Umar -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Ia pernah datang ke Hajar Aswad lalu menciumnya seraya berkata, "Sungguh, aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak mendatangkan bahaya maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi ﷺ menciummu, aku tidak akan menciummu."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Amirul Mukminin Umar bin al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- datang ke Hajar Aswad yang berada di sudut Ka'bah lalu menciumnya seraya berkata: Sungguh, aku mengetahui bahwa kamu hanyalah sebuah batu yang tidak mendatangkan bahaya maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi ﷺ menciummu, aku pun tidak akan menciummu.
Faedah
1- Perintah mencium Hajar Aswad bagi orang yang tawaf saat sejajar dengannya jika hal itu bisa dilakukan dengan mudah.
2- Tujuan mencium Hajar Aswad adalah mengikuti Rasulullah ﷺ.
3- An-Nawawiy berkata, "Maknanya adalah bahwa ia tidak memiliki kuasa untuk memberi manfaat maupun bahaya. Juga bahwa ia adalah sebuah batu yang diciptakan, sama seperti semua makhluk ciptaan lainnya yang tidak dapat mendatangkan bahaya maupun manfaat. Umar menyiarkan hal itu di saat musim haji agar disaksikan oleh penduduk semua negeri serta diingat oleh semua jemaah haji yang beraneka ragam negara."
4- Ibadah bersifat tauqīfiyah, artinya tidak ada ibadah yang disyariatkan kecuali yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
5- Apabila suatu ibadah telah terbukti secara sahih, maka ia diamalkan walau hikmahnya belum diketahui karena pelaksanaan manusia dan ketaatan mereka untuk melaksanakannya termasuk hikmah yang diinginkan.
6- Larangan mencium batu atau lainnya yang tidak ada perintah menciumnya dalam syariat dengan tujuan beribadah.
Rujukan
صحيح البخاري (2/ 149) (1597).
صحيح مسلم (2/ 925) (1270).
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص394).
تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (3/ 527).
عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: قَدِم عُيَينَة بن حِصنٍ، فَنزَل على ابنِ أَخِيه الحُرِّ بن قَيسٍ، وكان من النَّفَر الذين يُدنِيهِم عمر رضي الله عنه ، وكان القُرَّاء أصحاب مَجلِس عُمر رضي الله عنه ومُشاوَرَتِه كُهُولا كانوا أو شُبَّانًا، فقال عيينة لابن أَخِيه: يَا ابن أخي، لك وَجْه عند هذا الأمير فَاسْتَأذِن لِي عليه، فَاسْتَأذَن فَأَذِن لَه عُمر، فَلَمَّا دَخَل قال: هي يا ابن الخطَّاب، فَوالله مَا تُعطِينَا الجَزْلَ ولا تَحكُمُ فِينَا بِالعَدلِ، فغضب عمر رضي الله عنه حَتَّى هَمَّ أَنْ يُوقِعَ بِه، فقال له الحُرُّ: يا أمير المؤمنين، إنَّ الله تعالى قال لِنَبِيِّه صلى الله عليه وسلم : {خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين}، وإِنَّ هذا مِن الجَاهِلِين، والله مَا جَاوَزَها عُمر حِين تَلاَهَا، وكان وَقَّافًا عند كِتَاب الله تعالى .
