereka) sunah (Allah terhadap) orang-orang dahulu". Sedangkan hijrah, apabila seseorang meninggalkan negeri tempatnya hidup yang merupakan negeri kufur, maka hijrah ini menghapus dosa yang terjadi sebelumnya. Dan haji menghancurkan dosa yang terjadi sebelumnya berdasarkan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, “Haji yang mabrur tidak mempunyai balasan selain surga.” Lantas 'Amru bin 'Āṣ berbaiat dan mencintai Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan sangat hingga beliau menjadi manusia yang paling ia cintai. Dan hingga ia tidak mampu memandang lekat beliau karena memuliakan beliau -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām-. Maha suci Allah yang membolak-balikkan hati. Kemarin ia sangat membenci beliau hingga berangan-angan bisa membunuh beliau, namun sekarang ia tak kuasa melihat langsung beliau karena memuliakan beliau. Pun ia tidak mampu menggambarkan beliau karena tidak mengetahui beliau secara detail, mengingat ia tidak menatap beliau dengan baik karena kewibawaan beliau. 'Amru -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan bahwa seandainya ia mati dalam kondisi pertama pasti ia menjadi penghuni neraka. Lalu ia berkata, “Seandainya aku mati dalam kondisi itu -yakni kondisi kedua- sungguh aku berharap menjadi penghuni surga.” Perhatikan ungkapan kehati-hatian ini. Secara tegas, ia mengungkapkan seandainya mati dalam kondisi pertama ia termasuk penghuni neraka. Sedang dalam kondisi kedua, lantaran sangat takutnya, ia mengatakan, “Seandainya aku mati dalam keadaan ini sungguh aku berharap menjadi penghuni surga”, dan tidak mengatakan, “pasti aku menjadi penghuni surga.” Karena kesaksian masuk surga adalah perkara yang sulit. Kemudian, selain itu, 'Amru -raḍiyallāhu 'anhu- telah menduduki sejumlah jabatan. Ia pernah menjadi penguasa dan panglima. Pun peristiwa yang terjadi dalam kisah perang Mu'āwiyah melawan lainnya. 'Amru bin 'Āṣ ini terkenal sebagai orang Arab yang jenius dan cerdas. Ia mengatakan, “Aku kawatir peristiwa yang terjadi padaku setelah kondisi yang paling baik tersebut telah menggugurkan amalku.” Kemudian, Amru -raḍiyallāhu 'anhu- berwasiat apabila ia meninggal jangan sampai diikuti orang yang meratap. An-Nā`iḥah adalah wanita yang meratapi mayat dan menangisinya dengan tangisan yang menyerupai tekuran burung merpati. 'Amru -raḍiyallāhu 'anhu- memerintahkan apabila mereka selesai memakamkannya, agar mereka tetap berada di simping kuburnya kurang lebih selama seekor unta disembelih dan dagingnya dibagikan. Agar ia merasa nyaman dan bisa menjawab pertanyaan utusan-utusan Rabbnya, yakni para malaikat yang mendatangi mayat ketika telah dikubur. Apabila orang yang meninggal telah dimakamkan, dua malaikat mendatanginya, mendudukkannya di dalam kubur dan menanyainya tiga pertanyaan. Keduanya bertanya, siapa Rabbmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? 'Amru bin 'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhu- memerintah keluarganya tetap berada di dekat kuburnya selama seekor unta disembelih dan dibagikan dagingnya agar ia merasa nyaman dengan keberadaan mereka. Ini menunjukkan mayat itu merasakan kehadiran keluarganya. Telah diriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa orang yang meninggal itu mendengar suara gesekan sandal orang-orang apabila mereka bubaran selepas menguburkannya. Suara ketukan sandal yang pelan ini didengar mayat apabila mereka selesai memakamkannya. Diriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hadis hasan bahwa apabila beliau selesai mengubur mayat, beliau berdiri dan mengatakan, “Mintakan ampunan untuk saudaramu dan mohonkan untuknya keteguhan, karena sekarang ia ditanya.” Maka apabila mayat telah dikubur, dianjurkan seseorang berada di samping kuburnya dan berdoa, “Ya Allah! Teguhkan ia. Ya Allah! Teguhkan ia. Ya Allah! Teguhkan ia. Ya Allah! Teguhkan ia. Ya Allah! Ampunilah ia. Ya Allah! Ampunilah ia. Ya Allah! Ampunilah ia.” Demikianlah, apabila Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengucapkan salam beliau mengucapkannya tiga kali, dan apabila berdoa beliau mengucapkannya tiga kali. Kesimpulannya, putra 'Amru bin 'Āṣ berkata kepadanya, “Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberi kabar gembira pada anda berupa surga.” Ini termasuk memberi kabar gembira berupa kebaikan dan pemberian ucapan selamat.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الدمام، الطبعة: الأولى 1415هـ.
