عن عائشة رضي الله عنها قالت: كُنَّ أزواجُ النبي صلى الله عليه وسلم عنده، فأقبلت فاطمة رضي الله عنها تمشي، ما تُخْطِئُ مِشْيَتُها من مِشْيَةِ رسول الله صلى الله عليه وسلم شيئًا، فلما رآها رَحَّبَ بها، وقال: «مَرْحَبًا بابنتي»، ثم أجلسها عن يمينه أو عن شماله، ثم سَارَّهَا فبكت بُكاءً شديدًا، فلما رأى جَزَعَهَا، سَارَّهَا الثانية فضحكت، فقلتُ لها: خَصَّكِ رسول الله صلى الله عليه وسلم من بين نسائه بالسِّرَارِ، ثم أنت تَبْكِينَ! فلما قام رسول الله صلى الله عليه وسلم سألتها: ما قال لك رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قالت: ما كنت لأُفْشِيَ على رسول الله صلى الله عليه وسلم سِرَّهُ، فلما توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم قلتُ: عَزَمْتُ عليك بما لي عليك من الحق، لما حَدَّثْتِنِي ما قال لك رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ فقالت: أما الآن فنعم، أما حين سَارَّنِي في المرة الأولى فأخبرني أن جبريل كان يُعارضه القرآن في كل سنة مرة أو مرتين، وأنه عارضه الآن مرتين، وإني لا أرى الأَجَلَ إلا قد اقترب، فاتقي الله واصبري، فإنه نِعْمَ السَّلَفُ أنا لك، فبكيت بكائي الذي رأيتِ، فلما رأى جَزَعِي سَارَّنِي الثانية، فقال: «يا فاطمة، أما تَرْضَينَ أن تكوني سيدة نساء المؤمنين، أو سيدة نساء هذه الأمة؟» فضحكتُ ضحكي الذي رأيتِ.
Dari Aisyah -raḍiyyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Para istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ada di samping beliau. Lantas Fatimah -raḍiyyallāhu 'anhā- datang sambil berjalan. Cara jalannya mirip dengan cara jalan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Saat beliau melihatnya, beliau pun menyambutnya dan bersabda, "Selamat datang putriku." Selanjutnya beliau mempersilakannya untuk duduk di samping kanannya atau kirinya. Lalu beliau bisikkan sesuatu kepadanya hingga ia (Fatimah) menangis tersedu-sedu. Ketika melihat kesedihan hati Fatimah, maka sekali lagi Rasulullah pun membisikkan sesuatu kepadanya hingga ia tertawa. Lalu aku (Aisyah) bertanya kepada Fatimah, "Sesungguhnya Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberikan keistimewaan kepadamu dengan membisikkan suatu rahasia di hadapan para istri beliau hingga kamu menangis sedih!" Setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggalkan tempat itu, aku pun bertanya kepada Fatimah, "Apa yang dikatakan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadamu?" Fatimah menjawab, "Sungguh aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam - meninggal dunia, aku (Aisyah) bertanya kepadanya, "Aku bertekad menanyakan kepadamu -sesuai dengan hak (kedudukanku) di sisimu- tentang apa yang telah dibisikkan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadamu dulu waktu kamu tidak mau menjelaskannya kepadaku." Fatimah menjawab, "Sekarang -setelah Rasulullah meninggal dunia- aku akan memberitahukannya kepadamu. Dulu, ketika Rasulullah membisikkan sesuatu kepadaku, untuk yang pertama kali, beliau memberitahukan bahwasanya Jibril dan beliau biasanya bertadarus Al-Qur`ān satu atau dua kali dalam setiap tahun dan kini beliau bertadarus dengannya (Jibril) sebanyak dua kali. Sungguh aku (Rasulullah) tahu bahwa ajalku telah dekat. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah! Sesungguhnya sebaik-baik pendahulumu adalah aku." (Fatimah berkata), "Maka aku pun menangis, seperti yang kamu lihat dulu. Ketika Rasulullah melihat kesedihanku, beliau pun berbisik kepadaku untuk kedua kalinya. Beliau bersabda, "Hai Fatimah, tidakkah kamu rida menjadi pemimpin para istri orang-orang mukmin atau pemimpin para wanita umat ini?" Lalu aku pun tertawa seperti yang dulu engkau lihat."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menuturkan bahwa para istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berada di sisi beliau. Lantas Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- datang menjenguk beliau yang sedang sakit menjelang wafat. Aisyah menuturkan bahwa Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- datang dengan berjalan kaki. Cara jalannya seperti cara jalan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kebiasaan Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila putrinya, Fatimah - raḍiyallāhu 'anhā- datang, beliau berdiri menyambutnya, menciumnya, dan menyilahkannya untuk duduk di tempat duduknya. Beliau menyambut kedatangan putrinya dan menyilahkannya untuk duduk di sampingnya.
