Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Waqaf

6 hadis

Siapa menyiapkan seekor kuda di jalan Allah karena iman kepada Allah dan membenarkan janji-Nya, maka makanan yang membuatnya kenyang, minum yang membuatnya puas, kotorannya dan kencingnya menjadi timbangan amal orang tersebut pada hari kiamat.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «مَنْ احْتَبَسَ فَرَسًا في سَبِيل الله، إيمانًا بالله، وتَصْدِيقًا بِوَعْدِه، فإن شِبَعَهُ وريَّه ورَوْثَهُ وبَوْلَه في مِيْزَانه يوم القيامة».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa menyiapkan seekor kuda di jalan Allah karena iman kepada Allah dan membenarkan janji-Nya, maka makanan yang membuatnya kenyang, minum yang membuatnya puas, kotorannya dan kencingnya menjadi timbangan amal orang tersebut pada hari kiamat."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Orang yang mewakafkan kuda untuk jihad di jalan Allah -Ta'ālā- dan mencari keridaan-Nya supaya para pejuang dapat berperang di atasnya demi mencari keridaan Allah -Ta'ālā- dan membenarkan janji yang telah diberikan-Nya, di mana Dia berfirman, "Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu," maka sesungguhnya Allah memberinya pahala dari segala apa yang dimakan, diminum oleh kuda itu, dan apa yang dikeluarkannya berupa kencing atau tinja, hingga Allah meletakkan pahala itu baginya di piringan timbangan kebaikan-kebaikannya pada hari kiamat. Dalam hadis panjang dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- disebutkan, "Kuda itu ada tiga macam: Kuda yang menjadi dosa bagi seseorang, menjadi penutup bagi seseorang dan menjadi ladang pahala bagi seseorang... Selanjutnya beliau bersabda, "Adapun kuda yang menjadi pahala, yaitu seseorang mengikatnya di jalan Allah untuk umat Islam, yang digembalakan di tempat penggembalaan atau kebun. Tidaklah kuda itu makan sedikit saja dari tempat penggembalaan atau kebun itu, melainkan dicatat untuk orang tersebut kebaikan sebanyak yang dimakan kudanya. Dicatat juga kebaikan untuknya sebanyak kotoran dan kencingnya. Tidak pula kuda itu menempuh dengan kakinya lalu berlari ke satu atau dua bukit, melainkan Allah catat untuk orang tersebut kebaikan sebanyak jejak dan kotorannya. Tidak juga pemiliknya melewati sebuah sungai dengan kudanya itu, lalu kuda tersebut minum dari sungai itu dan ia pun tidak ingin memberinya minum, melainkan Allah catat untuknya kebaikan sebanyak yang diminum kudanya." (Muttafaq 'alaih).

Rujukan

كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه. رياض الصالحين للنووي، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، ط1، 1428 هـ. رياض الصالحين، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، ط4، 1428هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، ط1، 1422ه. منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري، لحمزة محمد قاسم، راجعه: الشيخ عبد القادر الأرناؤوط، مكتبة دار البيان، دمشق، مكتبة المؤيد، الطائف ، ط 1410 هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Bagus, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Bagus, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku sarankan kamu agar membagikannya kepada para kerabatmu!

