Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Syarat-syarat Kepemimpinan Tertinggi

4 hadis

Wahai Abu Żar, sesungguhnya aku melihatmu orang yang lemah, dan sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku. Janganlah engkau menjadi pemimpin atas dua orang dan janganlah pula engkau mengurus harta anak yatim!

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم «يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي، لاَ تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَينِ، وَلاَ تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ».
Dari Abu Żar -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadaku, "Wahai Abu Żar, sesungguhnya aku melihatmu orang yang lemah, dan sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku. Janganlah engkau menjadi pemimpin atas dua orang dan janganlah pula engkau mengurus harta anak yatim!"
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Abu Żar -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya, "Sesungguhnya aku melihatmu sebagai orang yang lemah, dan sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku. Janganlah engkau menjadi pemimpin atas dua orang dan janganlah pula engkau mengurus harta anak yatim!" Inilah empat kalimat yang dijelaskan oleh Rasul -'alaihiṣ ṣalātu was salāmu- kepada Abu Żar: Pertama: Beliau bersabda kepadanya, "Sesungguhnya aku melihatmu orang yang lemah." Gambaran yang sesuai dengan realita ini dapat ditafsirkan sebagai nasihat. Maka tidak masalah jika dia mengatakan kepada orang lain, misalnya, "Sesungguhnya dalam dirimu begini dan begitu," sebagai nasihat, bukan sebagai celaan dan cemoohan. Kedua: Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku." Ini merupakan bagian dari akhlak baik Nabi -''alaihiṣ ṣalātu was salāmu-. Sebab, kalimat yang pertama mengandung suatu celaan, maka beliau bersabda, "Sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku." Maksudnya, aku katakan itu karena sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku. Ketiga: "Janganlah engkau memimpin dua orang", yakni, janganlah engkau menjadi pemimpin atas dua orang. Tentu saja jumlah yang lebih dari itu maka lebih tegas lagi larangannya. Artinya bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang Abu Żar menjadi pemimpin karena dia lemah. Sedangkan kepemimpinan itu sendiri membutuhkan orang yang kuat dan terpercaya. Kuat karena dia memiliki kekuasaan dan kata-kata yang tajam; jika dia berkata, dia mengerjakannya dan tidak lemah di hadapan manusia. Sebab, manusia itu apabila telah menganggap seseorang lemah, maka tidak akan ada lagi penghormatan mereka kepadanya, dan orang-orang bodoh pun akan berani kepadanya. Tetapi jika dia pemberani tanpa melampaui batasan-batasan Allah -'Azza wa Jalla- dan tidak lalai dengan kekuasaan yang telah Allah berikan kepadanya, maka inilah pemimpin sejati. Keempat: "Dan janganlah engkau mengurus harta anak yatim." Anak yatim adalah anak yang telah ditinggal bapaknya sebelum usia balig. Rasul -'alaihiṣ ṣalātu was salāmu- melarang Abu Żar untuk mengurus harta anak yatim karena harta anak yatim itu membutuhkan penjagaan. Sementara itu Abu Żar adalah orang lemah yang tidak akan mampu menjaga harta ini dengan sebenar-benarnya. Karena itulah beliau bersabda, "Dan janganlah engkau mengurus harta anak yatim." Yakni, janganlah engkau menjadi wali hartanya dan biarkanlah untuk selainmu. Ini tidak berarti penghinaan terhadap Abu Żar. Sebab, ia sendiri sudah biasa menyuruh kepada yang makruf dan melarang kemungkaran di tambah lagi dengan sikap zuhud dan hidup berkekurangan. Hanya saja ia lemah dalam satu hal tertentu, yaitu dalam hal kepengurusan dan kepemimpinan.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ. رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ. رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ. كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ. شرح رياض الصالحين للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai Abu Żar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah dan kekuasaan itu adalah amanah. Sesungguhnya kekuasaan itu pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قُلتُ: يَا رسُولَ الله، أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِي؟ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي، ثُمَّ قَالَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ القِيَامَةِ خِزيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا».
