عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أَنَّ عمرَ رضي الله عنه حِينَ تَأَيَّمَت بِنتُهُ حَفصَة، قَالَ: لَقِيتُ عثمانَ بن عفان رضي الله عنه فَعَرَضتُ عَلَيه حَفصَة، فَقُلتُ: إِنْ شِئْتَ أَنكَحْتُكَ حَفصَةَ بِنتَ عُمَر؟ قَال: سَأَنظُر فِي أَمْرِي، فَلَبِثتُ لَيَالِيَ ثُمَّ لَقِيَنِي، فَقَال: قَدْ بَدَا لِي أَنْ لاَ أَتَزَوَّجَ يَومِي هَذَا، فَلَقِيتُ أَبَا بَكر رضي الله عنه فقُلتُ: إِنْ شِئْتَ أَنْكَحْتُكَ حَفصَةَ بِنتَ عُمَرَ، فَصَمَتَ أَبُو بَكر رضي الله عنه فَلَم يَرجِعْ إِلَيَّ شَيئًا! فَكُنْتُ عَلَيهِ أَوْجَدَ مِنِّي عَلَى عُثمَانَ، فَلَبِثَ لَيَالِيَ ثُمَّ خَطَبَهَا النَّبِي -صلَّى الله عليه وسلَّم- فَأَنْكَحْتُهَا إِيَّاهُ، فَلَقِيَنِي أَبُو بَكر، فقَال: لَعَلَّكَ وَجَدتَ عَلَيَّ حِينَ عَرَضْتَ عَلَيَّ حَفصَةَ فَلَمْ أرْجِع إِلَيكَ شَيئًا؟ فَقُلتُ: نَعَم، قَالَ: فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أرْجِع إِلَيكَ فِيمَا عَرَضتَ عَلَيَّ إِلاَّ أَنِّي كُنتُ عَلِمْتُ أَنَّ النبِيَّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- ذَكَرَهَا، فَلَم أَكُن لِأُفْشِي سِرَّ رسُولَ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- وَلَو تَرَكَهَا النبيُّ -صلَّى الله عليه وسلم- لَقَبِلتُهَا.
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Umar -raḍiyallāhu 'anhu- ketika puterinya Ḥafṣah menjanda, ia berkata, “Aku bertemu dengan Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- lalu aku menawarkan Ḥafṣah untuk menikah dengannya. Aku berkata, “Jika kamu mau, aku akan nikahkan kamu dengan Ḥafṣah binti Umar?" Dia menjawab, “Saya akan pikirkan terlebih dahulu.” Beberapa malam pun telah berlalu, kemudian dia (Uṡmān) menemuiku lalu berkata, “Telah jelas bagiku bahwa aku tidak akan menikah pada hariku ini.” Kemudian aku bertemu dengan Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- lalu aku katakan kepadanya, “Jika kamu mau, aku akan menikahkan kamu dengan Ḥafṣah binti Umar?" Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- hanya terdiam dan tidak menjawab sepatah kata pun. Aku merasa sangat tersinggung kepadanya daripada kepada Uṡmān. Beberapa malam pun berlalu, kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melamarnya, lalu aku pun menikahkannya dengan beliau. Kemudian Abu Bakar bertemu denganku lalu berkata, “Apakah kamu marah kepadaku ketika kamu menawarkan Ḥafṣah kepadaku, lalu aku tidak memberimu jawaban apapun?” Aku pun menjawab, "Iya." Dia berkata, “Sesungguhnya tidak ada yang mencegahku untuk memberimu jawaban atas tawaramu kepadaku melainkan karena aku telah mengetahui bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah menyebutnya (Ḥafṣah), dan aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Seandainya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak menikahinya, tentu aku akan menerimanya."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Dalam hadis ini Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Umar -raḍiyallāhu 'anhu- ketika puterinya yaitu Ḥafṣah menjanda, yaitu setelah ditinggal mati oleh Khunais bin Ḥużāfah As-Sahmi, saudara Abdullah bin Ḥużāfah, salah seorang sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang meninggal di Madinah. Penyebab kematiannya adalah luka yang menimpanya ketika perang uhud. Dia termasuk dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan ikut berhijrah ke negeri Ḥabasyah. Umar berkata, “Aku bertemu dengan Uṡmān”, yakni setelah istrinya Ruqayyah binti Rasulullah meninggal. Umar berkata, “Lalu aku tawarkan Ḥafṣah kepadanya (untuk dinikahi).” Ini menunjukkan bahwa seorang ayah boleh menawarkan puterinya untuk dinikahkan dengan orang baik dan saleh, dan dalam hal itu tidak ada cela, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Al-Bukhari ketika memberi judul hadis ini. Umar berkata, “Jika kamu mau, aku akan menikahkan kamu dengan Ḥafṣah binti