Langsung ke konten
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-A'raaf
Surah 7

Al-A'raaf

Ini adalah terjemahan Tafsir as-Saʿdī sebagaimana diterbitkan IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca dari halaman-halaman situs itu. Situs itu tidak menyebutkan siapa yang menerjemahkannya maupun edisi cetak mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan ketentuan untuk mengambil teksnya, sehingga hak untuk menampilkannya belum diverifikasi. Belum ada yang membandingkannya dengan buku cetak, dan belum ada ulama yang meninjaunya. Setiap bagian berdiri di samping ayat-ayat yang diulasnya, yaitu teks Al-Qur’an dari Tanzil, ditampilkan sebagaimana adanya di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh situs itu berdiri bersama bagian sebelumnya, dan indeks menyebutkan setiap ayat semacam itu. Sabīl tidak menulis atau menerjemahkan satu pun darinya.

Teks darisaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil 2026-10-22

Ayat 58

وَٱلْبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذْنِ رَبِّهِۦ ۖ وَٱلَّذِى خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا ۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلْـَٔايَـٰتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ 58

(58) Kemudian Allah menyebutkan perbedaan bumi yang disirami oleh hujan. Dia berfirman, ﴾ وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ ﴿ "Dan tanah yang baik." Yakni struktur dan materinya baik jika ia disiram air. ﴾ يَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ ﴿ "Ta-nam-tanamannya tumbuh subur", yang memang disiapkan untuknya ﴾ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ ﴿ "dengan seizin Allah." Yakni dengan kehendak dan keingi-nan Allah, karena sebab tidak secara independen mewujudkan musabab (akibat) sehingga Allah mengizinkannya terjadi. ﴾ وَٱلَّذِي خَبُثَ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا نَكِدٗاۚ ﴿ "Dan tanah yang tidak subur, tanam-tanamannya hanya tumbuh merana." Yakni tumbuh-tumbuhan buruk yang tidak bergu-na dan tidak berlaku. ﴾ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَشۡكُرُونَ ﴿ "Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyu-kur." Kami membuatnya bermacam-macam, Kami menjelaskannya, Kami membuat perumpamaan padanya, dan Kami menyodorkan-nya kepada kaum yang bersyukur kepada Allah dengan mengakui nikmatNya dan menggunakannya dalam keridhaanNya. Mereka itulah orang-orang yang dapat mengambil manfaat dengan hukum-hukum dan tuntutan ilahiyah yang diperinci oleh Allah, karena me-reka memandang bahwa ia adalah nikmat terbesar dari Rabb mereka kepada mereka, maka mereka pun menerimanya dengan penuh ke-butuhan dan kebahagiaan kepadanya, lalu mereka merenungkan dan memikirkannya, Allah menjelaskan kepada mereka makna-maknanya berdasarkan kesiapan mereka. Ini adalah perumpamaan bagi hati manakala wahyu turun kepadanya yang merupakan sumber kehidupan sebagaimana hujan adalah sumber kehidupan. Hati yang baik, ketika wahyu datang ke-padanya, maka ia akan menerimanya, mengetahuinya dan ia tum-buh sesuai dengan dasarnya yang baik dan unsurnya yang bagus. Adapun hati yang busuk yang tidak ada kebaikan padanya, jika wahyu datang kepadanya, maka ia tidak mau menerimanya, lalai dan berpaling atau menentang, seperti hujan yang turun ke tanah yang bergaram, berpasir dan bebatuan, ia tidak memberi bekas apa pun padanya, ini seperti FirmanNya تعالى,