تطريز رياض الصالحين، فيصل بن عبد العزيز المبارك، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى 1423هـ، 2002م.
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى 1428هـ.
شرح رياض الصالحين، محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.
صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الرابعة عشر 1407هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن إبراهيم بن عبد الرحمن بن عوف، أن عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه أُتي بطعام وكان صائمًا، فقال: قُتِل مُصعب بن عمير رضي الله عنه وهو خيرٌ مني، فلم يوجد له ما يُكفَّن فيه إلا بُردة إن غُطِّيَ بها رأسه بَدَت رِجْلاه؛ وإن غُطِّيَ بها رجلاه بدا رأسه، ثم بُسِط لنا مِنَ الدنيا ما بُسِط، أو قال: أُعْطِينا من الدنيا ما أُعطِينا، قد خَشِينَا أن تكون حَسَنَاتُنا عُجِّلَت لنا، ثم جعل يبكي حتى ترك الطعام.
Dari Ibrahim bin Abdirrahman bin 'Auf, ia bercerita bahwa makanan dihidangkan kepada Abdurrahman bin 'Auf -raḍiyallāhu 'anhu-, tetapi waktu itu ia sedang berpuasa. Abdurrahman bin 'Auf berkata, "Muṣ'ab bin 'Umair -raḍiyallāhu 'anhu- terbunuh, padahal ia orang yang lebih baik dariku, tidak ada kain yang dapat digunakan untuk mengafaninya kecuali sepotong selimut yang terbuat dari bulu. Jika kepalanya ditutup, maka terbukalah kakinya. Jika kakinya ditutup, maka tampaklah kepalanya. Selanjutnya dunia dibentangkan kepada kita seluas-luasnya, atau dia mengatakan: Kami telah diberi kekayaan dunia yang sangat banyak, kami khawatir, jika kebaikan-kebaikan kami telah dipercepat pembalasannya (dengan kekayaan ini). Lantas ia menangis dan meninggalkan makanan itu."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Makna hadis: Suatu hari Abdurrahman bin 'Auf -raḍiyallāhu 'anhu- berpuasa. Saat waktu buka puasa tiba, makanan dihidangkan kepadanya. Biasanya orang yang berpuasa sangat bernafsu pada makanan, ternyata Abdurrahman bin 'Auf -raḍiyallāhu 'anhu- justru teringat kepada apa yang dialami para sahabat terdahulu. Ia sendiri termasuk generasi sahabat pertama dari kalangan Muhajirin. Ia berkata merendahkan dirinya sendiri, "Sesungguhnya Muṣ'ab bin 'Umair -raḍiyallāhu 'anhu- lebih baik dariku." Ini merupakan bentuk kerendahan hati dan penghinaan terhadap dirinya sendiri, atau dari segi Muṣ'ab memilih kefakiran dan kesabaran. Jika tidak begitu, para ulama sudah menjelaskan bahwa sepuluh orang yang dijamin masuk surga lebih baik dari sahabat lainnya. Muṣ'ab -raḍiyallāhu 'anhu- sendiri sebelum Islam hidup bersama kedua orang tuanya di Makkah. Orang tuanya kaya raya. Ibu dan bapaknya memberinya sebaik-baik pakaian; pakaian para pemuda dan remaja. Bahkan keduanya sangat memanjakannya. Saat Muṣ'ab masuk Islam, ia meninggalkan dan menjauhi semua itu dan berhijrah bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ia bersama kaum Muhajirin. Saat itu ia mengenakan pakaian yang ditambal, padahal sebelumnya ketika di Makkah bersama kedua orang tuanya, ia mengenakan pakaian paling bagus. Namun ia meninggalkan semua itu demi berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberinya bendera dalam perang Uhud lalu ia gugur sebagai syahid. Saat itu ia mengenakan pakaian, ketika orang-orang menutup kepalanya, maka kedua kakinya tampak, karena pendeknya kain tersebut. Ketika orang-orang menutup kedua kakinya, maka tampaklah kepalanya. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan agar kepalanya ditutupi dan kedua kakinya ditutupi dengan iżkhir (tumbuhan yang terkenal/serai). Abdurrahman bin 'Auf teringat keadaan orang ini (Muṣ'ab) lalu berkata, "Sesungguhnya mereka telah berlalu dan selamat dari dunia yang dibukakan kepada orang-orang setelahnya berupa harta rampasan perang yang banyak, sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-, "Dan harta rampasan perang yang banyak yang akan mereka peroleh." Selanjutnya Abdurrahman bin 'Auf -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Kami khawatir, jika kebaikan-kebaikan kami telah dipercepat pembalasannya (dengan kekayaan ini)." Yakni, kami khawatir termasuk golongan orang yang dikatakan kepadanya, "Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir." Atau firman Allah -Ta'ālā-, "Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu, dan kamu telah bersenang-senang (menikmati)nya." Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Umar -raḍiyallāhu 'anhu-. Hal ini terjadi karena rasa khawatir biasanya menimpa mereka sehingga Abdurrahman bin 'Auf -raḍiyallāhu 'anhu- takut bahwa kebaikan-kebaikan mereka telah dipercepat balasannya di dunia. Makanya ia menangis karena khawatir dan takut tidak bisa bertemu dengan orang-orang saleh yang telah mendahuluinya. Lantas ia meninggalkan makanan tersebut.