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كان أبو طلحة رضي الله عنه أكثر الأنصار بالمدينة مالا من نخل، وكان أحب أمواله إليه بَيْرَحَاء، وكانت مُسْتَقبِلَةَ المسجد وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يدخلها ويشرب من ماء فيها طيب. قال أنس: فلما نزلت هذه الآية: {لن تنالوا البر حتى تُنِفُقوا مما تُحبون} قام أبو طلحة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، إن الله تعالى أنزل عليك: {لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون} وإن أحب مالي إلي بَيْرَحَاء، وإنها صدقة لله تعالى ، أرجو بِرَّهَا وذُخْرَهَا عند الله تعالى ، فَضَعْهَا يا رسول الله حيث أَرَاكَ الله، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «بَخٍ ذلك مال رَابِحٌ، ذلك مال رابح، وقد سمعتُ ما قلتَ، وإني أرى أن تجعلها في الأقربين»، فقال أبو طلحة: أفعل يا رسول الله، فقسمها أبو طلحة في أقاربه، وبني عمه.
Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Abu Ṭalḥah adalah seorang sahabat Ansar yang terkaya di Madinah karena pohon kurma yang dimilikinya. Sedangkan harta yang paling disukainya adalah kebun Bairuḥā` yang terletak di dekat mesjid. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sering masuk ke kebun itu dan minum air bersih yang ada di dalamnya." Anas berkata, "Ketika turun ayat, "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan dari harta yang kamu cintai." Lantas Abu Ṭalḥah mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu, "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan dari harta yang kamu cintai." Sedangkan harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha'. Maka kebun itu aku sedekahkan untuk Allah -Ta'ālā-. Aku mengharapkan kebajikan dan pahala dari Allah. Untuk itu, pergunakanlah wahai Rasulullah sesuai petunjuk Allah kepadamu!" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bagus, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Bagus, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku sarankan agar kamu membagikannya kepada para kerabatmu!" Abu Ṭalḥah berkata, "Wahai Rasulullah, saya akan melaksanakan petunjukmu." Selanjutnya Abu Ṭalḥah membagi-bagi kebun itu kepada kerabat dan anak-anak pamannya.
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Abu Ṭalḥah adalah seorang sahabat Ansar yang terkaya di Madinah karena pohon kurma yang dimilikinya. Dia memiliki satu kebun di depan masjid dan di dalamnya ada air yang segar. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sering masuk ke kebun itu dan minum air darinya. Saat turun firman Allah -Ta'ālā-, "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan dari harta yang kamu cintai." Abu Ṭalḥah segera datang cepat-cepat kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menurunkan firman-Nya, "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai." Sedangkan harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuḥā` - ini adalah nama kebunnya-. Sesungguhnya aku menyerahkan kebun itu di hadapanmu sebagai sedekah untuk Allah dan Rasul-Nya." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda dengan penuh kagum, "Bagus, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Bagus, itulah harta (yang mendatangkan) untung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku sarankan agar kamu membagikannya kepada para kerabatmu!" Abu Ṭalḥah pun melakukannya dan membagi-bagikan kebun itu kepada para kerabatnya dan anak-anak pamannya.

Rujukan

- شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426ه. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى 1418ه - رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428ه . - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ. - صحيح البخاري –الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. - صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. - كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى 1430ه.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah memperoleh tanah di Khaibar. Aku sama sekali belum pernah memperoleh harta yang sangat berharga bagiku sebelum ini, lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku mengenai tanah ini?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika engkau mau, wakafkan tanah pokoknya dan bersedekahlah dengannya (hasilnya)!"