Selanjutnya Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa beliau berbisik kepada Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- dengan satu perkataan lalu ia (Fatimah) menangis keras. Saat beliau melihat kesedihan dahsyat pada putrinya, beliau pun membisikan perkataan lainnya kepadanya hingga ia tertawa.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- pun bertanya kepada Fatimah mengenai kekhususan yang diberikan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadanya tanpa istri-istri yang lainnya dan menyebabkan dirinya menangis.
Fatimah menjawab, "Aku tidak akan membeberkan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bersumpah kepada Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- agar menceritakan kepadanya mengenai sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadanya.
Fatimah berkata, "Karena engkau bertanya kepadaku sekarang, maka aku akan menceritakannya kepadamu. Mengenai tangisanku saat beliau membisikan perkataan kepadaku pada bisikan pertama, sesungguhnya beliau memberitahuku bahwa Jibril -'alaihi as-salām- membacakan Al-Qur`ān kepada beliau satu atau dua kali setiap tahun. Saat itu Jibril membacakan Al-Qur`ān kepadanya dua kali dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengira bahwa itu merupakan peringatan mengenai akhir masa hidupnya. Beliau memerintahkanku untuk bertakwa dan bersabar serta menyadari hal itu sebagai kemuliaan yang dimajukan bagiku setara dengan kesedihan perpisahan yang tampak. Aku pun menangis sebagaimana yang engkau lihat dariku. Ketika beliau melihat kesedihanku yang berat, beliau memberi kabar yang baik kepadaku bahwa aku adalah pemimpin para wanita orang-orang beriman atau pemimpin wanita umat ini. Aku pun tertawa lepas dengan tawa sebagaimana yang pernah engkau lihat dariku. Adapun tertawanya, maka hadis ini menjelaskan keadaan Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa dia adalah pemimpin para wanita penghuni Surga. Meskipun demikian, ada perbedaan pendapat di berbagai riwayat mengenai bisikan kedua beliau dan tertawanya terhadap hal tersebut. Pendapat ini terbagi ke dalam beberapa pendapat:
1. Itu merupakan kabar bagi Fatimah bahwa dialah keluarganya yang pertama kali menyusul Nabi.
2. Itu merupakan pemberitahuan bahwa Fatimah adalah pemimpin para wanita penghuni Surga, dan Fatimah sebagai keluarga yang pertama kali menyusul beliau (meninggal) digabungkan dengan pendapat yang pertama, dan ini pendapat yang sahih.
3. Beliau bersabda kepada Fatimah bahwa Jibril telah mengabariku bahwa tidak ada satu perempuan pun yang lebih agung keturunannya darimu, karena itu janganlah engkau menjadi wanita yang paling rendah kesabarannya. Hanya saja sebelum itu Aisyah - raḍiyallāhu 'anhā- dengan minatnya terhadap ilmu, dia segera bertanya kepada Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- mengenai apa yang terjadi dalam bisikan. Ternyata putri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hanya menjawab, "Sungguh aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ini merupakan bukti dari hadis. Setelah larangan terhapus dengan wafatnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Fatimah pun memberitahukan perkara rahasia itu.