Dari Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Uyainah bin Ḥishn datang lalu menginap di tempat anak saudara, yaitu Al-Ḥurr bin Qais, dan ia merupakan salah seorang yang dekat dengan Umar. Umar mengangkat orang-orang yang pandai membaca Al-Qur`ān sebagai kawan dan orang yang diajak musyawarah di majlisnya, baik yang tua maupun yang masih muda usianya. 'Uyainah berkata kepada anak saudaranya, "Wahai anak saudaraku, kamu adalah orang yang dekat dengan Amirul Mukminin, maka mintalah izin kepadanya agar aku dapat menemuinya." Anak saudaranya tersebut memintakan izin dan Umar pun mengizinkannya. Ketika 'Uyainah masuk, ia berkata, "Wahai Ibnu Al-Khaṭṭab, demi Allah, engkau tidak berbuat banyak terhadap kami dan engkau tidak menetapkan hukum kepada kami dengan adil." Umar pun marah hingga hampir saja dia memukulnya. Al-Ḥurr berkata kepada Umar, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah -Ta'ālā- telah berfirman kepada Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Berikanlah maaf, perintahkanlah untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang jahil." Sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang yang jahil. Demi Allah, Umar tidak mengabaikan ayat itu ketika dia membacanya. Sebab, Umar adalah orang yang sangat teliti terhadap Al-Qur`ān."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Sahabat yang mulia, Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- menceritakan kepada kita mengenai peristiwa yang terjadi pada Umar bin Al-Khaṭṭab -raḍiyallāhu 'anhu-, yaitu ketika 'Uyainah bin Ḥishn datang dan ia salah seorang tokoh dari kaumnya. Ia memulai pembicaraan kasarnya dengan serangan, pengingkaran dan celaan lalu di akhiri dengan cercaan dengan mengucapkan, "Sesungguhnya engkau tidak berbuat banyak terhadap kami dan tidak menetapkan hukum di antara kami dengan adil." Tentu saja Umar marah sekali hingga hampir saja ia memukulnya. Hanya saja beberapa orang yang pandai membaca Al-Qur`ān berdiri, di antaranya anak dari saudara 'Uyainah, yaitu Al-Ḥurr bin Qais, ia berbicara kepada khalifah yang lurus -raḍiyallāhu 'anhu-, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah -Ta'ālā- berfirman kepada Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Berikanlah maaf, perintahkanlah untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang jahil." Sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang yang bodoh." Umar diam dan tidak mengabaikan ayat itu karena dia (Umar -raḍiyallāhu 'anhu wa arḍahu-) adalah orang yang teliti terhadap Al-Qur`ān. Dia berhenti dan tidak memukul orang itu demi ayat yang dibacakan ke pendengarannya. Inilah adab para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- di hadapan Al-Qur`ān. Mereka tidak mengabaikannya. Jika dikatakan kepada mereka, "Ini firman Allah," mereka pun diam bagaimanapun keadaannya.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ.
تطريز رياض الصالحين، للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423هـ.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
شرح رياض الصالحين، للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ.
صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
تاج العروس من جواهر القاموس، لمحمّد بن محمّد بن عبد الرزّاق الحسيني، الملقّب بمرتضى، الزَّبيدي، تحقيق مجموعة من المحققين، دار الهداية.
الدلائل في غريب الحديث، لقاسم بن ثابت بن حزم العوفي السرقسطي، تحقيق: د. محمد بن عبد الله القناص، الناشر: مكتبة العبيكان، الرياض، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2001م.
Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda di lima hari sebelum beliau meninggal dunia, "Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak untuk mempunyai seorang khalīl (kekasih mulia) dari kalian, karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seorang kekasih dari umatku, maka aku akan jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah. Ingatlah, jangan kalian menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah, karena aku melarang kalian dari perbuatan itu."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ bercerita tentang kedudukan beliau di sisi Allah Ta'ala, bahwa kedudukan beliau mencapai tingkat cinta yang paling tinggi, sebagaimana kedudukan itu telah dicapai oleh Ibrahim -'alaihissalām-. Karenanya, beliau menafikan memiliki khalīl selain Allah karena hati beliau telah terisi penuh dengan cinta kepada Allah Ta'ala serta mengagungkan dan mengenal-Nya, sehingga tidak ada lagi tempat untuk yang lain selain Allah. Sekiranya beliau memiliki khalīl dari kalangan makhluk, tentulah ia adalah Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu-. Kemudian beliau memberikan peringatan terhadap tindakan melampaui batas yang dibolehkan dalam cinta, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani pada kubur para nabi dan orang-orang saleh sampai mereka menjadikannya sebagai tuhan-tuhan sekutu yang disembah selain Allah, serta mereka membangun tempat peribadatan di atas kubur mereka, dan beliau ﷺ melarang umatnya melakukan hal yang sama seperti perbuatan mereka.
Faedah
1- Keutamaan Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu-; bahwa dia adalah sahabat yang paling afdal dan merupakan orang paling patut sebagai khalifah (pengganti) Rasulullah ﷺ setelah kematian beliau.
2- Membangun tempat ibadah di atas kubur termasuk kemungkaran umat-umat terdahulu.
3- Larangan menjadikan kubur sebagai tempat ibadah dengan salat di dekatnya atau menghadap ke arahnya serta membangun masjid atau kubah di atasnya sebagai sikap kehati-hatian agar tidak jatuh dalam kesyirikan dengan sebab itu.
4- Peringatan terhadap sikap guluw (berlebihan) terhadap orang-orang saleh karena dapat mengantarkan kepada kesyirikan.