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: «قد أصاب عمر أرضًا بخيبر. فأتى النبي صلى الله عليه وسلم يستأمره فيها. فقال: يا رسول الله، إني أصبت أرضًا بخيبر، لم أُصِبْ مالًا قَطُّ هو أنفس عندي منه، فما تأمرني به؟ فقال: إن شِئْتَ حَبَّسْتَ أصلها، وتصدقت بها. قال: فتصدق بها، غير أنه لا يُباع أصلها، ولا يوهب، ولا يورث. قال: فتصدق عمر في الفقراء، وفي القربى، وفي الرقاب، وفي سبيل الله، وابن السبيل، والضيف. لا جناح على من وليها أن يأكل منها بالمعروف، أو يطعم صديقًا، غير مُتَمَوِّلٍ فيه»، وفي لفظ: «غير مُتَأثِّلٍ».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Umar memperoleh tanah di Khaibar lalu ia datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk berkonsultasi tentang tanah itu. Dia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah memperoleh tanah di Khaibar. Aku sama sekali belum pernah memperoleh harta yang sangat berharga bagiku sebelum ini, lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku mengenai tanah ini?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika engkau mau, wakafkan tanah pokoknya dan bersedekahlah dengannya (hasilnya)!" Abdullah bin Umar berkata, "Lantas Umar bersedekah dengan tanah itu. Hanya saja tanah pokok itu tidak dijual, tidak dihadiahkan dan tidak diwariskan." Abdullah bin Umar berkata, "Selanjutnya Umar bersedekah kepada orang-orang fakir, kerabat, budak sahaya, sabilillah, ibnu sabil (orang yang bepergian) dan tamu. Tidak ada dosa bagi orang yang mengurus tanah itu untuk memakan sebagian hasilnya dengan cara yang makruf atau memberi makan sahabat tanpa menjadikannya sebagai harta." Dalam satu lafal, "Tidak menjadikannya sebagai harta simpanan."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhum- memperoleh tanah di Khaibar seluas seratus saham. Tanah itu merupakan hartanya yang paling berharga baginya karena bagus dan berkualitas. Saat itu, para sahabat sudah terbiasa berlomba-lomba untuk melakukan amal saleh. Lantas Umar datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- karena ingin memperoleh kebajikan sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah -Ta'ālā-, "Kalian tidak akan memperoleh kebajikan sampai menginfakkan apa-apa yang kalian cintai." Dia berkonsultasi kepada beliau tentang bentuk sedekah untuk tanah itu demi mencari keridhaan Allah -Ta'ālā-. Selanjutnya beliau memberi isyarat kepadanya dengan cara yang paling baik. Yaitu, hendaknya Umar menahan dan mewakafkan pokok tanah itu. Umar pun melaksanakannya sehingga tanah itu menjadi wakaf yang tidak boleh diubah-ubah dengan cara jual beli atau hadiah atau warisan atau berbagai macam tindakan lainnya yang mengarah kepada pemindahan kepemilikan atau menjadi sebab pemindahannya, dan hendaknya menyedekahkan (hasil)nya kepada orang-orang fakir dan miskin, kerabat dan keluarga, memerdekakan hamba sahaya dari perbudakan atau dengan membayarkan diat (denda) orang-orang yang wajib membayar denda, membantu para mujahid di jalan Allah demi meninggikan kalimat-Nya dan menolong agama-Nya, memberi makan musafir yang kehabisan bekal di negeri lain dan juga menjamu tamu. Menghormati tamu adalah bagian dari iman kepada Allah -Ta'ālā-. Mengingat tanah ini membutuhkan orang yang mengurusnya dan merawatnya dengan pengairan dan perbaikan disertai penghapusan kesalahan dan dosa dari orang yang mengurusnya, maka yang mengurus itu boleh memakan sebagian hasilnya dengan cara yang makruf. Ia boleh makan sekedar yang dibutuhkannya dan memberi makan sahabatnya tanpa menjadikannya sebagai harta yang lebih dari kebutuhannya. Tanah itu hanya dijadikan untuk infak di jalan kebaikan dan kebajikan, bukan untuk dijadikan modal usaha dan aset kekayaan.

Rujukan

- صحيح البخاري –الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. - صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. - الإلمام بشرح عمدة الأحكام للشيخ إسماعيل الأنصاري-مطبعة السعادة-الطبعة الثانية 1392ه. - تيسير العلام شرح عمدة الأحكام-عبد الله البسام-تحقيق محمد صبحي حسن حلاق- مكتبة الصحابة- الشارقة- الطبعة العاشرة- 1426ه. - خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام- فيصل بن عبد العزيز بن فيصل ابن حمد المبارك الحريملي النجدي (المتوفى: 1376هـ)- الطبعة: الثانية، 1412 هـ - 1992 م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tidaklah seorang pemilik emas maupun perak yang tidak menunaikan zakatnya kecuali nanti ketika datang hari Kiamat akan dibuatkan untuknya lempengan-lempengan dari api