Dalam hadis tersebut Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahukan hal yang akan terjadi. Lalu terjadilah sebagaimana sabda beliau. Mereka sepakat bahwa Fatimah -'alaiha as-salām- adalah orang yang pertama kali meninggal dari kalangan keluarga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahkan sebelum para istri-istri beliau -raḍiyallāhu 'anhunna-.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه.
تطريز رياض الصالحين للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423 هـ.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
شرح رياض الصالحين للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ.
صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
فتح الباري شرح صحيح البخاري، لابن حجر العسقلاني، الناشر: دار المعرفة - بيروت، 1379
شرح العقيدة الواسطية، لابن عثيمين، دار ابن الجوزي، الطبعة السابعة، 1422ه.
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: لمَّا ثَقُل النبي صلى الله عليه وسلم جَعَل يَتَغَشَّاه الكَرب، فقالت فاطمة رضي الله عنها : واكَربَ أَبَتَاه، فقال: «لَيسَ عَلَى أَبِيك كَرب بعد اليوم». فلما مات، قالت: يا أَبَتَاه، أجاب ربًّا دَعَاه! يا أبَتَاه، جَنَّة الفِردَوس مَأوَاه! يا أبتاه، إلى جبريل نَنعَاه! فلمَّا دُفِن قالت فاطمة رضي الله عنها : أَطَابَت أَنفُسُكُم أَن تَحثُوا عَلَى رسُولِ الله صلى الله عليه وسلم التُّراب؟!
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Ketika sakit Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- semakin parah, maka beliau pun diliputi kedukaan (menghadapi sakaratul maut). Lantas Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Kesukaran yang ayahanda rasakan." Kemudian beliau bersabda, "Ayahmu tidak akan menderita lagi sesudah hari ini." Selanjutnya setelah beliau wafat, Fatimah berkata, "Wahai ayahandaku yang telah memenuhi panggilan Rabbnya! Wahai ayahandaku, Surga Firdaus adalah tempat kediamannya. Wahai ayahandaku, kepada Jibril kami sampaikan berita wafatnya!" Setelah beliau dikebumikan, Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Apakah sampai hati kalian semua menaburkan tanah di atas jasad Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?"
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis ini menggambarkan kesabaran Nabi kita -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terhadap sakaratul maut. Ketika sakit beliau semakin parah yang membuatnya meninggal dunia, maka kedukaan pun menyelimutinya karena dahsyatnya sakit yang diderita. Sakit yang diderita Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sangat hebat. Hal ini mengandung hikmah yang tinggi sehingga beliau mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah sebagai balasan kesabarannya. Ketika kedukaan menyelimuti beliau, Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Kesukaran yang ayahanda rasakan." Fatimah mengeluh atas kesulitan yang dihadapi ayahnya karena dia seorang wanita, dan wanita itu tidak mampu untuk bersabar. Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- bersabda, "Ayahmu tidak akan menderita lagi sesudah hari ini." Sebab, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika berpindah dari dunia, maka beliau berpindah ke Ar-Rafīq Al-A'lā. Sebagaimana Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat sakaratul maut menyelimutinya- bersabda, "Ya Allah di sisi Ar-Rafīq Al-A'lā, ya Allah di sisi Ar-Rafīq Al-A'lā," sambil melihat ke langit-langit rumah." Rasulullah -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- wafat lalu Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- meratapinya dengan ratapan yang ringan dan tidak menunjukkan sikap murka terhadap takdir dan ketetapan Allah. Ucapan Fatimah, "yang telah memenuhi panggilan Rabbnya". Hal itu karena kekuasaan atas segala sesuatu ada di tangan Allah –Ta'ālā-, dan ajal semua makhluk ada ditangan-Nya. Beliau memenuhi panggilan malaikat Allah, yaitu bahwasanya ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat, beliau seperti orang-orang Mukmin yang lain. Ruh beliau naik dan berhenti tatkala sampai di sisi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- di atas langit ketujuh. Ucapan Fatimah, "Wahai ayahandaku, Surga Firdaus adalah tempat kediamannya." Sebab, beliau adalah makhluk yang memiliki derajat paling tinggi di Surga. Hal ini sebagaimana sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Mohonlah kepada Allah Al-Wasīlah. Sesungguhnya Al-Wasīlah adalah satu tingkatan di Surga yang hanya diperuntukkan bagi seorang hamba Allah, dan aku berharap akulah hamba itu." Tidak ada keraguan lagi bahwa tempat kediaman beliau adalah Surga Firdaus. Surga Firdaus adalah tingkatan Surga paling tinggi, dan atap yang ada di atasnya adalah 