Dari Abu Żar -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan (jabatan)?' Beliau memegang pundakku dengan tangannya lalu bersabda, 'Wahai Abu Żar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah dan kekuasaan itu adalah amanah. Sesungguhnya kekuasaan itu pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.'"
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Abu Żar mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengkhususkan nasehat untuknya mengenai kepemimpinan dan jabatannya. Hal ini terjadi ketika dia - raḍiyallāhu 'anhu- meminta kepada beliau agar mengangkatnya sebagai gubernur. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya engkau orang yang lemah." Sabda ini mengandung semacam ketegasan, akan tetapi amanah itu harus dijelaskan kepada orang sesuai dengan keadaan orang itu; jika dia kuat, maka ia akan kuat (mengembannya), dan jika dia lemah, maka lemah pula (dalam mengembannya). Ini mengandung dalil bahwa syarat berkuasa itu harus orang yang kuat dan terpercaya (amanah) karena Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya kekuasaan itu amanah," Jika seseorang itu kuat dan terpercaya maka inilah sifat-sifat yang membuatnya berhak menjadi pemimpin dan penguasa. Jika ia kuat tapi tidak terpercaya atau terpercaya tapi tidak kuat atau lemah tidak terpercaya, maka ketiga macam orang ini tidak selayaknya menjadi seorang pemimpin. Atas dasar itu, kita harus mengangkat pemimpin yang kuat, karena dia orang yang paling bermanfaat bagi manusia. Sesungguhnya manusia itu membutuhkan kekuasaan dan kekuatan. Jika kekuasaan tidak dibarengi kekuatan, apalagi dengan kelemahan agama, maka segala hal akan hilang. Hadis ini merupakan dasar yang agung dalam menghindari kekuasaan, apalagi bagi orang yang memiliki kelemahan untuk melaksanakan tugas-tugas kekuasaan ini. Adapun kehinaan dan penyesalan yang disebutkan dalam hadis, dalam sabdanya, "Sesungguhnya kepemimpinan itu pada hari kiamat adalah kehinaan dan penyesalan," adalah bagi orang yang tidak layak untuk menerima kekuasaan atau layak berkuasa tetapi tidak berlaku adil dalam kekuasaannya. Dengan demikian, Allah -Ta'ālā- menjadikannya hina pada hari kiamat dan membuka aibnya sehingga dia pun menyesali apa yang telah dilakukannya. Adapun orang yang layak untuk berkuasa dan adil dalam kekuasaannya, maka tidak termasuk dalam ancaman ini. Karena itulah, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi pengecualian, "Kecuali orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajibannya." Sebab, orang yang mengambil kekuasaan dengan hak, baginya keutamaan besar sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis sahih, seperti hadis mengenai tujuh orang yang dinaungi Allah dalam naungan-Na, disebutkan diantara mereka adalah "pemimpin yang adil", dan hadis bahwa orang-orang yang berlaku adil berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, dan sebagainya.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ. رياض الصالحين، للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ. رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ. كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ. شرح رياض الصالحين، للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت. المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج، للنووي، ط2، دار إحياء التراث العربي - بيروت، 1392ه. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ. تطريز رياض الصالحين، تأليف فيصل آل مبارك، تحقيق د. عبد العزيز آل حمد، دار العاصمة، الرياض، الطبعة الأولى، 1423هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ya Allah, siapa yang mengurusi urusan umatku meskipun kecil, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dirinya. Sebaliknya, siapa yang mengurusi urusan umatku meskipun kecil, lalu ia bersikap lemah lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan lemah lembut