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ، لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا، إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ، فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ، فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ، كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ، فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ، فَيَرَى سَبِيلَهُ، إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِمَّا إِلَى النَّارِ» قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَالْإِبِلُ؟ قَالَ: «وَلَا صَاحِبُ إِبِلٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا، وَمِنْ حَقِّهَا حَلَبُهَا يَوْمَ وِرْدِهَا، إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، بُطِحَ لَهَا بِقَاعٍ قَرْقَرٍ، أَوْفَرَ مَا كَانَتْ، لَا يَفْقِدُ مِنْهَا فَصِيلًا وَاحِدًا، تَطَؤُهُ بِأَخْفَافِهَا وَتَعَضُّهُ بِأَفْوَاهِهَا، كُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ أُولَاهَا رُدَّ عَلَيْهِ أُخْرَاهَا، فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ، فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِمَّا إِلَى النَّارِ» قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ؟ قَالَ: «وَلَا صَاحِبُ بَقَرٍ، وَلَا غَنَمٍ، لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا، إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ بُطِحَ لَهَا بِقَاعٍ قَرْقَرٍ، لَا يَفْقِدُ مِنْهَا شَيْئًا، لَيْسَ فِيهَا عَقْصَاءُ، وَلَا جَلْحَاءُ، وَلَا عَضْبَاءُ تَنْطَحُهُ بِقُرُونِهَا وَتَطَؤُهُ بِأَظْلَافِهَا، كُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ أُولَاهَا رُدَّ عَلَيْهِ أُخْرَاهَا، فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ، فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِمَّا إِلَى النَّارِ» قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَالْخَيْلُ؟ قَالَ: «الْخَيْلُ ثَلَاثَةٌ: هِيَ لِرَجُلٍ وِزْرٌ، وَهِيَ لِرَجُلٍ سِتْرٌ، وَهِيَ لِرَجُلٍ أَجْرٌ، فَأَمَّا الَّتِي هِيَ لَهُ وِزْرٌ، فَرَجُلٌ رَبَطَهَا رِيَاءً وَفَخْرًا وَنِوَاءً عَلَى أَهْلِ الْإِسْلَامِ، فَهِيَ لَهُ وِزْرٌ، وَأَمَّا الَّتِي هِيَ لَهُ سِتْرٌ، فَرَجُلٌ رَبَطَهَا فِي سَبِيلِ اللهِ، ثُمَّ لَمْ يَنْسَ حَقَّ اللهِ فِي ظُهُورِهَا وَلَا رِقَابِهَا، فَهِيَ لَهُ سِتْرٌ وَأَمَّا الَّتِي هِيَ لَهُ أَجْرٌ، فَرَجُلٌ رَبَطَهَا فِي سَبِيلِ اللهِ لِأَهْلِ الْإِسْلَامِ، فِي مَرْجٍ وَرَوْضَةٍ، فَمَا أَكَلَتْ مِنْ ذَلِكَ الْمَرْجِ، أَوِ الرَّوْضَةِ مِنْ شَيْءٍ، إِلَّا كُتِبَ لَهُ، عَدَدَ مَا أَكَلَتْ حَسَنَاتٌ، وَكُتِبَ لَهُ، عَدَدَ أَرْوَاثِهَا وَأَبْوَالِهَا، حَسَنَاتٌ، وَلَا تَقْطَعُ طِوَلَهَا فَاسْتَنَّتْ شَرَفًا، أَوْ شَرَفَيْنِ، إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ عَدَدَ آثَارِهَا وَأَرْوَاثِهَا حَسَنَاتٍ، وَلَا مَرَّ بِهَا صَاحِبُهَا عَلَى نَهْرٍ، فَشَرِبَتْ مِنْهُ وَلَا يُرِيدُ أَنْ يَسْقِيَهَا، إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ، عَدَدَ مَا شَرِبَتْ، حَسَنَاتٍ» قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَالْحُمُرُ؟ قَالَ: «مَا أُنْزِلَ عَلَيَّ فِي الْحُمُرِ شَيْءٌ، إِلَّا هَذِهِ الْآيَةَ الْفَاذَّةُ الْجَامِعَةُ»: {فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ} [الزلزلة: 8].
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang pemilik emas maupun perak yang tidak menunaikan zakatnya kecuali nanti ketika datang hari Kiamat akan dibuatkan untuknya lempengan-lempengan dari api, lalu lempengan itu dipanaskan di neraka Jahanam dan digunakan untuk menyetrika lambung, dahi, dan punggungnya. Setiap kali lempengan itu dingin, ia dipanaskan lagi untuknya. Itu terjadi pada hari Kiamat yang lama harinya setara dengan 50 ribu tahun, hingga perkara seluruh hamba diputuskan lalu orang itu mengetahui kelanjutan nasibnya; ke surga atau neraka." Ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan (pemilik) unta?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Begitu juga pemilik unta yang tidak menunaikan kewajibannya. Di antara kewajibannya ialah memerah susunya pada hari dibawa ke tempat minum. Ketika hari Kiamat tiba, ia dibaringkan di dataran yang luas dan rata di hadapan unta-unta itu dalam kondisi paling banyak dagingnya, tidak ada yang tertinggal walau satu anak unta pun. Kemudian unta-unta itu menginjaknya dengan kakinya dan menggigitnya dengan mulutnya. Setiap kali yang pertama berlalu, maka dibalikkan lagi kepadanya yang terakhir. Itu terjadi pada hari Kiamat yang lama harinya setara 50 ribu tahun, hingga perkara seluruh hamba diputuskan lalu orang itu mengetahui kelanjutan nasibnya; ke surga atau neraka." Ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan (pemilik) sapi dan kambing?" Beliau bersabda, "Begitu juga pemilik sapi maupun kambing yang tidak menunaikan kewajibannya. Ketika hari Kiamat tiba, ia dibaringkan di dataran yang luas dan rata di hadapan semua sapi dan kambingnya yang dikumpulkan, tidak ada yang tertinggal seekor pun. Tidak ada yang tanduknya bengkok atau yang tidak bertanduk, dan tidak pula yang tanduknya patah. Semua menanduknya dengan tanduknya dan menginjaknya dengan telapak kakinya. Setiap kali yang pertama berlalu, maka dibalikkan lagi kepadanya yang terakhir. Itu terjadi pada hari Kiamat yang lama harinya setara dengan 50 ribu tahun, hingga perkara seluruh hamba diputuskan lalu orang itu mengetahui kelanjutan nasibnya; ke surga atau neraka." Ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan (pemilik) kuda?" Beliau bersabda, "Kuda itu ada tiga macam: kuda yang menjadi dosa bagi pemiliknya, kuda yang menjadi pelindung bagi pemiliknya, dan kuda yang menjadi pahala bagi pemiliknya. Adapun kuda yang menjadi dosa bagi pemiliknya ialah orang yang menambat kudanya dengan maksud riya, menyombongkan diri, dan memusuhi pemeluk Islam. Itulah kuda yang menjadi dosa bagi pemiliknya. Adapun kuda yang menjadi pelindung bagi pemiliknya ialah orang yang menambat kudanya di jalan Allah kemudian ia tidak lupa hak Allah di punggung maupun lehernya. Itulah kuda yang menjadi pelindung bagi pemiliknya. Adapun kuda yang menjadi pahala bagi pemiliknya ialah orang yang menambat kudanya di jalan Allah di suatu padang rumput dan kebun untuk kepentingan orang Islam. Tidaklah kuda itu memakan sesuatu di padang rumput ataupun kebun tersebut melainkan akan dituliskan untuknya kebaikan sebanyak yang ia makan, dan dituliskan baginya kebaikan sebanyak kotoran dan kencingnya. Tidaklah talinya dilepas lalu ia berlari melewati satu atau dua bukit, melainkan akan dituliskan baginya kebaikan sebanyak jejak kaki dan kotorannya. Tidaklah pemiliknya membawanya melewati suatu sungai lalu kuda itu minum di sana, padahal ia tidak bermaksud memberinya minum, kecuali Allah akan tuliskan baginya kebaikan sebanyak yang ia minum."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menerangkan beberapa jenis harta dan balasan orang yang tidak menunaikan zakatnya kelak di hari Kiamat, di antaranya: - Pertama: emas dan perak serta semua yang semisal keduanya, seperti harta dan barang dagangan; yaitu yang telah wajib zakat lalu zakatnya tidak ditunaikan. Kelak saat hari Kiamat, harta tersebut akan dilelehkan dan dituang dalam bentuk lempengan lalu dipanaskan di dalam neraka Jahanam dan digunakan untuk menyiksa pemiliknya. Lambung, muka, dan punggungnya disetrika dengannya. Setiap kali lempengan itu dingin, pemanasannya diulang lagi. Ia akan berlanjut di atas siksa seperti itu sepanjang hari Kiamat yang panjang harinya setara 50 ribu tahun hingga Allah memberi keputusan di tengah manusia, lalu ia dijadikan termasuk penghuni surga atau penghuni neraka. - Kedua: pemilik unta yang tidak menunaikan kewajiban zakat dan haknya, di antaranya memerah susunya untuk orang-orang miskin yang mendatanginya. Unta tersebut akan dihadirkan dalam keadaan besar dan gemuk serta dalam jumlah yang paling banyak. Pemiliknya akan dilemparkan dan dibentangkan kelak pada hari Kiamat di atas tanah yang luas dan rata, lalu unta-unta itu akan menginjaknya dengan kakinya dan menggigitnya dengan giginya. Setiap kali yang paling akhir telah lewat, dikembalikan lagi pada barisan paling pertama. Ia akan berlanjut di atas siksa seperti itu sepanjang hari Kiamat yang ukuran harinya setara 50 ribu tahun hingga Allah memberi keputusan di tengah manusia, lalu ia dijadikan termasuk penghuni surga atau penghuni neraka. - Ketiga: pemilik sapi dan kambing -termasuk domba- yang tidak menunaikan zakatnya yang diwajibkan. Sapi dan kambing itu akan dihadirkan dalam jumlah yang paling banyak, tidak kurang satu pun. Lantas pemiliknya dilemparkan dan dibentangkan kelak pada hari Kiamat di atas tanah yang luas nan rata. Tidak ada yang memiliki tanduk bengkok, yang tidak bertanduk, maupun yang tanduknya patah; semuanya dalam keadaan paling sempurna. Sapi-sapi dan kambing-kambing itu menanduknya dengan tanduknya dan menginjak-injaknya dengan kakinya. Setiap kali yang paling terakhir telah melewatinya, dikembalikan lagi kepadanya baris yang paling pertama. Ia akan lanjut di atas siksaan seperti itu sepanjang hari Kiamat yang ukuran harinya setara 50 ribu tahun, hingga Allah memutuskan perkara di antara manusia lalu ia diketahui termasuk penghuni surga atau penghuni neraka. - Keempat: pemilik kuda. Kuda itu sendiri terbagi menjadi tiga jenis, A. Kuda yang menjadi dosa bagi pemiliknya; yaitu kuda yang dijadikan sebagai objek berbuat riya, menyombongkan diri, dan memusuhi umat Islam. B. Kuda yang menjadi tameng bagi pemiliknya; yaitu yang digunakan untuk berjihad di jalan Allah, lalu ia berbuat baik padanya dengan diberi pakan dan semua kebutuhannya, termasuk menyediakannya pejantan. C. Kuda yang menjadi pahala bagi pemiliknya; yaitu yang disiapkan untuk berjihad di jalan Allah bagi umat Islam dengan digembalakan di padang rumput dan kebun. Tidaklah kuda itu makan kecuali akan dicatatkan baginya kebaikan sebanyak rumput yang dimakan; dicatatkan baginya kebaikan sebanyak kotoran dan air kencingnya. Tidaklah talinya diputus, yaitu tali tempat pengikatnya, lalu ia berlari dan melompat di tempat yang tinggi, kecuali akan dicatatkan baginya kebaikan sebanyak jejak dan kotorannya. Tidaklah pemiliknya membawanya melalui sebuah sungai, lalu kuda itu minum di sana, padahal dia tidak bermaksud memberinya minum, kecuali akan dicatatkan baginya kebaikan sebanyak air yang diminum. Kemudian beliau ﷺ ditanya tentang keledai, apakah sama dengan kuda? Beliau menjelaskan bahwa tidak ada syariat yang khusus turun tentang keledai kecuali satu ayat yang jarang ada kesamaannya. Ayat itu bersifat umum, mencakup semua jenis ketaatan dan kemaksiatan, yaitu firman Allah Ta'ala yang artinya: "Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Sebaliknya, siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya pula." (QS. Az-Zalzalah: 7-8) Maka orang yang bekerja memelihara keledai dalam rangka ketaatan, ia akan mendapatkan pahalanya. Sebaliknya, orang yang mengerjakan kemaksiatan, ia akan mendapatkan siksanya. Hal itu mencakup seluruh amalan.