'Arsy Allah -Jalla Jalāluhu-, dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berada di tingkatan Surga yang paling tinggi. Ucapan Fatimah, "Wahai ayahandaku, kepada Jibril kami sampaikan berita wafatnya!" Sesungguhnya kami memberitahukan wafatnya kepada Jibril. Sebab, Jibril adalah malaikat yang selalu mendatanginya dan mengajarinya wahyu pada saat beliau hidup. Wahyu itu sendiri berkaitan erat dengan kehidupan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Selanjutnya ketika beliau dipikul dan dikebumikan, Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Apakah sampai hati kalian menaburkan tanah di atas jasad Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?" Yakni, begitu berdukanya dia kepada beliau, dan begitu sedih serta sakitnya berpisah dengan bapaknya, serta pengetahuannya bahwa para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- telah diisi hatinya oleh Allah dengan kecintaan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka dia melontarkan pertanyaan tersebut kepada mereka. Hanya saja Allah-lah yang memiliki ketetapan dan kepada-Nya tempat kembali. Hal ini sebagaimana firman Allah –Ta'ālā- dalam Kitab-Nya, "Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati."
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
شرح رياض الصالحين، للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ.
صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
عن عائشة رضي الله عنها قالت: ((دخل عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق رضي الله عنهما على النبي صلى الله عليه وسلم وأنا مُسْنِدَتُه إلى صدري، ومع عبد الرحمن سِواك رَطْب يَسْتَنُّ به، فأَبَدَّه رسول الله صلى الله عليه وسلم بَصَره، فَأَخَذْتُ السِّوَاك فَقَضَمتُه، فَطَيَّبتُه، ثُمَّ دَفَعتُهُ إلى النبي صلى الله عليه وسلم فَاسْتَنَّ به فما رأيتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم استَنَّ اسْتِنَانًا أَحسَنَ منه، فَما عَدَا أن فَرَغَ رسول الله صلى الله عليه وسلم : رَفَع يَدَه -أو إصبعه-، ثم قال: في الرفيق الأعلى -ثلاثا- ثمَّ قَضَى، وكَانت تقول: مَاتَ بَينَ حَاقِنَتِي وَذَاقِنَتِي)).
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata, "Abdurraḥmān bin Abi Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhumā- pernah masuk menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada saat aku menyandarkan beliau ke dadaku. Ketika itu Abdurraḥmān -raḍiyallāhu 'anhu- membawa kayu siwak basah yang digunakan untuk menyikat gigi. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melayangkan pandangannya kepadanya. Aku pun mengambil kayu siwak itu lalu menggigitnya dan melembutkannya lalu aku menyerahkannya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas beliau bersiwak dengannya. Aku tidak pernah melihat sebelumnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersiwak sebaik itu. Usai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersiwak, beliau mengangkat tangannya -atau jarinya- lalu mengucapkan, "Ar-Rafīq al-A'lā (berada di dekat Żat yang Maha Tinggi)" -tiga kali- lalu beliau pun wafat. Aisyah berkata, "Beliau meninggal dunia di antara perut dan daguku (dekapannya)."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menuturkan sebuah kisah yang menjelaskan kepada kita sejauh mana kecintaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada siwak dan ketergantungan beliau dengannya. Bahwasanya Abdurraḥmān bin Abi Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- saudara Aisyah masuk menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat sakaratul maut, dan dia membawa kayu siwak yang basah untuk menggosok giginya. Saat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihat kayu siwak yang dibawa oleh Abdurraḥmān, ternyata sakit dan sakaratul maut yang sedang dialaminya tidak menghalanginya untuk bersiwak karena kecintaannya kepadanya. Beliau melayangkan pandangannya kepadanya seperti orang yang menginginkannya. Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- memahami itu lalu mengambil kayu siwak dari saudaranya, memotong ujung kayu siwak dengan giginya, membersihkan dan melembutkannya lalu menyodorkannya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau pun bersiwak dengannya. Aisyah tidak pernah melihat sebelumnya cara bersiwak yang lebih bagus dari cara bersiwaknya. Tatkala sudah bersih dan selesai dari bersiwak, beliau mengangkat jarinya untuk mengesakan Allah -Ta'ālā- dan memilih pindah menuju Rabbnya -Ta'ālā- setelah itu Nabi-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat. Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bangga dan dia berhak untuk itu karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat dalam keadaan kepala beliau di dadanya.