5- Betapa bahayanya perbuatan yang diingatkan oleh Nabi ﷺ, karena beliau menegaskannya lima hari sebelum kematian beliau.
Rujukan
صحيح مسلم (1/ 377) (532).
شرح النووي على مسلم (5/ 13).
الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص188).
الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص172).
Al-Barā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda tentang kaum Ansar, "Tidaklah mencintai mereka kecuali orang beriman, dan tidak membenci mereka kecuali orang munafik. Siapa yang mencintai mereka, Allah akan mencintainya. Sebaliknya, siapa yang membenci mereka, Allah akan membencinya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa mencintai kaum Ansar dari kalangan penduduk Madinah adalah penanda kesempurnaan iman. Karena mereka lebih awal dalam membela Islam dan Nabi ﷺ, berjuang menampung kaum muslimin, serta mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Dan sebaliknya, membenci mereka adalah tanda kemunafikan. Kemudian beliau ﷺ menerangkan, bahwa orang yang mencintai kaum Ansar akan dicintai Allah, dan sebaliknya orang yang membenci mereka akan dibenci Allah.
Faedah
1- Di dalam hadis ini terkandung keutamaan besar kaum Ansar. Mencintai mereka adalah tanda keimanan dan bebas dari kemunafikan.
2- Mencintai wali-wali Allah dan menolong mereka adalah sebab mendapatkan cinta Allah kepada hamba.
3- Keutamaan orang-orang pertama dan terdahulu dalam Islam.
Rujukan
صحيح البخاري (5/ 32) (3783).
صحيح مسلم (1/ 85) (75).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 447).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص257).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (6/ 258).
شرح النووي على مسلم (2/ 63).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين (1/ 350).
عن أنس رضي الله عنه أن أم الرُّبيع بنت البراء وهي أم حارثة بن سُراقة، أتَت النبي صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله، ألا تُحَدِّثُنِي عن حارثة -وكان قُتِل يوم بَدْرٍ- فإن كان في الجنَّة صَبَرْت، وإن كان غير ذلك اجْتَهَدْتُ عليه في البُكَاء، فقال: «يا أم حارثة، إنها جِنَان في الجنة، وإن ابْنَك أصَاب الفِردَوْس الأعلى».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Ummu Ar-Rubayyi' binti Al-Barā`, yaitu ibunda Ḥāriṡah bin Surāqah datang kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berkata, "Wahai Rasulullah! Maukah engkau menceritakan kepadaku tentang Ḥāriṡah (ia telah terbunuh dalam perang Badar)? Jika ia berada di surga, aku pasti bersabar. Jika ia tidak di sana, aku pasti bersungguh-sungguh menangisinya." Beliau bersabda, "Wahai Ummu Ḥāriṡah! Sesungguhnya di surga itu ada beberapa surga dan sesungguhnya putramu mendapatkan surga Firdaus yang paling tinggi."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Makna hadis: Ḥāriṡah bin Surāqah -raḍiyallāhu 'anhu- wafat sebagai syahid dalam perang Badar disebabkan anak panah yang nyasar tanpa diketahui sumbernya. Lantas ibunya datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk menanyakan tempat kembalinya dan ia khawatir tidak termasuk para syuhada, karena ia terbunuh oleh anak panah tanpa disengaja dan bukan berasal dari orang yang terlibat dalam peperangan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis, "Ia telah terbunuh dalam perang Badar terkena anak panah nyasar" Yakni, tidak diketahui siapa pemanahnya atau tidak diketahui dari arah mana datangnya. Dalam riwayat Ahmad dan An-Nasā`i dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Ḥāriṡah keluar sebagai Naẓẓār, yakni pengintai / orang yang mencari tempat tinggi untuk mengawasi musuh dan memberitahukan keadaan mereka, tiba-tiba datang anak panah lalu membunuhnya." Karena itu, ibunya berkata, "Jika ia berada di surga, aku pasti bersabar." Yakni, aku bersabar atas kehilangannya dan mengharapkan balasan di sisi Allah. Ia senang dengan gugurnya di jalan Allah dan keberuntungannya memperoleh surga. "Jika ia tidak di sana, aku pasti bersungguh-sungguh menangisinya." Karena aku mendapatkan kerugian dan ia telah menghabiskan hidupnya tanpa ada guna. "Beliau bersabda, "Wahai Ummu Ḥāriṡah, sesungguhnya di surga itu ada beberapa tingkat," yakni, surga-surga yang banyak. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Al-Bukhari, "Apakah surga itu hanya satu surga?" Sesungguhnya surga itu terdiri dari banyak surga, dan sesungguhnya ia ada di Firdaus yang tertinggi." Maksudnya adalah tempat khusus di surga yang paling utama dan paling tinggi. Untuk itu, Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah Firdaus. Sesungguhnya Firdaus adalah Ausaṭ surga dan surga paling tinggi. Di atasnya ada 'Arsy Allah Yang Maha Pengasih dan darinya memancar sungai-sungai surga." Arti Ausaṭ Al-Jannah adalah surga pilihan, paling utama dan paling luas.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الدمام، الطبعة: الأولى 1415هـ.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، محمد علي بن البكري بن علان، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، الطبعة: الرابعة 1425هـ.