Faedah
  1. 1- Kewajiban menunaikan zakat dan ancaman keras bagi yang tidak menunaikannya.
  2. 2- Orang yang tidak menunaikan zakat karena malas hukumnya tidak kafir, tetapi ia terancam bahaya besar.
  3. 3- Seseorang akan diberi pahala pada detail aktivitas yang ada dalam mengerjakan ketaatan jika ia meniatkan amalan utamanya walaupun ia tidak meniatkan detail aktivitas tersebut.
  4. 4- Di dalam harta ada kewajiban selain zakat.
  5. 5- Di antara kewajiban pada unta ialah memerah susunya untuk orang-orang miskin yang menyaksikannya di tempatnya minum air agar lebih mudah bagi orang yang membutuhkan daripada datang ke rumah serta lebih ringan bagi hewan. Ibnu Baṭṭāl berkata, "Pada harta terdapat dua kewajiban: fardu ain dan bukan fardu ain. Memerah termasuk kewajiban kategori akhlak mulia."
  6. 6- Di antara kewajiban terkait unta, sapi, dan kambing ialah menyediakan pejantan untuk betinanya ketika dibutuhkan.
  7. 7- Hukum keledai dan semua yang tidak disebutkan dalam hadis ada dalam firman Allah Ta'ala: "Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Sebaliknya, siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya pula.
  8. 8- Dalam ayat ini terdapat anjuran untuk mengerjakan kebaikan walaupun sepele, dan peringatan dari mengerjakan keburukan walaupun sedikit.
Rujukan