Umar?” Penggunaan ungkapan seperti ini adalah bentuk ungkapan kalimat syarṭiyyah di mana orang yang dituju bebas untuk memilih. Ini termasuk ungkapan yang baik dan penuh motivasi untuk dapat diterima, dan disebutkan juga penisbahan puterinya terhadap dirinya. Dalam hal ini terkandung penyederhanaan kalimat dengan menghilangkan sebagiannya, seakan-akan Umar berkata, “yakni puteri Umar, dan kamu mengetahui tentang kepribadian dan perilaku baiknya.” Jawaban Uṡmān adalah “Akan saya pikirkan terlebih dahulu”, yakni memikirkan apakah saya akan menikahinya sekarang atau saya undurkan waktunya. Umar berkata, "Beberapa malam pun telah berlalu, kemudian dia (Uṡmān) menemuiku lalu berkata, “Telah jelas bagiku bahwa aku tidak akan menikah pada hariku ini.” Dengan itu Uṡman menghendaki kemutlakan waktu; yaitu pada waktuku ini (pada saat ini). Dia menjawab demikian untuk menghilangkan persangkaan bahwa dia tidak ingin menikah selamanya, yang mana hal tersebut dilarang. Umar berkata, “Kemudian aku bertemu dengan Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- lalu aku katakan kepadanya, "Jika kamu mau, aku akan menikahkan kamu dengan Ḥafṣah binti Umar?” Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq secara sengaja tidak mau menjawabnya karena alasan tertentu yang lebih khusus dari sekedar berdiam. Umar berkata, “Aku merasa sangat marah” kepadanya daripada kepada Uṡmān. Hal itu disebabkan karena dia mendapatkan jawaban dari Uṡmān, sedangkan Abu Bakar tidak memberikan jawaban apapun dan hanya diam. "Beberapa malam pun berlalu dan kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melamarnya, lalu akupun menikahkannya dengan beliau. Kemudian Abu Bakar bertemu denganku." Yakni setelah pernikahan dilangsungkan dan setelah hal yang dia hindari sirna yaitu tentang perkara yang sebenarnya, Abu Bakar berkata dan menyampaikan alasan serta memperbaiki sangkaan saudaranya: (لعلّك) untuk menunjukkan rasa kasih sayang. Dia menggunakan kalimat tersebut bersandar pada akhlak baik Umar, dan bahwa Umar tidaklah marah karena hal tersebut. Akan tetapi kemarahan yang timbul darinya adalah sesuai dengan tabiat. Abu Bakar mengatakan hal itu kepadanya, dia berkata, “Apakah kamu marah kepadaku ketika kamu menawarkan Ḥafṣah kepadaku, lalu aku tidak memberimu jawaban apapun?” Yakni apakah kamu marah pada waktu itu? Umar menjawab, “Iya.” Ini adalah jawaban dari Umar sebagai pemberitahuan dan kejujurannya terkait kemarahannya tersebut. Lalu Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq berkata, “Sesungguhnya tidak ada yang mencegahku untuk menjawab tawaranmu kepadaku melainkan karena aku mengetahui bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah menyebutnya (Ḥafṣah).” Maksudnya adalah sesungguhnya aku berkeinginan untuk menikahinya. Mungkin ungkapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang keinginannya untuk melamar Ḥafṣah diucapkan kepada Abu Bakar saja tanpa yang lainnya, sehingga ia memandang hal itu sebagai sebuah rahasia yang tidak boleh untuk disebarkan; oleh karena itu dia berkata, “aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.” Yakni tidak ingin menyebarkan apa yang beliau rahasiakan dan sebutkan di hadapanku. “Seandainya Nabi meninggalkannya” yaitu tidak melamarnya. “Maka aku pasti menerimanya,” dan ini dikarenakan haram hukumnya melamar wanita yang telah disebutkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (untuk beliau nikahi) bagi orang yang mengetahuinya. Dalam hal ini terkandung pendidikan untuk umat, dan yang seharusnya dilakukan adalah menjaga rahasia, berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikannya dan tidak membicarakan hal-hal yang dapat menyeret pembicaraan kepada terkuaknya rahasia.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425هـ.