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى 1428هـ، 2007م.
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، الطبعة: الرابعة 1428هـ.
شرح رياض الصالحين للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ.
صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، كنوز إشبيليا، الرياض، الطبعة: الأولى 1430هـ، 2009م.
منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري، حمزة محمد قاسم، راجعه: عبد القادر الأرناؤوط، عني بتصحيحه ونشره: بشير محمد عيون، الناشر: مكتبة دار البيان، دمشق، مكتبة المؤيد، الطائف، الطبعة: 1410هـ، 1990م.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الرابعة عشر 1407هـ، 1987م.
عن أنس رضي الله عنه قال: جاء ناس إلى النبي صلى الله عليه وسلم أن ابعث معنا رجالاً يعلمونا القرآن والسنة، فبعث إليهم سبعين رجلا ًمن الأنصار يقال لهم: القراء، فيهم خالي حَرامٌ، يقرؤون القرآن، ويتدارسون بالليل يتعلمون، وكانوا بالنهار يَجِيئُون بالماء، فيضعونه في المسجد، ويحتطبون فيبيعونه، ويشترون به الطعام لأهل الصُّفَّةِ، وللفقراء، فبعثهم النبي صلى الله عليه وسلم فَعَرَضُوا لهم فقتلوهم قبل أن يبلغوا المكان، فقالوا: اللهم بلَغِّ ْعَنَّا نبينا أنا قد لَقِينَاك فرضينا عنك ورَضِيتَ عَنَّا، وأتى رجلٌ حَرَاماً خال أنس من خلفه، فطعنه برُمْحٍ حتى أَنْفَذَهُ، فقال حَرَامٌ: فُزْتُ ورَبِّ الكعبة، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إن إخوانكم قد قُتِلُوا وإنهم قالوا: اللهم بلغ عنا نبينا أنا قد لقيناك فرضينا عنك ورضيت عنا».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Beberapa orang datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta agar diutus bersama mereka orang-orang yang akan mengajarkan mereka Al-Qur`ān dan Sunah, maka Nabi mengirim untuk mereka tujuh puluh orang dari kaum Anṣār, mereka disebut: Qurrā' (para penghafal Al-Qur`ān), diantara mereka pamanku yang bernama Harām, mereka rajin membaca Al-Qur`ān, mengulang-ulanginya pada malam hari dan mempelajari isinya, dan pada siang hari mereka mengambil air dan menaruhnya di masjid, mereka juga bekerja mencari kayu bakar untuk mereka jual dan hasilnya mereka belikan makanan untuk orang-orang ṣuffah dan orang fakir. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus mereka, akan tetapi di perjalanan mereka dihadang dan dibunuh sebelum sampai ke tujuan, maka mereka pun berdoa, " Ya Allah sampaikanlah (kabar) tentang kami kepada Nabi kami bahwa kami telah berjumpa dengan-Mu, kami rida dengan-Mu dan Engkau pun rida kepada kami". Kemudian datang seorang laki-laki kepada paman Anas yang bernama Haraam dari belakangnya, kemudian ia menusuknya dengan tombak dari belakang sampai tembus. Lalu Harām pun berkata, "Aku telah menang demi Rabb pemilik Kakbah." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah dibunuh dan sesungguhnya mereka mengatakan, "Ya Allah sampaikanlah tentang kami kepada Nabi kami, bahwasanya kami telah berjumpa dengan-Mu dan kami rida kepada-Mu dan Engkau pun rida kepada kami."