صحيح البخاري (6/ 175) (4962). صحيح مسلم (2/ 680) (987). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين. بهجة الناظرين، لسليم الهلالي (2/ 350). نزهة المتقين، لمجموعة من الباحثين (2/ 862). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (5/ 253). تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان، لعبد الرحمن آل سعدي (ص335). فتح الباري شرح صحيح البخاري، لابن حجر (3/ 268). شرح الزرقاني على موطأ مالك، لمحمد الزرقاني (2/ 164). مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي القاري (4/ 1262).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Apabila manusia meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah yang mengalir, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak saleh yang mendokannya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila manusia meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah yang mengalir, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak saleh yang mendokannya."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa amalan orang yang telah mati terputus dengan kematiannya sehingga ia tidak memperoleh kebaikan setelah ia meninggal kecuali pada tiga perkara ini lantaran ia menjadi penyebabnya: - Pertama: sedekah yang memiliki pahala mengalir dan berkelanjutan, tidak terhenti; seperti wakaf, membangun masjid, membuat sumur dan lain sebagainya. - Kedua: ilmu yang dimanfaatkan banyak orang, seperti menulis buku-buku ilmiah atau mengajarkan ilmu kepada seseorang lalu orang itu menyebarkan ilmu tersebut setelah ia meninggal. - Ketiga: anak saleh dan beriman yang mendoakan kedua orang tuanya.