Rujukan
صحيح البخاري، المؤلف: محمد بن إسماعيل أبو عبدالله البخاري الجعفي، المحقق: محمد زهير بن ناصر الناصر، الناشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422هـ.
بهجة الناظرين، الشيخ: سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي.
نزهة المتقين، د. مصطفى سعيد الخن، د. مصطفى البغا، محيي الدين مستو، علي الشرجبي، محمد أمين لطفي، مؤسسة الرسالة ، بيروت، الطبعة الأولى: 1397 هـ 1977 م، الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ 1987م.
شرح رياض الصالحين، المؤلف: محمد بن صالح بن محمد العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426 هـ.
رياض الصالحين، د. ماهر بن ياسين الفحل، الناشر: دار ابن كثير للطباعة والنشر والتوزيع، دمشق - بيروت، الطبعة: الأولى، 1428 هـ - 2007 م.
مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، المؤلف: علي بن (سلطان) محمد، أبو الحسن نور الدين الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت - لبنان
الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أبي خبيب -بضم الخاء المعجمة- عبد الله بن الزبير رضي الله عنهما ، قال: لما وقف الزبير يوم الجمل دعاني فقمت إلى جنبه، فقال: يا بني، إِنَّهُ لاَ يُقْتَلُ اليوم إلا ظالم أو مظلوم، وإني لا أُرَانِى إلا سأقتل اليوم مظلوما، وإن من أكبر همي لديني، أفترى دَيْنَنَا يُبقي من مَالِنا شيئا؟ ثم قال: يا بني، بِعْ مَا لَنا واقض ديني، وأوصى بالثلث وثلثه لبنيه، يعني لبني عبد الله بن الزبير ثلث الثلث. قال: فإن فَضَلَ من مَالِنَا بعد قضاء الدين شيء فثلثه لبنيك. قال هشام: وكان بعض ولد عبد الله قد وَازَى بعض بني الزبير خُبَيْبٌ وعَبَّادٌ، وله يومئذ تسعة بنين وتسع بنات. قال عبد الله: فجعل يوصيني بدينه ويقول: يا بني، إن عجزت عن شيء منه فاستعن عليه بمولاي. قال: فوالله ما دريت ما أراد حتى قلت: يا أبت من مولاك؟ قال: الله. قال: فوالله ما وقعت في كربة من دينه إلا قلت: يا مولى الزبير اقض عنه دينه فيقضيه. قال: فقتل الزبير ولم يَدَع دينارا ولا درهما إلا أَرَضِينَ ، منها الغابة وإحدى عشرة دارا بالمدينة، ودارين بالبصرة، ودارا بالكوفة، ودارا بمصر. قال: وإنما كان دينه الذي كان عليه أن الرجل كان يأتيه بالمال، فيستودعه إياه، فيقول الزبير: لا، ولكن هو سلف إني أخشى عليه الضَّيْعَةَ ،وما ولي إمارة قط ولا جباية ولا خراجا ولا شيئا إلا أن يكون في غزو مع رسول الله صلى الله عليه وسلم أو مع أبي بكر وعمر وعثمان رضي الله عنهم قال عبد الله: فحسبت ما كان عليه من الدين فوجدته ألفي ألف ومئتي ألف! فلقي حكيم بن حزام عبد الله بن الزبير، فقال: يا ابن أخي، كم على أخي من الدين؟ فكتمته وقلت: مائة ألف. فقال حكيم: والله ما أرى أموالكم تسع هذه. فقال عبد الله: أرأيتك إن كانت ألفي ألف ومئتي ألف؟ قال: ما أراكم تطيقون هذا، فإن عجزتم عن شيء منه فاستعينوا بي، قال: وكان الزبير قد اشترى الغابة بسبعين ومئة ألف، فباعها عبد الله بألف ألف وستمئة ألف، ثم قام فقال: من كان له على الزبير شيء فليوافنا بالغابة، فأتاه عبد الله بن جعفر، وكان له على الزبير أربعمئة ألف، فقال لعبد الله: إن شئتم تركتها لكم؟ قال عبد الله: لا، قال: فإن شئتم جعلتموها فيما تؤخرون إن إخرتم، فقال عبد الله: لا، قال: فاقطعوا لي قطعة، قال عبد الله: لك من هاهنا إلى هاهنا. فباع عبد الله منها فقضى عنه دينه وأوفاه، وبقي منها أربعة أسهم ونصف، فقدم على معاوية وعنده عمرو بن عثمان، والمنذر بن الزبير، وابن زَمْعَةَ ، فقال له معاوية: كم قُوِّمَتِ الغابة؟ قال: كل سهم بمئة ألف، قال: كم بقي منها؟ قال: أربعة أسهم ونصف، فقال المنذر بن الزبير: قد أخذت منها سهما بمئة ألف، قال عمرو بن عثمان: قد أخذت منها سهما بمئة ألف. وقال ابن زمعة: قد أخذت سهما بمئة ألف، فقال معاوية: كم بقي منها؟ قال: سهم ونصف سهم، قال: قد أخذته بخمسين ومئة ألف. قال: وباع عبد الله بن جعفر نصيبه من معاوية بستمئة ألف، فلما فرغ ابن الزبير من قضاء دينه، قال بنو الزبير: اقسم بيننا ميراثنا، قال: والله لا أقسم بينكم حتى أنادي بالموسم أربع سنين: ألا من كان له على الزبير دين فليأتنا فلنقضه. فجعل كل سنة ينادي في الموسم، فلما مضى أربع سنين قسم بينهم ودفع الثلث. وكان للزبير أربع نسوة، فأصاب كل امرأة ألف ألف ومئتا ألف، فجميع ماله خمسون ألف ألف ومئتا ألف.
Dari Abu Khubaib - dengan mendammahkan huruf khā`- Abdullah bin az-Zubair -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Ketika Az-Zubair berdiri (menghadapi musuh) pada perang jamal (unta), ia memanggilku. Aku pun berdiri di sampingnya. Ia berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya pada hari ini tidak ada seorang pun yang terbunuh, melainkan ia adalah seorang yang menganiaya atau dianiaya, dan aku melihat bahwa aku akan terbunuh pada hari ini sebagai orang yang dianiaya. Sesungguhnya salah satu beban terbesar yang membuatku gusar adalah utangku. Apakah menurutmu utang kita (bila terlunasi) masih menyisakan sesuatu dari harta kita? Lalu ia berkata, "Wahai anakku! Jual sajalah harta kita dan lunasilah utangku!" Az-Zubair mewasiatkan sepertiga hartanya dan sepertiga dari sepertiga (sepersembilan) untuk anak-anaknya, yaitu anak-anak Abdullah bin az-Zubair. Ia berkata, "Jika ada kelebihan dari harta kita setelah pelunasan utang, maka sepertiganya untuk anak-anakmu." Hisyam berkata, beberapa orang anak Abdullah sepadan usianya dengan anak-anak Az-Zubair yaitu Khubaib dan 'Abbād, dia ketika itu memiliki sembilang orang putra dan sembilan putri. Abdullah berkata, "Selanjutnya Az-Zubair mewasiatkan kepadaku perihal utangnya dan berkata, "Wahai anakku, jika engkau merasa tidak mampu untuk melunasi utang itu, mintalah pertolongan kepada Maulaku!" Abdullah berkata, "Demi Allah, aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya, hingga aku bertanya, 'Wahai ayahanda, siapakah Maulamu?' Dia menjawab, "Allah." Abdullah berkata, "Demi Allah, setiap kali aku larut dalam kedukaan karena memikirkan utangnya melainkan aku berkata, "Wahai Maula Az-Zubair, lunasilah utang Az-Zubair ini, maka Allah pun melunasinya. Abdullah berkata, "Selanjutnya Az-Zubair terbunuh tanpa meninggalkan sekeping dinar ataupun dirham kecuali beberapa bidang tanah, di antaranya Al-Gabah (utara kota Madinah), sebelas rumah di Madinah, dua rumah di Baṣrah, satu rumah di Kufah, dan satu rumah di Mesir. Abdullah berkata, "Sebenarnya sebab menggunungnya utang Az-Zubair ialah karena jika ada seorang lelaki datang padanya dengan membawa harta, guna menititipkannya kepada Az-Zubair; maka Az-Zubair berkata, "Jangan dititipkan, tetapi jadikanlah harta itu pinjaman saja, karena sesungguhnya saya sendiri khawatir kalau harta itu hilang." Az-Zubair tidak pernah menjabat sebagai petugas negara sama sekali, tidak pula pernah menajdi petugas zakat, tidak juga mengusahakan mengelola pertanian dan lainnya. Dia hanya berpeperangan bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bersama Abu