Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Hak-hak Manusia dalam Islam

5 hadis

Sesungguhnya engkau memiliki kewajiban kepada Tuhanmu, sesungguhnya engkau juga memiliki kewajiban kepada dirimu, dan engkau pun memiliki kewajiban terhadap keluargamu. Maka tunaikanlah kewajiban itu kepada setiap yang berhak menerimanya

عن أبي جحيفة وهب بن عبد الله رضي الله عنه قال: آخى النبي صلى الله عليه وسلم بين سلمان وأبي الدرداء، فزار سلمان أبا الدرداء فرأى أم الدرداء مُتَبَذِّلَةً، فقال: ما شأنُكِ؟ قالت: أخوك أبو الدرداء ليس له حاجة في الدنيا، فجاء أبو الدرداء فصنع له طعاما، فقال له: كل فإني صائم، قال: ما أنا بآكل حتى تأكل فأكل، فلما كان الليل ذهب أبو الدرداء يقوم فقال له: نم، فنام، ثم ذهب يقوم فقال له: نم. فلما كان من آخر الليل قال سلمان: قم الآن، فصليا جميعا فقال له سلمان: إن لربك عليك حقا، وإن لنفسك عليك حقا، ولأهلك عليك حقا، فأعطِ كل ذي حق حقه، فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فذكر ذلك له فقال النبي صلى الله عليه وسلم : «صدق سلمان».
Dari Abu Juḥaifah Wahb bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah mempersaudarakan antara Salmān dan Abu Ad-Dardā`. Maka Salmān pun datang mengunjungi Abu Ad-Dardā`, ia melihat Ummu Ad-Dardā` dalam keadaan kusut. Ia pun bertanya, “Ada apa denganmu?” (Ummu Ad-Dardā`) menjawab, “Saudaramu, Abu Ad-Dardā`, sama sekali tidak berminat lagi dengan dunia.” Kemudian Abu Ad-Dardā` datang, lalu membuatkan makanan untuknya. Lalu ia berkata, “Makanlah, karena sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (Salmān) berkata, “Aku tidak makan hingga engkau juga makan.” Maka ia pun memakannya. Lalu ketika malam datang, Abu Ad-Dardā` pun berdiri (mengerjakan salat). (Salmān) berkata padanya, “Tidurlah!” (Abu Ad-Dardā`) pun tidur. Lalu ia kembali berdiri (mengerjakan salat), namun (Salmān) berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga ketika akhir malam datang, Salmān berkata, “Sekarang, bangunlah (untuk salat).” Keduanya pun mengerjakan salat bersama, lalu Salmān berkata padanya, “Sesungguhnya engkau memiliki kewajiban kepada Tuhanmu, sesungguhnya engkau juga memiliki kewajiban kepada dirimu, dan engkau pun memiliki kewajiban terhadap keluargamu. Maka tunaikanlah kewajiban itu kepada setiap yang berhak menerimanya.” Lalu (Abu Ad-Dardā`) mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kemudian menyebutkan hal itu kepada beliau, maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata, “Benarlah Salmān.”
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menetapkan ikatan persaudaraan antara Salmān dan Abu Ad-Dardā`. Lalu Salmān datang mengunjungi Abu Ad-Dardā`, namun ia menemukan istrinya tidak mengenakan pakaian yang layaknya dikenakan oleh seorang wanita yang telah bersuami; maksudnya: mengenakan pakaian yang lusuh. Maka (Salmān) pun menanyakan hal itu padanya, ia pun menjawab bahwa saudaranya, Abu al-Dardā` telah berpaling dari dunia, keluarga, makanan dan dari segala hal. Tatkala Abu Ad-Dardā` datang, ia membuatkan makanan untuk Salmān lalu menyuguhkannya. Namun saat itu, Abu al-Dardā` sendiri sedang berpuasa. Maka Salmān pun menyuruhnya untuk berbuka; hal itu karena ia tahu Abu Ad-Dardā` selalu berpuasa. Abu Ad-Dardā` pun makan. Lalu ketika Abu Ad-Dardā` hendak melakukan salat malam, Salmān menyuruhnya untuk tidur. Hingga bila akhir malam tiba, keduanya bangun dan mengerjakan salat bersama-sama. Salmān bermaksud menjelaskan kepada Abu Ad-Dardā` bahwa seorang manusia tidak sepatutnya membebani dirinya dengan berpuasa dan salat malam, namun hendaknya ia salat dan bangun malam dengan cara yang dapat mendatangkan kebaikan dan menghilangkan keletihan, kepayahan serta kesulitan.

Rujukan

الجامع المسند الصحيح (صحيح البخاري), تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري, تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر, دار طوق النجاة ترقيم محمد فؤاد عبدالباقي, ط 1422. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين, تأليف: مصطفى الخن ومصطفى البغا ومحي الدين مستو وعلي الشربجي ومحمد لطفي, مؤسسة الرسالة, ط 14 عام 1407 - 1987. شرح رياض الصالحين لا بن عثيمين, تأليف: محمد بن صالح العثيمين, الناشر: مدار الوطن بإشراف المؤسسة, ط عام 1425. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين, تأليف: سليم بن عيد الهلالي, دار ابن الجوزي.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku adalah anak ketujuh dari tujuh bersaudara dari Bani Muqarrin. Kami hanya memiliki seorang pelayan (hamba sahaya). Pada suatu ketika, saudara kami yang paling kecil menamparnya. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kami untuk memerdekakannya.