رياض الصالحين، للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
عن عائشة رضي الله عنها قالت: تُوُفِّيَ رسول الله صلى الله عليه وسلم وما في بيتي من شيء يَأكُلُهُ ذُو كَبدٍ إلا شَطْرُ شَعير في رَفٍّ لي، فأكَلتُ منه حتى طال عليَّ، فَكِلْتُهُ فَفَنِيَ.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhumā- dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat sedangkan di rumahku tidak ada sesuatu yang dapat dimakan oleh makhluk hidup kecuali sedikit gandum di rak ku. Maka akupun memakannya dalam waktu cukup lama. Lalu aku menimbangnya (untuk disedekahkan), sampai habis.
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat sedangkan di rumahnya tidak ada sesuatu pun selain sedikit gandum. Dia senantiasa memakan gandum yang ditinggalkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tersebut beberapa waktu. Ketika dia menimbangnya (untuk dibagikan), gandum itupun habis. Ini menunjukkan keberlanjutan keberkahan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-di makanan yang sedikti tersebut tanpa perlu ditakar yang menunjukkan tawakal yang penuh kepada Allah. Takaran dibutuhkan untuk jugal beli, karena terkait dengan hak orang lain. Adapun takaran untuk beriinfak, maka tidak dianjurkan.
Rujukan
كنوز رياض الصالحين، أ.د. حمد بن ناصر بن عبد الرحمن العمار، دار كنوز إشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ.
بهجة الناظرين، الشيخ: سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي.
نزهة المتقين، د. مصطفى سعيد الخن، د. مصطفى البغا، محيي الدين مستو، علي الشرجبي، محمد أمين لطفي، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة الأولى: 1397 هـ 1977 م، الطبعة الرابعة عشرة 1407 هـ 1987م.
شرح صحيح البخاري لابن بطال، المؤلف: ابن بطال أبو الحسن علي بن خلف بن عبد الملك، تحقيق: أبو تميم ياسر بن إبراهيم، دار النشر: مكتبة الرشد - السعودية، الرياض، الطبعة: الثانية، 1423هـ - 2003م.
رياض الصالحين، د. ماهر بن ياسين الفحل، الناشر: دار ابن كثير للطباعة والنشر والتوزيع، دمشق - بيروت، الطبعة: الأولى، 1428 هـ - 2007 م.
صحيح مسلم، المؤلف: مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي، الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت.
صحيح البخاري، المؤلف: محمد بن إسماعيل أبو عبدالله البخاري الجعفي، المحقق: محمد زهير بن ناصر الناصر، الناشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422هـ.
المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج، المؤلف: أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي، الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، 1392.