Bakar, Umar dan Uṡman -raḍiyallāhu 'anhum. Abdullah berkata, "Lantas aku menghitung utang yang menjadi tanggungannya, ternyata aku dapatkan utang itu sebanyak dua juta dua ratus ribu (dirham)! " Hakim bin Hizam lalu menemui Abdullah bin Az-Zubair dan berkata, "Wahai anak saudaraku, berapa utang yang menjadi tanggungan saudaraku?" Aku menyembunyikan jumlah sebenarnya dan berkata, "Seratus ribu." Hakim berkata, "Demi Allah, aku lihat harta kalian tidak akan cukup untuk melunasi utang itu." Abdullah berkata, "Kalau begitu, bagaimana pendapatmu jika utangnya yang sebenarnya adalah dua juta dua ratus ribu?" Hakim menjawab, "Aku kira kalian tidak akan mampu melunasi utang itu. Jika kalian merasa tidak mampu untuk melunasi utang itu, silahkan menghubungiku!" Abdullah berkata, "Az-Zubair pernah membeli tanah Al-Gabah dengan harga seratus tujuhpuluh ribu." Lantas Abdullah menjual tanah itu dengan harga satu juta enam ratus ribu, lalu ia berdiri dan berkata, "Siapa yang merasa memberikan utang kepada Az-Zubair, hendaklah ia rela jika kami lunasi dengan perhitungan harga tanah Al-Gabah." Kemudian datanglah Abdullah bin Ja'far dan ia pernah memberi utang kepada Az-Zubair sebanyak empat ratus ribu. Ia berkata kepada Abdullah, "Jika engkau mau, utang itu aku relakan (bebaskan) untuk kalian?" Abdullah berkata, "Tidak." Abdullah bin Ja'far berkata, "Sekiranya kalian mau, pelunasan itu hendak diakhirkan juga boleh (tidak tergesa-gesa dikembalikan). Abdullah bin Az-Zubair menjawab, "Tidak." Abdullah bin Ja'far berkata, "Kalau begitu, potongkan sajalah sebagian dari tanah Al-Gabah itu untukku." Abdullah bin Az-Zubair berkata, "Untukmu ialah tanah dari batas ini sampai ke batas itu." Dengan demikian, Abdullah bin Az-Zubair telah menjual sebagian tanah Al-Gabah itu dan ia melunasi sebagian utang ayahnya. Kini yang tertinggal ialah empat setengah bagian. Ia datang kepada Mu'awiyah dan ketika itu di dekatnya ada 'Amr bin Uṡman, Munżir bin Az-Zubair, dan Ibnu Zam'ah. Mu'awiyah bertanya kepadanya, "Berapa kira-kara harga tanah Al-Gabah itu?" Abdullah menjawab, "Tiap satu bagian berharga seratus ribu." Ia bertanya pula, "Kini tinggal berapa bagiannya?" Ia menjawab, "Empat setengah bagian." Al-Munżir bin Az-Zubair berkata, "Aaku ambil satu bagiannya dengan harga seratus ribu." Amr bin Uṡman berkata, "Aku ambil satu bagiannya pula dengan harga seratus ribu." Ibnu Zam'ah berkata, "Aku ambil satu bagiannya dengan harga seratus ribu." Mu'awiyah berkata, "Berapa bagian kini yang tersisa?" Ia menjawab, "Satu setengah bagian." Ia berkata, "Baiklah, aku ambil satu setengah bagian dengan harga seratus lima puluh ribu." Abdullah bin Az-Zubair berkata, "Abdullah bin Ja'far (dapat untung) menjual bagiannya kepada Mu'awiyah dengan harga enam ratus ribu. Setelah Abdullah bin Az-Zubair menyelesaikan pelunasan utang ayahnya, anak-anak Az-Zubair berkata, "Bagilah hak warisan kita masing-masing!" Abdullah bin Az-Zubair berkata, "Demi Allah, aku tidak akan membagi-bagikannya kepada kalian semua, sampai aku umumkan pada setiap musim haji selama empat tahun, yaitu dengan ucapan, "Ingatlah, siapa yang pernah memberikan utang kepada