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Utusan beberapa kabilah Arab mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mereka mengaku telah masuk Islam dan meminta dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar mengirim kepada mereka orang-orang yang akan mengajarkan Al-Qur`ān kepada mereka, maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengirimkan tujuh puluh orang yang disebut: Qurrā; karena banyaknya mereka mempelajari Al-Qur`ān. Meskipun mereka sibuk membaca dan mempelajari Al-Qur`ān, namun hal tersebut tidak menghalangi mereka untuk tetap bekerja, oleh karena itu Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Mereka pada siang hari mengambil air dan menaruhnya di masjid, mereka juga mencari kayu bakar lalu menjualnya dan hasilnya mereka belikan makan untuk orang-orang ṣuffah dan orang fakir", maksudnya: pada siang hari mereka mengambil air dan menaruhnya di masjid sebagai wakaf bagi siapapun yang ingin menggunakannya untuk bersuci, minum, atau selainnya. "mereka juga mencari kayu bakar lalu menjualnya dan hasilnya mereka belikan makan untuk orang-orang ṣuffah dan orang fakir". Maksudnya mereka mengumpulkan kayu bakar untuk mereka jual dan hasilnya mereka belikan makanan serta mereka sedekahkan untuk orang-orang fakir termasuk orang-orang ṣuffah. Orang-orang ṣuffah ialah: orang-orang fakir pendatang yang tinggal di masjid Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mereka punya tempat khusus di bagian belakang masjid, yaitu tempat yang ada atapnya terpisah dari masjid, mereka tidur disitu. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengirim para Qurrā` tersebut beserta utusan dari kabilah Arab tadi. Ketika sampai di "Bi`r Ma'ūnah", sebelum sampai di tempat tujuan mereka yaitu rumah Abu al-Barā` bin Mulā'ib al-Asinnah, mereka dihadang oleh 'Āmir bin Ṭufail bersama sekelompok laki-laki dan mereka pun menyerang utusan tadi. " Ya Allah sampaikanlah (kabar) tentang kami kepada Nabi kami, bahwasanya kami telah berjumpa dengan-Mu dan kami rida kepada-Mu dan Engkau pun rida kepada kami". Dalam riwayat lain: "Sampaikanlah (kabar) tentang kami untuk kaum kami bahwasanya kami telah menemui Rabb kami dan Dia telah meridai kami dan membuat kami rida". Kemudian Malaikat Jibril pun menyampaikan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "bahwa mereka sudah menemui Tuhan mereka (meninggal), Dia meridai mereka dan telah membuat mereka rida juga," sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda: "bahwasanya saudara-saudara kalian telah dibunuh dan mereka mengatakan, " Ya Allah sampaikanlah (kabar) tentang kami kepada Nabi kami, bahwasanya kami telah berjumpa dengan-Mu dan kami rida kepada-Mu dan Engkau pun rida kepada kami". Maksudnya: Allah -Ta'ālā- telah rida kepada mereka dengan ketaatan mereka dan mereka pun telah rida kepada Allah atas kemulian dan kebaikan-kebaikan yang Allah berikan kepada mereka. Rida Allah adalah: limpahan kebaikan dan rahmat dari-Nya.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425 هـ.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
صحيح البخاري، ط1، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت.
