An-Nahl
Voici une traduction du tafsîr d’as-Saʿdī, telle qu’IslamHouse.com la publie sur saadi.islamenc.com, lue dans les pages de ce site. Le site ne dit ni qui l’a traduite ni quelle édition imprimée elle suit, et n’indique aucune condition pour en reprendre le texte, si bien que le droit de la montrer n’est pas vérifié. Personne ne l’a comparée à un livre imprimé, et aucun savant ne l’a relue. Chaque passage se tient à côté des versets qu’il commente, qui sont le texte coranique de Tanzil, montré tel qu’il y est ; un verset auquel le site ne donne aucun commentaire propre se tient avec le passage qui le précède, et l’index nomme chacun de ces versets. Sabīl n’en a rien écrit ni traduit.
Texte desaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)pris le 2026-10-22
خَلَقَ ٱلْإِنسَـٰنَ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ 4
(4) Usai membicarakan penciptaan langit (dan bumi), Allah menyebutkan penciptaan segenap makhluk yang menghuni kedua-nya. Dia mengawalinya dengan ciptaan yang termulia, yaitu ma-nusia. Allah berfirman, ﴾ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "Dia telah menciptakan manusia dari mani," Allah senantiasa mengatur, menumbuhkan dan mengembangkan (nuthfah tersebut) sampai menjadi manusia yang sempurna, lengkap anggota-anggota tubuh luar ataupun dalam-nya. Dia telah memolesnya dengan beragam karunia yang melimpah. Sampai manakala ia telah menjelma manusia dewasa, maka ia mem-banggakan diri dan terpesona dengan dirinya. ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata." Maksud ayat ini bisa meng-arah kepada pengertian, yaitu tiba-tiba ia memusuhi Rabbnya, mengingkariNya, menyanggah para RasulNya dan mendustakan ayat-ayatNya serta melupakan penciptaan dirinya pertama kali serta curahan kenikmatan Allah padanya. Ia justru memanfaatkan-nya untuk bermaksiat kepadaNya. Ayat tersebut juga mengandung pengertian makna, bahwasa-nya Allah menciptakan seorang manusia dari cairan mani. Selanjut-nya, Dia senantiasa mentransfernya dari satu fase menuju fase be-rikutnya sampai terbentuk manusia yang berakal lagi dapat berbicara, mempunyai akal dan pemikiran, yang bisa menentang dan mem-bantah. Maka hendaknya seorang hamba bersyukur kepada Rabb-nya yang telah mengantarkannya menuju kondisi demikian ini, yang sedikit pun dia tidak mempunyai kemampuan melakukan-nya sendiri.