عن عائشة رضي الله عنها قالت: سمعتُ من رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول في بيتي هذا: «اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ».
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ berdoa di dalam rumahku ini, "Ya Allah, siapa yang mengurusi urusan umatku meskipun kecil, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dirinya. Sebaliknya, siapa yang mengurusi urusan umatku meskipun kecil, lalu ia bersikap lemah lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan lemah lembut."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Rasulullah ﷺ mendoakan setiap orang yang mengurusi sebagian urusan kaum muslimin, baik kecil maupun besar, baik dalam kekuasaan yang bersifat umum ataupun kekuasaan yang khusus atau parsial, lalu ia mempersulitnya dan tidak berlaku lemah lembut pada mereka, maka Allah Ta'ala akan membalas mereka dengan yang setimpal dengan perbuatan mereka, yaitu Allah akan mempersulit urusan dirinya. Sebaliknya, siapa yang berlaku lemah lembut kepada mereka serta memudahkan urusan mereka, maka Allah akan berlaku lemah lembut kepadanya serta memudahkan urusannya.

Faedah
  1. 1- Setiap orang yang mengemban sebagian urusan kaum muslimin wajib untuk berlaku lembut sesuai kemampuan.
  2. 2- Balasan sejenis dengan perbuatan.
  3. 3- Standar yang menjadi batasan lembut atau keras ialah yang tidak menyelisihi Kitab dan Sunnah.
Rujukan

صحيح مسلم (3/ 1458) (1828). فتح ذي الجلال والاكرام بشرح بلوغ المرام، لابن عثيمين (6/ 367). منحة العلام في شرح بلوغ المرام، لعبد الله الفوزان (10/ 224). توضيح الأحكام من بلوغ المرام، للبسام (7/ 419).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tidaklah akan beruntung suatu kaum yang menjadikan seorang perempuan sebagai pemimpinnya

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً».
Abu Bakrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah akan beruntung suatu kaum yang menjadikan seorang perempuan sebagai pemimpinnya."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menjelaskan bahwa suatu kaum tidak akan sukses meraih tujuan mereka jika menjadikan seorang wanita sebagai pemimpin mereka, entah itu berupa peradilan, jabatan umum, atau perwakilan (kementerian).

Faedah
  1. 1- Kaum wanita tidak boleh memegang jabatan keamiran, peradilan di tengah masyarakat, maupun jabatan-jabatan umum lainnya. Adapun jika berkaitan dengan urusan khusus, seperti kuasa wakaf dan anak yatim, atau manajemen sekolah, dan yang semisalnya, maka tidak mengapa.
  2. 2- Menjelaskan keterbatasan dan kelemahan wanita, yaitu ia tidak menyertai laki-laki dalam jabatan-jabatan publik. Penugasannya untuk memegang jabatan seperti itu akan menyebabkan ketidaksuksesan.
  3. 3- Allah menciptakan wanita, dan memberinya karakter yang berbeda dengan karakter laki-laki. Ada beberapa urusan yang tidak cocok dilakukan seorang wanita karena karakternya yang khusus. Sama halnya, ada beberapa perkara yang tidak pantas dilakukan oleh seorang laki-laki lantaran melihat sisi tabiatnya yang khusus pula.
  4. 4- Kesuksesan yang dinafikan di sini adalah kesuksesan dalam terminologi syariat, yaitu meraih kebaikan dunia dan akhirat. Tidak mesti kejayaan suatu kekuasaan melazimkan mereka dalam rida Allah. Siapa yang tidak taat kepada Allah, maka bukan termasuk orang yang beruntung, sekalipun ia terlihat dalam kondisi terbaik dari sisi duniawinya.
  5. 5- Hadis ini tidak mengandung penghinaan terhadap wanita, tetapi bentuk mengarahkan potensinya dengan tepat dan sesuai dengannya.
Rujukan

صحيح البخاري (6/ 8) (4425). عمدة القاري شرح صحيح البخاري، لبدر الدين العيني (14/ 210). أعلام الحديث (شرح صحيح البخاري) لأبي سليمان الخطابي (3/ 1787). توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، لعبد الله البسام (7/ 183). فتح ذي الجلال والإكرام شرح بلوغ المرام، لابن عثيمين (2/ 268). منحة العلام في شرح بلوغ المرام، لعبد الله الفوزان (3/ 441). ذخيرة العقبى في شرح المجتبى، للولوي (1/ 82). كشف المشكل من حديث الصحيحين، لابن الجوزي (2/ 16).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com