Rujukan
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، إسماعيل بن محمد الأنصاري، دار الفكر، دمشق، الطبعة: الأولى 1381هـ.
تأسيس الأحكام، أحمد بن يحيى النجمي، دار علماء السلف، الطبعة: الثانية 1414هـ.
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الأمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة 1426هـ.
تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، محمد بن صالح العثيمين ، مكتبة الصحابة، الإمارات، الطبعة: الأولى 1426هـ.
عمدة الأحكام من كلام خير الأنام -صلى الله عليه وسلم- لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، دار الثقافة العربية، دمشق، بيروت، مؤسسة قرطبة، الطبعة: الثانية 1408 هـ.
صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ.
عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: لما اشتد برسول الله صلى الله عليه وسلم وجعه، قيل له في الصلاة، فقال: «مروا أبا بكر فليُصَلِّ بالناس» فقالت عائشة رضي الله عنها : إن أبا بكر رجل رقيق، إذا قرأ القرآن غلبه البكاء، فقال: «مُرُوه فليُصَلِّ».
وفي رواية عن عائشة رضي الله عنها ، قالت: قلت: إن أبا بكر إذا قام مقامك لم يُسْمعِ الناس من البكاء.
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sakit keras, ada seseorang yang menanyakan tentang imam salat. Beliau bersabda, "Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami salat!" Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang sangat lembut hatinya (sensitif). Apabila ia membaca Al-Qur`ān, ia tidak dapat menahan tangisnya." Namun beliau bersabda, "Suruhlah ia (Abu Bakar) untuk menjadi imam!" Dalam satu riwayat dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar apabila menempati tempatmu (menjadi imam), orang-orang tidak dapat mendengar bacaan salatnya karena tangisnya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sakit keras dan tidak mampu untuk menjadi imam, maka beliau memerintahkan orang yang ada di dekatnya agar menyuruh Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- mengimami salat. Abu Bakar adalah sosok yang banyak menangis (sensitif) ketika membaca Al-Qur`ān. Karena itu, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- beralasan dengan hal tersebut. Hanya saja dalam sebuah hadis pada bab ini dijelaskan bahwa tangisannya karena membaca Al-Qur`ān bukan tujuan pertama Aisyah, tetapi tujuan utamanya karena dikhawatirkan orang-orang merasa pesimis dengan ayahnya. Lantas Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menjelaskan sesuatu yang berbeda dengan apa yang tersimpan dalam batinnya. Dalam sebuah riwayat dari Muslim disebutkan, Aisyah berkata, "Demi Allah, aku tidak ada maksud apa-apa selain karena tidak suka kalau orang-orang merasa pesimis dengan orang yang pertama kali mengganti kedudukan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Aisyah berkata, "Aku menemui beliau dua atau tiga kali." Namun beliau bersabda, "Hendaknya Abu Bakar mengimami salat manusia. Sesungguhnya kalian itu seperti teman-teman Yusuf." Maksud "teman-teman Yusuf" yaitu mereka itu laksana teman-teman Yusuf dalam menampakkan kebalikan apa yang ada dalam batinnya. Seruan ini meskipun dengan lafal jamak, tetapi maksudnya satu, yaitu Aisyah saja. Sama halnya dengan maksud teman-teman Yusuf adalah Zulaikha saja. Demikian dikatakan oleh Al-Ḥāfiẓ (Ibnu Hajar) bahwa wanita itu adalah istri penguasa Mesir saat itu. Aspek persamaan antara keduanya bahwa Zulaikha mengundang para wanita dan menampakkan penghormatan dengan jamuan, padahal tujuannya lebih dari itu, yaitu agar para wanita tersebut memandang sendiri ketampanan Yusuf dan memaklumi dirinya yang mencintai Yusuf. Sedangkan itu Aisyah menampakkan bahwa sebab keinginannya ialah memalingkan keimaman dari ayahnya, karena para makmum tidak akan mendengar bacaannya yang berbaur dengan tangisannya, sementara maksudnya lebih dari itu agar orang-orang tidak merasa pesimis dengannya, sebagaimana hal ini dijelaskan dari berbagai jalur hadis. Aisyah berkata, "Tidak ada hal yang mendorongku untuk memohon peninjauan ulang, melainkan karena di dalam hatiku terbersit bahwa orang-orang tidak akan mencintai sosok yang menggantikan kedudukan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- setelah wafat.