Faedah
  1. 1- Ulama sepakat bahwa di antara pahala yang akan menyusul seseorang setelah ia meninggal dunia: sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan doa, serta disebutkan dalam hadis-hadis yang lain: juga haji.
  2. 2- Ketiga perkara ini disebut secara khusus dalam hadis karena merupakan induk kebaikan dan yang paling banyak diinginkan keberlanjutannya oleh orang-orang baik setelah mereka meninggal dunia.
  3. 3- Seluruh ilmu yang dimanfaatkan maka ia akan memperoleh pahalanya, tetapi yang paling inti dan paling puncak ialah ilmu syariat dan ilmu-ilmu yang menopangnya.
  4. 4- Ilmu adalah yang paling bermanfaat di antara ketiga perkara tersebut karena ilmu akan diperoleh manfaatnya oleh orang yang mempelajarinya, ilmu mengandung penjagaan syariat, dan di dalamnya terkandung manfaat bagi makhluk secara umum. Ilmu itu lebih mencakup dan lebih umum karena ilmumu akan dipelajari oleh orang yang hidup di masa hidupmu dan yang hidup setelah engkau meninggal dunia.
  5. 5- Anjuran mendidik anak-anak yang saleh karena mereka yang akan memberi manfaat untuk kedua orang tuanya di akhirat, di antaranya adalah mereka akan mendoakannya.
  6. 6- Anjuran untuk berbuat baik kepada kedua orang tua setelah mereka meninggal. Hal ini juga termasuk berbakti kepada orang tua yang akan diperoleh faedahnya oleh si anak.
  7. 7- Doa bermanfaat bagi orang yang telah meninggal walaupun dari selain anak. Akan tetapi, anak disebutkan secara khusus karena ia yang umumnya akan lanjut dalam mendoakan seseorang hingga dia sendiri meninggal dunia.
Rujukan