الكاشف عن حقائق السنن (شرح المشكاة) للطيبي، تحقيق: عبد الحميد هنداوي، مكتبة الباز، مكة، 1417هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج للنووي ، ط2، دار إحياء التراث العربي - بيروت، 1392هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
عن أنس رضي الله عنه قال: انطلق رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه حتى سبقوا المشركين إلى بدر، وجاء المشركون، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لا يقدمن أحد منكم إلى شيء حتى أكون أنا دونه»، فدنا المشركون، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «قوموا إلى جنة عرضها السماوات والأرض» قال: يقول عمير بن الحمام الأنصاري رضي الله عنه : يا رسول الله، جنة عرضها السماوات والأرض؟ قال: «نعم» قال: بخ بخ ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «ما يحملك على قولك بخ بخ؟» قال: لا والله يا رسول الله إلا رجاء أن أكون من أهلها، قال: «فإنك من أهلها» فأخرج تمرات من قرنه، فجعل يأكل منهن، ثم قال: لئن أنا حييت حتى آكل تمراتي هذه إنها لحياة طويلة، فرمى بما كان معه من التمر، ثم قاتلهم حتى قتل.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertolak bersama para sahabatnya hingga mereka mendahului orang-orang musyrikin ke Badar, lalu datanglah orang-orang musyrikin. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak boleh ada seorang pun dari kalian yang mengambil keputusan hingga aku berada di depannya." Tiba-tiba orang-orang musyrikin mendekat. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Berdirilah kalian menuju surga seluas langit dan bumi." Anas berkata, "Umair bin Al-Ḥumām Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, 'Wahai Rasulullah, surga seluas langit dan bumi?' Beliau bersabda, 'Ya.' Ia berkata, 'Hebat, hebat.' Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Apa yang mendorongmu untuk mengucapkan hebat, hebat?' Ia menjawab, 'Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, selain harapan agar aku menjadi bagian dari penghuninya.' Beliau bersabda, 'Engkau termasuk penghuninya.' Lantas dia mengeluarkan beberapa kurma dari kantongnya lalu makan sebagiannya. Kemudian dia berkata, 'Seandainya aku masih hidup hingga aku makan kurma ini, sesungguhnya itu merupakan kehidupan yang panjang.' Lantas dia melemparkan kurma yang ada padanya lalu memerangi mereka (musuh) hingga gugur."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar bersama para sahabatnya dari Madinah untuk menemui kafilah Abu Sufyān yang datang dari Syām hendak ke Makkah. Mereka tidak keluar untuk berperang, tetapi Allah menghimpun antara mereka dengan musuhnya tanpa ada perjanjian. Karena itu banyak sahabat yang tidak mengikuti pertempuran ini dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak mencela seorang pun dari mereka. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertolak kemudian singgah di Badar sebelum orang-orang kafir Quraisy menyinggahinya, dan beliau mengambil posisi di sana. Selanjutnya datanglah orang-orang kafir Quraisy. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak boleh ada seorang pun dari kalian maju sampai aku sendiri berada di depannya." Artinya bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang mereka untuk maju sehingga beliau sendiri -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjadi yang paling dekat kepadanya daripada mereka, agar tidak luput sesuatu pun dari kemaslahatan yang tidak mereka ketahui. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Berdirilah menuju surga seluas langit dan bumi." Yakni bersegeralah dan janganlah kalian terlambat mengorbankan ruh-ruh kalian di jalan Allah. Sebab, kesudahan itu adalah surga seluas langit dan bumi. Ini merupakan dorongan dan motivasi bagi mereka untuk memerangi orang-orang kafir. Ia (perawi) berkata, "Umair bin Al-Ḥumām Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Wahai Rasulullah, surga seluas langit dan bumi?" Beliau menjawab, "Ya." Ia berkata, "Hebat, hebat." Maksudnya membesarkan urusan tersebut dan mengagungkannya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apa yang mendorongmu mengucapkan hebat, hebat?" Yakni, apa motivasimu mengucapkan kata tersebut, apakah karena ketakutan?" Ia menjawab, "Tidak, demi Allah wahai Rasulullah selain harapan agar aku menjadi bagian dari penghuninya." Yakni, yang membuatku mengucapkan kata-kata itu karena orientasiku untuk masuk surga. Beliau bersabda, "Engkau termasuk penghuninya." Ini merupakan kabar gembira dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk para sahabatnya supaya menjadi motivasi bagi mereka dan mencurahkan usaha dalam bekerja. Selanjutnya ketika Umair bin Al-Ḥumām -raḍiyallāhu 'anhu- mendengar kabar gembira dari orang yang jujur dan terpercaya, yang tidak berbicara dari hawa nafsu, ia pun mengeluarkan beberapa kurma dari Qarannya. "Qaran" adalah sesuatu yang biasanya dijadikan tempat untuk menyimpan makanan dan dibawa oleh mujahid lalu dia makan. Selanjutnya dia --raḍiyallāhu 'anhu-- merasa kehidupan ini terlalu panjang, dan berkata, "Seandainya aku masih hidup hingga makan beberapa kurma ini, sungguh itu merupakan kehidupan yang panjang." Lantas dia melemparkan kurma yang ada padanya lalu maju berperang hingga dia -raḍiyallāhu 'anhu- gugur.
Rujukan
- رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ.
- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418هـ.
- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشرة، 1407هـ.
- صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي.
- كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430هـ.