عن أبي علي سويد بن مُقَرِّن رضي الله عنه قال: لقد رَأَيْتُنِي سابع سبعة من بني مُقَرِّن ما لنا خادم إلا واحدة لطمها أصغرنا فأمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نعتقها وفي رواية: «سابع إخوة لي».
Dari Abu Ali Suwaid bin Muqarrin -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku adalah anak ketujuh dari tujuh bersaudara dari Bani Muqarrin. Kami hanya memiliki seorang pelayan (hamba sahaya). Pada suatu ketika, saudara kami yang paling kecil menamparnya. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kami untuk memerdekakannya." Dalam satu riwayat, "anak yang ketujuh dalam bersaudara."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Suwaid bin Muqarrin mengabarkan seraya berkata, "Aku salah satu dari tujuh bersaudara dari Bani Muqarrin. Semuanya para sahabat golongan Muhajirin. Tidak ada seorang pun yang ikut serta bersama mereka dalam jumlah sebanyak itu. Kami tidak memiliki pembantu untuk melayani kami bertujuh, kecuali satu orang budak sahaya wanita. Suatu ketika, saudara kami yang paling kecil menampar pipi pelayan itu. Lantas Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta kami untuk memerdekakannya dan pembebasannya ini menjadi kafarat atas pemukulannya.

Rujukan

نزهة المتقين، تأليف: مصطفى الخن وآخرون، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ. كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ. بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م. صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي ، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل ، الطبعة: الأولى، 1428 هـ. شرح رياض الصالحين، العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الرياض - الطبعة: 1426 هـ. دليل الفالحين، لابن علان الصديقي، دار الكتاب العربي - بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Lakukanlah amalan yang kalian mampu. Demi Allah! Allah tidak akan bosan hingga kalian sendiri yang bosan

عَنِ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنين رَضيَ اللهُ عنها زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّ الْحَوْلَاءَ بِنْتَ تُوَيْتِ بْنِ حَبِيبِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى مَرَّتْ بِهَا وَعِنْدَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: هَذِهِ الْحَوْلَاءُ بِنْتُ تُوَيْتٍ، وَزَعَمُوا أَنَّهَا لَا تَنَامُ اللَّيْلَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَنَامُ اللَّيْلَ! خُذُوا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَوَاللهِ لَا يَسْأَمُ اللهُ حَتَّى تَسْأَمُوا».
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, istri Nabi ﷺ meriwayatkan: Al-Ḥaulā` binti Tuwait bin Ḥabīb bin Asad bin Abdul-'Uzzā melewatinya sementara Rasulullah ﷺ sedang ada di sisinya. Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Ini adalah al-Ḥaulā` binti Tuwait. Mereka menyebutkan bahwa ia tidak tidur sepanjang malam." Rasulullah ﷺ lantas bersabda, "Dia tidak tidur sepanjang malam? Lakukanlah amalan yang kalian mampu. Demi Allah! Allah tidak akan bosan hingga kalian sendiri yang bosan."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Al-Ḥaulā` binti Tuwait -raḍiyallāhu 'anhā- sedang bersama Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-. Kemudian ia keluar meninggalkannya ketika Nabi ﷺ masuk. Aisyah berkata kepada beliau, "Wanita ini tidak tidur sepanjang malam, namun menghidupkannya dengan salat malam." Lalu beliau ﷺ mengingkari tindakannya yang membebani dirinya sendiri. Beliau bersabda, "Dia tidak tidur sepanjang malam! Sibukkanlah diri dengan amal saleh yang bisa kalian rutinkan. Demi Allah! Allah tidak akan jemu memberikan pahala dan ganjaran kepada hamba-hamba-Nya yang saleh lagi taat atas ketaatan, kebaikan, dan amal saleh mereka sampai mereka sendiri yang merasa bosan dan berhenti beramal."

Faedah
  1. 1- Memperbanyak ibadah melebihi dari kemampuan fisik dapat menyebabkan rasa bosan dan jemu, sehingga bisa berakibat meninggalkan ibadah.
  2. 2- Sederhana dan pertengahan dalam menunaikan ibadah adalah faktor kontinuitas dan keistikamahan.
  3. 3- Amal yang sedikit namun kontinu lebih baik daripada yang banyak namun terputus.
  4. 4- An-Nawawi berkata, "Dengan terus-menerus melakukan amal yang sedikit, ketaatan akan terjaga melalui zikir, murāqabah (merasa diawasi Allah), ikhlas, dan menghadapkan hati kepada Allah. Berbeda dengan amal yang banyak namun memberatkan, karena amal sedikit yang dilakukan secara berkesinambungan akan tumbuh hingga melampaui amal yang banyak namun terputus sekian kali lipat."
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 17) (43). صحيح مسلم (1/ 542) (785). فتح الباري شرح صحيح البخاري، لابن رجب (1/ 164). معجم اللغة العربية المعاصرة، أحمد مختار(2/ 1020). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (2/ 212).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Jika salah seorang di antara kalian memukul saudaranya hendaklah menjauhi wajah!

عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إذا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ أخاه فَلْيَجْتَنِب الوجْهَ».
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian memukul saudaranya hendaklah menjauhi wajah!"
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Makna hadis ini adalah bahwa jika salah seorang di antara kalian hendak memukul orang lain untuk mendidiknya, hukuman, atau karena ia melanggar batasan-batasan (hukum-hukum) Allah -Ta’ālā-, atau karena permusuhan atau selain itu maka hendaklah ia berhati-hati agar tidak memukul wajahnya dan benar-benar menjauh dari memukul wajah, meskipun dalam rangka menegakkan hukum-hukum Allah karena pada wajah anak Adam (manusia) terdapat kehormatan. Wajah itu anggota badan yang paling mulia dan dengannyalah seseorang bisa menghadapkan wajahnya pada orang lain. Dengan memukul wajah, bisa jadi mengakibatkan rusaknya suatu anggota badan (yang terdapat di wajah) dan bisa jadi mengakibatkan sesuatu lainnya. Maka wajib untuk menjauhi bagian wajah dan diharamkan memukulnya, baik pukulan itu karena sebab yang dibenarkan atau karena adanya permusuhan.

Rujukan

- صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، (1422ه). - صحيح مسلم, ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي, دار إحياء التراث العربي, بيروت. - تسهيل الالمام، للشيخ صالح الفوزان. طبعة الرسالة. الطبعة الأولى 1427 – 2006 م - فتح ذي الجلال والاكرام بشرح بلوغ المرام، للشيخ ابن عثيمين، المكتبة الإسلامية - الطبعة الأولى 1427 - 2006م - توضِيحُ الأحكَامِ مِن بُلوُغ المَرَام، للبسام. مكتَبة الأسدي، مكّة المكرّمة. الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م - بلوغ المرام من أدلة الأحكام، لابن حجر. دار القبس للنشر والتوزيع، الرياض - المملكة العربية السعودية الطبعة: الأولى، 1435 هـ - 2014 م - مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، للتبريزي، الناشر: دار الكتب العلمية. سنة النشر: 1422 - 2001 ط 1 - فيض القدير شرح الجامع الصغير، للمناوي، الناشر: المكتبة التجارية الكبرى - مصر. الطبعة: الأولى، 1356 - منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري، لحمزة محمد قاسم، الناشر: مكتبة دار البيان، دمشق - الجمهورية العربية السورية، مكتبة المؤيد، الطائف - المملكة العربية السعودية.عام النشر: 1410 هـ - 1990 م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kebanggaan jahiliah dan kesombongan mereka dengan nenek moyang

عَنِ ‌ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، فَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا، فَالنَّاسُ رَجُلَانِ: بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللهِ، وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللهِ، وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ، وَخَلَقَ اللهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ، قَالَ اللهُ: {يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ} [الحجرات: 13]».
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhuma- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ berpidato di hadapan manusia ketika penaklukan Makkah, "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kebanggaan jahiliah dan kesombongan mereka dengan nenek moyang. Manusia terbagi dua; orang yang baik, bertakwa dan mulia di hadapan Allah, dan orang fajir, sengsara dan hina di hadapan Allah. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah berfirman, 'Hai manusia! Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." [QS. Al-Ḥujurāt: 13]
HR. Tirmizi dan Ibnu HibbanDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ berpidato di hadapan manusia ketika penaklukan Makkah, "Wahai sekalian manusia, sungguh, Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan dan keangkuhan jahiliah serta kebanggaan dengan nenek moyang" karena manusia hanya ada dua macam: 1- Orang mukmin, baik, bertakwa, taat nan beribadah kepada Allah ﷻ. Orang seperti ini mulia di hadapan Allah, walaupun tidak memiliki kedudukan sosial atau nasab di sisi manusia. 2- Orang kafir, fajir nan sengsara. Orang seperti ini hina di hadapan Allah, tidak bernilai sama sekali, walaupun memiliki kedudukan dan kekuasaan. Semua manusia adalah anak cucu Adam, sedangkan Adam diciptakan oleh Allah dari tanah. Manusia yang berasal dari tanah tidak pantas untuk sombong dan membanggakan dirinya. Hal itu sesuai firman Allah ﷻ, "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." [QS. Al-Ḥujurāt: 13]

Faedah
  1. Larangan membanggakan diri karena nasab dan kedudukan sosial.
Rujukan

سنن الترمذي (5/ 309) (3270)، صحيح ابن حبان (9/ 137) (3828)، عون المعبود وحاشية ابن القيم (14/ 16)، النهاية في غريب الحديث والأثر (ص587).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com