Al-Anbiyaa
Ini adalah terjemahan Tafsir as-Saʿdī sebagaimana diterbitkan IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca dari halaman-halaman situs itu. Situs itu tidak menyebutkan siapa yang menerjemahkannya maupun edisi cetak mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan ketentuan untuk mengambil teksnya, sehingga hak untuk menampilkannya belum diverifikasi. Belum ada yang membandingkannya dengan buku cetak, dan belum ada ulama yang meninjaunya. Setiap bagian berdiri di samping ayat-ayat yang diulasnya, yaitu teks Al-Qur’an dari Tanzil, ditampilkan sebagaimana adanya di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh situs itu berdiri bersama bagian sebelumnya, dan indeks menyebutkan setiap ayat semacam itu. Sabīl tidak menulis atau menerjemahkan satu pun darinya.
Teks darisaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil 2026-10-22
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ 83
(83) Maksudnya, ingatlah hamba dan rasul Kami, yaitu Ayyub untuk menyanjung, mengagungkan dan meninggikan dera-jatnya, saat Allah menguji beliau dengan musibah yang sangat berat. Lalu Allah mendapatinya dalam keadaan sabar lagi ridha dengan (ketentuan)Nya. Hal tersebut karena setan diberi kesem-patan untuk menguasai fisiknya, sebagai bentuk musibah dan ujian dari Allah. Ia meniupkan tiupan ke badannya, hingga mengeluar-kan luka-luka bernanah yang hebat. Beliau mengalaminya dalam kurun waktu yang lama. Ujian ini semakin menjadi-jadi. Keluarga-nya meninggal. Harta kekayaannya sirna. Maka beliau memanggil Rabbnya, ﴾ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ 83 ﴿ "(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang dari semua penyayang." Beliau memanjatkan permohonan tawasul kepada Allah dengan menceritakan kondisi pribadinya, dan bahwa dia sudah mengalami kesakitan sampai pada titik puncaknya. Juga memanjatkan tawasul dengan rahmat Allah yang sangat luas lagi menyeluruh.