Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan dalam hadis ini bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk menemui Ummu As-Sā`ib yang sedang gemetar, lantas beliau bertanya kepadanya mengenai sebabnya. Ia menjawab, "Demam." Yakni, penyebab ia menggigil adalah demam yang menimpanya. Demam adalah panas yang menyerang tubuh dan ini satu jenis penyakit. Penyakit ini memiliki beragam jenis. Perkataannya, "semoga Allah tidak memberkahinya." Ini adalah keluhan orang yang terkena sakit demam. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarangnya mencela demam, karena demam itu termasuk perbuatan Allah -Ta'ālā-. Segala sesuatu yang berasal dari perbuatan Allah -Ta'ālā- tidak boleh dimaki. Sebab, mencela sesuatu berarti mencela penciptanya, Allah '-Azza wa Jalla-. Untuk itu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian mencela masa, karena Allah adalah masa." Jika seseorang terkena penyakit, hendaknya ia sabar dan mengharap pahala dari Allah 'Azza wa Jalla. Sabda beliau, "karena demam itu menghapus dosa-dosa bani Adam seperti bakaran pandai besi menghilangkan karat besi." Artinya, penyakit demam menjadi sebab dihapusnya berbagai dosa dan diangkatnya beberapa derajat. Hal ini seperti besi jika dilebur di atas api, maka kotoran dan noda karatnya hilang, lalu menjadi bersih. Demikian juga yang dilakukan terhadap demam, sesungguhnya demam dapat menghapus berbagai dosa kecil bani Adam sehingga ia kembali menjadi bersih dan bening dari dosa itu.
نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي ، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. رياض الصالحين، تأليف : محيي الدين يحيى بن شرف النووي ، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل ، الطبعة: الأولى، 1428 هـ شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426 هـ.