Az-Zubair, hendaklah datang ke tempat kami, kami akan melunasinya!" Demikianlah setiap tahunnya pada waktu musim haji, hal itu diumumkan di hadapan khalayak raya. Setelah empat tahun, lalu harta warisan itu dibagi-bagikan kepada anak-anak Az-Zubair dan dikurangi sepertiganya. Saat wafat, Az-Zubair meninggalkan empat orang istri, setiap istri memperoleh jatah satu juta dua ratus ribu. Jadi, total harta peninggalan Az-Zubair ialah limapuluh juta dua ratus ribu (dirham)."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Az-Zubair bin Al-Awam berkata kepada putranya, Abdullah pada saat perang Jamal. Yaitu perang yang terjadi karena masalah penyerahan para pembunuh Usman. Aku melihat diriku akan menjadi syahid karena terzalimi. Sesungguhnya yang membebaniku adalah utang-utangku yang telah menimbunku. Karena itu, lunasilah atas namaku. utang-utangnya diperkirakan menghabiskan seluruh hartanya. Meskipun demikian dia memberikan wasiat kepada putra-putra anaknya (cucunya) karena dia mengetahui bahwa mereka itu tidak memiliki bagian warisan karena putranya masih hidup. Lantas dia menetapkan sepertiga dari sepertiga (1/9) wasiat untuk mereka dan mencakup seluruhnya. Dahulunya orang-orang menitipkan harta benda mereka padanya lalu dia menolak untuk mengambilnya sebagai barang titipan karena khawatir hilang. Ia berkata, "Itu bukan titipan, tetapi pinjaman untukku." Dia adalah seorang lelaki zuhud dan terpercaya; belum pernah memegang kekuasaan dan sesuatu pun sama sekali. Saat dia meninggal dunia dan anaknya membayarkan utangnya serta masih tersisa hartanya. Ahli waris meminta kepadanya agar membagikan harta itu di antara mereka. Hanya saja dia menolak untuk melakukan itu kecuali setelah dia mengumumkan utang itu pada musim haji. Jika tampak sudah tidak ada lagi seorang pun yang mengutanginya, dia pun akan membagikannya di antara mereka. Lantas ia melakukannya. Saat tidak ada lagi utangnya dan sudah terlunasi, ia pun memberikan seperdelapan dari harta ayahnya kepada istri-istrinya. Itulah jatah warisan mereka. Saat wafat, ayahnya memiliki empat orang istri.
Rujukan
الجامع المسند الصحيح (صحيح البخاري), تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري, تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر, دار طوق النجاة ترقيم محمد فؤاد عبدالباقي, ط 1422
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين, تأليف: سليم بن عيد الهلالي, دار ابن الجوزي.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين, تأليف: مصطفى الخن ومصطفى البغا ومحي الدين مستو وعلي الشربجي ومحمد لطفي, مؤسسة الرسالة, ط 14 عام 1407 - 1987
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين, تأليف: محمد علي بن محمد البكري الصديقي, عناية: خليل مأمون شيحا, الناشر: دار المعرفة, ط 4 عام 1425
فيض الباري على صحيح البخاري, تأليف: أمالي محمد أنور شاه الكشميري الهندي, تحقيق: محمد بدر عالم الميرتهي, الناشر: دار الكتب العلمية, ط1 عام 1426
تيسير العزيز الحميد في شرح كتاب التوحيد, تأليف: سليمان بن عبدالله آل الشيخ, تحقيق: زهير شاويش, التاشر: المكتب الإسلامي, ط1 عام 1323
تعليق البغا على صحيح البخاري، دار ابن كثير ، اليمامة – بيروت، تحقيق : د. مصطفى ديب البغا، الطبعة الثالثة ، 1407 – 1987.
Hadis ini di HadeethEnc.com