Al-Aswad bin Yazīd menuturkan: Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang apa yang Nabi ﷺ lakukan di rumah. Aisyah menjawab, "Beliau ﷺ biasa membantu pekerjaan istrinya. Namun jika waktu salat sudah tiba, beliau keluar untuk melaksanakan salat."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ditanya tentang kegiatan Nabi ﷺ di rumah serta apa yang beliau lakukan. Aisyah menjelaskan bahwa beliau sama seperti manusia lainnya. Beliau di rumah mengerjakan apa yang biasa dikerjakan laki-laki di rumahnya. Beliau biasa mengerjakan kebutuhan pribadi dan keluarganya, yaitu memerah susu, menambal baju, menjahit sandal, dan menambal ember. Tetapi jika telah tiba waktu untuk salat, beliau ﷺ segera keluar untuk melaksanakannya tanpa ditunda.
Faedah
1- Kesempurnaan sifat tawaduk Nabi ﷺ serta kebaikan beliau kepada keluarganya.
2- Pekerjaan dunia tidak boleh melalaikan hamba dari ibadah salat.
3- Komitmen Nabi ﷺ untuk menjaga salat di awal waktunya.
4- Ibnu Ḥajar berkata, "Di dalamnya terdapat motivasi untuk bersikap tawaduk, meninggalkan kesombongan, dan membantu keluarga (istri)."
Rujukan
صحيح البخاري (1/ 136) (676).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 660).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 526).
شرح صحيح البخاري، لابن بطال (2/ 296).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 516).
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: جاء زيدُ بنُ حارثة يشكو، فجعل النبيُّ صلى الله عليه وسلم يقول: «اتَّقِ اللهَ، وأمسِكْ عليك زوجَك»، قال أنس: لو كان رسولُ الله صلى الله عليه وسلم كاتمًا شيئًا لكتم هذه، قال: فكانت زينبُ تَفْخرُ على أزواج النبي صلى الله عليه وسلم تقول: زوَّجَكنَّ أهاليكنَّ، وزوَّجني اللهُ تعالى من فوق سبع سموات، وعن ثابت: {وتُخفي في نفسِك ما اللهُ مُبْدِيهِ وتخشى الناسَ} [الأحزاب: 37]، «نزلت في شأن زينبَ وزيد بن حارثة».
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Zaid bin Ḥāriṡah datang untuk mengadu. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bertakwalah kepada Allah dan pertahankanlah terus istrimu!" Anas berkata, "Seandainya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hendak menyembunyikan sesuatu (dari wahyu), pasti beliau akan menyembunyikan hal ini. Ia berkata, "Zainab membanggakan diri kepada para istri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang lain dengan berkata, "Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian dan aku dinikahkan oleh Allah -Ta'ālā- dari atas tujuh lapis langit." Dari Tsabit, "sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan ditampakkan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia. (QS. Al-Aḥzāb: 37), "Ayat ini turun mengenai kasus Zainab dan Zaid bin Ḥāriṡah."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Zaid bin Ḥāriṡah -raḍiyallāhu 'anhu- datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengadukan istrinya, Zainab binti Jaḥsy --raḍiyallāhu 'anhā- dan berkonsultasi dengan beliau untuk menceraikannya. Sementara itu Allah -Ta'ālā- telah mewahyukan kepada Rasul-Nya bahwa beliau akan menikahi Zainab. Allah menurunkan wahyu tersebut kepada beliau sebelum Zaid menceraikannya.