صحيح مسلم (3/ 1255) (1631)، البحر المحيط الثجاج في شرح صحيح الإمام مسلم بن الحجاج (28/ 413).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai Rasulullah! Ummu Sa'ad telah meninggal dunia, lalu sedekah apa yang paling utama?" Beliau bersabda, "Air." Maka ia pun menggali sebuah sumur dan berkata, "Sumur ini untuk Ummu Sa'ad

عن سعد بن عبادة رضي الله عنه أنه قال: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمَّ سَعْدٍ مَاتَتْ، فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟، قَالَ: «الْمَاءُ»، قَالَ: فَحَفَرَ بِئْرًا، وَقَالَ: هَذِهِ لِأُمِّ سَعْدٍ.
Sa'ad bin 'Ubādah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ia berkata, "Wahai Rasulullah! Ummu Sa'ad telah meninggal dunia, lalu sedekah apa yang paling utama?" Beliau bersabda, "Air." Maka ia pun menggali sebuah sumur dan berkata, "Sumur ini untuk Ummu Sa'ad."
HR. Abu Daud, Nasai, dan Ibnu MajahDerajatHasan berdasarkan semua jalurnya
Penjelasan

Ibunda Sa'ad bin 'Ubādah -raḍiyallāhu 'anhu- meninggal dunia, lalu Sa'ad bertanya kepada Nabi ﷺ tentang jenis sedekah paling utama yang akan ia sedekahkan atas nama ibunya. Lantas beliau ﷺ mengabarinya bahwa sedekah yang paling utama ialah air. Ia pun segera menggali sebuah sumur dan menjadikannya sebagai sedekah bagi ibunya.

Faedah
  1. 1- Menjelaskan bahwa air adalah jenis sedekah yang paling utama.
  2. 2- Nabi ﷺ mengarahkan Sa'ad untuk bersedekah air karena air paling luas manfaatnya dalam perkara agama dan dunia, tingginya suhu panas, besarnya kebutuhan terhadapnya, dan sangat minimnya air.
  3. 3- Petunjuk bahwa pahala sedekah sampai kepada orang yang telah meninggal.
  4. 4- Bakti Sa'ad bin 'Ubādah -raḍiyallāhu 'anhu- kepada ibunya -raḍiyallāhu 'anhumā-.
Rujukan

سنن أبي داود (3/ 109) (1681)، سنن النسائي (6/ 254) (3664)، سنن ابن ماجه (4/ 643) (3684)، شرح سنن أبي داود للعباد (204/ 19).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com