Rujukan
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428ه.
- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418ه.
- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ.
- صحيح البخاري عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ.
- صحيح مسلم؛ حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ.
نيل الأوطار- محمد بن علي الشوكاني -تحقيق: عصام الدين الصبابطي- دار الحديث، مصر- الطبعة: الأولى، 1413هـ - 1993م.
عن عائشة رضي الله عنها ، قالت: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم وَهُوَ مُسْتَنِدٌ إلَيَّ، يَقُولُ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وارْحَمْنِي، وأَلْحِقْنِي بالرَّفِيقِ الأَعْلَى».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia berkata, Aku pernah mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda sambil bersandar kepadaku, "Ya Allah! Ampunilah aku dan rahmatilah aku. Gabungkanlah aku nersama teman tertinggi."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Ketika ajal Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah dekat, beliau bersandar ke ibunda kaum mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- sambil berdoa kepada Rabbnya untuk digabungkan dengan teman tertinggi yaitu golongan para Nabi, para as-ṣiddīqīn dan syuhada serta kaum yang saleh.
Rujukan
صحيح البخاري, ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي, دار طوق النجاة, الطبعة الأولى، 1422هـ.
صحيح مسلم, ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي, دار إحياء التراث العربي, بيروت.
شرح رياض الصالحين لابن عثيمين, دار الوطن للنشر، الرياض, الطبعة: 1426هـ.
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي, دار ابن الجوزي.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين, مؤسسة الرسالة, الطبعة الرابعة عشر, 1407ه.
الاستذكار لابن عبد البر, ت: سالم محمد عطا، محمد علي معوض, دار الكتب العلمية, الطبعة الأولى، 1421ه.
عن عائشة رضي الله عنها ، قالت: «قُبِض رسولُ الله صلى الله عليه وسلم ورأسُه بين سَحْري ونَحْري»، قالت: «فلمَّا خَرَجَتْ نفْسُه، لم أَجِدْ ريحا قَطُّ أطْيَبَ منها».
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dicabut nyawanya sementara kepala beliau berada di antara dada dan leherku. Ketika nyawa beliau keluar, belum pernah sekali pun aku mendapatkan aroma yang lebih harum dari aroma itu."
Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan
Aisyah, istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggal dunia dalam keadaan bersandar ke dadanya. Ketika nyawa beliau keluar, Aisyah mencium aroma yang wangi, belum pernah sekali pun ia mencium aroma yang lebih wangi dari itu.
Rujukan
- مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى، 1421هـ - 2001م.
- النهاية في غريب الحديث والأثر، لابن الأثير، نشر: المكتبة العلمية - بيروت، 1399هـ - 1979م، تحقيق: طاهر أحمد الزاوى - محمود محمد الطناحي.
- تاج العروس من جواهر القاموس، للزبيدي، نشر: دار الهداية.
