Al-An'aam
Ini adalah terjemahan Tafsir as-Saʿdī sebagaimana diterbitkan IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca dari halaman-halaman situs itu. Situs itu tidak menyebutkan siapa yang menerjemahkannya maupun edisi cetak mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan ketentuan untuk mengambil teksnya, sehingga hak untuk menampilkannya belum diverifikasi. Belum ada yang membandingkannya dengan buku cetak, dan belum ada ulama yang meninjaunya. Setiap bagian berdiri di samping ayat-ayat yang diulasnya, yaitu teks Al-Qur’an dari Tanzil, ditampilkan sebagaimana adanya di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh situs itu berdiri bersama bagian sebelumnya, dan indeks menyebutkan setiap ayat semacam itu. Sabīl tidak menulis atau menerjemahkan satu pun darinya.
Teks darisaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil 2026-10-22
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَـٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْـَٔافِلِينَ 76
(76) ﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ ﴿ "Ketika malam menjadi gelap, dia me-lihat sebuah bintang." Mungkin ia bintang yang bersinar, karena peng-khususannya dalam penyebutan menunjukkan bahwa dia lebih daripada yang lain. Oleh karena itu, wallahu a'lam, ada yang menga-takan bahwa itu adalah bintang Venus. ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "(Lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Maksudnya, dia berkata, "Inilah Rabbku," dengan nada merendah, namun menentang. Lalu marilah kita lihat, apakah dia berhak memperoleh rubu-biyah? Apakah kita memiliki dalil dalam hal ini? Karena seorang yang berakal tidak layak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan tanpa bukti dan dalil. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ ﴿ "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam," maksudnya, bintang itu menghilang. ﴾ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ﴿ "Dia ber-kata, 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'," maksudnya, yang meng-hilang dan bersembunyi dari orang yang menyembahnya, karena yang disembah harus mengurusi kepentingan-kepentingan orang yang menyembahnya, dan harus berfungsi sebagai pengaturnya dalam segala urusannya. Adapun yang tenggelam dalam waktu yang lama, maka bagaimana mungkin dia berhak disembah? Bu-kankah menjadikannya sebagai tuhan termasuk kebodohan besar dan kebatilan yang parah?