Saat Zaid datang mengadukan Zainab kepada beliau dan berkonsultasi untuk menceraikannya, beliau bersabda kepadanya, "Bertakwalah kepada Allah dan peganglah erat-erat istrimu!" Lantas Allah -Ta'ālā- mencelanya dengan firman-Nya, "Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya. "Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah!" sedang engkau menyembunyikan dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka, ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab)." Yang disembunyikan oleh Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ialah keengganan beliau untuk mengawini Zainab karena khawatir terhadap omongan orang-orang bahwa beliau telah menikahi istri anak angkatnya. Ucapannya, "Anas berkata, "Seandainya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyembunyikan sebagian (dari wahyu), pasti beliau akan menyembunyikan ayat ini." Yakni, seandainya diperkirakan dalam bentuk kewajiban yang dilarang secara syariat menyembunyikan suatu wahyu, tentu ayat ini yang dipilih. Hanya saja itu tidak terjadi, bahkan dilarang secara syariat. Ayat ini merupakan dalil paling besar bagi orang yang merenungkan kejujuran Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Allah -Ta'ālā- mengabarkan apa yang telah terjadi dalam dirinya berupa kekhawatiran terhadap manusia. Beliau menyampaikan berita itu sebagaimana difirmankan oleh Alla -Ta'ālā- meskipun mengandung celaan kepada beliau. Berbeda dengan keadaan pendusta, ia pasti menghindari segala aib yang mungkin menimpanya.
Kasus ini seperti firman Allah -Ta'ālā-, "Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling." Sampai akhir surah. Dan berbagai ayat serupa dalam Al-Qur`ān.
Ucapannya, "Zainab membanggakan diri kepada para istri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Zainab mengklaim bahwa perkawinannya dengan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- atas perintah Allah kepada beliau dan itu merupakan salah satu keutamaan Zainab dan tidak ada seorang pun istri beliau yang menyamainya.
Zainab berkata, "Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian dan aku dinikahkan oleh Allah -Ta'ālā- dari atas tujuh lapis langit."
Bobot hadis ini menetapkan ketinggian Allah -Ta'ālā- dan hak keputusan Allah bagi kaum mukminin. Ini adalah hal yang diyakini oleh mayoritas kaum muslimin, bahkan di antara mayoritas manusia, kecuali orang yang fitrahnya telah tercemar. Ini adalah sifat yang dapat diketahui oleh pendengaran, akal dan fitrah pada setiap orang yang fitrahnya tidak menyimpang.
Arti ucapan Zainab, "Dan Aku dinikahkan oleh Allah," yakni, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menikahinya berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-, "Maka, ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya)" dan Allah -Ta'ālā- yang mengurus akad pernikahannya dengan beliau.
Rujukan
صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه.
شرح كتاب التوحيد من صحيح البخاري، لعبد الله بن محمد الغنيمان، الناشر: مكتبة الدار، المدينة المنورة، الطبعة: الأولى، 1405 هـ.
عن عائشة رضي الله عنها ، أنها سُئلتْ ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يَعْمل في بيته؟ قالت: «كان بشرًا مِن البشر يَفْلي ثوبَه، ويَحْلِب شاتَه، ويَخْدِم نفْسَه».
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- pernah ditanya, "Aktivitas apakah yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di rumahnya?" Ia menjawab, "Beliau sama dengan manusia lainnya; membersihkan pakaiannya, memerah susu kambingnya, dan mengurusi dirinya sendiri."
Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan
Aisyah, istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya, "Aktivitas apakah yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di rumahnya?" Maka Aisyah menerangkan, bahwa beliau sama dengan orang-orang pada umumnya; yaitu beliau membersihkan kotoran dari pakaiannya, memerah susu kambingnya, dan mengurusi dirinya sendiri. Aisyah menyebutkan pekerjaan-pekerjaan ini sekadar sebagai contoh.
Rujukan
- مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى، 1421هـ - 2001م.
- مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي بن سلطان الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت – لبنان، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م.
- سلسلة الأحاديث الصحيحة وشيء من فقهها وفوائدها، تأليف محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: مكتبة المعارف للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى، لمكتبة المعارف.
- طرح التثريب في شرح التقريب, أبو الفضل زين الدين عبد الرحيم بن الحسين العراقي الطبعة المصرية القديمة.
- فيض القدير شرح الجامع الصغير, زين الدين محمد المدعو بعبد الرؤوف بن تاج العارفين بن علي بن زين العابدين الحدادي ثم المناوي القاهري , الناشر: المكتبة التجارية الكبرى - مصر, الطبعة: الأولى، 1356.