- معجم اللغة العربية المعاصرة، للدكتور أحمد مختار عبد الحميد عمر بمساعدة فريق عمل، الناشر: عالم الكتب، الطبعة: الأولى، 1429 هـ - 2008 م.
عن أنس رضي الله عنه قال: «آخِرُ نَظْرة نَظَرْتُها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم كَشَف السِّتارة والناسُ صُفوف خَلْف أبي بكر رضي الله عنه ، فأراد أبو بكر أنْ يَرْتَدَّ، فأشار إليهم أَنِ امكثُوا وأَلْقى السِّجْفَ، وتُوفِّي مِن آخِرِ ذلك اليوم، وذلك يومَ الإثنين».
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Terakhir kali aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah ketika beliau menyingkap tirai rumahnya sementara orang-orang sedang bersaf di belakang Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-. Kemudian Abu Bakar hendak mundur, namun beliau memberikan isyarat kepada mereka agar tetap di tempat mereka, lantas beliau menurunkan lagi tirai tersebut. Beliau meninggal setelahnya di hari itu, yaitu hari Senin."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Terakhir kali Anas bin Malik melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ialah ketika beliau menyingkap tirai yang membatasi kamar beliau dengan masjid dan beliau melihat para sahabat sedang mengerjakan salat di belakang Abu Bakar dengan bersaf. Kemudian Abu Bakar menyadari hal itu dan mengira bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hendak keluar menunaikan salat, maka dia pun hendak mundur dan berdiri bersama saf para sahabat supaya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang lalu salat mengimami mereka. Namun Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikan isyarat perintah kepada mereka supaya mereka tetap di tempat mereka dan menyelesaikan salat mereka. Kemudian beliau menutup kembali tirai tersebut. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggal dunia setelahnya di hari itu, yaitu pada hari Senin.
Rujukan
- صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
- السنن الصغرى للنسائي "المجتبى"، تحقيق: عبد الفتاح أبو غدة، نشر: مكتب المطبوعات الإسلامية – حلب، الطبعة: الثانية، 1406ه – 1986م.
- حاشية السندي على سنن ابن ماجه، لمحمد بن عبد الهادي التتوي نور الدين السندي، الناشر: دار الجيل – بيروت.
- شرح سنن النسائي المسمى «ذخيرة العقبى في شرح المجتبى»، المؤلف: محمد بن علي بن آدم الإثيوبي الوَلَّوِي، الناشر: دار المعراج الدولية للنشر - دار آل بروم للنشر والتوزيع, الطبعة الأولى, 1416- 1424.
عن عائشة رضي الله عنها قالت: «ما أَغْبِطُ أحدًا بهَوْنٍ موتٍ بَعْدَ الذي رَأَيتُ مِنْ شدَّة مَوْت رسول الله صلى الله عليه وسلم ».
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Aku tidak pernah iri pada seseorang karena mudahnya kematiannya setelah melihat beratnya kematian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
Diriwayatkan oleh TirmiżiDerajatHadis sahih
Penjelasan
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bercerita bahwa dia tidak pernah merasa gembira pada seseorang lantaran mudahnya kematiannya, tidak juga berandai-andai supaya mati dengan mudah setelah melihat beratnya kematian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Karena dia mengetahui bahwa beratnya kematian bukan petunjuk pada buruknya kesudahan orang yang meninggal, dan bahwa mudahnya kematian bukan termasuk kemuliaan. Kalau tidak demikian, pastilah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lebih patut dengan itu. Maka janganlah membenci beratnya kematian pada seseorang, dan jangan pula senang pada seseorang yang mati tanpa kesulitan.
Rujukan
- سنن الترمذي، نشر: شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي – مصر، الطبعة: الثانية، 1395هـ - 1975م.
- مختصر الشمائل المحمدية، للألباني، نشر: المكتبة الإسلامية – عمان – الأردن.
- مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي بن سلطان الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت – لبنان، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م.
- تحفة الأحوذي بشرح جامع الترمذي لمحمد عبد الرحمن بن عبد الرحيم المباركفورى، الناشر: دار الكتب العلمية – بيروت.
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com