Aller au contenu
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Israa
Sourate 17

Al-Israa

Voici une traduction du tafsîr d’as-Saʿdī, telle qu’IslamHouse.com la publie sur saadi.islamenc.com, lue dans les pages de ce site. Le site ne dit ni qui l’a traduite ni quelle édition imprimée elle suit, et n’indique aucune condition pour en reprendre le texte, si bien que le droit de la montrer n’est pas vérifié. Personne ne l’a comparée à un livre imprimé, et aucun savant ne l’a relue. Chaque passage se tient à côté des versets qu’il commente, qui sont le texte coranique de Tanzil, montré tel qu’il y est ; un verset auquel le site ne donne aucun commentaire propre se tient avec le passage qui le précède, et l’index nomme chacun de ces versets. Sabīl n’en a rien écrit ni traduit.

Texte desaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)pris le 2026-10-22

Verset 1

سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ 1

(1) Allah تعالى menyucikan dan mengagungkan diriNya, ka-rena Dia memiliki perbuatan-perbuatan dan aneka karunia yang agung. Termasuk dalam kategori itu adalah bahwa Dia ﴾ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ ﴿ "yang telah memperjalankan hambaNya," yaitu RasulNya, Muhammad ﴾ مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ ﴿ "dari Masjidil Haram," masjid yang paling agung secara mutlak ﴾ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ﴿ "ke Masjidil Aqsha," sebuah masjid yang termasuk kategori masjid-masjid yang utama dan tempat (pusat) para nabi. Beliau diperjalankan dalam satu malam melintasi jarak yang sangat jauh, dan kembali pada malam itu juga. Allah menun-jukkan tanda-tanda kebesaranNya kepada beliau, yang menyebab-kan beliau mendapatkan tambahan petunjuk, kekuatan bashirah, ketetapan hati serta pembeda (antara yang benar dan batil). Peristiwa ini menunjukkan perhatian dan kelembutan Allah تعالى terhadap Nabi, lantaran Dia memberikan kemudahan dalam se-luruh urusan serta melimpahkan karunia-karuniaNya kepada beliau hingga mengungguli orang-orang terdahulu dan generasi yang akan datang dengannya. Zahirnya ayat menunjukkan bahwa, peristiwa Isra` terjadi pada permulaan malam dan sejak dari tempat Masjidil Haram itu sendiri. Akan tetapi, telah disebutkan dalam kitab ash-Shahih bahwa-sanya Rasulullah memulai perjalanan Isra` dari rumah Ummu Hani'[20]. Berdasarkan ini maka keutamaan Masjidil Haram berlaku untuk seluruh tanah Haram. Di setiap tanah Haram, (pahala) beribadah akan berlipatganda sebagaimana pelipatgandaan (pahala) ibadah di dalam Masjidil Haram. (Selain itu), ayat ini menunjukkan bahwasanya peristiwa Isra` (dan Mi'raj) berlangsung dengan ruh dan jasad Nabi sekaligus. Karena jika tidak demikian, maka kejadian ini bukanlah termasuk tanda kebesaran yang besar dan keistimewaan yang agung. Begitu banyak hadits yang diriwayatkan dari Nabi berkaitan dengan peristiwa Isra` (dan Mi'raj)[21]. Nabi menerangkan secara rinci kejadian-kejadian yang telah beliau lihat, dan bahwasanya beliau diperjalankan di malam hari menuju Baitul Maqdis, kemudian di-naikkan dari sana menuju langit-langit hingga sampai pada permu-kaan atas langit yang tertinggi. Beliau telah menyaksikan surga dan neraka, (bertemu dengan) sejumlah Nabi sesuai dengan kedudukan mereka, lantas ditetapkan atas beliau kewajiban shalat lima puluh waktu (dalam sehari semalam). Atas arahan dari Nabi Musa al-Kalim, beliau berbolak-balik kepada Rabbnya (untuk meminta ke-ringanan) hingga menjadi lima kali waktu secara perbuatan, dan menjadi 50 dalam pahala dan balasannya. Beliau dan umatnya telah meraih sumber-sumber kebanggaan di malam itu, yang tidak ada yang mengetahui kadarnya kecuali Allah تعالى. Allah menyebut Mu-hammad di sini dan di dalam kesempatan menurunkan al-Qur`an dan di tempat penentangan sifat 'ubudiyyah. Lantaran Rasulullah telah meraih kedudukan-kedudukan yang tinggi ini melalui penyem-purnaan penghambaan beliau kepada Rabbnya. Dan Firman Allah تعالى, ﴾ ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ ﴿ "Yang telah Kami berkahi sekelilingnya," dengan pepohonan yang banyak dan sungai-sungai dan kesuburan yang langgeng. Di antara keberkahan (Masjidil Aq-sha) adalah pengutamaan Masjid ini dibandingkan masjid-masjid lainnya selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dan bahwasanya dituntut untuk memaksakan bepergian ke masjid-masjid ini semata-mata untuk beribadah dan shalat di dalamnya. Dan bahwa Allah telah mengkhususkan tempat ini bagi kebanyakan para nabi dan orang-orang pilihanNya.