عن عائشة رضي الله عنها قالت: ما غِرْتُ على نساء النبي صلى الله عليه وسلم إلا على خديجة، وإني لم أُدركها، قالت: وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا ذبح الشاة، فيقول: «أرسلوا بها إلى أصدقاء خديجة»، قالت: فأغضبتُه يوما، فقلتُ: خديجة، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إني قد رُزِقْتُ حُبَّها».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata: "Aku tidak pernah cemburu kepada para istri-istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selain kepada Khadijah yang aku sendiri tidak pernah bertemu dengannya. Dia melanjutkan, "Setiap kali Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyembelih kambing maka beliau bersabda, "Kirimkan sebagiannya kepada teman-teman Khadijah." Dia melanjutkan, "Suatu hari aku pernah membuat beliau marah dengan kata-kataku, "Khadijah lagi, Khadijah lagi." Maka Rasulullah bersabada, "Sungguh aku dikaruniai cintanya."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menceritakan bahwa dia tidak pernah merasa cemburu kepada para istri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kecuali kepada Khadijah, padahal Khadijah sendiri wafat sebelum Aisyah diperistri Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Setiap kali Rasulullah menyembelih kambing pasti beliau menyuruh mengirimkan sebagiannya kepada teman-teman Khadijah. Suatu hari Aisyah pernah membuat marah Rasulullah dan mengemukakan keberatannya karena beliau sering meyebut Khadijah. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahukan kepadanya bahwa Allah telah menganugerahi beliau cinta terhadap Khadijah.
Rujukan
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423 هـ.
إكمال المعلم بفوائد مسلم، عياض بن موسى اليحصبي السبتي، المحقق: يحيى إسماعيل، الناشر: دار الوفاء للطباعة والنشر والتوزيع، مصر، الطبعة: الأولى، 1419هـ، 1998م.
عن عائشة رضي الله عنها ، قالت: «لم يتزوج النبي صلى الله عليه وسلم على خديجة حتى ماتت».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak menikah lagi sampai Khadijah wafat."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak menikah lagi sampai Khadijah binti Khuwailid -raḍiyallāhu 'anhā- meninggal dunia. Ini menunjukkan kedudukan Khadijah di sisi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ia merupakan istri pertama beliau.
Rujukan
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
فتح الباري شرح صحيح البخاري، لابن حجر العسقلاني، تحقيق: محب الدين الخطيب، نشر: دار المعرفة-بيروت، 1379ه.
عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يومًا: «يا عائش، هذا جبريل يُقرِئك السلام» فقلت: وعليه السلام ورحمة الله وبركاته، تَرى ما لا أَرى. تريد رسول الله صلى الله عليه وسلم .
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata suatu hari, "Wahai 'Ā`isy! Ini Jibril menyampaikan salam kepadamu." Aku menjawab, "Wa 'alaihis-salām wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Engkau bisa melihat apa yang tidak aku lihat." Maksudnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabari Aisyah bahwa Jibril menyampaikan salam kepadanya. Maka Aisyah menjawab, "Wa 'alaihis-salām wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Sesungguhnya engkau, wahai Rasulullah, dapat melihat apa yang tidak dapat aku lihat." Maksudnya, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dapat melihat Jibril, sementara dia tidak dapat melihatnya.
Rujukan
- صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه.
- صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
- إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري، لأحمد بن محمد بن أبى بكر بن عبد الملك القسطلاني القتيبي المصري، الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية، مصر، الطبعة: السابعة، 1323 هـ.
- منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري, حمزة محمد قاسم, راجعه: الشيخ عبد القادر الأرناؤوط, مكتبة دار البيان، دمشق - الجمهورية العربية السورية، مكتبة المؤيد، الطائف - المملكة العربية السعودية, 1410 هـ - 1990 م.
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com