- شرح رياض الصالحين، للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh, aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberi kemenangan melalui tangannya." Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Tidak pernah aku menginginkan sebuah kepemimpinan kecuali pada hari itu. Sehingga aku pun menampakkan wajahku dengan harapan agar aku dipanggil untuk menerima panji itu." Ternyata Rasulullah ﷺ memanggil Ali bin Abi Ṭālib lalu memberikan panji itu kepadanya seraya bersabda, "Berangkatlah dan jangan menoleh hingga Allah memberimu kemenangan!" Lantas Ali berjalan sedikit kemudian berhenti tanpa menoleh seraya berseru, "Wahai Rasulullah! Atas dasar apa aku memerangi orang-orang itu?" Beliau menjawab, "Perangilah mereka hingga mereka mau bersaksi bahwa tiada sembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah! Jika mereka telah melaksanakan hal itu, mereka telah melindungi darah dan harta mereka darimu, kecuali yang menjadi haknya (Islam), sedang hisab (perhitungan amal) mereka ada pada Allah."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan para sahabat tentang kemenangan umat Islam di keesokan harinya menghadapi orang-orang Yahudi Khaibar, yaitu sebuah kota dekat Madinah. Hal itu akan tercapai melalui tangan seorang laki-laki yang akan beliau serahi panji perang, yaitu bendera yang dijadikan sebagai simbol pasukan. Di antara sifat laki-laki tersebut adalah ia mencintai Allah dan Rasul-Nya sekaligus dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- menyebutkan, bahwa ia tidak pernah menginginkan kepemimpinan dan tidak pula ingin ditunjuk sebagai komandan kecuali pada saat itu, karena berharap mendapatkan apa yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ berupa cinta Allah dan Rasul-Nya. Umar -raḍiyallāhu 'anhu- sengaja meninggikan badannya agar terlihat oleh Nabi ﷺ dengan harapan akan dipanggil untuk itu dan karena ingin mendapatkan panji tersebut.
Ternyata Rasulullah ﷺ memanggil Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- lalu menyerakan panji perang kepadanya. Beliau memerintahkannya agar bergerak membawa pasukan dan tidak menghentikan perang setelah bertemu musuh, baik untuk beristirahat, berhenti, atau melakukan perjanjian sampai Allah memberinya kemenangan dan menaklukkan benteng Khaibar.
Lantas Ali -raḍiyallāhu 'anhu- berjalan kemudian berhenti, tetapi tanpa menoleh, agar tidak menyelisihi perintah Nabi ﷺ. Ali -raḍiyallāhu 'anhu- mengangkat suaranya dengan mengatakan, "Wahai Rasulullah! Atas dasar apa aku memerangi orang-orang itu?"
Beliau ﷺ bersabda: Perangilah mereka hingga mereka mengikrarkan syahadat Lā ilāha illallāh Muḥammad rasūlullāh. Jika mereka memenuhinya dan masuk ke dalam Islam, mereka telah melindungi darah dan harta mereka darimu. Darah dan harta mereka terlindungi kecuali dengan hak Islam, yaitu jika mereka melakukan suatu kejahatan atau pidana yang mengakibatkan mereka berhak mendapatkan hukum mati berdasarkan hukum Islam. Sedangkan hisab amalan mereka di akhirat adalah hak Allah.
Faedah
1- Para sahabat tidak tertarik terhadap kepemimpinan karena di dalamnya terkandung tanggung jawab yang besar.
2- Boleh mengajukan diri dan berharap untuk melakukan perkara yang dipastikan kebaikannya.
3- Arahan seorang pemimpin kepada panglima pasukan tentang cara mengambil tindakan dalam medan perang.
4- Kepatuhan sahabat Rasulullah ﷺ terhadap wasiat beliau serta kesegeraan mereka dalam melaksanakannya.
5- Orang yang belum memahami sebagian yang diperintahkan kepadanya, hendaknya dia menanyakannya.
6- Di antara bukti kenabian Rasulullah ﷺ adalah beliau mengabarkan tentang kemenangan atas orang-orang Yahudi, yaitu beliau mengabarkan penaklukan Khaibar, lalu hal itu terjadi seperti yang beliau kabarkan.
7- Motivasi untuk maju dan segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ.
8- Tidak boleh membunuh orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, kecuali ia melakukan sesuatu yang berkonsekuensi hukuman mati.
9- Hukum-hukum Islam berlaku sesuai dengan yang tampak pada manusia, dan Allah yang mengurus urusan batin mereka.
10- Tujuan besar jihad ialah agar manusia masuk ke dalam Islam.
Rujukan
صحيح مسلم (4/ 1871) (2405).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 127).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (2/ 45).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 174).
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com